
Brakkk....
Brakkk...
Brakkk....
Terdengar suara berisik dari almari tempat penyimpanan pusaka dan juga kamar Jagad. Mbah Kromo segera keluar kamar, ia dekati almari kayu tua yang khusus digunakan untuk menyimpan beragam pusaka peninggalan leluhur keluarganya.
"To..., tol..., tolong!" terdengar suara minta tolong dari kamar Jagad.
"Pak! Jagad kenapa itu?" tanya Aryo yang baru saja keluar dari kamarnya.
Mereka berdua segera berlari kearah kamar Jagad.
Tokk..., tokk..., tokkk....
"Jagad, kenapa kamu, le?" ucap mbah Kromo penuh kekhawatiran.
"Pak, pintunya ndak bisa dibuka ini!" jelas Aryo yang sedari tadi mencoba mendorong pintu kamar Jagad.
"Kurang ajar! Mahluk itu pasti kembali mengincar Jagad!" rutuk mbah Kromo.
Brakkkk....
Terdengar suara gebrakan keras dari dalam almari kayu tua yang sedari tadi berisik.
Mbah Kromo berlari ke arah almari yang telah terbuka lebar.
"Aryo! Pusakanya, pusakanya hilang!" seru mbah Kromo.
Aryo yang masih berusaha mendobrak pintu kamar Jagad berhenti sejenak. "Apa?" ia tampak begitu kaget mendengar ucapan mbah Kromo.
"Sir jumbat jumbit
Aji segarit
Ajur memala ajur durjana
Bali mulih ojo mara teko
Damarwulan paringi dalan
Bismillahhirrahmanirrahim
...."
Terdengar lantunan mantra dari dalam kamar Jagad. Mantra yang begitu asing ditelinga Aryo maupun mbah Kromo.
"Mantra apa itu, pak?" tanya Aryo pada sang Ayah.
"Damarwulan telah kembali kepada tuannya!" ucap mbah Kromo sembari menatap tajam kearah Aryo.
Splaaasshhh....
Bugghhh....
__ADS_1
Jagad tampak begitu lincah menangkis setiap serangan dari mahluk dihadapannya.
Mahluk berambut panjang dengan payud*ra yang menggelambir menjuntai hingga hampir menyentuh tanah itu, terus berusaha menyerang dan melukai Jagad.
Mata merahnya menatap tajam ke arah Jagad, lidah panjangnya terus menari-nari menjilati wajahnya yang hancur dan bernanah. Puluhan belatung tampak mengeliat memenuhi setiap luka di wajahnya.
"Jadi, kau sudah benar-benar bangkit Joko! Khe..., khe..., khe...." ucap mahluk itu sembari terus menjilati lukanya, "sayang sekali ragamu sepertinya masih terlalu lemah bocah! Kali ini, akan kupastikan kau mati. Dan kami bisa dengan bebas berkuasa di alam manusia, khe..., khe..., khe...." lanjut mahluk itu.
"Wewe gombel sialan! Ragaku mungkin masih lemah, tapi aku tak selemah yang kau fikirkan!" balas Jagad.
Ia ayunkan keris Damarwulan melingkar didepannya hingga membentuk suatu perisai perlindungan. Ia duduk bersila sembari melantunkan sebuah mantra.
"Sekar arum, Sekar melati.
Cacah telu betara kula nimbali.
Aji asih aji pambudi.
Teko mara agawa aji kang sayekti....
...."
Angin berhembus dengan begitu kencang. Berputar-putar mengelilingi kamar Jagad.
"Sendika dawuh, tuanku Joko Manggala. Kami siap melaksanakan perintah!" ucap ketiga raksasa yang muncul berjajar rapi dibelakang Jagad.
Ketiga mahluk itu adalah, Buto Kidang si raksasa berkepala kidang, Buto Waru penunggu alas waru, dan Ki Beruk Klawu. Mereka adalah para penjaga Jagad yang selama ini terus mengikutinya.
"Musnahkan mahluk itu! Jangan biarkan dia mengusik manusia lagi!" titah Jagad dengan suara begitu tegas.
Brakkk....
Brakkk....
Bugghhh....
Suara-suara berisik terus terdengar dari dalam kamar Jagad. Aryo dan mbah Kromo dibuat semakin tak tenang karenanya.
"Pak? Apa bapak ndak bisa melihat keadaan Jagad di dalam?" tanya Aryo.
"Ndak bisa, le! Udah bapak coba dari tadi! Sepertinya Jagad sendiri yang sengaja menutupnya. Kita tunggu saja sambil berdoa yang terbaik, semoga Jagad baik-baik saja," mbah Kromo mengajak Aryo untuk menunggu Jagad di kursi ruang tamu.
Kriekkk....
Suara derit pintu yang terbuka, membuat mbah Kromo dan Aryo menoleh bersamaan ke arah asal suara.
Terlihat Jagad mengintip dari bibir pintu, ia perlahan melangkahkan kaki menyusul mbah Kromo dan Aryo dengan sedikit tertatih. Karena lututnya masih begitu bengkak dan memar.
"Kamu, ndak apa-apa to, le?" tanya mbah Kromo yang begitu khawatir.
"Sini, duduk dulu biar pakdhe urut lagi kakinya!" Aryo menuntun Jagad agar duduk disebelah mbah Kromo.
