
Bel pulang berbunyi, Dira masih sibuk membereskan buku pelajaran yang berserakan di atas meja. Sedangkan Sela dan Arsan asyik bercanda saling mengejek satu sama lain. Tiba-tiba, terdengar suara keributan dari arah luar kelas. Sela dan Arsan pun mematung saat mendengar suara itu.
"Eh, itu suara kayaknya gak asing deh, Ar ...," lirih Sela. "Aku harus cari tau ada apa ribut-ribut di depan kelas.
"Aku ikut!!" teriak Arsan.
Saat Sela dan Arsan berdiri di depan pintu kelas, ia melihat kearah bangku, ternyata Aurel dan Rena datang ke kelas. Sela pun menghampiri mereka.
"Eh, ada Kak Aurel sama Rena rupanya. Ada perlu apa ke sini?" tanya Sela.
"Mana Dira? Ada hal penting yang harus kita bicarakan sekarang juga!!" bentak Aurel.
Arsan pun datang menghampiri mereka bertiga yang tengah ribut. Rena melihat Arsan langsung berdiri dari bangku lalu berjalan mendekatinya.
"Hei, Arsan ... Udah lama ya kita gak ngobrol," sapa Rena dengan gaya centilnya. "Kamu kapan sih mau ngajak aku ngedate, Ar. Dira gak bakal nerima kamu juga kok, mending sama aku aja."
"Hehehe, Dira sama aku itu sahabat. Ya gak mungkinlah ada hubungan spesial. Kalau mau jalan, cukup telepon Dira aja bisa kok, males banget sama cewek centil kayak kamu," jawab Arsan.
"Kamu kok jahat banget sih, Arsan. Aku jauh lebih cantik dibanding Dira ...," lirih Rena sambil menarik tangan Arsan.
Aurel pun memaksakan tubuhnya untuk berdiri dari bangku itu. Lalu, berjalan menuju kelas mencari keberadaan Dira. Sela menahan Aurel agar tak masuk ke dalam kelas. Ia takut jika terjadi keributan yang membuat heboh satu sekolahan karena ulah Aurel.
"Udah lima menit aku duduk gak juga kamu panggil si Dira. Oke, biar aku aja yang masuk nemuin dia," ucap Aurel.
"Eh, tunggu ... mending Kak Aurel duduk manis di sini aja dulu. Bentar lagi, Dira bakal keluar kok," tutur Sela sambil menahan Aurel.
Sela mendekat ke arah Arsan, ia meminta Arsan untuk segera menemui Dira dan membawanya ke Panji.
__ADS_1
"Ar, kamu masuk ke dalam sekarang juga. Bawa Dira diam-diam ke Panji, jangan sampai ketahuan sama si nenek lampir ini," bisik Sela.
"Oke!!" teriak Arsan.
"Gak usah teriak juga Arsan ...," lirih Sela. "Kamu gimana sih, ntar mereka tau."
Arsan pun beralasan untuk masuk ke kelas. Dira yang sedang berjalan menuju pintu dihadang oleh Arsan. Dira kaget, tiba-tiba sahabatnya muncul lalu menahannya untuk tidak keluar dulu dari kelas.
"Ada apa sih, Ar?" tanya Dira heran.
"Ada nenek lampir, eh Aurel. Sstttt ...," lirih Arsan. "Kita keluar harus sembunyi-sembunyi Dir, makanya kamu ikutin aku biar gak ketahuan."
Dira hanya bisa mengangguk. Arsan pun memberikan jaketnya ke Dira agar Aurel tidak curiga saat mereka keluar. Tak lama kemudian, Dira dan Arsan pun berjalan menuju pintu kelas. Arsan mengarahkan Dira untuk berbelok kearah kiri. Saat Dira dan Arsan baru berbelok, tiba-tiba saja Aurel menyapa mereka.
"Arsan!!" teriak Aurel. "Siapa tuh?"
"Udah, kamu tenang aja, aku bakal melindungi kamu. Ntar saat aku balik badan, kamu langsung pergi ke parkiran, ya Dira...," jawab Arsan berbisik.
Arsan pun membalikkan badan kearah Aurel. Ia mencari alasan agar tidak mencurigai Dira.
"Eh, Kak Aurel. Biasa Kak, gebetan baru," ucap Arsan.
"Oh, gebetan kamu. Mana Indira?" tanya Aurel lalu berjalan memasuki kelas.
Arsan pun menutup pintu, lalu segera berlari ke parkiran bersama Sela. Dira pun tiba di parkiran, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari Panji. Tiba-tiba, dari arah belakang, Panji mengejutkan Dira.
"Dira ...," sapa Panji.
__ADS_1
Dira tersentak kaget lalu membalikkan badan. Panji mencubit pelan pipi Dira lalu memeluknya.
"Ya ampun, Kak Panji ngagetin Dira aja ...," lirihnya. "Yaudah buruan yuk antar Dira pulang. Dari tadi tu, Kak Aurel nyariin Dira, males tau."
Dira pun pulang diantar oleh Panji. Davin melihat mereka berdua hatinya semakin panas. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu memotret Panji yang sedang memeluk Dira.
"Lihat aja kamu Panji, Dira gak akan mungkin memilihmu," gumamnya.
Rena segera membukakan pintu kelas yang sengaja ditutup oleh Arsan. Rena menertawai Aurel yang ketakutan. Akhirnya mereka pun pergi ke parkiran. Setibanya di parkiran, Aurel dan Rena menghentikan langkah kakinya, mereka melihat Davin yang sedang berdiri mengintip dari balik tembok kelas sambil mengepalkan tangannya.
"Eh, itu Davin kan, Ren?" tanya Aurel.
"Ya Kak, bener itu Davin. Ngapain dia ..."
"Yuk, kita samperin, Ren," ucap Aurel memotong pembicaraan Rena.
Mereka pun berjalan mendekat kearah Davin. Lalu mengejutkannya.
"Hei, Kak Davin!!" teriak Rena.
"Kalian lagi ... kalian lagi ...," lirih Davin lalu berbalik arah dan bejalan meninggalkan mereka.
"Tunggu, Vin!!" teriak Aurel lalu berjalan menghampiri Davin. "Kamu ngapain di sini?"
"Bukan urusan kalian!!" bentak Davin.
"Oke, jadi kamu beneran gak mau kerjasama dengan kita? Kamu gak mau rebut hati Dira?" tanya Aurel. "Oke, bye!!"
__ADS_1
Aurel dan Rena pun meninggalkannya. Davin termenung sambil mencerna kalimat yang baru saja Aurel ucapkan.