Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab10. Terbelenggu Rasa


__ADS_3

"Sinten sinambat ing wewangi iki


Hamung siro yekti


Eseme kang manis madu


Duh, wong bagus


Tresno lir tirto gumanti dahono


Awit siro marang roso


Endah rumembyak rekmamu


Dadyo angenku saben dalu.


Wengi kadyo setro


Kegowo lungane baskoro


Peteng tanpo condro


Tanpo kartiko...." (Lirik lagu Kepangku kapang cipt. Adif Marhaendra)


Terdengar lirih suara nyanyian dari kamar tempat Sahara dirawat. Sukmanya telah berhasil kembali dan menyatu dengan raganya sejak dini hari tadi.


Ia duduk bersandar pada dinding disamping ranjangnya. Netranya terus menatap lurus keluar jendela kamar. Tatapannya kosong, sekosong hatinya yang telah ikut terbawa pergi bersama kekasih hatinya.


"Pagi-pagi nyanyiannya udah bikin merinding aja tu cewek," keluh Heru.


"Udah kamu cek kondisinya?" tanya Jagad yang tengah bersiap membuka klinik.


"Sudah, mas! Harusnya sudah aman, cuman...," Heru menghentikan kalimatnya sejenak, "sukmanya masih bisa terlepas kapan saja! Sepertinya kita masih harus terus mengawasinya sampai beberapa hari kedepan!" ujar Heru.


"Uhm," Jagad hanya manggut-manggut menanggapi perkataan Heru sebelum akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Heru menuju ruang kerjanya.


"Kenapa sih mas Jagad? Kaya sedih gitu mukanya," tanya Heru pada Guntur yang baru saja datang.


"Lah embuh Her! Orang aku juga baru nyampe loh!" ucap Guntur.


"Ya siapa tau, semalam di alam ghaib terjadi sesuatu gitu sama si manusia kulkas satu itu! Makanya dia bisa berubah tambah dingin sedingin kutub utara, hahhahhaha," canda Heru.


"Gak ada sih, cuman...," Guntur mencoba mengingat-ingat sikap Jagad kepada Nyi Kinasih semalam.


"Cuman apa?" selidik Heru dengan suara berbisik.


"Udah lah, gak usah kepo sama masalah orang lain. Kerja! Kerja! Kerja, biar tambah kaya!" ujar Guntur mengalihkan pembicaraan.


"Halah prett! Tambah kaya monyet yae!" protes Heru.

__ADS_1


"Husshh, lambemu! Diamini gitu loh," balas Guntur.


"Wong kerjaan kita hampir tiap hari ngurusin demit kok, mau kaya dari mana! Kecuali dari awal emang udah kaya raya, kaya kamu itu. Warisan banyak, anak tunggal lagi! Beeehhhh, nganan aku mas!" cerocos Heru.


"Nganan gundulmu, hahhahah! Enek-enek wae awakmu kui Her!" Guntur tertawa mendengar cerocos Heru. Menurutnya, kecerewetan Heru selalu bisa memberikan moodbooster untuk dirinya.


Usia Guntur dan Heru memang terpaut cukup jauh. Guntur bertemu pertama kali dengan Heru di padepokan tempat mereka belajar ilmu bela diri saat masih sekolah SMA, sedangkan Heru kala itu masih duduk dibangku sekolah dasar. Sedangkan Jagad, merupakan kakak kelas Guntur di SMA. Jadi diantara mereka bertiga Heru lah yang paling muda. Yang selalu Jagad dan Guntur jaga layaknya adik sendiri.


Drrrttt....


Sebuah pesan masuk ke ponsel Guntur. Terlihat satu nama yang tertera dilayar ponselnya.


"[Pabrik kebakaran tadi subuh, gak tahu apa penyebabnya. Dan pemiliknya mengalami kecelakaan tunggal tadi malam, mas!]" terlihat pesan dari Trisnya yang baru saja masuk.


"Siapa, mas?" tanya Heru mencoba mengintip layar ponsel Guntur.


"Kepo amat!" rutuk Guntur.


"Heleh, paling mbak Trisnya!" ledek Heru.


"Nih, baca!" Guntur memperlihatkan pesan Trisnya pada Heru.


"Innallillahi, kasian para karyawan. Nganggur dadakan!" ujar Heru.


***


Waktu terasa begitu cepat, teriknya siang kini telah berganti dengan senja yang begitu syahdu.


Tokk..., tokk..., tokk....


Terdengar ketukan dari luar pintu kamar.


"Maghriban dulu, le!" terdengar suara bu Handayani mengingatkan Jagad.


"Njih, buk! Jagad sholat di kamar!" jawab Jagad.


Ia segera bangkit dari duduknya dan segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Jagad segera menunaikan sholat magrib seorang diri didalam kamarnya. Dilanjutkan dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an yang terdengar begitu merdu ditelinga.


***


Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, pintu klinik sudah sepenuhnya tertutup. Jagad keluar kamarnya untuk melihat keadaan Sahara.


"Malam, pak, buk!" sapa Jagad pada kedua orang tua Sahara.