"Apa yang terjadi?" tanya mbah Kromo lagi.
"Jagad gak apa-apa mbah!" jawab Jagad menenangkan mbah Kromo.
__ADS_1
"Itu tadi mbah denger berisik di kamarmu!" lanjut mbah Kromo.
"Uhm," Jagad seperti ragu-ragu untuk bercerita. Ia tak ingin mbah Kromo khawatir.
"Cerita saja! Apa wewe gombel itu menggaggumu lagi?" tanya Aryo sembari terus mengoleskan minyak pada kaki Jagad.
"I..., iya!" Jagad mengangguk, "apa dia dulu pernah menemuiku ya, pakdhe?" tanya Jagad.
"Sudah! terakhir kali kamu kesini kamu hilang selama 3 hari, le! Pas ketemu, kamu ngakunya lagi main sama temen-temen mu dirumah pohon. Padahal jelas-jelas rumah pohon itu kosong," jelas Aryo.
"Mahluk itu berusaha mengajakmu ke alamnya, karena dia tahu kamu itu istimewa, teman-teman yang kamu ceritakan itu adalah para korban yang gagal diselamatkan jauh sebelum ada kamu. Jujur, kita saja sampai bingung harus nyari kemana lagi waktu itu, le! Sampai pada akhirnya, kamu tiba-tiba muncul dari dalam rumah pohon itu dalam keadaan linglung dan seperti orang kerasukan. Kamu gak ingat?" jelas mbah Kromo.
"Hmm, Jagad gak ingat sih mbah! Cuma ingat pas lagi main sama temen-temen aja," ucap Jagad jujur.
"Sudahlah, yang penting mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati," ujar Aryo.
"Njih, pakdhe!" ucap Jagad.
"Oh iya, kerisnya?" tanya mbah Kromo sembari menatap tajam kearah Jagad.
"Uhm, ada kok mbah! Biar sama Jagad aja, insyaallah bakal Jagad jaga baik-baik," jawab Jagad.
"Oh, ya sudah! Mbah cuma takut kalau sampai hilang, le!" ujar mbah Kromo dengan perasaan lega, "jaga baik-baik ya, le! Selalu pergunakan untuk hal yang baik. Segala sesuatu tak akan ada artinya jika kamu salah dalam menggunakannya, mbah gak mau kamu salah melangkah dan terjerumus di jalan yang sesat. Kita ini umat beragama, kita mengenal Tuhan. Seampuh apapun pusaka yang kita miliki, jangan sampai membuat kita terlena dan lupa pada Sang Maha Kuasa, janganlah kita menyombongkan diri! Selalu libatkan Tuhan dalam segala urusan kita, karena dengan ridho-Nya lah kita bisa melewati kehidupan ini," pesan mbah Kromo panjang lebar pada Jagad.
"Njih, mbah!" jawab Jagad singkat.
Krekk....
"Aduohh! Sakit pakde!" teriak Jagad tatkala Aryo diam-diam menarik dan mengurut bagian lutut Jagad yang sakit.
"Hehehhe, wes mari iki! Besok udah bisa buat lari-lari harusnya. Wes kamu tidur lagi aja, ini masih jam 2, masih malem!" ujar Aryo.
"Pakdhe sama mbah tidur duluan aja! Jagad mau lanjut sholat aja," ujar Jagad sembari beranjak dari duduknya.
Aryo nampak begitu kagum mendengar ucapan Jagad.
"Pantas saja Yani dulu lebih memilihmu, Yud! Melihat betapa baik dan sholehnya Jagad, sudah cukup membuktikan bahwa kamu adalah lelaki yang begitu hebat. Sangat jauh dibandingkan denganku. Semoga Gusti Allah menempatkanmu ditempat yang paling indah, Yudha! Aku akan selalu menjaga dan mendidik anakmu semampuku," batin Aryo dengan mata yang mulai meremang.
"Yo! Kenapa?" mbah Kromo menepuk bahu Aryo yang sedari tadi terdiam memandang kearah punggung Jagad yang mulai menjauh.
"Gak apa-apa, pak! Aku hanya kangen sama Yudha!" jawab Aryo.
"Mungkin, Tuhan memberimu kesempatan untuk menggantikan adikmu itu, le! Setelah dulu kamu dengan ikhlas mengalah demi kebahagiaan Yudha dan Yani. Bapak selalu memberikan restu untukmu!" lanjut mbah Kromo.
Aryo hanya tersenyum menanggapi perkataan sang ayah.
"Tapi, kalau Handayani ndak mau jangan dipaksa!" imbuh mbah Kromo.
"Halah, pak! Aryo sudah gak mikirin itu, Aryo cuma mau menjaga mereka berdua saja! Aryo ikhlas, meski tak bisa menjadi bagian dari keluarga kecil mereka. Lagian Aryo itu sudah tua pak, dulu aja pas muda Aryo ditolak apalagi sekarang? Hehehhehe, mendingan fokus ngurusin sawah sama ayang-ayangku dikandang, pak!" jawab Aryo sembari bercanda dan dibalas tawa oleh mbah Kromo.
Mereka berdua akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Tanpa mereka sadari ternyata Jagad mendengar pembicaraan itu saat hendak kembali dari kamar mandi.
Jagad kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar setelah memastikan mbah Kromo dan Aryo masuk ke kamar masing-masing.
Bersambung....
__ADS_1