Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab41. Khodam Leluhur


__ADS_3

Gemerisik dedaunan kering mulai terdengar riuh, tertiup angin yang perlahan mendekat dan berputar-putar mengelilingi Naning dan ketiga pemuda itu.


"Gimana ini, Mas?" tanya Ardi yang sudah mulai panik melihat Naning berdiri dengan tatapan aneh.


"Si-siapa kamu?" tanya Heru yang perlahan mulai mendekati Naning.


"Gggrrrhhh ... akhirnya aku menemukan tubuh yang sesuai di keluarga ini," Naning mengaum layaknya seekor harimau, suaranya begitu berat dan menyeramkan.


Kabut tebal mulai menyelimuti kawasan tempat mereka berada. Jagad merasakan adanya energi dari luar yang mulai ikut campur mendatangi mereka berempat.


Gandring yang sedari tadi hanya berdiri di balik pohon nangka, mulai melayang mendekat ke arah Naning.


"Jangan gegabah, Her!" larang Jagad pada Heru yang sudah bersiap melafalkan ayat-ayat ruqyahnya.


"Katakan lagi apa niat dan tujuan kalin?!" bentak Naning yang masih dalam keadaan kerasukan.


"Kami hanya ingin meminta kalian untuk tidak menyakiti orang-orang yang sekedar mengambil buah maupun tumbuhan dari tanah ini," jelas Heru.


"Kami hanya di tugaskan menjaga apa yang tuan kami miliki," balas Naning dengan suara beratnya.


"Keturunan dari tuanmu telah ikhlas jika kalian membiarkan siapapun mengambil apapun dari kebun ini," timpal Jagad.


"Tidak bisa! Perjanjian tetaplah perjanjian. Gandring akan tetap melaksanakan tugasnya di tempat ini. Apa susahnya meminta izin dahulu sebelum mengambil?!" Semua yang berada di tempat itu merasa sedikit tersentil dengan ucapan makhluk yang berada di tubuh Naning. Memang benar, tak sepantasnya kita sebagai manusia mengambil sesuatu tanpa meminta izin terlebih dahulu pada yang punya.


"Baiklah ... kalau begitu cepat tinggalkan raga gadis ini! Dia tak akan kuat menampung energimu yang begitu besar terlalu lama," pinta Jagad.


"Bagaimana kalau aku tak mau?" Ucapan Naning berhasil memancing kemarahan ketiga lelaki yang berada disana.


Heru dan Jagad telah bersiap dengan ajian masing-masing untuk menarik paksa makhluk itu dari tubuh Naning. Mereka berdua menatap tajam ke arah Naning dan Gandring, hingga pada akhirnya Naning malah tertawa.


"Hahahah ... dasar manusia tidak sabaran. Baiklah aku keluar," ucap makhluk dalam tubuh  Naning dengan nada sedikit bercanda.


Jagad dan Heru menarik napas dalam-dalam menghembuskannya dengan kasar. Terlihat bayangan sosok kucing hitam raksasa keluar dari tubuh Naning, hingga membuat sang pemilik raga limbung tak sadarkan diri. Beruntung Ardi sigap meraih tubuh Naning sehingga tak jatuh membentur tanah.

__ADS_1


Dalam sekejap Gandring dan sosok yang merasuki Naning menghilang entah kemana. Jagad segera meminta Ardi untuk menggendong Naning pulang, karena aura negatif dari beberapa sudut hutan mulai terasa mendekat ke arah mereka berada.


Seekor kucing hitam dengan mata merahnya tiba-tiba bergelayut manja di kaki Ardi. Kucing itu mulai mengikuti langkah Ardi yang tengah berlari menggendong Naning menyusuri jalan licin menuju rumah Mbah Rebo.


Heru dan Jagad hanya sedikit heran saat melihat kucing itu menatap ke arah mereka dengan seringai kejam namun tetap terlihat menggemaskan. Kucing itu terlihat seperti sedang tertawa mengejek ke arah mereka berdua.


"Ngajak main-main nih kayaknya, Mas." Heru sedikit kesal melihat ekspresi kucing itu. Ia pun berniat menggoda kucing itu dengan membentaknya, "Ruaaarrrr ...."


Kucing itu tersentak hingga meloncat ke samping jalan. Sontak hal itu berhasil membuat Heru dan Jagad bersusah payah menahan tawa. Kucing itupun menatap tajam ke arah Heru yang tengah tersenyum puas melihatnya tersentak.


"Kucinge wadon, Mas!" (Kucingnya betina, Mas) bisik Heru kepada Jagad.


"La kok iso?" (Lah kok bisa?) balas Jagad dengan muka memerah menahan tawa.


"Liat aja tuh! Marahnya sangar, hehehe ...." timpal Heru sembari terus mengejek kucing yang terlihat marah itu.


