
Kicauan burung-burung perkutut yang saling bersahutan, membangunkan Heru dari tidur lelapnya. Ia berjalan keluar kamar menyusuri gelapnya suasana rumah sekaligus Klinik milik Jagad seorang diri.
Sudah menjadi kebiasaan, burung-burung piaraan Aryo itu akan berkicau di jam-jam tertentu. Seperti saat ini, jam sudah menunjukan pukul setengah 3 dini hari.
Heru berjalan sempoyongan menuju kamar mandi dengan handuk yang mengalung di lehernya. Seperti biasa, Heru memang selalu mandi sebelum melaksanakan sholat tahajud. Selain agar tak mengantuk, Heru juga tak ingin menghadap Tuhan dalam keadaan yang kurang pantas. Idaman sekali bukan?
Seusai mandi, ia segera menggelar sajadah disamping tempat tidur. Dengan khusyuk ia melaksanakan ibadahnya, dilanjutkan dengan melantunkan ayat-ayat suci yang terdengar begitu indah hingga waktu subuh tiba.
Seusai sholat subuh, Heru segera keluar kamar menyusul Jagad yang sedang berlatih sembari memulihkan energinya.
Terlihat jagad yang sedang push up di halaman belakang rumah, dengan hanya mengenakan celana olahraga tanpa mengenakan baju. Memperlihatkan otot-otot kekarnya yang menyembul keluar. Menciptakan pemandangan indah untuk Nyi Kinasih yang ternyata sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Senyumnya mengembang tatkala Jagad mulai berdiri, memperlihatkan dada bidang juga perut six packnya. "Tuhan memang tak pernah main-main dalam menciptakan makhluk-makhluknya," gumam Nyi Kinasih dalam hati.
"Astagfirullah ... bukan muhrim!" ucap Heru tatkala menembus tubuh Nyi Kinasih begitu saja.
"Ishh ... dasar bocah! Merusak pemandangan aja," rutuk Nyi Kinasih.
"Pakai baju, Mas! Takut ada yang bergetar melihat roti sobekmu," ucap Heru sembari melemparkan kaos ke arah Jagad tanpa mempedulikan kekesalan Nyi Kinasih.
"Hahahha ... bergetar lambemu!" balas Jagad sembari mengenakan kaosnya.
Mereka berdua melanjutkan olahraga pagi sambil sesekali bercanda. Karena dimanapun ada Heru, akan ada canda dan tawa yang menyertainya.
"Mas Gun kapan balik, Mas?" tanya Heru.
"Entahlah! Keluarganya masih butuh Guntur disana. Lagipula, memang sudah seharusnya Guntur disana, 'kan?" ujar Jagad.
"Iya juga sih. Sudah terlalu lama Mas Gun kabur dari tanggung jawab. Kasihan juga Pak Bas, di usianya yang sudah gak muda lagi harus mumet ngurusin Rumah Sakit yang seharusnya jadi tanggung jawab Mas Guntur," lanjut Heru.
"Dia punya alasan sendiri, kenapa gak mau terlibat soal urusan Rumah Sakit sampai sekarang," timpal Jagad.
"Oh iya, waktu aku nungguin sampean di rumah sakit kemarin. Aku ngerasa kaya ada yang aneh gitu, Mas." Heru mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Aneh apanya?" tanya Jagad.
"Yo ndak tahu! Aneh aja gitu, kaya ada yang mengawasi dari jauh. Gak nyaman aku pokoknya di Rumah Sakit itu," jelas Heru.
"Uhm ... perasaanmu aja kali, Her. Kamu kan baru pertama kali ke Rumah Sakit milik keluarga Guntur," kilah Jagad. Dia sebenarnya tahu, banyak sekali entitas tak terlihat yang mencoba mendekati Heru karena mereka sudah mengenal siapa sebenarnya Heru. Mereka adalah makhluk-makhluk yang pernah terlibat dalam kematian tragis kedua orang tua Heru dan juga Guntur.
__ADS_1
"Aku pernah dengar kalau Rumah Sakit itu dulu jadi sasaran santet dari para pendirinya yang saling berebut kekuasaan, bener gak sih?" tanya Heru.
"Tau dari mana?" tanya Jagad.
"Sebenarnya dulu pas aku kuliah ngambil jurusan kesehatan, bapak udah ngewanti-wanti untuk gak bekerja di Rumah sakit itu, Mas. Bapak cuma bilang, kalau pemiliknya meninggal gara-gara disantet partnernya sendiri. Aku baru tahu kalau itu milik orang tuanya Mas Gun pas kerja disini," jelas Heru pada Jagad.
"Oh!" Jagad hanya menjawab singkat ucapan Heru sembari bergelantung pada pohon dengan kakinya.
Guntur memang tak pernah sesumbar pada siapapun tentang siapa keluarganya. Sehingga teman-temannya tak ada satupun yang tahu soal kedua orang tuanya, selain Jagad.
Mereka hanya tahu, Guntur berasal dari keluarga yang sangat kaya dan lumayan berpengaruh. Tanpa tahu kisah kelamnya.
