
Bel istirahat berbunyi, Dira membereskan semua peralatan dan buku-buku secepat kilat. Ia harus segera ke perpustakaan bersama kedua sahabatnya, sebelum Panji keluar dari kelas. Dira tak mau jika Panji melihat lalu mengikutinya.
"Sela... Arsan... buruan ke perpus. Duh, kalian lambat kali, sih...," lirih Dira.
"Kenapa buru-buru banget, Dir?" tanya Arsan.
"Biasanya juga lambat kita ke perpus...," sambung Sela.
"Jadi kalian gak mau, nih? Oke, aku pergi sendiri aja kalau gitu," jawab Dira dengan wajah cemberut.
Arsan dan Sela pun langsung berlari mengejar Dira yang sedang berjalan menuju luar kelas. Mereka bertiga pun bergegas ke perpustakaan. Saat dipertengahan jalan, tepatnya di depan kelas Panji, Dira melihat kanan, kiri dan belakang untuk memastikan agar Panji tidak melihatnya. Tiba-tiba Panji muncul dihadapan Dira yang membuatnya tersentak kaget.
"Kak Panji...!!" sapa Dira.
Aduh, gimana ini. Mau ngelak malah dia muncul didepanku. Aku harus cari alasan apa ni...
"Kenapa wajahmu seperti ketakutan gitu?" tanya Panji sambil memperhatikan kearah wajah Dira dengan serius.
"Ti... tidak... tidak apa-apa kok, hehehe," jawab Dira.
"Yuk, ke kantin. Aku traktir kalian semua...," ujar Panji.
"Let's go!!" jawab Arsan spontan.
Dira menepuk-nepuk pundak Arsan, sambil memberi kode untuk menolak ajakan Panji. Sela pun membantu Dira berbicara.
"Kak, kita kebetulan ada tugas. Jadi mesti buru-buru nih ke perpus. Gimana kalau Kak Panji duluan aja ke kantin, nanti kita nyusul kok...," ucap Sela.
__ADS_1
"Ya, betul itu, Kak. Nanti kita nyusul, hehehe," sambung Dira.
Panji heran dengan tingkah laku mereka, lalu ia pun berjalan ke kantin sendirian. Sela dan Dira memarahi Arsan, ia pun berlari ke arah perpustakaan duluan, untuk menghindar dari omelan Dira dan Sela. Sesampainya di perpustakaan, seperti biasa, mereka duduk selalu dibagian pojok. Begitu mereka duduk, Sela penasaran dengan apa yang mau Dira cerita.
"Buruan, Dir. Mau curhat apa?" tanya Sela.
"Kalian tau, semalam aku ngedate dengan Kak Panji. Terus, banyak kejadian aneh, masa sih mati lampu pas kita lagi lihat video dilayar lebar itu. Dan yang lebih bikin gugup, Kak Panji nembak aku semalam...," ucap Dira berbisik.
"Terus kamu jawab apa? Terima, kan?" tanya Arsan.
"Aku belum menjawab, habisnya ada aja yang merusak moment kami berdua. Masih gantung nih...," lirih Dira. "Menurut kalian gimana? Aku terima? Dan jawabnya gimana? Tolongin aku..."
"Pas pulang nanti, kamu ajak ngomong empat mata, Dir," ucap Sela. "Pokoknya kamu harus terima dia. Harus bisa, oke."
Tak lama kemudain, Panji menyusul ke perpustakaan. Ia membawa sekantong cemilan untuk mereka bertiga. Panji makin heran dengan sikap Dira yang berbeda hari ini, tidak seperti biasanya. Saat Panji melihat Dira, tak sengaja mata Dira menuju kearahnya, ia kaget, lalu mengalihkan pandangannya ke yang lain. Dira begitu canggung sehingga tak kuat menatapnya.
Panji lagi-lagi melihat ke arah Dira, ia mulai mengatur nafas, lalu berpura-pura membaca buku yang ada di atas meja. Ia mengambil secara asal buku itu. Tanpa sadar buku yang ia baca terbalik.
"Dira, kamu baca buku atau nutupin muka?" tanya Panji.
"Ya... Ya baca bukulah, apa sih Kak Panji sok-sok gak tau aja," jawab Dira dengan begitu gugup.
"Coba lihat itu bukunya bener apa enggak...," lirih Panji.
Dira melihat buku itu dengan tulisan terbalik, lalu melihat kembali sampul depannya juga terbalik. Sela dan Arsan tertawa kecil melihat tingkah Dira.
"Dira kurang fokus tadi Kak, maklum banyak PR, hehehe," ucap Dira dengan alasan.
__ADS_1
Setelah itu, Panji menarik tangan Dira. Ia ingin sekali mengungkapkan isi hati untuk yang ketiga kalinya. Dira gugup saat menatap mata Panji, ia pun mencari pembahasan agar tak terlihat gugup.
"Kak, ngomong-ngomong ngapain Kak Panji ke perpus? Ada tugas juga, ya? Atau ... sengaja ngikutin Dira, ya ...," ucap Dira.
"Kamu pinter ya, Dir. Pinter buat aku mikirin kamu terus," jawab Panji dengan tersenyum.
What? Barusan Kak Panji gombalin aku? Apa sih Dira, jangan salah tingkah gini dong. Malu tau dilihatin Kak Panji terus.
Dira senyum-senyum saat mendengar perkataan Panji yang belum lama ia lontarkan. Kalimat itu membuat Dira menjadi salah tingkah, hingga Panji pun menegurnya sambil meledek Dira yang sedang melamun.
"Hei, Dira ...," panggil Panji.
Dira masih saja melamun tak menjawab sapaan Panji. Sela dan Arsan pun tertawa melihat tingkah Dira yang semakin gugup dibuat Panji. Dengan isengnya Arsan melemparkan gulungan kertas ke wajah Dira.
"Indira!!" teriak Arsan.
"Apaan sih kamu, Ar. Suka banget isengin aku ...," lirih Dira.
"Makanya, jangan suka bengong. Itu akibatnya. Noh, dipanggil si Panji juga dari tadi gak nyaut. Kesambet cinta pertama ya gitu," jawab Arsan sambil meledek Dira.
"Hehehe, maaf Kak, jangan dengerin si Arsan, dia agak sedikit ngelantur kalau ngomong Kak," ucap Dira ke Panji.
"Tapi yang dibilang Arsan itu ada benernya juga, kamu jangan suka bengong," tutur Panji. "Ntar kesambet siapa yang susah?"
"Ya Kak Panji yang susah," jawab Sela dan Arsan serentak.
Bel berbunyi, mereka pun kembali ke kelas masing-masing. Saat Dira hendak melangkahkan kaki keluar perpustakaan, Panji menarik tangan Dira sambil berbisik ditelinganya.
__ADS_1
"Gagal lagi, tapi aku gak akan nyerah buat ungkapin ke kamu..."