"Eh, iya! Malam, pak Jagad," balas kedua orang tua Sahara.


"Bagaimana keadaan Sahara? Sudah mau makan?" tanya Jagad.

__ADS_1


"Belum, pak! Dari tadi pagi cuma ngalamun, nembang sambil nangis, kalau sudah lelah dia balik tidur lagi kaya sekarang," jelas sang ibu.


"Sabar njih, pak, buk! Semoga pelan-pelan Sahara bisa menerima semuanya dan kembali hidup normal seperti dulu," ujar Jagad sembari mengganti cairan infus yang menempel ditangan Sahara.


"Aminn, pak!" ucap kedua orang tua Sahara bersamaan.


Jagad keluar meninggalkan Sahara beserta kedua orang tuanya menuju ke halaman belakang rumah. Ia duduk termenung sendirian di bangku kayu yang selalu jadi tempat favoritnya saat ingin menyendiri.


Ia sulut sebatang rokok yang terselip dijemarinya, ia hisap dan hembuskan asapnya perlahan. Netranya menatap lurus kearah bintang-bintang langit malam. Teringat jelas kejadian masalalu yang benar-benar merubah jalan hidupnya.


***Flashback on***


Riuh suara sirine ambulance begitu memekakan telinga. Tampak beberapa petugas evakuasi berlalu lalang dengan membawa tandu yang berisikan beberapa pendaki yang menjadi korban tanah longsor.


Salah seorang pelajar ditemukan dalam keadaan kritis. Remaja dengan seragam SMP yang telah penuh dengan coretan kelulusan itu tampak begitu pucat dan dingin.


Disusul oleh kedatangan tandu yang berisikan jenazah lelaki paruh baya, yang mereka temukan dilokasi yang sama dengan lokasi ditemukannya remaja SMP sebelumnya.


Lelaki paruh baya yang diketahui bernama Prayudha itu ditemukan dalam posisi meringkuk, memeluk erat remaja itu. Tampak selembar surat kelulusan yang masih terselip didalam saku jaketnya, dengan nama Jagad Wahyu Linduaji.


Jagad dan juga ayahnya menjadi korban bencana tanah longsor, disaat hendak merayakan kelulusannya dengan mendaki gunung bersama untuk pertama kalinya. Siapa nyana, itu jadi kali pertama dan terakhir Jagad mendaki bersama sang ayah.


Seusai kecelakaan itu, Jagad dinyatakan koma selama hampir 6 bulan lamanya. Namun, keanehan pun mulai terjadi.


Jagad merasakan setiap ingatannya mulai berputar-putar dikepala. Ingatan tentang masa kecil, remaja, dewasa bahkan ingatan tentang kisah percintaannya yang begitu tragis terus terulang dikepalanya. Dia seperti tersedot kedalam memori masa lampau yang sama sekali tak pernah Jagad alami sebelumnya.


"Asih...," kata pertama yang keluar dari mulutnya begitu sadar.


Ia sempat linglung beberapa bulan. Ingatannya terus berputar-putar memenuhi isi kepalanya. Laksana sebuah cangkang dengan dua jiwa, hingga membuat Jagad tak mampu lagi mengenal jati dirinya sendiri dan lebih memilih diam mengurung diri didalam kegelapan kamarnya.


"Le, mau sampai kapan kamu seperti ini? Ibuk harus membawamu berobat kemana lagi? Supaya kamu mau berbicara dan ceria lagi seperti dulu, jangan terus menerus mengurung diri seperti ini Jagad," bujuk bu Handayani pada Jagad yang tengah duduk termenung disamping jendela kamarnya. Isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati Jagad yang masih membisu.


"Buk...," sepatah kata terlontar dari mulut Jagad yang telah berbulan-bulan terkunci.


"Iya, le! Alhamdullillah kamu mau bicara lagi, hikhikhik," bu Handayani segera meraih tubuh sang anak ke dalam pelukannya. "Katakan, le! Ada apa? Bilang sama ibu, kamu mau apa, le? Ibu...," bu Handayani tampak menghujani Jagad dengan cerocosan panjangnya.


"Buk! Pelan-pelan!" potong Jagad sembari melepaskan diri dari pelukan sang ibu.


"Ibu, hikhikhik, ibu cuma seneng akhirnya kamu mau bicara lagi sama ibu, le!" ujar ibu Jagad.


"Buk, sebenarnya Jagad takut buk! Diluar kamar, ada banyak mahluk seperti monster tinggi besar dan mengerikan nungguin Jagad. Setiap Jagad ngomong, mereka malah semakin mendekati Jagad buk!" jelas Jagad pada sang ibu dengan suara yang begitu pelan.


"Apa maksud kamu, le?" bu Handayani semakin khawatir dengan keadaan Jagad.


"Itu, buk!" tunjuk Jagad ke arah pintu kamar yang terbuka dengan ekspresi yang begitu ketakutan. "Ibuk, Jagad takut buk..., ibuk..., ibuk...." Jagat semakin histeris.


Brugghhh....


Tubuh Jagad limbung tak sadarkan diri dipangkuan ibunya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2