
Dalam suasana sunyi sepi senyap dan hanya bertemankan gelap. Trisnya terus berusaha memfokuskan diri, melepas segala keinginan dan ambisinya akan nikmat duniawi. Merayu pada Sang Pemilik Alam, agar menurunkan restu baginya. Mengemban tugas untuk melanjutkan perjuangan leluhur yang terdahulu.
Begitu sulit melepas segala asa yang menggelayut di jiwa. Bayang-bayang keadaan Guntur terus saja menghantui, hingga begitu sulit baginya untuk memfokuskan diri. Entah mengapa, Trisnya merasa hal buruk tengah menanti sang suami.
Bayangan Guntur yang tengah berteriak meminta tolong, dan terkurung di dalam dimensi antah berantah. Selalu saja muncul mengganggu konsentrasi Trisnya. Tangisan Nawang yang cukup menyayat hati juga seolah-olah terus memanggilnya.
"Fokuskan dirimu, yakinkan hatimu, Trisnya. Atau kau akan kehilangan segalanya!" bisik Nyi Kinasih yang setia mendampinginya. "Waktumu tidak banyak, sudah ada manusia yang mempersiapkan ritual pembangkit kegelapan, sekaligus mengincarmu beserta pusakamu," imbuh Nyi Kinasih.
Kata-kata itu seolah menjadi pacuan paling keras untuknya. Kembali ia mencoba memfokuskan diri agar sukma pusaka Pakugeni itu berkenan untuk ia ambil dari sarangnya.
***
Denting suara jam dinding yang terdengar begitu bising di telinga. Seolah menjadi satu-satunya teman bagi Guntur yang tak kunjung tersadar. Matanya masih terpejam erat, dengan luka membiru di telapak tangannya yang semakin hari semakin melebar.
Dengan langkah cepat, Aryo berjalan menuju ke ruang Guntur dirawat. Diikuti oleh Jagad dan juga Heru di belakangnya.
Ceklek!
Bau busuk menyeruak dari dalam ruangan yang baru saja Aryo buka. Dengan panik ketiganya segera berlari untuk memeriksa kondisi Guntur di dalam.
Jagad dan Heru segera memeriksa kondisi sahabatnya. Sedangkan Aryo berlari kearah jendela kamar yang sudah dalam keadaan terbuka lebar. Hingga tiupan angin dengan bebas masuk, membawa berbagai entitas tak terlihat yang cukup mengancam keselamatan Guntur.
"Ada orang yang masuk melalui jendela ini!" ucap Aryo.
"Ini lantai 3, Pak. Mustahil jika manusia biasa bisa memanjat sampai ke tempat ini," sanggah Jagad.
"Sepertinya dia memang bukan orang biasa, yang pasti dia berniat buruk pada Guntur. Entah apa itu, Bapak juga belum bisa memastikannya," ujar Aryo sembari menutup kembali jendela itu.
Jagad masih terus mendeteksi tiap energi asing yang bersarang di tubuh Guntur. Namun, ia tak berhasil menemukan satupun hal yang mencurigakan.
"Tidak ada apapun, lalu dari mana bau busuk ini berasal?" keluh Jagad sembari menggeleng.
__ADS_1
Berbeda dengan Jagad, netra Heru masih terpejam erat. Dua jarinya terus bergerak mengitari titik-titik tertentu di tubuh Guntur. Seolah mengikuti alur energi yang ada didalamnya. Hingga perlahan tangannya berhenti bergerak dan menekan satu titik dimana ia merasakan adanya energi asing di dalam tubuh sahabatnya.
"Ada!" ucapnya masih dengan mata terpejam. "Energi Mustikaku berbenturan dengan energi asing tepat di titik ini!" lanjut Heru sembari menekan ulu hati Guntur.
Jagad sedikit bingung, "Kenapa aku tak bisa menemukannya?"
"Energinya tersamarkan dengan energi Guntur yang terus bergemuruh. Sepertinya sukmanya sedang dalam bahaya, kita harus segera menemukan dan menyelamatkannya!" tutur Heru.
Jagad dan Aryo segera mengambil posisi duduk bersila di sudut ruangan. Heru fokus berjaga agar tak ada entitas yang mencoba mendekat dan merasuk dalam raga mereka bertiga, terutama raga Guntur.
Dalam sekejap, sukma Aryo dan Jagad sudah berhasil keluar dari raganya. Mereka melesat pergi dengan mengikuti insting. Mengitari beberapa dimensi bergantian, untuk menemukan tempat sukma Guntur berada.
Aryo dan Jagad terus berusaha mencari. Hingga mereka memutuskan berhenti sejenak, tatkala menyadari sedari awal mereka hanya terus berputar-putar tanpa menemukan satupun petunjuk. Seolah-olah ada energi asing yang menghalangi mereka berdua.
