Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 78


__ADS_3

Panji asyik memantau siapa saja yang berada di gedung itu. Ia sempat kaget dengan keberadaan Papa Aurel di sana. Arsan baru teringat bahwa Papanya juga diundang keacara perkumpulan perusahaan. Ia mencoba menghubungi Papa untuk memastikan alamat yang sama.


"Bener, Papa aku juga diundang ke alamat ini," ucap Arsan.


"Terus gimana caranya biar kita bisa masuk ke dalam?" tanya Panji.


"Tenang, aku usahakan Papa bisa bawa aku untuk menemaninya," jawab Arsan.


"Semangat buat kita!!" ucap Sela dengan mengeraskan suaranya.


Mereka pun meninggalkan tempat itu. Arsan segera menyusul Papanya ke kantor untuk membujuk agar bisa ikut menghadiri acara itu. Akhirnya, Papa Arsan memperbolehkannya ikut dengan syarat berpenampilan layaknya pria dewasa. Arsan menganggukkan kepala, ia segera bersiap-siap.


"Kamu pakai jas hitam, sepatu ada di lemari kamar Papa," ucap Papa.


"Baik, Pa ...," jawab Arsan.


Arsan pun mengganti pakaian yang telah disarankan Papanya. Setelah selesai bersiap-siap, Arsan kembali ke kantor untuk menemui Papa kembali. Mereka pun berangkat, setibanya di tempat Arsan melihat Davin sedang berjalan memasuki gedung besar itu bersama dua bodyguard.


"Ini acara mewah banget ya. Eh itu kan Davin, ternyata dia hadir juga disini," gumam Arsan.


Di dalam gedung, Arsan terlihat bingung karena baru pertama kalinya ia ikut ke acara perusahaan. Arsan sedikit was-was takut ketahuan oleh Davin yang hampir saja mencurigainya. Saat Davin mendekat, Arsan berpura-pura mengambil minuman di meja yang sudah dihidangkan.


"Hampir aja si Davin curiga," gumam Arsan.


Tiba-tiba Davin mengagetkan dengan memukul pelan pundak Arsan dari arah belakang.


"Hei, siapa namamu?" tanya Davin.


Dia tidak mengenaliku? Oh, syukulah. Hampir aja jantungku copot. Batin Arsan.


"Namaku Roby," jawab Arsan dengan membesarkan suara agar tidak ketahuan.


"Oh, salam kenal. Saya tidak pernah melihat kamu sebelumnya," ucap Davin.


"Ya ... saya ... saya baru ikut ke acara hari ini, jadi ini pertama kalinya bagi saya," balas Arsan. "Saya permisi dulu, ya ..."


Arsan pergi meninggalkan Davin yang berada di meja yang berisi menu makanan dan minuman. Tak sengaja, ia melihat pemilik mobil yang menabrak Dira sedang mengobrol di area belakang gedung. Arsan segera sembunyi untuk menguping pembicaraan mereka. Arsan mengeluarkan ponsel untuk merekam pembahasan mereka.

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu sudah melaksanakan perintah saya?" tanya Papa Davin.


"Sudah, Pak. Anak itu sudah saya tabrak dan sekarang dengar kabar masih dirawat. Katanya juga koma anak itu," jawab pemilik mobil.


"Bagus, jangan sampai ada yang mencurigakan. Kamu awasi teman-teman sekolahnya, si Davin juga awasi ...," ucapnya.


Jadi, yang merencanain ini semua Papa Davin?


Tiba-tiba saja ponsel Arsan berbunyi, ia lupa mematikan nada deringnya saat itu.


"HP siapa itu? Kamu?" tanya Papa Davin ke pemilik mobil.


"Bukan, Pak ...," jawabnya.


Arsan terlihat panik, ia langsung berlari keluar gedung itu. Begitu ada taxi yang lewat didepannya, Arsan langsung menaiki taxi itu dan segera menuju rumah Panji untuk memberitahu siapa pelaku yang sebenarnya. Begitu sampai, Arsan langsung menghampiri Panji yang sedang duduk bersantai di halaman rumah sambil memakai headset.


"Woy, Panji ...," sapa Arsan.


"Panji !!!" teriak Arsan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Panji.


Panji pun melepaskan headset dari telinganya.


"Aku udah nemu pelakunya siapa, dia itu Papa Davin" jawab Arsan dengan sangat cepat.


