Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 43


__ADS_3

Setelah selesai dari latihan basket, Dira berjalan menemui Panji yang asyik berdebat dengan Davin. Dira heran melihat aksi mereka berdua.


"Hei, kalian pada ngapain? Udah kayak anak SD rebutan mainan aja," ucap Dira sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Dira...," sapa Panji dan Davin dengan serentak.


Panji dan Davin pun berjalan mendekati Dira yang sedang berdiri dihadapan mereka sambil menatap mata Dira yang membuat mereka berdua terkagum-kagum.


Kenapa sih mereka berdua ngeliatin aku begitu serius. Apa ada yang salah ya dari diriku.


"Hei, kenapa pada ngeliatin gitu?" tanya Dira.


"Kamu cantik, Dir...," lirih Panji.


"Dir, pulang bareng, yuk!!" ajak Davin.


"Eh, gak bisa. Aku udah duluan janjian dengan Indira," ucap Panji sambil menarik tangan Dira.


"Duh, apa-apaan sih. Dira pulang bareng Arsan aja deh kalau gitu. Bye," jawab Dira lalu berjalan menghampiri Arsan yang tengah berbincang dengan Sela.

__ADS_1


Panji dan Davin berlari mengejar Dira, tak henti-hentinya mereka berdebat. Dira mengobrol cukup lama dengan Arsan, mereka sempat membahas cerita, zaman SMP. Arsan menceritakan semua kejadian mulai dari awal berkenalan dengan Dira hingga ia menyukainya. Dira malu mendengar ucapan Arsan, ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dengan candaan si Arsan, Dira berhasil dibuat tertawa terbahak-bahak. Saat Panji dan Davin mendengar obrolan Dira dan Arsan, mereka pun meledek Arsan.


"Gak boleh pacari sahabat sendiri, Arsan...," bisik Panji ditelinga Arsan.


"Dir, banyak ya yang naksir kamu. Makanya jangan terlalu cantik dong," ucap Davin.


"Gombal doang tuh, Dir. Awas banyak buaya darat. Hahaha," tutur Arsan sambil tertawa.


Akhirnya, Dira memutuskan untuk pulang bersama Panji. Karena, Arsan sudah janjian dengan Sela akan mengantarkannya pulang. Davin terlihat kecewa, dengan memberikan senyuman palsunya. Diperjalanan, Panji meminta Dira untuk menjauhi Davin. Sepertinya, Panji benar-benar cemburu saat Davin ikut mendekati Dira.


"Dir, kamu jangan dekat-dekat si Davin itu, ya," ucap Panji. "Aku gak bisa jauh dari kamu."


"Gak kenapa-kenapa, Dira. Cuma minta kamu buat jauhin dia," jawab Panji.


Panji melajukan sepeda motornya, begitu sampai di depan pagar rumah Dira. Ia juga ikut turun dari kendaraannya. Lalu, Dira pun membuka pagar dan segera masuk ke dalam. Dira menyuruh Panji untuk mampir terlebih dahulu. Begitu mereka masuk, Panji memarkirkan sepeda motornya tepat di depan teras rumah Dira.


"Kak Panji duduk dulu, ya. Dira buatin minuman," ucap Dira dengan senyuman.


"Oke, baiklah. Buatnya pakai senyuman kamu ya, Dira. Biar manisnya gak hilang," balas Panji.

__ADS_1


Dira tersipu malu mendengar ucapan Panji yang menggodanya. Dira lalu masuk ke dalam rumah untuk segera membuatkan minuman. Setelah selesai, Dira berjalan menuju teras rumah membawa dua gelas minuman susu cokelat dingin, pas dengan cuaca yang terik.


"Ini buat Kak Panji spesial, yang seger-seger," ucap Dira sambil menyajikan minuman itu di atas meja.


"Kamu itu lebih spesial, Dir, dari minuman ini. Manisnya gak ngebosanin lagi," jawab Panji spontan.


"Kak Panji isengin Dira melulu, deh. Dira cubit baru tau, ya," balas Dira dengan candaan.


Saat mereka asyik tertawa, Panji tiba-tiba memegang tangan mungil Dira. Panji lagi-lagi menatap mata Dira dengan begitu tajam. Dira mendadak salah tingkah, akibat tatapan Panji. Jantungnya mulai bekerja tak normal, sebisa mungkin ia mencoba menguasai diri. Dengan cepat Dira bangkit dari duduknya.


"Kak Panji udah siap minumnya?"


Panji tersenyum menanggapi jawaban Dira.


"Kamu satu-satunya cewek yang membuat jantungku terus berdebar kencang, Dira..," lirih Panji.


Ampun, Kak Panji bikin Dira greget gini. Sampai bingung mau jawab apaan. Malah jantung berdebar terus lagi.


Dira kehabisan kata-kata saat mendengar ucapan Panji barusan. Panji pun berdiri, dengan meleparkan senyuman manisnya. Lalu berjalan kearah sepeda motornya untuk segera pulang. Dira pun membalas senyuman itu ke Panji yang sedang menyalakan kendaraannya.

__ADS_1


__ADS_2