
Tiba-tiba Aurel datang menghampiri Panji yang masih berdebat dengan Nadin.
"Hei Panji ...," sapa Aurel. "Siapa dia?"
"Aku Nadin," sahut Nadin. "Kenapa? Kamu pacarnya Panji juga?"
"Ya, aku pacarnya. Bukannya kamu anak SMA Bintang? Ada hubungan apa dengan Panji?" tanya Aurel penasaran.
"Oh, ternyata Panji udah jadi fakboy. Aku mantannya, bentar lagi kami balikan kok!!" jawab Nadin dengan tegas.
Panji mengatur nafas lalu memegang dahi melihat keributan Nadin dan Aurel dihadapannya. Arsan dan Sela menggarukkan kepala melihat perdebatan yang tak kunjung usai. Panji pun akhirnya mengeluarkan suara.
"Bisa diam tidak!!" ucapnya dengan mengeraskan suara. "Kalian kenapa pada ribut? Kamu juga, Rel apa-apaan, ngaku pacar aku segala."
Aurel tersenyum lebar. Tiba-tiba, Dira dan Davin lewat dihadapan mereka. Seketika Panji menerobos ditengah-tengah antara Dira dan Davin.
"Permisi, bisa ngibrol sebentar?" tanyanya ke Dira.
"Eh, apa-apan kamu, Panji. Gak lihat kita lagi pacaran!!" bentak Davin.
"Pacaran apanya, Kak? Biasa aja kok," cetus Dira.
Dira terus berjalan menuju halte. Tak seperti biasanya Dira pulang bersama Panji. Hari ini ia di jemput oleh sopirnya. Tampak mobil yang biasa mengantarnya sudah tiba di depan halte sekolah, Dira segera naik ke mobil. Panji dan Davin masih meributkan soal Dira. Arsan membantu melerai pertengkaran mereka.
"Sudahlah!! Kalian kenapa pada ribut juga!!" ucap Arsan dengan mengeraskan suara.
"Awal mulanya karna si Nad ... Mana tu anak?" tanya Panji.
"Lah, tadi di sini. Jangan-jangan dia kabur," jawab Sela.
Panji meninggalkan tempat itu dan mencari Nadin, karena dialah satu-satunya penyelamat hubungan yang ia jalani bersama Dira.
"Jangan sampai si Nadin ngilang, bisa hancur semuanya," gumam Panji.
Terlihat dari kejauhan, Nadin sedang berdiri dibawah pohon besar yang berada tak jauh dari halte sekolah. Panji berjalan mendekati Nadin secara diam-diam, lalu menahannya agar tak lagi kabur.
"Nah, sekarang kamu gak bisa kabur lagi," ucap Panji.
__ADS_1
"Lepasin Panji, kamu kok jadi agresif gini? Kamu maksa banget," tutur Nadin dengan wajah ketakutan.
"Nadin, kamu harus nolongin aku. Aku bakal nurutin kemauan kamu," ujar Panji dengan penuh harap Nadin bisa membantunya.
"Okey, kamu harus dinner sama aku malam ini," jawab Nadin dengan cepat.
"Di ... dinner? Gak ada yang lain?" tanyanya dengan mulut ternganga. "Kamu sengaja mau main-main sama aku, ya. Udahlah, lupain aja masa lalu. Bukannya kamu sudah dapat yang ..."
"Sssttt, yang masih ngingat kamu siapa? Aku ngajak kamu dinner bukan berdua dengan kamu aja, tapi bawak temen kamu yang namanya Davin tadi, hehehe," jelas Nadin dengan tertawa kecil.
Panji menyetujui permintaan Nadin. Ia memintanya untuk menghubungi Dira agar mau datang bersama Davin malam nanti.
"Gimana? Apa jawaban Dira?" tanya Panji ke Nadin.
"Dia mau kok, awas ya kalau kamu bohong Panji ...," lirihnya dengan tatapan sinis. "Aku sudah melupakanmu secepat itu."
Setelah sampai di rumah, Dira bergegas untuk mengganti pakaian. Tiba-tiba terlintas dipikirannya sewaktu Nadin memeluk Panji. Dira menghapus pikiran barusan itu sambil menepuk jidatnya dan berjalan ke depan kaca.
Ayolah, Dira ... Apa yang ada dipikiranmu, kenapa itu terus ...
"Aaaa Kak Panji, kenapa kamu tega ...," rintih Dira dihadapan kaca. "Kamu pasti bisa lupain dia, Dira. Harus bisa!!"
