
Malam terasa begitu sepi dan sunyi, sesekali terdengar suara-suara hewan malam di sepanjang jalan yang kanan kirinya merupakan kawasan hutan dan persawahan.
Mardi menahan segala kesakitan yang terus menghujam tubuhnya, sembari terus beristighfar dan memohon ampunan-Nya.
Netranya menatap sendu pada sang putra yang tengah fokus mengemudikan mobil, dengan ditemani Aryo disampingnya. Pasalnya, sang pemilik pohon nangka yang Mardi ambil buahnya, merupakan orang tua dari seseorang yang Ardi-anaknya sukai selama ini.
Ardi memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah joglo yang terlihat begitu sepi. Ardi turun bersama Aryo terlebih dahulu, untuk memastikan keberadaan sang pemilik rumah.
Terlihat seorang kakek renta menghampiri Aryo dan Ardi yang berada di depan pintu rumah. Setelah sedikit berbincang dengan Aryo, akhirnya ia dengan ramah mempersilahkan Ardi dan keluarganya masuk.
"Monggo, silahkan duduk!" ucap Mbah Rebo-pemilik rumah dengan begitu ramah. "Nduk ... Ningrum. Buatkan minum buat tamu," panggilnya pada sang cucu yang berada di dalam kamar.
Seorang perempuan cantik muncul dari balik pintu kamar, mengangguk pelan sembari tersenyum ramah ke arah Ardi dan keluarganya.
Senyum Ardi mengembang, mendapati gadis pujaan hatinya menyapa keluarganya dengan ramah. Namun, seketika senyum itu sirna berganti rasa malu yang teramat sangat akibat ulah sang ayah.
Aryo mendahului pembicaraan dengan mengutarakan permintaan maaf Mardi atas kelancangannya.
"Sudah, saya sudah memaafkannya. Saya juga bingung kenapa selalu saja ada orang yang datang kemari dengan keluhan yang sama, padahal saya sama sekali tak pernah melakukan hal yang neko-neko pada mereka. Kebun itu hanya warisan mendiang bapak saya dulu, saya jarang sekali kesana. Jujur saya dari kecil sering merinding kalau ke kebun itu, makanya saya biarkan terbengkalai," jelas Mbah Rebo.
"Sekali lagi saya minta maaf, Mbah!" ucap Mardi sembari meraih tangan keriput Mbah Rebo. Air matanya mengalir deras menahan malu jua penyesalan akibat kelakuannya.
"Yang penting jangan terulang yo, Mar! Kalau mau ambil kamu bisa kesini dulu atau Ardi suruh telpon ke Naning," ucap Mbah Rebo.
"Njih, Mbah!" ucap Mardi.
"Jadi kejadian ini sudah sering terjadi, Mbah?" tanya Aryo.
"Iya, Mas. Sudah 4 kali ada yang bertamu kerumah ini dengan alasan yang sama," ujar Mbah Rebo yang terlihat begitu heran.
"Mungkin leluhur panjenengan dulu pernah menaruh sesuatu untuk melindungi kebun itu, Mbah," ujar Aryo.
"Apa bisa di singkirkan saja? Biar semua orang bisa dengan bebas mengambil hasil dari kebun itu," tanya Mbah Rebo pada Aryo.
"Besok biar anak-anak saya yang survey ke lokasi, Mbah."
__ADS_1
Ardi masih terdiam menunduk di samping sang ayah. Pemuda itu tampaknya begitu malu atas apa yang dilakukan Mardi hingga tak mampu mengangkat wajahnya di hadapan Naning Rumiyati, cucu Mbah Rebo.
"Sudah lama ndak main kesini, Di?" tanya Mbah Rebo sembari menatap ke arah Ardi.
"Njih, Mbah. Ardi juga baru pulang beberapa hari yang lalu," jelas Ardi.
"Gak usah terlalu dipikirkan, wong simbah yo ndak pernah melarang siapapun mengambil buah-buahan yang ada di kebun itu. Besok coba kamu antar anak-anak Mas Aryo ke kebun sama Naning. Simbah sudah tua, malas kalau mau kesana," pinta Mbah Rebo pada Ardi.
Sejenak Ardi menatap ke arah Naning yang tengah duduk di samping kakeknya. Melihat Naning hanya mengangguk dan tersenyum ke arahnya, Ardi pun akhirnya mengiyakan permintaan Mbah Rebo dengan senang hati.
Setelah berbincang dan bercengkrama cukup lama, mereka memutuskan untuk segera pamit karena hari sudah terlalu malam.
Rasa sakit yang beberapa hari menyiksa Mardi, perlahan mulai memudar. Ia tertidur pulas di dalam mobil pada pangkuan Atun yang masih terus mengelus pelan rambutnya.
