Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 82


__ADS_3

Keesokan harinya, Dira kembali chek-up ke rumah sakit. Ia berjalan menuju ruangan dokter yang akan memeriksa keadaannya yang makin hari makin sulit untuk mengingat.


"Dira, apa saja keluhan kamu dalam seminggu ini?" tanya Dokter itu.


"Dira selalu sakit kepala, Dok. Setiap kali berusaha mengingat pasti Dira merasakan sakit dikepala," jawab Dira.


Dokter kemudian memberikan Dira obat, dan tak lupa menasehatinya agar tidak memaksa untuk langsung mengingat semuanya, karena akan membuat sarafnya semakin sulit bekerja.


"Dira, ini obat kamu jangan sampai lupa minum. Dan satu lagi, kamu jangan paksakan untuk mengingat, akan berdampak buruk pada saraf kamu," jelas Dokter itu.


"Baik, Dok. Terima kasih," balas Dira.


Kemudian Dira berjalan kearah luar ruangan menuju ruang tunggu. Karena Mama menunggunya disana. Dikejauhan terlihat ada Panji, Arsan, Davin dan juga Sela yang sedang menununggu kabar baik tentang kesehatan Dira.


"Dira!!!" teriak mereka berempat secara bersamaan.


Dira memberikan senyum manis dan segera memeluk mereka.


"Dira, gimana hasil chek-up nya?" tanya Panji.


"Ya, Dir. Kamu udah sehat?" tanya Sela.


"Aku sehat kok, cuma Dokter bilang jangan terlalu memaksakan untuk mengingat," jawab Dira.


"Aku yakin kamu pasti bakalan bisa mengingat kembali, Dira ...," lirih Panji sambil mencubit pelan pipi Dira.


Setelah itu mereka pun segera menuju ke rumah Dira. Panji dan Davin menyuruh Arsan dan Sela untuk terlebih dahulu ke rumah Dira, karena mereka hendak pergi kesebuah toko kue. Besok adalah hari ulang tahun Dira, Panji ingin memberikan kejutan yang tak akan mudah dilupakan bagi Dira.


"Sela, Arsan, kalian duluan aja. Aku sama Davin mau mesan kue untuk besok," ucap Panji.


"Oh, ya. Dira besokkan ulang tahun, guys," tutur Sela.


"Oke, kita duluan," jawab Arsan. "Yuk, Sel."


"Nanti kita beliin makanan buat kalian," sambung Davin.


Panji dan Davin pun segera berangkat menuju toko kue yang letaknya tak jauh dari rumah Dira. Begitu sampai, mereka berdiskusi untuk memilihkan model kue yang paling bagus untuk Dira.


"Eh, Vin. Gimana kalau yang ini aja," usul Panji ke Davin.


"Boleh juga tuh," jawab Davin.


Setelah selesai memesankan kue ulang tahun untuk Dira, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Dira. Saat mereka tiba di depan pagar, terlihat ada beberapa mobil terparkir disana. Mereka pun menerobos masuk ke dalam dan memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah itu. Tiba-tiba ponsel Panji berbunyi. Ternyata Arsan memberitahunya untuk segera lewat pintu belakang.

__ADS_1


"Vin, lewat belakang kata Arsan," ucap Panji.


"Loh, kenapa?" tanya Davin heran.


"Aku juga gak tau kenapa, nanti kita tanyakan langsung. Yuk," ajak Panji.


Mereka pun berjalan kearah belakang. Seketika terlihat Dira, Arsan dan Sela sedang duduk dibangku halaman rumah belakang. Dira pun berteriak memanggil Panji dan Davin.


"Kak Panji, Kak Davin!!" teriak Dira.


Panji dan Davin pun berjalan kearah mereka. Lalu, Davin dengan rasa penasaran melontarkan pertanyaan ke Dira.


"Dir, kenapa ramai mobil di depan rumah?" tanya Davin.


"Oh, itu rekan bisnis Papa, Kak," jawab Dira.


"Wah, berarti ada Papa Panji juga tuh," ucap Davin.


"Ah, masa iya?" tanya Dira.


"Panji, Papa kamu juga hadirkan kemari? Aku tau dari Papa aku sih, perusahaan Papa kamu bekerjasama dengan perusahaan Papa Dira," jelas Davin ke Panji.


"Aku juga gak tau, Vin. Ya kalau hadir sih gak apa, ketemu calon besan, hahaha," jawab Panji dengan tertawa.


