Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab56. Sosok Pengirim Santet


__ADS_3

Dikala senja temaram, berhias langit memerah padam dari ufuk barat. Seorang lelaki muda berjalan memasuki rumah dengan raut wajah marah. Jemarinya meremas kuat, selembar undangan pernikahan bertuliskan 'Guntur Mahendra & Trisnya Indriyani'.


Dengan kasar ia membanting pintu kamar. Berdiri mematung di depan cermin, menatap tajam ke arah pantulan bayangannya. "Akan ku pastikan pernikahan kalian berhiaskan duka!" ucapnya sembari memukul kaca itu hingga retak.


Dengan tangan berlumur darah akibat tergores serpihan kaca yang begitu tajam. Ia ambil jaket dari lemari kayu tua di samping ranjang kamar. Melangkah cepat, keluar kamar dengan tatapan mengerikan.


"Bagas ... mau kemana begini? Apa gak nanti saja abis maghrib?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dapur.


"Aku keluar sebentar, Buk!" ucapnya tanpa menoleh ke arah ibunya.


Ia segera menyalakan motor dan melaju kencang membelah sepi dan gelapnya jalan tengah hutan. Menuju ke sebuah rumah kayu yang terletak cukup jauh dari rumahnya.


Sebuah rumah yang dikelilingi rerimbunan pohon bambu di ujung hutan, dekat dengan alas Rongko Mayit. Dikelilingi lebatnya hutan tanpa ada satupun rumah lain yang berdiri.


Bagas berjalan menapaki jalan setapak yang begitu licin. Sesekali ia menoleh ke sembarang arah, karena merasa diawasi dari balik pepohonan besar di sekeliling jalan yang ia pijak. Dadanya semakin bergemuruh hebat seiring langkah yang mulai mendekat ke rumah itu. Namun, tekadnya untuk bertemu dengan sang pemilik rumah sangatlah kuat, melebihi rasa takut akan resiko apa yang menantinya.


Seorang lelaki tua bungkuk terlihat membuka pintu kayu dari dalam. Ia menatap tajam kearah Bagas yang telah berdiri di depan pintu rumah, hendak mengetuk pintu.


"Awakmu wes yakin ameh nyantet wong kae?" (Kamu sudah yakin mau menyantet orang itu?) tanya lelaki tua itu sembari terus menyentuh jenggot putih panjangnya.


"Njih, Mbah! Tapi ... sepertinya dia juga bukan orang sembarangan," jelas Bagas.


"Sesakti-saktinya orang, pasti dia punya kelemahan. Ayo masuk!" ajak kakek tua itu.


Bagas mengikuti langkah renta lelaki dihadapannya. Masuk ke dalam rumah yang hanya menggunakan lampu kuning remang sebagai satu-satunya penerangan.


Rumah terlihat sedikit berantakan, dengan aroma kemenyan yang menguar hingga ke seluruh ruang. Membuat Bagas sedikit bergidik, menahan rasa takut yang mulai menjalar menguasai diri. Lelaki tua itu duduk bersila diikuti Bagas di hadapannya.


"Mana foto mereka?" tanya Lelaki tua yang merupakan seorang dukun itu pada Bagas.


Bagas menyerahkan selembar foto prewedding yang ia ambil dari media sosial Trisnya pada Dukun di depannya.


Dukun itu segera menerawang jauh, mencoba melihat tentang sosok yang akan ia santet.


"Sial! Benar katamu dia bukan orang sembarangan, sepertinya santet biasa tak akan berhasil," ucap dukun itu.


"Tolong, lakukan apapun, Mbah. Saya siap bayar berapapun," pinta Bagas.


"Tapi resikonya besar!" ucap Dukun itu sembari menatap tajam ke arah Bagas.

__ADS_1


"Akan saya tanggung resikonya!" ucap Bagas penuh keyakinan.


"Baiklah! Siapkan mahar emas dan semua uang yang kau punya. Maka malam ini juga akan mulai ku lakukan ritual untuk menghabisinya!" Dukun itu menyunggingkan senyum jahatnya, sembari menatap lekat ke arah selembar foto yang ia pegang.


Bagas bergegas merogoh saku jaketnya. Ia keluarkan berlembar-lembar uang ratusan ribu beserta beberapa perhiasan yang ia curi dari ibunya. Cinta benar-benar telah membuatnya gelap mata, hingga tak dapat berfikir logis.


"Lakukan malam ini, Mbah!" ucapnya dengan seringai tak kalah jahat.


"Aku suka keberanianmu anak muda! Baiklah, malam ini juga akan aku mulai ritualnya. Kamu bisa pulang, kembalilah kemari di malam ketiga, akan aku berikan sesuatu yang harus kau berikan langsung pada lelaki itu!" jelas Mbah Dukun.


***


Malam yang dijanjikan pun tiba, Bagas kembali mengambil sebuah buntalan kain putih lusuh kecil yang sang Dukun siapkan.


"Bawa ini esok hari saat kau menghadiri acara pernikahannya. Taruh di bawah kursi pelaminan!" titahnya.


"Tapi ini apa, Mbah?" tanya Bagas.


"Kamu gak perlu tahu, yang penting kamu taruh saja disana!" tegas Dukun itu.


Keesokan harinya, Bagas berangkat kerumah Trisnya seorang diri. Mengendarai motor miliknya, menembus pekatnya kabut pagi yang masih menggelayut manja di sepanjang jalan.