"Bisa pelan-pelan gak ngomongnya, Ar? Papa Davin? Bukan si Davin ternyata ...," lirih Panji.


Ponsel Arsan tiba-tiba berbunyi, ternyata Papanya menelepon menanyai keberadaan anaknya. Arsan pun menjelaskan panjang lebar, bahwa ia sudah pulang terlebih dahulu menaiki taxi.


"Kamu punya buktinya, Ar?" tanya Panji.


"Tentu punya, aku tadi ngerekam kok," jawab Arsan sambil mencari rekaman diponselnya. "Ngomong-ngomong rekamannya kemana ya, perasaan udah disimpan ..."


"Jangan bilang gak kamu simpan, Ar," ucap Panji.


Arsan mengingat kejadian saat ia merekam tadi. Ternyata sewaktu ponselnya berbunyi, Arsan lupa menyimpannya terlebih dahulu. Sehingga, rekaman itu hilang.


"Duh, tadi ada yang nelepon terus aku lupa nyimpan rekamannya. Makanya aku kabur ke rumah kamu, hampir ketahuan tadi soalnya ...," lirih Arsan.

__ADS_1


Panji menutup wajah dengan kedua tangannya. Mereka merasa sia-sia dengan rencana yang sudah mereka buat. Akhirnya, Panji dan Arsan pergi ke gedung tempat acara itu dengan modal nekat. Begitu sampai disana, saat mereka ingin masuk ke dalam, ditahan oleh satpam yang menjaga. Mereka tidak diizinkan untuk masuk karena tidak memiliki surat undangan.


"Sialan!! Susah payah nyari bukti malah gak kesimpan," ucap Arsan dengan emosi.


"Udah, kita masih bisa cari cara lain kok, Ar. Kita atur aja lagi strateginya, kan udah dapat titik terang siapa si pelaku, tinggal cari bukti aja," jawab Panji sambil memegang pundak Arsan.


Akhirnya mereka pun berniat untuk pulang ke rumah masing-masing. Diperjalanan, Panji melihat Aurel bersama Papa Davin sedang berbincang.


"Itukan Aurel sama Papanya Davin, ngapain mereka ke toko baju," gumam Panji.


Panji pun berjalan menyusuri toko baju itu, ia mengikuti secara diam-diam kemana arah Aurel dan Papa Davin itu pergi. Sampai akhirnya berhenti dibagian baju wanita. Ternyata, Papa Davin meminta bantuan Aurel memilihkan baju untuk Dira. Panji mengeluarkan ponsel untuk merekam video mereka yang sedang membahas Dira.


"Aurel, kamu carikan baju yang paling bagus buat Dira, ya," ucap Papa Davin.


"Om, aman kan? Om terlalu kejam sih sampai Dira koma tuh," balas Aurel.


"Siapa suruh Papanya ingin batalin kerja sama perusahaan, jelas kita udah atur semua ..."


"Si Davin juga tergila-gila dengan Indira, Om," ucap Aurel.


"Munafik sekali kalian!!" gumam Panji.


Setelah mendengar obrolan mereka, Panji pun keluar dari toko baju itu. Tanpa sengaja bertemu dengan Aurel.


"Eh, Panji ...," sapa Aurel. "Kok di sini?"


"Gak sengaja lewat jadi mau mampir aja," jawab Panji.


"Ya udah, ayuk aku temenin kamu," ucap Aurel dengan senyuman.


"Gak usah, aku mau pulang nih. Kayaknya gak ada baju yang cocok untuk aku pakai," balas Panji lalu berjalan menuju sepeda motornya.


Panji pun menghidupkan motor dan melanjutkan untuk pulang ke rumah. Akhirnya, ia mendapatkan bukti bahwa pelakunya adalah Papa Davin.


"Sekarang aku udah punya bukti, kita lihat saja apa yang akan terjadi ...," lirih Panji.


Setiba di rumah, Panji membuka video hasil rekamannya tadi. Ia berencana akan mendatangi kantor Papa Davin esok hari. Panji akan berjuang untuk Dira yang harusnya dia korban tabrak lari, tapi seakan-akan Dira dituduh sebagai orang yang ingin bunuh diri. Panji merasa lega, apa yang sudah ia rencanakan akhirnya terwujudkan.

__ADS_1


"Semoga besok tidak ada yang menghalangi niatku untukmu Dira ...," ucap Panji.


__ADS_2