
Guntur mengendarai mobilnya menembus gelap dan sepinya jalanan. Detak jantungnya berpacu seiring cepatnya laju, kakinya tak segan menginjak gas ke puncak kecepatan. Hingga segerombolan makhluk-makhluk yang mengikutinya mulai jauh tertinggal di belakang.
"Akhirnya kita bisa keluar juga dari hutan itu." Guntur terlihat begitu lega, saat mendapati jalan perkampungan yang cukup ramai.
Riko dan sang ibu hanya saling pandang, rupa-rupanya mereka tak sadar jika telah berulang kali memutari jalan area hutan.
Guntur menoleh ke arah Trisnya yang sedari tadi hanya terdiam. Perempuan itu terlihat duduk bersandar dalam keadaan terpejam. Jemarinya menggenggam erat seutas selendang emas yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
"Pantas saja mereka tak mengejar kita, rupanya kamu sudah terlebih dulu menghadang disana." Guntur hanya menggelengkan kepalanya pelan sembari bergumam.
***
Tanpa banyak orang ketahui, sukma Trisna tengah melayang-layang menghampiri segerombolan dedemit yang sedari tadi mengikuti mobil Guntur.
Kumpulan makhluk dengan beraneka ragam bentuk itu menatap nyalang ke arah Trisnya yang telah bersiap membawa sebilah keris Darmogeni dan selendang emas yang mengalung di pundaknya.
"Jangan halangi kami, kami hanya melaksanakan perintah?!" Makhluk berbulu hitam tinggi besar hampir seukuran rumah itu membentak Trisnya dengan suara menggelegar.
Makhluk yang terlihat paling besar dan berbahaya diantara yang lain itu terus maju. Mata merahnya menatap nyalang ke arah Trisnya. Bibirnya menyeringai jahat, menampilkan ke empat taring tajam melengkung juga jajaran gigi runcing hitam dan berlendir. Menyeruakkan bau layaknya benda yang terbakar di sekitar tempat mereka berhadapan.
"Kembalilah atau ... kualihkan kalian ke alam yang tak diinginkan oleh siapapun. Alam yang bahkan membuat Iblis saja enggan untuk berlama-lama di tempat itu -Jagad Lelembut-" Trisnya membalas gertakan makhluk di depannya dengan ancaman yang tak kalah mengerikan.
"Jika kau membayar dengan hal yang lebih berharga dari manusia yang mengutus kami, maka aku akan dengan senang hati menghentikan ini semua. Hahahaha ... " balas makhluk itu diikuti tawa menggelegar, membuat hampir seluruh hewan malam di sekitarnya pergi menjauh.
"Cuih ... jangan harap aku akan menuruti perintahmu itu. Aku bukan manusia bodoh yang dengan mudah kau perbudak." Trisnya menerjang maju sembari mengayunkan keris dalam genggamannya, yang telah terselimuti api keemasan dari energi selendang yang ia bawa.
"Argghh ...." Makhluk itu mengerang. Tangan besarnya mencoba menghempaskan tubuh mungil Trisnya. Namun, usaha itu sia-sia karena kelincahan Trisnya dalam menghindari segala serangan darinya.
Percikan api tampak tercipta dari serangan keris yang beradu dengan tajamnya kuku-kuku pada jemari makhluk itu. Denting suaranya menggema menciptakan nuansa mencekam yang tak kasat mata.
Puluhan bahkan ratusan makhluk di belakang makhluk itu mulai ikut menerjang ke arah Trisnya. Melemparkan serangan bertubi-tubi hingga membuat energinya sedikit terkuras.
__ADS_1
Puluhan makhluk berwujud bola api dan kepala berambut gimbal terus melayang-layang mengitari Trisnya. Sembari melemparkan serangan-serangan dengan begitu brutal.
Tak mau kalah, Trisnya pun melakukan hal yang sama. Tanpa sedikitpun keraguan, ia tebas setiap makhluk yang menyerangnya hingga lenyap menjadi asap. Dengan sekuat tenaga ia menyerang kumpulan makhluk jahat itu hingga semua terluka parah dan perlahan menghilang.
Perempuan itu merasakan energi dalam dirinya sudah mulai berkurang banyak. Tanpa menunggu lama, ia pun menghilang dan menyatu kembali ke dalam raga.
***
Ia tersadar dalam keadaan terbaring diatas ranjang kamar. "Rupanya sudah sampai di Klinik." Ia bergumam sembari beranjak turun lalu melangkah pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Seusai melaksanakan sholat, ia segera menyusul Guntur yang tengah membantu Jagad mengobati luka-luka pada raga dan sukma ayah Riko.
"Sudah sadar kamu?" tanya Jagad saat melihat Trisnya masuk tanpa permisi.