Hari masih cukup pagi, dan rumah Trisnya belum satupun tamu hadir. Hanya beberapa warga yang tengah memasak di belakang dan para lelaki yang bertugas memasang dekor. Keluarga Trisnya juga belum ada yang keluar, mereka masih sibuk dengan urusan di dalam rumah.


Bagas memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan aksinya. Ia lembar buntalan itu ke bawah kursi pelaminan tanpa dilihat oleh siapapun. Selesai dengan aksinya ia segera pergi menuju ke sebuah warung makan kecil tak jauh dari sana, sembari menunggu prosesi resepsi dimulai.


***


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan Guntur tergeletak bersimbah darah.


Ia sunggingkan senyum penuh kemenangan, sebelum akhirnya senyuman itu menghilang tergantikan rasa panik sepanik-paniknya.


Guntur bangkit dari pangkuan Trisnya sembari menggenggam buntalan kain yang ia raih dari kolong kursi. Dengan kemarahan yang begitu membuncah, Ia remas benda itu sambil merapal sebuah mantra. Perlahan buntalan itu pun hancur menjadi abu.


Orang-orang yang mengelilinginya pun ikut terkejut melihat benda yang Guntur temukan. Terutama Trisnya yang memang sudah sedari tadi merasakan aura yang berbahaya di sekitar tempatnya duduk.


"Astaghfirullahaladzim ... orang mana yang tega mengirim ini ke kalian?" tanya Handayani yang terheran-heran. Sembari terus menimang Nawang yang tangisnya mulai terhenti.


Mata Trisnya menangkap sosok lelaki yang sangat ia kenal-Bagas Ardian, sedang menatapnya penuh amarah. Meski ia sangat yakin lelaki itulah pelakunya, ia tetap memilih diam karena alam sendirilah yang akan membalas perbuatan hina itu, tanpa ia harus turut bercampur tangan.

__ADS_1


"Kamu tahu pelakunya?" tanya Guntur sembari membersihkan noda darah yang cukup banyak pada sebagian wajah dan pakaiannya, kepada Trisnya.


"Uhm ... gak tau, Mas. Tapi kamu gak papa, 'kan? Gak ada yang sakit?" tanya Trisnya sembari mengelap wajah Guntur dengan begitu khawatir.


"Kita ke dalam dulu, biar aku cek kondisi kamu!" ajak Jagad.


"Iya, kalian masuk saja. Biar para tamu Bapak sama Ibu yang ngurusin. Keselamatan kalian lebih penting," timpal Lukman yang masih begitu panik.


"Njih, Pak!"


Guntur dan Trisnya segera beranjak pergi, diikuti Jagad dan kedua orang tuanya. Sedangkan Heru memilih berjaga di tempat itu bersama kedua orang tua Trisnya dan keluarga besar Guntur.


Acara resepsi pernikahan pun dihentikan. Semua tamu undangan dipersilahkan untuk kembali pulang oleh keluarga Trisnya. Hanya tersisa keluarga besar dari kedua belah pihak yang masih cemas dengan kondisi Guntur.


2 jam sudah Guntur berada di dalam kamar bersama Jagad dan Trisnya. Semua orang menunggu dengan cemas sembari sesekali bercengkrama dan menggoda Nawang yang terjaga dalam pangkuan ibu Trisnya.


Beberapa tetangga yang berlalu lalang, tampak sedikit penasaran dengan siapakah Nawang.


"Eh, katanya suami Trisnya bujang. Tapi kok tadi ada yang bilang itu bayi anaknya? Duda kali ya?" Bisik salah seorang tetangga.


"Atau jangan-jangan itu memang anak Trisnya, kan kita gak tahu dia disana gimana. Namanya juga biduan," timpal yang lain.


Mereka berjalan meninggalkan rumah kedua orang tua Trisnya. Sembari terus membicarakan hal-hal buruk tentang Trisnya yang tentunya tak berdasar pada fakta yang sebenarnya. Itulah manusia, sebaik apapun kita pasti selalu ada celah untuk menjadi bahan gunjingan oleh orang lain.


***


Sepulang dari rumah Trisnya, Bagas segera melajukan motornya untuk kembali menemui dukun yang ia bayar. Ia terlihat begitu kecewa dan marah, lantaran santet yang dukun itu kirim dengan mudah ditepis oleh Guntur.


Dengan kasar ia menggedor-gedor pintu rumah kayu Mbah Dukun. Namun setengah jam ia menunggu, tak ia dapati jawaban dari dalam rumah.


Ia segera berjalan menuju kebun di belakang rumah, namun tak jua ia temukan sosok lelaki tua itu. Hingga langkah kakinya terhenti saat sepasang kaki tergantung di hadapannya. Ia mendongak ke atas, dan menatap sosok lelaki tua itu telah tewas tergantung pada pohon beringin tua yang ada di kebun.


Bagas melangkah mundur perlahan. Namun, tiba-tiba saja kakinya terasa begitu lemas, ia jatuh terduduk menahan tubuhnya yang mulai bergetar ketakutan. Ingin rasanya ia berteriak, namun percuma saja, siapa yang akan mendengar teriakannya. Sedangkan Dukun itu adalah satu-satunya manusia yang tinggal di hutan ini.


Ditengah-tengah ketakutannya, sesosok bayangan hitam terlihat menyembul dari balik pohon. Bayangan itu perlahan mendekat dan mengitari tempat Bagas berada.


"Akan kubantu untuk membalaskan dendammu pada lelaki itu, sebagai gantinya bantu aku untuk merebut pusaka Pedang Pakugeni dari tangan keturunan Nyi Kinasih ...!" ucap bayangan itu pada Bagas yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2