Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab50. Ritual Pembersihan 2


__ADS_3

Gemerisik dedaunan terbawa hembusan angin yang berputar-putar, di sekitar tempat Heru dan kedua temannya berada. Kilatan cahaya dari petir yang menari-nari diatas kepala, menciptakan suasana yang cukup membuat siapapun bergidik ngeri.


Awan-awan hitam, mulai mengepung sang rembulan malam. Menutupnya, hingga cahya terang penguasa malam tak lagi nampak terlihat. Hanya langit gelap tanpa berhiaskan rembulan dan bintang-bintang, beraromakan kematian yang menguar dari segala sisi.


Mata Heru yang memerah, menatap tajam ke arah makhluk yang tengah menyemburkan serangan gaib ke arahnya. Ia lafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk melawan setiap serangan dan sihir dari makhluk itu. Tangan kanannya masih terus menyentuh punggung Guntur dan Jagad bergantian, guna menyalurkan energinya ke tubuh mereka.


Kelima lelaki yang tengah menggali benda-benda pengikat pocong itu terlihat sangat kelelahan. Perlahan satu-persatu dari mereka mulai tergeletak lemas tak berdaya. Tersisa dua orang pemuda yang masih terus menggali lokasi terakhir yang Heru tandai.


Dengan keringat bercucuran mereka berusaha bertahan, melawan serangan gaib yang kian terasa mengendalikan kesadaran mereka.


"Kainnya sudah terlihat, cepat ambil!" titah Andi pada temannya yang bernama Juna.


"Tanganku kram, Mas. Aaakkkhh ... sakit banget sumpah! Aku gak bisa ngambil," ucap Juna yang sudah terlihat menahan rasa sakit dari tangannya yang mulai kaku.


Andi pun mulai merasakan hal yang sama, tubuhnya mulai terasa kram dan perlahan membatu. Mereka berdua seolah kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri. Mereka berdua melangkah kaku, seakan-akan ada yang menggerakkan menuju tangga yang menghubungkan langsung ke balkon lantai tiga.


Terlihat pula ketiga lelaki lain telah terkapar tak sadarkan diri. Heru segera melesat secepat mungkin untuk menghadang langkah mereka berdua. Ia rapalkan doa-doa untuk melepas pengaruh sihir dari makhluk jahat itu. Lalu memagari tubuh mereka yang telah tergeletak tak sadarkan diri dengan doa-doa yang terucap dari mulutnya.


Heru lanjut berlari ke tempat galian terakhir. Terlihat bungkusan kain putih lusuh berisikan rajah dan berbagai benda menjijikan itu dari dalam tanah. Terlihat sosok pocong merah yang sedari tadi berada di balkon lantai tiga mulai mengejang kesakitan, ia melompat-lompat seolah ingin menghampiri ke arah Heru, namun ia seperti terhalang perisai tak terlihat yang berhasil Jagad ciptakan.


Heru kumpulkan setiap buhul yang berhasil ditemukan ke tempat Jagad dan Guntur berada. Meski harus berkali-kali jatuh terjerembab akibat hembusan angin yang semakin dahsyat.

__ADS_1


Suara lengkingan keras terdengar dari makhluk mengerikan itu. Ia masih tak mampu keluar dari tempatnya berdiri, namun serangan energinya terasa begitu kuat dan mengerikan. Menciptakan nuansa yang lebih mencekam dari sebelumnya.


Jagad mulai membuka mata ketika Heru terdengar sudah berada di sekitarnya. Ia siapkan api pada tungku pembakaran yang telah ia dan Heru persiapkan. Ia keluarkan sebilah keris dari balik jaketnya, bibirnya fokus merapalkan sebuah mantra sembari mengarahkan keris itu pada kobaran api yang terlihat hampir mati akibat hembusan angin yang terus berputar-putar. Perlahan hembusan angin mulai terasa melemah, dan api pun berkobar semakin membesar.


Terlihat bayangan makhluk-makhluk pengisi benda-benda itu menggeliat kesakitan, saat satu persatu buhun mulai Jagad lemparkan ke dalam kobaran api. Heru juga menatap ke arah sosok pocong merah di bibir balkon yang mulai ikut terbakar kobaran api.


