
Bel istirahat berbunyi. Dira, Arsan dan Sela bergegas keluar dari kelasnya untuk menuju ke kantin. Saat mereka berjalan menyusuri mading, terlihat Panji sedang berdiri di depan kelas. Dira pun menghentikan langkah, lalu membalikkan badan, membuat Arsan dan Sela ikut berhenti melangkah.
"Ada apa, Dir?" tanya Sela.
"Bentar.. bentar.. Kalian mau ikut apa mau duluan ke kantin? Aku mau nyamperin Kak Panji," ucap Dira sambil membalikkan badan ke arah Sela dan Arsan.
"Kita ikut kamu aja, Dir," jawab Arsan.
Mereka pun berjalan menghampiri Panji. Dira menarik tangannya menjauh dari kelas agar tak terlihat oleh Aurel. Panji bingung, tiba-tiba saja Dira datang dengan mengagetkannya. Dira menarik Panji ke arah parkiran. Sela dan Arsan pun membuntuti mereka beberdua secara sembunyi-sembunyi.
"Kak Panji masih marah sama Dira? Kan Dira udah bilang, gak ada maksud apa-apa."
Kerjain Dira, ah. Pura-pura ngambek, habisnya lucu kalau Dira lagi minta maaf. Makin sayang aku sama kamu, Dir.
Panji diam tak menjawab apapun.
"Kak... udahan dong marahnya...," lirih Dira.
"Kak Panji!! Dira pergi aja deh kalau gitu."
__ADS_1
"Kamu kan gak salah, kenapa minta maaf?" tanya Panji.
"Ih, Kak Panji pasti isengin Dira lagi, kan? Nih Dira bales," jawab Dira sambil memukul dan mencubit pelan badan Panji.
Panji berniat menghindari cubitan itu, ia pun berpindah tempat ke belakang Dira agar bisa bebas dari cubitan. Tiba-tiba Panji melihat diatas Dira terdapat pot berisi bunga yang digantung, gantungannya lumayan genting. Panji khawatir jika mengenai kepala Dira langsung menarik tubuhnya lalu memeluk Dira. Dan benar pot itu jatuh hampir saja mengenai kepala Dira. Jantung Dira berdebar-debar, badannya terasa kaku. Dira spontan melepaskan pelukan itu.
Tuh kan, jantungku berdebar lagi. Kayak gini ternyata rasanya jatuh cinta.
"Maaf, Dir. Aku cuma berniat nolong," ucap Panji.
"Makasih, Kak Panji udah nolongin Dira," jawab Dira dengan senyum.
"Sel, aku pengen romantis kayak Dira juga. Tapi sayang, belum nemuin cewek sebaik Dira...," lirih Arasan.
"Sama , Ar. Aku juga pengen punya pasangan setampan dan sebaik Kak Panji," balas Sela.
"Apa-apaan mereka itu!!" ucap Aurel dengan wajah kesal.
"Eh, Kak Aurel ngapain?" tanya Arsan. "Cemburu, ya.... Udah, mending sama Arsan aja, kita sama-sama jomblo Kak," bisik Arsan ditelinga Aurel.
__ADS_1
"Arsan!!" balas Aurel lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sela dan Arsan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Aurel yang begitu kesal. Melihat Dira dan Panji berjalan mendekat, mereka lalu segera pergi menuju kantin. Dira merasa canggung berada didekat Panji saat itu, karena ia baru pertama kali jatuh cinta. Panji menarik tangan Dira, membuatnya bertambah gugup tak sanggup bila menatap mata indahnya.
"Dira...," lirih Panji.
"Ya, Kak. Kenapa?" tanya Dira.
"Kamu lihat sini dong, masa membelakangi gitu. Aku mau ngomong serius sama kamu, Dir," jawab Panji.
"Mau ngomong apa, Kak?" Dira membalikkan badan ke arah Panji.
"Dira... kamu tau, aku udah lama banget mendam semua ini. Setiap hari aku tu kepikiran kamu terus," ungkap Panji. "Kamu tau, aku senang bisa berdua sama kamu, Dir. Aku suka sama kamu Indira."
Kak Panji nembak aku? Serius ini gak mimpikan? Aku bingung mau jawab apa. Ya Tuhan, bantu aku.
Dira cuma memberikan senyuman ke Panji. Ia mencari cara untuk bisa mengalihkan pembicaraan itu. Karena, Dira belum bisa mengutarakan perasaannya.
"Kamu jangan senyum, itu yang membuat jantungku berdebar," ucap Panji.
__ADS_1
"Kak, ke kantin yuk, Dira udah nahan laper dari tadi..." lirih Dira.