"Sama sekali tak ada petunjuk, kita butuh persiapan yang lebih matang lagi!" ujar Aryo yang merasakan energinya mulai melemah.
"Rasanya ada yang sengaja menyerap energi kita disini," balas Jagad yang juga merasakan hal yang sama dengan Aryo.
"Her, ada apa dengan Guntur?" tanya Aryo saat melihat Heru tengah menyentuh puncak kepala Guntur sembari merapalkan doa.
"Aku hanya sedang mencoba melacak lewat energi asing di dalam tubuhnya, menurutku ini sama seperti energi yang keluar dari dalam sendang waktu itu, Mas!" Jelas Heru dengan wajah paniknya.
"Mungkinkah sukma Guntur terkurung di tempat itu?" tanya Jagad.
"Masih belum bisa kita pastikan. Tapi jika itu benar, satu-satunya cara untuk mengeluarkannya adalah masuk ke alam itu, bukan?" tanya Aryo.
"Itu berarti Trisnya harus membuka segelnya ...." Jagad terlihat tengah memikirkan sesuatu, "Berarti ini adalah jebakan. Mereka sudah mengincar Guntur sejak awal untuk mempengaruhi Trisnya. Jika sampai Trisnya gegabah, pintu dimensi dari alam itu akan benar-benar terbuka dan alam kita akan hancur!"
"Jangan sampai Trisnya mengetahui ini. Tetap jaga rahasia sampai kita menemukan cara lain untuk menyelamatkan Guntur!" titah Aryo pada Jagad dan juga Heru.
Terlihat jam sudah menunjukan pukul 11 malam,Jagad dan Heru memutuskan untuk segera pulang karena masih ada beberapa pasien di Klinik yang membutuhkan bantuan mereka. Sedangkan Aryo lebih memilih menunggu Guntur ditemani oleh Baskoro yang baru saja merampungkan pekerjaan lemburnya.
__ADS_1
Heru lajukan motor supra kesayangannya menembus sepinya jalanan. Dengan membawa Jagad yang membonceng di belakangnya.
"Hati-hati ada yang ngikutin kita!" bisik Jagad pada Heru.
Heru hanya mengangguk sembari menurunkan kecepatan laju motornya. Bibirnya terus berdzikir dan memohon perlindungan dari Sang Pencipta agar bisa selamat sampai rumah.
Tiba-tiba saja motor yang Heru kendarai berhenti begitu saja di tengah pertigaan jalan. Jalan gelap tanpa penerangan yang berada di dalam kawasan hutan.
Motor tua itu tak dapat digerakkan sedikit pun dari tempatnya. Seolah terkunci tepat di tengah-tengah pertigaan jalan.
Disaat Heru dan Jagad tengah berusaha memperbaikinya. Tiba-tiba saja sebuah cahaya menyilaukan dari kejauhan tampak melaju kencang ke arah mereka berdua.
"Awas Her!! Ada truk!!" teriak Jagad sembari menarik tangan Heru menghindar. Namun, Heru seolah berat jika harus merelakan satu-satunya barang kesayangan milik almarhum bapaknya itu harus hancur tertabrak truk. Ia masih enggan beranjak dan terus berusaha menyeret motornya menepi.
Jarak antara truk dan tempat Heru berdiri semakin dekat. Saking cepatnya laju kendaraan besar itu, hingga membuat Heru dan Jagad tak sempat menghindar lebih jauh.
Bruakk!!
Sebuah benturan yang sangat keras terdengar. Bagian depan truk itu telah remuk redam akibat berbenturan langsung dengan pohon besar yang berdiri di sisi jalan. Sedangkan Heru dan Jagad jatuh terguling di sisi lain jalan yang cukup jauh dari lokasi truck.
Terlihat sosok tinggi besar dengan wujud yang lebih menyeramkan daripada genderuwo ataupun buto, tengah mengangguk hormat ke arah Jagad. Rupanya, disaat truk itu sudah hampir menyentuh mereka berdua, dengan sigap makhluk itu melempar dan mengalihkan arah Truck ke sisi lain jalan.
"Terima kasih, tapi ... siapa kamu?" tanya Jagad sembari mencoba bangkit.
Makhluk itu tak menjawab, dan langsung melesat pergi dan menghilang meninggalkan mereka berdua.
Jagad dan Heru bergegas melihat kondisi sopir truk yang sepertinya masih berada di dalam. Namun, lagi-lagi Jagad dan Heru dibuat memicing tajam.
Seonggok mayat yang telah membiru, terlihat berada di kursi pengemudi tanpa ada orang lain lagi. Jagad mendekat, mencoba memastikan yang ia lihat bukanlah ilusi.
"Jangan, Mas!" larang Heru tatkala melihat mayat itu mulai bergerak dan menyeringai jahat kearah Jagad.
__ADS_1
Bersambung …