Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 65


__ADS_3

Saat mereka berjalan menuju kantin, terlihat Davin sedang menunggu kedatangan Dira dan Panji di gerbang kantin. Dira begitu takut, seketika tubuhnya gemetar melihat tatapan Davin yang tajam seperti menusuk kelubuk hatinya yang paling dalam. Panji dengan santai menolak tangan yang sengaja menghadang mereka agar tak bisa melewatinya.


"Minggir, punya mata kan? Bisa lihat? Atau pura-pura gak ngelihat ada orang di sini," ucap Panji dengan mendorong tangan Davin.


"Eh, beraninya kamu bawa Dira tanpa sepengetahuan aku, ya. Apa kurang jelas kemarin itu?" tanya Davin sambil melepaskan tangan Panji yang mendorongnya.


"Gak usah mimpi, bangun woy bangun!!" bentak Panji. "Mau ngancam apa lagi? Jangan jadi pecundang dong, cowok gak sih?"


Saat itu amarah Davin terlihat memuncak. Ia mengepalkan tangannya, dan hampir saja mengenai wajah Panji, tapi ditahan oleh Dira.


"Udah Kak, stop!!" teriak Dira.


Davin menghentikan niatnya yang ingin mendaratkan kepalan tangannya itu. Ia menghela nafas sejenak, dan meminta Dira untuk ikut bersamanya.


"Kalau gitu, kamu harus ikut dengan aku Dira," ucap Davin.


Dira memandang wajah Panji, kata hati tak ingin menerima ajakan Davin saat itu. Tapi, dengan terpaksa mulut menerimanya. Karena Dira tak ingin orang yang ia cintai terluka karenanya. Davin menarik tangan Dira, ia membawanya ke kantin untuk mengisi perut.


Maafin Dira, Kak Panji ... Dira cuma gak mau Kak Davin terus-terusan menganggu Kak Panji, apalagi sama dilukainya.


"Dira, kamu mau makan apa?" tanya Davin.


"Kayak kemarin aja, Kak ...," jawab Dira. "Kak Davin janji, ya sama Dira."


"Janji apa, Dir? Oh, janji jangan kasar lagi? Aku gak akan kasar ke siapa pun, kalau orang itu tak mengusik," ucap Davin.


Bukannya yang mengusik itu kamu, Kak? Dira lebih dulu dekat dengan Kak Panji sebelum kamu hadir.


"Kamu dengar gak, apa yang baru saja aku ucapkan?!" tanya Davin dengan mengeraskan suaranya.

__ADS_1


Dira mengangguk. Pesanan pun datang, mereka segera menyantapnya. Tiba-tiba, Panji duduk di meja yang berhadapan langsung dengannya. Aurel datang menghampiri Panji saat itu. Dira terus melihat ke arah Panji dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ia ingin berjalan ke sana untuk makan bersama pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


Dira cemburu Kak Panji berduaan dengan Kak Aurel di sana. Apa Kak Panji gak mau lihat Dira lagi, Dira gak bisa secepat itu lupain kamu, Kak ...


Davin heran melihat Dira yang dari tadi tak juga menghabiskan makanannya, Dira hanya termenung menyaksikan kedekatan Panji dan Aurel, seketika pandangan Panji mengarah ke Dira, mereka saling bertatap mata dari kejauhan. Dira langsung berdiri dari bangkunya dan menghentakan meja dengan kedua tangannya.


"Dira, kamu kenapa?" tanya Davin.


Dira kaget, ia langsung menepuk pipi secara pelan dengan kedua tangannya. Dira kembali duduk dan melanjutkkan makan.


"Dira, ntar malam kita nonton, ya. Pokoknya, aku beliin kamu barang-barang yang mahal," ucap Davin dengan sedikit mengeraskan suara.


Panji yang sedang minum tersedak mendengar ajakan Davin itu. Ia melirik ke arah Dira lagi, untuk memastikan jawabannya. Dira pun memandangi Panji, seakan memberitahu dengan bahasa isyarat. Panji menggelengkan kepalanya, meminta Dira untuk menolak ajakan Davin.


"Ta ... tapi, Dira ntar malam mau ngerjain tugas sekolah, Kak. Banyak soalnya ...," lirih Dira.


"Ntar aku suruh temenku yang bantu ngerjain, dia juara umum di sekolahnya. Tenang aja," jawab Davin.


Bel masuk berbunyi, Dira segera berdiri dan berjalan menuju kelas. Davin menarik tangan Dira yang baru beberapa langkah meninggalkan bangku itu.


