Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 36


__ADS_3

Tepat pukul 19.30 WIB, Panji akan menjemput Dira. Sesuai janjinya tadi di sekolah, Panji akan membawa Dira kesuatu tempat. Dira pun bersiap-siap, ia harus bisa tampil lebih cantik malam ini didepan Panji. Dira memilih pakaian yang ada di dalam lemari. Tapi tak ada satupun yang ia tertarik.


"Duh, mau pakai baju yang mana ya malam ini," ucap Dira sambil membuka lemari. "Ini... enggak, ini... kurang cocok, ini... terlalu norak, ini... aarrghh gak ada yang pas!!"


Suara Dira terdengar ribut dari kamar Mamanya. Akhirnya, Mama pun menuju kamar Dira untuk memastikan puterinya tidak kenapa-kenapa. Pintu perlahan dibuka, Mama kaget melihat kamar Dira penuh dengan baju yang berserakan diatas kasurnya, Mama berjalan menghampiri Dira.


"Dira, kenapa baju-baju kamu berantakan diatas kasur ini?" tanya Mama dengan wajah bingung.


"Ma, Dira ada acara malam ini. Baju Dira gak ada yang pas. Beliin dong, Ma, please...," lirih Dira dengan memohon.


"Ya ampun, Mama kira ada apa tadi. Ya udah tunggu di sini, Mama ambil uangnya," ucap Mama.


Mama pun mengabulkan permintaan Dira. Begitu enaknya jadi anak tunggal, selalu dimanja. Mama dan Papa Dira selalu menuruti apa yang di mau. Dira pun mengambil ponselnya dari atas meja, lalu menelepon Sela dan Arsan untuk menemani ke toko baju. Kebetulan, jam masih menujukan pukul 17.00 WIB. Tak lama kemudian, Sela dan Arsan pun mengetuk pintu rumah. Dira langsung berlari keluar mencari Pak Udin sopir Papanya.


"Pak, tolong antarin Dira, ya," tutur Dira sambil menarik tangan Sela.

__ADS_1


"Baik, Non Dira," jawab Pak Udin.


"Pokoknya, kamu harus bantu pilihkan baju yang paling bagus, Sel," ucap Dira."Aku malam ini ada janji dengan Kak Panji, jadi harus kelihatan cantik, oke."


"Dir, aku ikhlas kamu dengan Panji. Tapi, aku boleh, kan jagain kamu?" tanya Arsan.


"Ya, boleh dong, Ar...," bisik Dira ditelinga Arsan.


Dira, Arsan dan Sela pun berangkat menuju toko pakaian terdekat. Dari luar terlihat gaun berwarna merah muda, membuat Dira dan Sela tertarik.


"Wah, yuk ke sana, Sel. Aku harus cobain tuh gaunnya," jawab Dira.


Dira dan Sela pun berjalan kearah gaun merah muda yang terpajang didalam kaca toko pakaian itu. Dira meminta ke pelayan toko untuk melihat gaun itu. Ia begitu tak sabar ingin memakainya.


"Mbak, saya mau yang dipajang itu," ujar Dira sambil menunjuk ke arah kaca toko.

__ADS_1


"Maaf, gaun itu tidak dijual," jawab pelayan toko dengan senyuman.


"Yah, Sel, gak dijual gaunnya...," lirih Dira dengan wajah cemberut.


"Mbak, masa gak dijual sih. Tolong dong, bantuin sahabat saya. Mbak pasti jomblo, kan?"


"Loh, kok tau saya jomblo?" tanya pelayan toko. "Tapi itu beneran tidak diju..."


"Nah, kebetulan nih," potong Sela. "Mbak mau gak dengan cowok ini? Dengan syarat, gaun itu boleh kita beli. Nanti saya akan berikan nomor cowok ganteng ini," Sela menunjukan foto Arsan.


Setelah tawar menawar dengan pelayan toko itu, akhirnya gaun itu diperbolehkan untuk dibeli Dira. Dengan syarat Arsan yang menjadi korban. Tapi tidak apa-apa, Arsan rela asal Indira bahagia. Setelah satu jam, mereka pun pulang. Sela mendandani Dira secantik mungkin. Agar Panji segera mengungkapkan perasaannya malam ini. Sedangkan Arsan, sibuk bermain game diponselnya.


"Dir, pokoknya malam ini kamu cantik. Cantik banget," ucap Sela. "Kak Panji pasti nembak kamu malam ini."


"Bisa aja kamu, Sel...," lirih Dira tersipu malu.

__ADS_1


Dira pun berdiri didepan cermin. Ia begitu berbeda malam ini. Cantik, anggun bagaikan putrei yang turun dari khayangan. Dengan gaun yang super mewah dan sepatu high hells yang tidak terlalu tinggi.


__ADS_2