"Her! Cepat lihat kondisi Guntur. Biar aku yang lanjutkan ini," titah Jagad.


Tanpa menunggu lama, Heru segera pancarkan energi dari mustikanya untuk mempercepat pemulihan raga dan sukma Guntur yang sepertinya terluka cukup parah.


Satu persatu buhul mulai hancur terlalap api. Sosok makhluk yang sedari tadi menggeliat kesakitan di atas balkon lantai tiga juga terlihat memudar dan perlahan menghilang diiringi suara lengkingan keras yang cukup mengusik telinga.


"Alhamdulillah ... bagaimana keadaan Guntur?" tanya Jagad yang terlihat panik.


Terlihat beberapa warga yang lain ikut menyusul ke tempat mereka berada, setelah suara gemuruh langit terhenti. Mereka membantu Jagad dan Heru menyadarkan kelima lelaki yang tengah kehilangan kesadaran. Suasana mendebarkan itu berlangsung cukup lama, hingga semua telah tersadar kembali tepat pukul 2 dini hari.


Guntur masih dalam keadaannya yang begitu lemas. Netranya menatap nanar ke arah rumah yang telah lama menjadi neraka untuknya dan para warga desa.


Jagad meminta kelima warga yang membantunya tadi agar segera pulang ke rumah diantar oleh beberapa warga yang baru saja menyusul. Tak lupa, ia juga memberikan sebotol air mineral yang telah ia doakan pada kelima lelaki itu, agar membantu mempercepat pemulihan mereka.


"Terima kasih njih, bapak-bapak semua. Berkat bantuan kalian kita bisa menemukan benda-benda itu dan melepas makhluk terkutuk itu dari rumah ini," ucap Guntur sebelum semua warga beranjak pergi ke rumah masing-masing.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas. Semoga setelah ini sudah tidak ada lagi korban," jawab salah seorang dari kelima lelaki yang ikut dalam ritual.


"Amin ...."


Jagad dan Heru membantu Guntur untuk masuk ke dalam mobil. Setelahnya, Jagad kembali memeriksa ke sekitar rumah itu. Ia serap sisa-sisa residu negatif yang tertinggal di tempat itu, dan memastikan sudah tak ada lagi energi negatif yang tertinggal. Ia juga meminta salah satu warga untuk mengikutinya ke Rumah Sakit mengendarai motornya.


"Aman, Mas?" tanya Heru saat Jagad kembali masuk ke dalam mobil.


"Makhluk itu sudah tak ada lagi, hanya saja tanah ini sudah benar-benar tak layak untuk ditinggali manusia. Terlalu banyak kejadian mengenaskan, hingga membuat energi negatif begitu mudah terserap ke tempat ini," jelas Jagad sembari menghidupkan mobil Guntur dan segera meninggalkan tempat itu menuju Rumah Sakit.


***


Kilauan sinar sang mentari pagi terlihat menerobos masuk melalui celah gorden jendela yang tak tertutup rapat. Guntur mengerjapkan matanya perlahan, sembari menyibak selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya.


Ia bangkit dari tidurnya, mendudukan diri sembari mengeliat ke kanan dan kekiri, hingga terdengar suara gemeretak dari otot-ototnya.


"Astagfirullah ... Trisnya!!" ucapnya ketika kembali tersadar akan keadaan sang kekasih. Ia segera berlari keluar dengan sempoyongan, menuju ke ruang tempat dimana Trisnya berada.


Trisnya masih dalam keadaan yang sama. Matanya terpejam erat dengan luka di kepala yang terbalut perban. Air mata Guntur kembali luruh tak terbendung, ia menangis terisak sembari menggenggam erat jemari Trisnya yang terasa begitu dingin.


"Bangun, Dek, mas mohon! Mas janji habis ini mas gak akan posesif lagi, mas janji gak akan maksa kamu buat nikah cepet-cepet lagi. Mas juga gak akan larang kamu nyanyi lagi," ucap Guntur di tengah isak tangisnya. Saking sedihnya, hingga ia tak menyadari dua pasang mata tengah menatap heran ke arahnya dari balik sofa yang berada tak jauh dari ranjang tempat Trisnya terbaring.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2