"Eh, main pergi aja," ucap Davin. "Kamu gak lihat ada orang dihadapan kamu ini?"


"Ya Kak, maaf. Dira harus cepat masuk kelas, soalnya jam pelajaran ini gak boleh telat masuk," tutur Dira beralasan agar bisa bertemu Panji.


"Aku yang antarin kamu sampai ke kelas, aku gak mau kamu ngobrol sama cowok yang mau merebut pacar aku," ucap Davin sambil melirik ke arah Panji.


Panji menahan amarahnya saat mendengar perkataan Davin. Ia segera pergi tanpa melihat mereka berdua. Raut wajah Dira tampak sedih, ia ingin sekali seperti biasa, kemana-mana selalu bersama dengan Panji.


Davin mengantarkan Dira sampai ke kelasnya. Begitu Davin pergi, Dira langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon Panji. Dengan secepat kilat diangkat olehnya, Dira meminta maaf soal di kantin tadi. Ia terpaksa melakukan itu agar Davin tak melakukan hal-hal yang membuat orang lain celaka. Itulah kenapa Dira tak menyukai pria yang bernama Davin itu, sifatnya yang kasar, melakukan sesuatu dengan seenak hatinya dan juga memaksa. Panji memahami tujuan Dira, mereka pun berjanji untuk bertemu saat jam pelajaran di perpustakaan. Dira pun masuk ke dalam kelas, Sela dan Arsan menghampirinya.

__ADS_1


"Dir, gimana tadi?" bisik Arsan.


"Sory ya, Dir. Kita cabut tadi, gak mau suasana jadi makin kacau," sambung Sela.


"Udah, gak apa-apa. Aku dengan Kak Panji sama-sama sedang sandiwara kok," jawab Dira dengan berbisik. "Kalian tetap bantuin aku, kan?"


"Tentu," ucap Arsan dan Sela serentak.


Pak guru pun masuk, kebetulan hari ini pelajaran seni jadi Dira akan cepat mengerjakan tugas dari Pak guru.


"Oke, seperti biasa. Tugas kali ini tetap menggambar, ya. Temanya bebas," ucap Pak guru.


Tangan Dira langsung memulai untuk menggambar. Yang ada diotaknya cuma Panji, ia pun menggambarkan wajah Panji diselembar kertas itu. Hanya memerlukan waktu sepuluh menit Dira menyelesaikannya.


"Nah, akhirnya siap juga. Wajah Kak Panji tetap gagah walaupun digambar, hehehe," lirih Dira sambil tertawa kecil.


Dira pun berdiri dari bangkunya, lalu mengantarkan tugasnya ke meja guru yang ada di depan kelas. Pak guru heran melihat gambar itu, seperti tak asing wajahnya.


"Dira, kayaknya Bapak pernah lihat wajah yang ada digambar ini, tapi siapa ya ...," lirih Pak guru.


"Perasaan Bapak aja kali, emangnya siapa, Pak?" tanya Dira sambil senyum-senyum.


"Ini Panji ketua OSIS," bisik Pak guru. "Betul kan, Dira?"


Dira menganggukkan kepala. Pipinya memerah karena malu Pak guru mengetahui siapa pria yang digambar itu. Dira pun meminta izin untuk ke kamar mandi sebagai alasan untuk bertemu Panji. Ia melihat pria itu sedang duduk di depan perpustakaan. Dira langsung melajukan langkahnya. Begitu sampai, Panji menunjukkan sebuah video Davin saat berada di perusahaan Papanya membayar pesuruh untuk menipu perusahaan Papa Dira.


"Ini bisa menjadi bukti ke Papa kamu, kita harus bisa Dira, aku yakin Papa kamu cuma termakan rayuan mereka saja ...," lirih Panji.


"Kak Panji dapat rekaman itu dari mana?" tanya Dira.

__ADS_1


"Sstttt, jangan kencang-kencang ngomongnya, Dir. Banyak mata-mata Davin. Yang jelas aku dapat ini dari anak buah Papa aku," jelas Panji dengan berbisik. "Nanti malam kamu diajak nonton, kan? Nah, aku sama Aurel juga bakal janjian di tempat yang sama. Kita bakal ngerjain mereka berdua, okey."


Dira menyetujui rencana itu. Mereka pun kembali ke kelas. Sesampainya di kelas, Sela dan Arsan melihat wajah Dira tampak cerah. Kedua sahabatnya pun saling memandang sambil menggelengkan kepala. Bel pulang berbunyi, semua murid kelas X.1 segera bersiap-siap untuk pulang.


__ADS_2