Mereka tahu, kucing itu adalah jelmaan dari sosok penjaga keluarga Naning. Khodam leluhur yang akan terus mengikuti dan menjaga keturunan dari sang tuan sebelumnya.


Sesampainya di rumah, Jagad menyarankan pada Mbah Rebo agar memberi tanda tertulis pada kebun. Agar siapapun yang hendak mengambil sesuatu disana, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu pada keluarga Mbah Rebo. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan seperti yang dialami Mardi dan beberapa orang sebelumnya.


"Insyaallah aman, Mbah. Cucu panjenengan cuma pingsan karena kecapekan." Jagad memang sengaja tidak memberitahukan perihal kejadian yang menimpa Naning dan tentang sosok yang mendampinginya, agar tidak menambah kekhawatiran keluarganya.


Selesai dengan urusan di rumah Mbah Rebo, Jagad dan Heru segera pamit undur diri. Mereka berdua pergi terlebih dulu meninggalkan Ardi yang masih harus membantu Mbah Rebo membuat plakat peringatan yang akan dipasang di kebun.


"Her ... kenapa arahnya kesini? Mau kemana?" tanya Jagad saat menyadari jalan yang Heru ambil berbeda arah dengan jalan menuju rumah.


"Mampir bentar ke rumah Sahara," jawab Heru singkat, sembari terus fokus mengendarai motor supranya.


"Ngapain?" tanya Jagad dengan nada heran.


"Ada deh ...."


Tak berselang lama, mereka berdua akhirnya sampai di rumah Sahara. Terlihat gadis itu tengah menunggu di kursi depan rumah. Heru segera turun meninggalkan Jagad yang enggan meninggalkan motor, menyusul Ara yang telah tersenyum ramah ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ... maaf tadi mas masih ada urusan di kampung sana," ucap Heru dengan nada yang begitu lembut dan manis. Hilang sudah sikap slengean yang selama ini melekat pada diri Heru.


Hal itu sontak membuat Jagad yang mendengarnya merasa mual dan ingin sekali menoyor kepala Heru. Ditambah interaksi antara Heru dan Sahara yang menurutnya begitu membuatnya geli, membuatnya bergidik ngeri. "Sial ... nyesel aku tadi gak bawa motor sendiri," rutuk batinnya yang sudah tak tahan melihat kedua sejoli di dekatnya.


"Ini Mas, tasbihnya. Makasih," ucap Sahara sembari menyerahkan tasbih yang pernah Heru pinjamkan padanya.


"Uhm iya, sama-sama. Mas langsung balik, ya!" ucap Heru diiringi senyum sipunya.


"I-iya, Mas. Hati-hati!" Sama halnya dengan Heru, Sahara juga terlihat begitu tersipu. Mereka berdua saling melempar senyuman yang berhasil membuat seorang Jagad Wahyu Linduaji berkata kasar dalam hatinya.


"Asem, cok?! Jadi obat nyamuk aku," gerutu batinnya. "Ra, pulang dulu ya ... ayo cepetan balik, Her. Keburu sore!" teriaknya ke arah Heru, agar segera mengakhiri obrolan.


"Iya ... sabar toh. Ini juga mau balik," balas Heru dengan nada kesal.


Dengan langkah sedikit di percepat, Heru segera menyusul Jagad yang telah bersiap memutar stang untuk meninggalkannya. Mereka berdua melesat pergi meninggalkan Sahara menembus sepinya jalan persawahan.


Klinik terlihat begitu ramai ketika mereka berdua telah sampai. Terlihat pula mobil Guntur telah terparkir di garasi. Jagad segera masuk melalui pintu belakang diikuti oleh Heru.


"Gun, udah enakan?" tanya Jagad yang melihat Guntur sibuk membantu Handayani meresepkan obat untuk para pasien.


"Lumayan ... bosen juga dirumah terus," jawab Guntur tanpa melihat ke arah Jagad.


"Bosen lah, wong Trisnya udah pergi lagi. Coba Trisnya masih nungguin di rumah ... jangankan kesini, keluar kamar aja kamu ogah, Gun!" ledek Jagad sembari berlalu pergi meninggalkan Guntur menuju kamar mandi.


"Sirik aja kamu, Mas. Makanya jangan jadi jomblo mulu," balas Guntur yang tak ingin kalah.


Heru masih terdiam, ia tak tahu harus bersikap bagaimana lagi dengan Guntur. Ia memilih menghindar dan segera masuk ke kamar tanpa menyapa terlebih dulu.


Dddrrrttt ...!


Sebuah pesan masuk terlihat pada layar ponsel yang Heru pegang. Nampaknya pesan itu dikirim oleh Guntur. Dengan sedikit keraguan, Heru segera membuka pesan itu.


"[Nanti temani aku ke suatu tempat!]"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2