Kirain Kak Panji, ternyata si angsa.
"Ya hallo ...," sapa Dira.
"Dir, ntar malam aku jemput kamu jam 7, ya," ucap Davin melalui telepon.
"Baik, tapi ada Kak Panji sama Kak Nadin juga ntar malam, mereka ngundang dinner," balas Dira.
"Boleh juga tuh, ya udah aku tutup teleponnya ya. Bye ..."
Pasti mereka bakal romantis, sedangkan aku merasakan cemburu melihat kemesraan mereka. Hiks hiks ...
Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, Dira sudah bersiap-siap dan berjalan menuju teras rumah menunggu Davin yang menjemputnya. Saat itu pagar rumah kebetulan terbuka, terlihat ada mobil berwarna putih datang. Kaca mobil dibuka, ternyata itu Davin. Dira pun berjalan ke arahnya, lalu masuk ke dalan mobil itu.
"Tumben gak bawa motor," ucap Dira.
__ADS_1
"Kan enakan naik mobil, kalau hujan kamunya gak basah," jawab Davin.
"Emangnya hujan?" tanya Dira.
"Kenapa sih, kamu kalau dengan Panji bisa tertawa, bercandaan. Kenapa pas sama aku gak bisa sebahagia itu?"
Ya karna bedalah, dia lebih tau apa yang aku mau. Dan gak nyerocos terus udah kayak angsa.
Setibanya di lokasi, Dira dan Davin turun. Mereka pun masuk ke dalam kafe itu. Terlihat Panji dan Nadin sedang menunggu kedatangan mereka berdua. Nadin meminta Dira untuk duduk bersebelahan dengan Panji, wajahnya tampak bahagia mendengar ucapan Nadin.
Wah, ada apa ini? Kok malah disuruh duduk sebelahan dengan Kak Panji? Ah, sudahlah, yang penting gak deket si angsa.
Makanan sudah tersaji diatas meja, Dira mulai menyantap makanan itu sambil mengawasi gerak gerik Panji yang dari tadi tak habis-habis memandanginya hingga membuat Dira salah tingkah. Sambil menikmati makanan, Panji berpura-pura tersedak. Dira dengan secepat kilat langsung memberikan air putih dihadapannya.
"Nih, Kak minum dulu," ucap Dira sambil menyodorkan segelas air putih.
Panji tersenyum kearah Dira karena telah berhasil mengambil perhatiannya. Setelah selesai makan, Nadin meminta Davin untuk membawanya jalan-jalan.
"Davin, yuk bawa aku jalan sebentar," ujar Nadin.
"Tapi ... kamu bukannya sama Panji?" tanya Davin dengan wajah bingung.
"Jangan bawel, buruan!!" perintahnya.
Saat Nadin dan Davin pergi, Panji mulai lebih mendekat ke Dira lalu menggenggam tangannya.
"Ini kesekian kalinya aku minta maaf sama kamu, aku harap kamu mau dengerin aku, Dira ...," lirih Panji.
"Udah, Kak ... Jangan bahas itu lagi, walaupun Kak Panji gak salah, tapi tetap aja nyakitin hati Dira," jawab Dira dengan menatap Panji.
"Dira, tolonglah. Aku sama Nadin gakada hubungan apa-apa," jelas Panji.
Dira segera beranjak dari tempat duduk itu menuju keluar kafe. Ntah kenapa sangat sulit melupakan kejadian itu. Dira serasa trauma untuk menyayangi seseorang. Panji menyusulnya keluar, terlihat Dira sedang berdiri diujung teras kafe. Panji berjalan mendekatinya, ia memegang pundak Dira.
"Dira, sebenci itu kamu terhadapku?" tanya Panji dengan suara pelan.
"Maaf, Kak. Biarkan Dira menenagkan pikiran dulu ...," lirih Dira.
__ADS_1
Dira membalikkan badan kebelakang beberapa detik, lalu berbalik lagi ke depan. Perasaannya tak karuan, Dira masih menyimpan rasa sayang terhadap Panji, tapi hatinya begitu perih untuk bisa kembali lagi. Dira baru berjalan beberapa langkah, Panji menahan agar ia tidak pergi meninggalkannya saat itu. Kini bulir air mata tak lagi tertahan, ia segera menghapusnya lalu melanjutkan langkah kaki menuju mobil sopir yang menjemput sudah menunggunya di parkiran.