Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 70


__ADS_3

**SEBELUM BACA KELANJUTANNYA, MOHON DI LIKE, KOMENT DAN VOTE JUGA.


FOLLOW IG AUTHOR @oktaapia


FACEBOOK Okta Piani


SELAMAT MEMBACA**


1 minggu kemudian, pertandingan cabang olahraga antar sekolah dilaksanakan di SMA Favorit. Hari pertama jadwal pertandingan futsal antara SMA Favorit dan SMA Bintang. Panji beserta tim segera bersiap-siap menuju lapangan. Begitu tiba, pertandingan pun dimulai. Dira bersama Sela duduk menyaksikan Panji dan Arsan yang sedang bertanding. Tiba-tiba, Davin datang, lalu duduk disebelah Dira sambil memberikan minuman dingin.


"Nih, Dira buat kamu ...," ujar Davin menyodorkan minuman.


"Gak usah repot-repot, Kak. Dira udah beli minuman kok," jawab Dira.


"Kenapa kamu tidak pernah mau menerima pemberian dariku, Dir? Sekali aja, apa sih salahnya ...," lirih Davin sambil memasang wajah cemberut.


"Ya udah, ni Dira ambil. Makasih ya, Kak Davin," ucap Dira dengan senyuman.


Davin pun membalas senyuman itu. Pertandingan futsal pun berhenti sejenak, karena sudah waktunya istirahat. Panji yang masih berdiri di lapangan mencari keberadaan kekasihnya. Setelah matanya tertuju ke Dira, ia sedikit heran melihat Davin yang duduk disebelahnya. Membuat Panji sedikit tidak fokus di lapangan. Arsan menghampirinya dan mengarahkan pandangan kearah yang sama.


"Oh, jadi gara-gara Dira kamu gak fokus," ucap Arsan. "Tunggu sebentar."


Arsan berjalan mendekati Dira yang tengah asyik mengobrol dengan Davin.


"Dira, kamu dukung kek si Panji. Gimana sih, malah ngobrol sama Davin," tutur Arsan dengan sedikit kesal.


"Ya ya, aku dukung. Yaelah, cuma ngobrol doang cemburuan," jawab Dira menggerutu.


"Panji bisa cemburu juga ternyata, hahaha," sambung Davin sambil tertawa.


Pertandingan dilanjutkan, Dira berpindah tempat dari bangku itu. Ia berdiri paling depan untuk memberi dukungan ke Panji. Saat pertandingan berlangsung, Dira bersorak memanggil nama kekasihnya.


"Kak Panji ... semangat!!" teriak Dira.


Tiba-tiba wanita berambut ikal disebelah Dira menoleh kearahnya. Ia tampak penasaran dengan kehadiran Dira di situ. Wanita itu pun memula basa-basi kepadanya.


"Hei, kamu murid SMA Favorit, ya?" tanyanya.


"Bener, Kak," jawab Dira. "Kakak sendiri?"


"Aku SMA Bintang. Perkenalkan namaku Nadin," ucapnya sambil menyodorkan tangan.

__ADS_1


"Aku Indira, Kak. Senang berkenalan dengan Kak Nadin," jawab Dira dengan tersenyum.


"Kamu kenal dengan Panji? Dia itu cowok baik yang aku kenal selama ini, dia cuek dengan cewek. Tapi, dia penyayang banget," ucap Nadin menjelaskan tentang Panji.


"Kak Nadin kenal Kak Panji juga?" tanya Dira. "Serius, Kak Panji orangnya cuek?"


"Ya kenal dong, Panji itu masa lalu alias mantanku, Dira," jawab Nadin dengan tersenyum lebar.


Hah, jadi dia mantan Kak Panji. Pantesan tau semua sifat Kak Panji.


"Oh ya, kamu siapanya Panji? Temennya?" tanya Nadin.


"Anu ... temen, bener itu yang Kak Nadin bilang," jawab Dira beralasan.


Dira penasaran dengan hubungan Panji dengan Nadin, sehingga ia tidak ingin mengaku sebagai pacar Panji. Setelah mereka cukup lama mengobrol, pertandingan pun selesai. Panji berjalan kearah tempat duduk yang berada diluar lapangan. Nadin segera menyusul Panji saat itu juga, dengan rasa penasaran, Dira mengikuti secara diam-diam. Dira bersembunyi dibalik tembok yang bersebelahan dengan tempat duduk itu. Ia mendengarkan pembicaraan Panji dan Nadin.


"Panji ...," sapa Nadin. "Selamat ya sekolah kamu masuk tahap final."


Panji diam tak menjawab ucapan Nadin. Lalu, Nadin memulai untuk membahas masa lalu mereka.


"Ngomong-ngomong, kamu gak rindu sama aku?" tanya Nadin. "Kita pacaran cukup lama loh, 2 tahun."


"Tadi aku kenalan loh sama temen kamu, dia manis baik pula," tutur Nadin. "Aku pikir dia pacar kamu, soalnya dari senyumnya itu beda. Ternyata temen kamu."


Temen? Siapa? Aurel? Kayaknya gak mungkin. Dira? Masa sih Dira ngaku dirinya temenku. Batin Panji.


"Oh gitu, masih ada lagi yang mau disampaikan? Kalau gak ada, aku mau pergi," ujar Panji.


