Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab68. Saling Menjebak


__ADS_3

Ketegangan antara Jagad dan Guntur masih terus berlanjut. Meski Guntur sudah menjelaskannya dengan begitu meyakinkan, Jagad tetap tidak percaya bahwa ia benar-benar Guntur.


Trisnya sebenarnya juga merasakan hal yang aneh, karena tutur kata Guntur yang terdengar cukup lembut. Bahkan ia terlihat cukup ramah pada Jagad dan Heru. Tak seperti biasanya yang selalu slengekan dan seenaknya sendiri.


"Sudahlah, jika kalian memang tak mempercayaiku! Sayang, ayo kita pulang?!" ucap Guntur seraya menarik dengan kasar tangan Trisnya.


"Dia masih harus berlatih disini!" sergah Jagad dengan penuh amarah.


"Aku suaminya, aku yang lebih berhak atas dirinya!" balas Guntur yang tak kalah emosi.


"Sudah, cukup! Aku akan pulang, ijinkan aku pamit sama Pakde Aryo dan Ibuk," ucap Trisnya yang mencoba menengahi.


Trisnya hempaskan cekalan Guntur dari tangannya. Ia pun segera bergegas masuk menyusul Aryo yang tengah berada di ruang pusaka.


Terlihat pusaka tempat Patih Drupala bersemayam terus bergetar hebat. Aryo terlihat tengah berkomunikasi dengannya sembari memejamkan mata. Trisnya berdiam sejenak, menunggu hingga Aryo selesai dengan apa yang tengah ia lakukan.


"Dia masih berada di Jagad Lelembut. Yang merasuk di dalam raganya jelas bukan Guntur!" ucap Aryo tiba-tiba.


Air mata Trisnya kembali luruh tak terbendung, pertahanannya seolah runtuh seketika, mengetahui kenyataan bahwa suaminya masih belum jua kembali.


"Apa yang harus kulakukan, Pakde?" Lirih terdengar ucapan Trisnya disela isak tangisnya.


"Awasi dia dari jarak dekat, jangan biarkan dia sadar kalau kamu sudah tahu yang sebenarnya. Ikuti saja permainannya, sampai makhluk yang ada dalam pusaka ini berhasil membawa Guntur kembali!" titah Aryo sembari menepuk kedua bahu Trisnya. "Tapi, dia butuh bantuanmu!" imbuh Aryo.


"Apa, Pakde?" tanya Trisnya sembari mengusap pipinya yang telah basah.


"Dia butuh energi Pakugeni." Aryo mengucapkannya seraya berbisik.


"Tapi-"


"Ini satu-satunya jalan, Trisnya!" Aryo mencoba meyakinkan Trisnya yang masih ragu-ragu.


"Aku hanya butuh energinya, bukan pusakanya. Lubang tempat bocah itu keluar harus ditutup kembali agar tidak menjadi jalan keluarnya para penghuni Jagad Lelembut." Sebuah bisikan halus terdengar begitu pelan dan samar.


"Baiklah! Akan aku tinggalkan energinya di serpihan Pedang Pakugeni yang telah terbelah. Namun kau hanya bisa menggunakannya satu kali, jadi ku harap kau berhasil menutupnya!" balas Trisnya.

__ADS_1


***


Trisnya ikut pulang bersama Guntur dikala sandyakala terlihat memerah menghias tirai langit senja. Tak banyak pembicaraan yang perempuan itu lontarkan, dia hanya duduk sambil sesekali memandang ke arah Guntur yang masih begitu fokus menyetir.


"Kenapa kaku sekali nyetirnya, Mas?" tanya Trisnya dalam hatinya.


Hening! Sama sekali tak ada jawaban dari Guntur. Biasanya lelaki itu akan selalu membalas setiap ucapan batin Trisnya, karena memang sejak dulu, Guntur bisa mendengar ucapan batin orang lain.


"Kenapa, Sayang?" tanya Guntur saat menyadari Trisnya tengah menatap lekat ke arahnya.


"Gak apa kok, Mas. Kita gak berhenti sholat dulu? Udah adzan, tuh!" balas Trisnya yang lagi-lagi dengan ucapan batin.


"Sayang! Kok gak dijawab?" ucap Guntur sembari mengusap pelan rambut Trisnya.


"Uhm, gak papa. Kamu tambah manis ya ... manggilnya sayang terus. Biasanya kan manggil 'sayang' kalau lagi ada maunya, hehehehe ...!" jawab Trisnya diiringi senyum kakunya.


Guntur terlihat sedikit kikuk dan salah tingkah, seolah tengah merahasiakan sesuatu. "Ah, kan aku kangen, Sayang! Emang gak boleh manggil semanis itu ke istri sendiri?" kilahnya.


"Boleh kok, Sayang!" balas Trisnya dengan senyum manis yang dibuat-buat. "Sholat yuk! Tuh di depan ada masjid," ajak Trisnya.


"Gak! Aku sholat di masjid. Kalau gak mau pulang saja sendiri!" Trisnya dengan geram menghentikan mobil dengan kemampuan supranaturalnya.


Perempuan itu keluar dari mobil menahan amarah yang sedari tadi ia pendam, lalu menutupnya dengan begitu kasar. Hingga membuat mimik wajah Guntur yang semula tenang, beralih merah padam menahan amarah.


"Awas saja kau Trisnya! Malam ini akan ku buat kau terikat denganku seutuhnya!" ancam Guntur dalam hatinya.