"Hmm ... " Trisnya hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Jagad. "Gimana keadaannya, kulihat tadi banyak sekali yang dikirim." imbuhnya sembari berbisik.
"Lumayan parah karena sudah cukup lama dihajar dengan serangan-serangan tak terlihat. Kita lanjut abis Isya', biar beliau istirahat dulu." Jagad berlalu pergi keluar kamar begitu saja meninggalkan Trisnya dan Guntur bersama Pak Amir yang masih terpejam tak sadarkan diri.
Jagad terlihat mengajak Riko dan Bu Ani berbicara cukup serius di dalam ruang kerjanya. Sedangkan Guntur dan Trisnya memilih berlalu pergi menuju ketempat Nawang yang tengah meminum susu ditemani Heru dan kedua orang tua Jagad.
Melihat ekspresi gemas suaminya, Trisnya malah tertawa geli.
"Sok imut kamu, Mas. Geli aku dengernya, Hahaha ... " celetuk Trisnya.
"Hahahha ... iya ya Mbak. Efek lebih sering dengerin Mas Gun misuh ketimbang nimang bayi." Heru tertawa membalas ucapan Trisnya.
"Itu karena kalian gak pernah lihat aku pas tugas di Rumah Sakit. Tiap hari yang ku hadapi bayi sama balita. Ya emang harus cosplay jadi bapak-bapak menggemaskan, hahahaha ... " balas Guntur.
"Dih ... orang aku kenal kamu pas kamu udah dipecat, mana bisa lihat?" balas Trisnya sembari duduk di samping Handayani.
"Ssstt ... mas bukan dipecat, Trisnya. Cuma sedang disuruh istirahat!" kilah Guntur.
__ADS_1
"Iya, istirahatnya kebablasan sampai males mau balik!" timpal Handayani.
"Hehehe ... tahun depan baru bisa praktek lagi, Buk. Itupun kalau aku masih mau lanjut," balas Guntur.
"Terserah kamu, Gun. Wong kamu gak kerja juga uangnya masih terus ngalir." Aryo pun ikut menimpali.
"Duh ... bininya biduan kondang, lakinya pengangguran sukses. Gak takut di embat sama yang sawer, Mas?" goda Heru.
"Hush ... lambemu! Keliatannya aja aku nganggur, tapi tiap hari aku ngerjain kerjaan Paklik di belakang layar. Mbok pikir uang tiap bulan dari Paklik itu dikasih cuma-cuma? Kerja Her, kerja ...." Guntur terlihat kesal dengan ucapan Heru.
"Ya sudah syukuri saja, gak semua orang terlahir seberuntung kamu, Gun. Kadang seseorang harus berjuang keras terlebih dahulu untuk mendapatkan seperti yang kamu miliki saat ini. Sedangkan kamu, hanya perlu melanjutkan dan menikmati hasilnya." Jagad ikut menimpali.
***
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, Jagad dan Trisnya terlihat begitu serius di dalam kamar tempat Pak Amir di rawat. Sedangkan Guntur dan Heru bertugas mengawasi dari luar Klinik.
Jagad dengan telaten mengobati luka-luka luar Pak Amir yang terus mengeluarkan nanah dan darah. Sedangkan Trisnya berusaha memulihkan luka-luka itu dengan ajian miliknya.
"Sepertinya mereka tengah mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Kita gak boleh lengah malam ini," ucap Jagad.
"Iya, Mas. Masalahnya, apa raga Pak Amir akan kuat? Makhluk-makhluk kiriman yang kuhadapi sebelumnya saja sudah sangat kuat, apalagi jika mereka mengirimkan yang jauh lebih dari mereka." Trisnya terlihat sedikit gelisah memikirkan keselamatan Pak Amir.
"Aku sudah bicara dengan keluarganya. Dan mereka sudah siap menerima apapun resikonya," ucap Jagad.
Waktu terus berlalu, mereka berempat masih terus berjaga bergantian. Hingga tepat pukul 12 malam, hal yang dikhawatirkan benar-benar terjadi.
Makhluk yang sebelumnya Trisnya hadapi, terlihat sudah mulai mengitari kawasan kampung Randujati. Makhluk sejenis genderuwo itu membawa jauh lebih banyak bala tentaranya, untuk menyerang Pak Amir dan seluruh orang yang membantunya.
Langit yang sebelumnya terang benderang oleh sinaran rembulan. Mulai tertutup oleh gelap dan pekatnya kepulan awan hitam, membawa serta gemuruh juga kilatan cahaya petir yang terus bersahutan.
"Astagfirullah, ada apa ini? Kok tumben petirnya serem banget?" gerutu seorang warga yang tengah berjaga di pos ronda bersama beberapa orang lainnya.
__ADS_1
"Ayo pulang saja! Ngeri ... " ajak salah satu dari mereka.
Bersambung ....