Akhirnya mereka pun duduk dibangku taman itu sambil makan siang. Tak terasa jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, Arsan dan Sela pun bergegas pulang. Sedangkan Davin dan Panji masih duduk dibangku itu bercerita masalah kesehatan Dira.


"Dir, tadi waktu kamu chek-up di Rumah Sakit gimana? Apa kata Dokter?" tanya Panji.


"Dokter bilang, Dira gak boleh maksain buat ingat semua, Kak. Yang jelas, Dira bisa sembuh kok, Kak," jawab Dira dengan tersenyum.


"Gimana perasaan kamu saat aku selalu nemanin kamu, Dir?" tanya Panji sekali lagi.


"Nyaman aja, Kak. Dira ngerasa kalau Kak Panji tu orang yang spesial," jawabnya.


"Nah, berarti kamu udah mulai sedikit mengingat, Dir," ucap Davin. "Aku yakin, kamu pasti bisa sembuh."


"Makasih, Kak Davin. Oh, ya, Kak Panji sama Kak Davin gak mau masuk ke dalam dulu?" tanya Dira.


"Gak usah, Dir. Ini kita mau permisi pulang," balas Panji.


"Ya, Dir. Ntar malam kita main kesini lagi," sambung Davin.


Setelah mereka pulang, Dira pun masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar. Dira mengambil buku dilaci meja belajar, tak sengaja ia menemukan sebuah kotak kecil berisi kalung. Dira berusaha mengingat kalung itu pemberian dari siapa, dan saat ia memejamkan mata ia melihat sosok pria wajahnya masih samar-samar, karena Dira belum bisa mengingat jelas semua memori kejadian yang sudah berlalu.

__ADS_1


"Kenapa aku segitunya pengen tau tentang kalung ini, bisa jadi ini Mama yang belikan," gumam Dira.


Dira berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya sambil memegang kalung itu. Ia mengarahkan ke lampu yang berada dilangit-langit kamarnya.


"Rasanya saat aku megang kalung ini, jadi keingat seseorang yang dulu pernah dekat sama aku, deh. Tapi, siapa orang itu?" ucap Dira bertanya-tanya.


Terdengar suara Mama memanggil nama Dira dari arah dapur menuju ke kamarnya.


"Dira ... Dira ...," panggil Mama.


"Ya, Ma, Dira lagi beresin kamar nih," balas Dira beralasan.


Dira membuka pintu kamarnya.


"Nih, kamu makan dulu baru minum obat, ya sayang," ucap Mama sambil mengelus-elus rambut Dira.


"Oke, Mamaku sayang," jawab Dira memeluk Mama.


Dira mengambil makanan dipiring beserta obat, lalu membawanya ke dalam kamar. Ia segera menghabiskan makanan yang sudah Mama masakkan untuknya. Setelah itu, Dira melanjutkan untuk meminum obat.


"Mau tak mau, harus minum ni obat ...," lirih Dira.


Dira pun kembali merebahkan tubuhnya kearas kasur. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata ada pesan via whatsapp dari Panji. Mereka saling bercanda lewat pesan itu, sampai akhirnya Dira ketiduran.


Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, Dira pun terbangun dari tidurnya. Ia langsung bergegas mandi. Setelah selesai, ia berjalan kearah ruang tengah, lalu menyalakan televisi sambil menikmati cemilan yang tersedia diatas meja bersama Papa.


"Pa, Papa tumben di rumah. Apa Papa cuti?" tanya Dira.


"Ya, Dira. Papa hari ini cuti buat nemanin kamu," jawab Papa dengan senyuman.


"Besok Dira ulang tahun, Pa," ucap Dira.


"Papa tau sayang, kamu mau hadiah apa?" tanya Papa.


"Apa aja, asal sama Papa belinya," jawab Dira memeluk Papa.


Bel rumah berbunyi, Dira pun menuju pintu, lalu membukanya. Dira kaget, masih pukul 17.00 WIB Panji, Davin, Arsan dan Sela sudah datang dengan membawa bungkusan besar berisi makanan.


"Kok datangnya masih jam 5 sore, katanya malam mau ke rumah," ucap Dira.


"Lebih cepat lebih baik, Dir," cetus Panji sambil mencubit hidung Dira.


Mereka pun duduk di ruang tamu sambil mengobrol. Panji berpindah duduk lebih dekat disamping Dira, ia menggenggam tangan gadis itu dengan rasa kerinduan, karena Dira lupa dengan kisah mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2