***
Keesokan paginya, Mardi terbangun diatas ranjang dengan keadaan yang jauh lebih bugar. Perutnya telah kembali ke ukuran normal, dan rasa sakitnya pun ikut sirna dari tubuhnya.
"Pak, udah enakan?" tanya Ardi saat melihat ayahnya terbangun.
"Sudahlah, Pak. Makanya lain kali jangan suka ngambil punya orang, malu kan jadinya. Ya udah Ardi mau ke rumah Naning dulu," pamitnya sembari mencium punggung tangan sang Ayah tanpa sedikitpun rasa marah atas apa yang terjadi.
"Iya ... hati-hati. Bapak gak mau kamu ikut kenapa-napa," ucap Mardi.
"Iya, Pak."
Jagad kembali memeriksa keadaan Mardi ditemani oleh Heru.
"Pulang nanti sore ya, Pak. Biar kondisinya stabil dulu," ucap Jagad. Ia berbalik dan meninggalkan Mardi seorang diri di kamarnya.
"Pak kita barengan saja pakai mobil saya," saran Ardi pada Jagad dan Heru yang sudah bersiap menengok kebun milik Mbah Rebo.
"Oh, iya Mas. Sebentar saya ambil beberapa alat dulu," ucap Jagad.
"Saya motoran saja, Mas Ardi. Sampean nanti sama Mas Jagad saja, saya ngikutin di belakang." Heru terlihat telah menuntun motornya dari garasi.
__ADS_1
"Oh ya sudah."
***
Matahari bersinar dengan begitu terik, Naning dan Ardi menyusuri jalan setapak yang begitu licin, diikuti Jagad dan juga Heru di belakang mereka.
Salah satu sisi jalan merupakan jurang yang cukup curam, siap menyambut mereka jikalau kaki salah melangkah. Tanpa pembatas apapun, kecuali pepohonan yang berjajar rapi layaknya pagar pembatas.
"Pantas aja Mbah Rebo ndak mau ikut, wong jalannya seperti ini," ucap Heru.
"Iya, Mas. Kebun-kebun disini memang jarang sekali terjamah. Hanya segelintir orang yang sering kesini buat nyari rumput," jelas Naning.
Mereka menyusuri area kebun yang lebih pantas disebut hutan itu sembari sesekali menebas ilalang dan rumput liar yang menghalangi jalan. Hingga sampailah mereka pada sebuah kebun dengan pagar beton mengelilinginya.
"Kaya bekas rumah?" ucap Heru.
"Iya, kata simbah dulu disini memang ada rumah mendiang Mbah Buyut, Mas. Karena tanahnya rawan longsor, mereka memilih pindah. Dulu jalannya itu juga lumayan lebar, gak seperti sekarang," jelas Naning.
Jagad hanya terdiam memandangi sekitar area kebun yang terdapat begitu banyak pohon aneka buah. Merasakan aura yang begitu berbeda dari beberapa kebun yang sebelumnya ia lewati.
Jagad mendekat ke arah pohon nangka sembari mencoba merasakan energi apa yang tengah berada di sana. Ia pejamkan mata, pikirannya terus fokus untuk berkomunikasi dengan sosok yang ia rasakan kehadirannya di tempat itu.
"Ono opo mrene?" (Ada apa kesini?) Sosok tinggi besar yang lebih mirip dengan genderuwo berdiri tegap di hadapan Jagad.
Makhluk itu menatap tajam dengan mata merahnya kearah Jagad dan yang lainnya, kecuali kepada Naning. Ia terlihat begitu hormat pada wanita yang jelas-jelas tak bisa melihatnya itu.
"Panjenengan sinten? Kula dipun utus kaliyan Mbah Rebo, kangge ngresiki kebon niki," (Kamu siapa? Aku diutus oleh Mbah Rebo untuk membersihkan kebun ini,) balas Jagad dalam batinnya.
"Aku Gandring, aku ditugaske njaga kebon iki! Aku ora bakal lungo soko kene. Aku bakal terus ono, kanti pungkasing dunyo," (Aku Gandring, aku ditugaskan menjaga kebun ini! Aku tak akan pergi dari sini. Aku akan terus ada, sampai akhir dunia,) jelas makhluk itu.
Jagad merasakan pancaran energi dari makhluk itu mulai tak terkendali, bahkan energi dalam diri Heru pun ikut terbangkitkan.
"Mundur!" Heru memberikan instruksi pada Ardi dan Naning yang tak tahu menahu tentang apa yang sedang Jagad hadapi.
"Jangan Mengacau?!" teriak Naning yang terlihat begitu pucat. Matanya memutih sempurna, dengan seringai jahatnya ia tatap Jagad dan yang lain bergantian. Rupanya, ada entitas yang berhasil menguasai kesadaran gadis itu.
__ADS_1
Bersambung ....