"Eh, bentar-bentar. Aku mau jujur sama kamu, sebenarnya aku tu masih sayang sama kamu Panji. Aku gak bisa lupain kenangan kita, apalagi Mama aku udah lama kenal kamu ...," lirih Nadin. "Kita balikan ya, aku mohon."


"Aku harus pergi, ada hal lain yang lebih penting," ucap Panji.


Tiba-tiba saat Dira ingin pergi dari tempat itu, tak sengaja melihat mereka berpelukan. Hati Dira terasa diiris-iris, pedih dan hancur melihat langsung didepan matanya. Dira berjalan menghampiri mereka.


Apa yang sedang kulihat ini bukan mimpi, kan? Itu beneran Kak Panji, kan?


"Kak Panji ...," sapa Dira.


Panji kaget dan spontan melepas paksa pelukan Nadin.


"Selamat ya, tim futsal Kak Panji masuk final. Semoga bisa dapat juara 1 ya untuk sekolah kita," ucap Dira dengan senyum paksaan.

__ADS_1


Dira pun pergi meninggalkan mereka berdua. Panji yang ingin mengejarnya ditahan oleh Nadin.


"Dira, tunggu ... aku bisa jelasin!!" teriak Panji.


"Kamu mau jelasin apa, Panji?" tanya Nadin heran. "Bukannya itu temen kamu."


"Jadi kamu ngobrol dengan dia tadi? Dia yang kamu ceritakan ke aku? Terus ngapain juga kamu pakai meluk aku segala, dia itu bukan temen aku tapi pacar aku!!" jelas Panji dengan nada marah.


Panji pun mengejar Dira, tapi sayang sudah kehilangan jejaknya. Dira berjalan sambil menahan air mata, Sela dan Arsan menghampiri Dira yang sedang melamun.


"Dira, ngapain berdiri di sini?" tanya Arsan. "Mana Panji? Kok kamu dibiarin sendirian gini."


Dira tak mengeluarkan sepatah kalimat apapun kepada dua sahabatnya itu. Ia malah pergi meninggalkan Sela dan Arsan. Tak lama kemudian, Panji muncul dengan wajah bercucuran keringat. Ia berhenti sejenak mengatur nafas. Lalu menayakan keberadaan Dira ke sahabatnya.


"Kalian ada lihat Dira, gak?" tanya Panji. "Cepet banget ngilang tu anak."


"Tadi barusan berdiri di sini dia, tapu gak tau pergi ke mana lagi," jawab Arsan. "Ada masalah apa sih kalian? Kayaknya lagi ada sesuatu yang serius."


"Cerita dong, Kak Panji ...," lirih Sela. "Dira kita tanyain juga gak mau jawab, malah main pergi gitu aja."


"Cuma salah paham aja, Arsan ... Sela ...," ucap Panji. "Ya udah, aku duluan kalau gitu, mau nyusulin si Dira."


Panji melanjutkan langkah kakinya berjalan kearah perpustakaan. Dira dengan perasaan tak karuan. Ia memejamkan mata, berharap rasa sakit di dadanya menghilang. Tapi, yang ada malah terbayang dibenaknya kejadian barusan yang terlihat olehnya. Begitu ia membuka mata, tampak Panji sedang duduk berhadapan dengannya. Panji menatap mata Dira, bola mata itu seakan menelan Dira. Ia menepuk-nepuk wajah dengan kedua tangannya agar sadar dari lamunan. Panji melihat matanya yang selalu bersinar kini terlihat berkaca-kaca, ia mencoba untuk lebih dekat ke Dira dengan berpindah duduk disebelahnya. Panji mulai menjelaskan yang sebenarnya terjadi antara dia dan Nadin saat itu.


"Dira, aku bisa jelasin semuanya," ucap Panji. "Beri aku waktu untuk bicara sama kamu."


"Jelasin apa lagi, Kak?" tanya Dira. "Kayaknya gak ada yang perlu Kak Panji jelasin, Dira gak marah kok. Malah seneng Kak Panji bisa bertemu dengan Kak Nadin."


"Dira, aku sama dia udah masa lalu. Dan aku gak akan pernah mau nerima dia lagi. Apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu bayangkan," tutur Panji. "Dia datang dengan tiba-tiba, lalu me ..."


"Udah, Dira udah tau. Gak perlu capek-capek Kak Panji jelasin ke Dira," potong Dira. "Udah ya, Dira males ketemu Kak Panji lagi."


Dira beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin berjalan menuju lapangan basket, karena sekitar tiga puluh menit lagi pertandingan basket segera dimulai. Sebelum menuju ke sana, ia ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Sela menunggu Dira di luar ruangan itu sejak lima menit yang lalu. Saat Dira keluar dari ruangan itu, Sela menarik tangannya.


"Sela, kamu bikin aku kaget aja!!" ucap Dira dengan mengeraskan suaranya.


"Maaf, Dira. Kamu kenapa sih sama Kak Panji, masalah apa?" tanya Sela.


"Dia ketemu mantannya, mungkin bakalan balikan mereka. Udah ah, gak usah dibahas, gak penting tau ...," lirihnya lalu berjalan meninggalkan Sela.


"Eh, tunggu dong!!" teriak Sela mengejar Dira.

__ADS_1


__ADS_2