"Sampean bukannya dulu juga dokter umum disana, Mas? Kenapa milih hengkang? Apa gak sayang?" tanya Heru lagi.
"Pertama, karena kasian liat ibuk kerja sendirian di sini. Kedua, karena pasien non medis yang datang kesini semakin hari semakin banyak. Jadi aku lebih milih fokus di Klinik aja, tau sendiri gimana sibuknya urusan sama dedemit," jelas Jagad.
"Uhm, jujur sih kadang aku ngerasa capek juga berurusan sama mereka. Tapi-" keluh Heru.
"Tapi, mau gimana? Orang-orang kaya kita, susah buat kerja normal kaya yang lain. Selalu saja dihadapkan dengan hal-hal yang diluar nalar," potong Jagad.
"Nah itu. Dulu waktu masih kerja di Rumah Sakit juga aku hampir stress. Tiap hari digangguin, dimintain tolong lah, sampai gak bisa fokus aku kerja. Untung aja pas aku kesini, Mas Jagad sama Ibuk mau nerima aku, hahahaha ... " ungkap Heru diikuti tawa lepasnya.
Disaat mereka berdua tengah asyik mengobrol, tiba-tiba saja Heru merasakan keanehan dalam dirinya. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat tubuhnya sedikit bergetar akibat energi dalam dirinya.
"Ada apa?" tanya Jagad.
"Aneh sekali, energiku tiba-tiba merasakan adanya bahaya yang begitu besar mendekat," jawab Heru.
"Kau yakin? Kenapa aku tak merasakan apapun?" heran Jagad.
"Entahlah, tapi energiku hanya aktif saat aku dalam situasi yang benar-benar berbahaya," jelas Heru.
Tin ... tin ...!
Suara klakson mobil dari depan rumah mengejutkan Heru dan Jagad. Mereka berdua tampak saling pandang.
"Itu Guntur?" tanya Jagad.
"Entahlah, sepertinya iya." Heru memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri seiring terdengarnya suara derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekat.
__ADS_1
Jagad merasa sedikit was-was melihat keadaan Heru. Ia mencoba sebisanya untuk menetralkan energi dalam diri temannya itu, agar tak ada orang lain yang curiga.
"Woy ... ngapain?" seseorang memanggil mereka dari bibir pintu belakang rumah.
Jagad dan Heru menengok bersamaan, memastikan bahwa itu memang suara seseorang yang mereka kenal.
"M-mas Gun ...." Wajah Heru memerah, menahan desiran aneh dalam aliran darahnya yang semakin terasa.
"Gimana Fahmi? udah baikan?" tanya Jagad.
"Alhamdulillah, tinggal mulihin kondisi raganya aja," jelas Guntur sembari berjalan mendekat ke arah Heru dan Jagad berada. "Oh iya, Paklik minta kalian main ke rumah. Hari ini Klinik tutup, 'kan?"
Rasa sesak di dada Heru semakin menjadi tatkala Guntur mendekatinya. Ia tak mampu lagi menahan energinya yang semakin tak terkendali.
"Maaf, aku ke kamar dulu, Mas!" ucap Heru sembari beranjak pergi meninggalkan Jagad dan Guntur yang baru saja duduk di sampingnya.
Jagad hanya menatap tajam pada Guntur, mencoba menelisik apa yang sebenarnya terjadi. Anehnya, ia tak merasakan apapun menempel pada diri Guntur. Hanya pancaran mata yang terlihat lebih sayu dari biasanya. "Ah, mungkin dia hanya kelelahan," batinnya.
"Opo sih, Mas? Biasa aja ngeliatinnya!" protes Guntur saat melihat tatapan aneh Jagad. "Iya, aku emang lelah banget."
"Tumben lelah?" timpal Jagad sambil memalingkan wajah.
"Akhir-akhir ini aku sering mimpi aneh …," ucap Guntur menggantung.
"Apa?" Jagad terlihat begitu serius.
"Uhm, nanti saja aku cerita. Aku juga masih belum yakin ini pertanda buruk atau sekedar mimpi karena kelelahan," ujar Guntur.
Di dalam kamar, Heru tengah berjuang menenangkan diri. Ia tak ingin energi Mustika yang ia miliki mengambil alih dan menguasai dirinya.
"Kenapa Mustika ini terus bergetar?" tanya heran Heru sembari membuka laci nakas tempat Mustikanya tersimpan.
Terlihat 2 buah Mustika yang tengah bergetar, memancarkan sinar kemerahan yang begitu menyilaukan mata.
"Berhati-hatilah, orang itu berbahaya." Sebuah bisikan terdengar lirih di telinga Heru entah dari mana.
Heru mengambil tasbihnya, lalu ia rapalkan doa-doa untuk mengendalikan energi dalam dirinya. Peluh mengalir deras membasahi kaus yang ia kenakan. Terlihat jelas, ia tengah berusaha keras mengendalikan energi barunya yang begitu besar. Energi dari kedua Mustika ular milik Broto, yang seolah selalu mengikuti dan tak mau lepas darinya.
Bersambung ....
__ADS_1