Lelaki itu memilih keluar dari mobil dan berjalan menuju angkringan yang terletak tak jauh dari Masjid. Sembari menunggu sang istri selesai sholat, ia memesan segelas kopi hitam panas. Ia terlihat begitu menikmati minuman sambil sesekali menghisap rokok yang terselip diantara jemarinya.


Trisnya menatap nyalang dari kejauhan. Tangannya mengepal sempurna menahan amarah yang entah mengapa begitu sulit ia redam.


"Redam emosimu, atau pusaka itu akan dengan mudah terlepas dari dalam sukmamu dan berakhir di tangan orang yang salah," bisik Nyi Kinasih.


"Astagfirullahaladzim ...." Trisnya mencoba terus menenangkan hatinya, agar ia tak lepas kendali.


"Malam ini aku harus membantu Jagad dan Aryo menjaga desa, disana sudah semakin kacau. Tanah sudah mulai bergetar dan muncul api dari dalam tanah di beberapa titik. Kau bisa mengatasinya sendiri, bukan?" tanya Nyi Kinasih.

__ADS_1


"Tentu, sepertinya dia hanya makhluk bodoh yang tak tahu apa-apa. Aku tak merasakan energi apapun di dalam dirinya. Aku yakin dia hanya umpan!" balas Trisnya yang sudah mulai tenang.


Nyi Kinasih melesat pergi ketempat Jagad dan Aryo berada. Terlihat para warga yang tengah berkerumun di tanah lapang.


"Ada apa?" tanya Nyi Kinasih pada Aryo.


"Coba dengarkan suaranya! Seperti ada suara ketukan dan benturan benda berat di bawah tanah sana. Tanahnya juga semakin sering bergetar seiring dengan terdengarnya suara benturan." Aryo menjelaskan dengan ucapan batinnya, agar tak ada warga yang menganggapnya gila karena berbicara sendiri.


Nyi Kinasih mencoba menerawang apa yang tengah terjadi di bawah sana.


"Ada yang meninggalkan beberapa celah retakan dari alam kita. Para penghuni Jagad Lelembut sedang berusaha memperbesar celahnya untuk jalan keluar. Aku akan menjadi perisai sementara, Trisnya harus berhasil menyelaraskan diri agar bisa menutup kembali retakan-retakan ini dengan Pusakanya!" Nyi Kinasih segera pergi dan mengubah diri menjadi perisai yang membentang menutup segala celah yang tercipta di sekitar kampung Randujati.


Seluruh warga juga mulai diungsikan keluar desa. Awalnya ada beberapa warga yang menolak untuk pergi, namun setelah Pak Rt dan juga Aryo menjelaskan tentang betapa bahayanya kampung mereka. Akhirnya mereka setuju untuk mengungsi sementara sampai desa layak dihuni kembali.


Tampak kobaran api menyembul dari sela-sela retakan tanah. Jagad dan Aryo masih terus berusaha memadamkan api-api itu dengan kemampuan mereka. Namun, api itu seolah tak bisa dipadamkan dan terus bertambah besar.


***


Malam semakin larut, Trisnya masih disibukkan dengan menenangkan Nawang yang terus menangis. Didampingi Guntur yang seolah enggan untuk sekedar mendekat ke arahnya.


"Sudah, diamlah! Bunda tahu dia bukah ayahmu ...!" bisik Trisnya pada bayi mungil dalam gendongannya, sembari masuk ke dalam kamar Nawang.


Dalam sekejap tangis bayi itu pun terhenti. Menyisakan isak napas yang tersengal dan mata merah sembab di wajah mungilnya.


Melihat besarnya energi dalam diri Nawang yang tiba-tiba mencuat, Trisnya mulai berpikir, "Sepertinya aku bisa menyembunyikan Pusaka ini di dalam sukmamu, Cantik. Jaga dulu untuk sementara, agar Bunda bisa dengan leluasa menghancurkan siapapun yang merebut raga ayahmu!"


Trisnya segera merebahkan dirinya di atas ranjang sembari terus memeluk Nawang yang mulai terlelap. Baru setelah bayi mungil itu tertidur pulas, Trisnya kembali ke kamar menyusul Guntur yang sudah terlebih dulu meninggalkannya.


Trisnya tak langsung masuk, ia terlebih dulu menerawang apa yang tengah Guntur lakukan di dalam sana. Perempuan itu menyunggingkan senyuman tatkala melihat Guntur yang tengah mempersiapkan sebuah wewangian khusus di dalam kamar. Trisnya tahu, itu adalah wewangian pemikat yang sengaja Guntur gunakan untuknya malam ini.


"Setelah ini akan kupastikan kau bertekuk lutut dihadapanku, Trisnya. Raga suamimu akan selamanya jadi milikku, dan akan ku buat kau membuka pintu kekuatan yang jauh lebih besar. Seluruh kekuatan Jagad Lelembut akan jadi milikku dan aku akan menguasai dunia ...." ucap Guntur sembari menatap lekat dan menggenggam erat photo pernikahannya.


"Jangan gila kamu, rupanya belum ada yang mengetahui tentang kemampuanku dalam menangkal segala ilmu pengasihan dan pelet. Lihat saja, siapa yang akan bertekuk lutut malam ini. Aku atau kamu, Setan!" Gemuruh amarah dalam diri Trisnya sudah tak terbendung lagi.


Perempuan itu membuka pintunya perlahan. Berjalan masuk dengan anggun, sembari melempar tatapan menggoda pada Guntur yang telah menyeringai penuh kemenangan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2