
Arsan menerima pesan via whatsapp dari Panji.
[Panji : Ar, tolong amankan dua pengganggu itu. Mereka menyamar jadi pelayan, cek ke bagian dapur.]
[Arsan : Sip, aman.]
Arsan bergegas menuju dapur untuk mencari tahu. Begitu sampai di depan pintu dapur, ia melihat Aurel dan Davin tengah membahas rencana selanjutnya. Arsan menguping pembicaraan mereka. Tak sengaja ia menyenggol rak-rak yang berada di depan pintu dapur restoran itu. Aurel dan Davin menghentikan pembicaraan, mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres di luar.
"Siapa di sana?!" teriak Aurel.
"Paling juga kucing, Rel. Udah cepetan kamu pindahin video itu ke flashdisk. Nanti aku akan nyalain video kebersamaan Panji dengan mantannya di depan mereka berdua. Pasti bakalan marah tu si Dira," ucap Davin.
Dasar manusia licik, kalian pikir, bisa apa melakukan itu. Huh, ada Arsan di sini yang akan batalkan rencana jahat kalian.
Arsan pun berjalan menuju ruang audio. Saat Davin memasuki ruangan itu, ia mulai menyalakan video itu. Lalu, ia segera pergi keluar untuk melihat ekspresi Dira. Dan, tiba-tiba saja video itu berubah, menjadi kata-kata yang romantis. Dira menatap ke arah Panji dengan sedikit canggung. Aurel dan Davin heran, karena videonya berubah.
"Vin, kok video itu yang mau nyalain. Apa-apaan sih kamu, yang ada Dira makin suka sama Panji...," lirih Aurel.
"Aku juga gak tau, Rel. Aku udah nyalain video Panji dengan mantannya, kok jadi berubah. Serius aku bingung," jawab Davin.
Wajah Aurel mendadak cemberut. Panji meminta Dira untuk berdiri di depan layar lebar itu. Tiba-tiba, lampu di matikan. Sisalah lampu utama ditengah-tengah mereka beserta lilin yang menyala di atas meja. Dira spontan mendekat ke tubuh Panji karena ketakutan.
"Kak, Dira takut. Masa sih mati lampu...," lirih Dira.
"Kamu gak akan takut setelah ini. Karena aku akan selalu jagain kamu," ucap Panji lalu menarik tangan Dira.
"Maksud Kak Panji?" tanya Dira. "Kak, Dira beneran takut gelap."
__ADS_1
Ampun, ini beneran canggung banget aku. Ah, ini gak seperti biasanya, mendadak ciut nyaliku untuk natap mata Kak Panji. Dira... jangan grogi, please...
"Dira... aku tau kamu pasti gugup dan salah tingkah. Itu hal yang wajar...," lirih Panji dengan menatap mata Dira.
Kak Panji kok bisa tau aku salah tingkah. Duh, aku malu tau. Dira tolong kondisikan dirimu.
"Kak... Kak Panji ngomong apa sih, Dira gak salah tingkah kok. Lihat nih Dira biasa aja mandang Kak Panji," balas Dira dengan berbagai cara agar tidak ketahuan.
Panji menatap semakin dalam, jantung Dira berdetak semakin kencang. Panji mulai mengeluarkan kalimat yang selama ini Dira tunggu.
"Aku suka kamu Indira. Aku sayang kamu. Detak jantungku semakin kencang...," lirih Panji menarik tangan Dira dan meletakkan didadanya.
Aurel semakin teriris hatinya melihat Panji mengungkapkan perasaan ke Dira. Ia pun pergi dari tempat itu. Sedangkan Davin masih berdiri melihat senyuman bahagia mereka berdua. Davin geram, lalu mengepalkan tangannya.
"Lihat saja kalian, aku tidak akan membiarkan kalian bersama!!" ungkap Davin lalu ia keluar untuk menyusul Aurel.
Dira masih memikirkan jawaban. Ia takut, jika Aurel tahu tentang hal ini.
"Jadi gimana jawaban kamu, Dir?" tanya Panji dengan penuh harap.
Duh, gimana nih. Aku bingung mau jawab apa...
"Dira? Kamu dengar aku, kan?"
"Ya, Kak. Dira dengar. Dira juga su..."
Belum sempat Dira menjawab, terdengar suara keributan dari arah luar restoran Mereka pun keluar menuju sumber suara. Ternyata, seorang pelayan restoran tidak terima dengan tuduhan salah satu teman kerjanya, sehingga ia dipecat. Akhirnya, Panji pun mengantarkan Dira pulang.
__ADS_1
"Kak, makasih ya buat malam ini," ucap Dira dengan senyuman.
"Sama-sama, Dira," balas Panji. "Kamu belum jawab pertanyaanku, gimana sekarang udah bisa jawab?"
Aduh, Kak Panji malah ingat lagi. Emang sih aku suka sama kamu, Kak. Tapi...
"Dira, kamu kenapa sih melamun dari tadi...," lirih Panji. "Kalau kamu nolak aku juga gak apa-apa kok."
"Bukan, Kak... Siapa juga yang nolak. Dira juga sebenarnya..."
Tit..tit...
Suara klakson mobil dari arah belakang mereka membuat Dira menghentikan pembicaraan. Begitu sampai di depan rumah Dira, Panji pun lupa dengan pertanyaannya tadi.
Dari tadi mau ngomong kepotong melulu. Apes banget kamu Dira...
"Eh, besok aku jemput, ya. Aku pulang dulu, Dir. Good night Indira...," ucap Panji dengan senyum manisnya.
"Oke, Kak Panji. Good night too...," jawab Dira membalas senyuman.
Dira menuju kamarnya, sebelum tidur ia mencuci muka, kedua tangan dan kaki. Lalu, ia melanjutkan untuk membaringkan badan diatas kasur empuknya. Dira kepikiran terus dengan kalimat yang diucapkan Panji tadi. Bahkan ia sulit untuk memejamkan matanya.
"Kak Panji tadi beneran nembak aku, ya? Seperti itu rasanya kalau ditembak cowok yang kita sukai. Asli bikin aku gak bisa tidur...," gumam Dira sambil senyum-senyum.
Dira mengambil ponselnya, ternyata ada pesan via whatsapp dari Panji.
[Panji : Dira, aku selalu menunggu kamu. I Love You❤]
__ADS_1
"Hah? Kak Panji bilang I Love You. Aku mesti jawab apa ini... Harusnya aku konsultasi ke Sela dan Arsan soal ini, mereka berdua itu kan pakar soal cinta. Baiklah, besok aku harus curhat ke mereka...," lirih Dira.
Dira lalu menarik selimutnya dan melanjutkan untuk tidur, karena hari sudah larut malam.