Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab64. Kabar Dari Alam


__ADS_3

Gemerisik dedaunan yang ikut tersapu embusan angin malam. Menjadi melodi yang semakin lama semakin terdengar menyeramkan. Diikuti suara gemuruh langit yang seolah enggan untuk berhenti. Seakan alam tengah berteriak, bahwa ia sedang tak baik-baik saja.


Malam semakin larut, Jagad dan Heru masih fokus meruqyah beberapa pasien yang ada di Klinik. Satu persatu dari mereka sudah mulai terlepas dari pengaruh makhluk astral yang sempat menguasai raga.


Tinggalah seorang perempuan yang sedari tadi terus menangis dan menyanyikan tembanng-tembang jawa kuno yang sama sekali tak Jagad dan Heru pahami.


"Ameh ngopo awakmu nyedak mrene?" (Mau apa kamu mendekat kesini?) tanya perempuan itu sembari menatap waspada ke arah Jagad dan Heru bergantian.


"Keluarlah, anak ini tak akan mampu menopang energimu yang begitu besar lebih lama lagi," ucap Jagad sopan.


"Wes tibo pestine lemah kene bakal bali dadi segoro geni. Siji sijine gerbang kang bakal dadi dalane angkara munggah dadi panguwasa. Banjir getih tan biso dicegah, nyawa menungso ibarat dolanan sing ora ono ajine," (Sudah tiba waktunya tanah ini akan kembali menjadi lautan api. Satu-satunya gerbang yang akan jadi jalannya angkara naik menjadi penguasa. Banjir darah tak bisa dicegah, nyawa manusia ibarat mainan yang tak ada harganya,) ujar perempuan itu sembari menatap lekat ke arah Jagad.


Jagad masih diam mencerna setiap kata yang terucap dari mulut perempuan itu.


"Pakugeni, wes diincer karo manungso-manungso goblok. Kuncene iso wae mati yen ora teteg atine. Bocah kae kudu di jaga, mergo sejatine atine isih keri ning kene. Pikirane ora teteg, mergo durung siap nampa takdire," (Pakugeni sudah diincar oleh manusia-manusia goblok. Kuncennya bisa saja mati jika tak yakin hatinya. Bocah itu harus dijaga, karena sejatinya hatinya masih tertinggal disini. Pikirannya masih belum fokus, karena belum siap menerima takdirnya,) imbuh perempuan itu.


Seketika Jagad teringat dengan Trisnya. Ia bergegas keluar dan membiarkan Heru melanjutkan ruqyah sendirian, ditemani oleh kedua orang tua perempuan itu.


Jagad berjalan cepat menyusul Aryo yang tengah berada di halaman belakang Klinik. Asap mengepul dari rokok yang sesekali lelaki paruh baya itu hisap.


"Pak!" panggil Jagad.


"Mereka sepertinya hanya ingin menyampaikan pesan. Tak bermaksud jahat," ucap Aryo.


"Pak, apa yang mereka katakan benar adanya?" tanya Jagad sembari ikut duduk di samping Aryo.


"Terlihat dari tanda-tanda yang alam perlihatkan, sudah semestinya kita juga harus bersiap!" balas Aryo sambil menepuk bahu Jagad pelan.


"Bagaimana dengan Trisnya? Bagaimana kalau dia gagal mengambil Pusaka itu? Apa tidak ada cara lain selain itu?" tanya Jagad.


"Jika kau khawatir, susul saja dia. Bapak justru lebih khawatir dengan Guntur. Sukmanya seolah menghilang entah kemana, apa kamu ada petunjuk?" tanya Aryo pada Jagad.


"Aku juga masih belum tahu, Pak. Besok kita jenguk dia ke Rumah Sakit. Kalau begitu Jagad mau menyusul Trisnya dulu, Pak. Aku khawatir, Kinasih juga sama sekali tak memberi kabar." Jagad beranjak dari duduknya. Ia segera berjalan cepat untuk meraga sukma menyusul Trisnya ke tempat pertapaan.


Jagad duduk bersila, dengan keris Damarwulan yang menempel tepat di dada. Matanya terpejam erat, bibirnya dengan lancar merapalkan mantra. Dalam sekejap sukmanya sudah berhasil keluar meninggalkan raganya.


Ia melesat pergi, membelah gelap dan sunyinya malam. Menembus lebatnya hutan, menuju ke tempat Trisnya tengah melakukan pertapaan.

__ADS_1


Terlihat jelas mulut gua gelap gulita yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berhubungan dengan pusaka Pakugeni. Jagad mendekat, dan menemukan Ki Beruk Klawu yang tengah duduk bersila menjaga tempat itu agar tak ada yang memasukinya.


"Bagaimana keadaan Trisnya?" tanya Jagad pada makhluk itu.


Ki Beruk Klawu menggeleng, mengisyaratkan bahwa Trisnya masih belum bisa menguasai dirinya.


Sesekali masih terdengar isak tangis yang begitu lirih dari dalam. Jagad paham betul, perempuan itu pasti tengah memikirkan keadaan suaminya.


"Sampaikan padanya untuk tak terlalu khawatir, aku akan berusaha menyelamatkan Guntur. Alam sudah menyampaikan kabar buruknya, jika kali ini dia gagal maka kehancuran sudah tak dapat lagi terelakan," pesan Guntur pada Ki Beruk Klawu.


Setelah memastikan kondisi Trisnya, Jagad segera melesat turun. Ia berhenti sejenak untuk mengawasi setiap gerak-gerik makhluk yang berada di sekitar tempat Trisnya berada.


Tak sengaja Jagad melihat tenda yang berada tak jauh dari puncak tempat Trisnya bertapa. Ia melesat pergi untuk mendekat ke arah tenda itu.


Terlihat seorang perempuan yang tengah tertidur pulas di temani seorang remaja laki-laki yang sangat Jagad kenal. Kedua orang itu adalah Bayu-adik Trisnya-, dan Reni.


"Lindungi mereka semua, Ya Allah!" ucap Jagad.


Bayu terlihat mengerjapkan kedua matanya. Sembari menatap heran ke arah Jagad yang melayang-layang di hadapannya.


Bayu hanya mengangguk, dan memastikan bahwa bayangan di depannya bukanlah ilusi.


"Kalian sudah berapa hari disini?" tanya Jagad.


"Baru tadi sore sampai sini, Mas. Minggu kemarin Mbak Reni disini sendirian sampai 3 malam nungguin Mbak Trisnya, terus digantiin sama Paklik dan Ambar. Hari ini gantian aku sama Mbak Reni," jelas Bayu sembari beranjak duduk menghadap Jagad.


"Hati-hati, banyakin berdoa. Semoga kakakmu berhasil dengan lelakunya, dan bisa pulang dengan selamat bersama kalian," pesan Jagad.


"Amin, Mas. Apa masih lama?" tanya Bayu.


"Sekitar 2 minggu lagi, bisa juga lebih cepat. Ya sudah, aku akan kembali. Jaga diri jangan sampai kenapa-napa disini!" Setelah mengucapkan itu pada Bayu, Jagad segera melesat pergi meninggalkan puncak.


Jagad melesat pergi menuju tempat Guntur dirawat. Jagad pandangi raga kosong sahabatnya yang belum juga ada tanda-tanda akan siuman.


Jagad rasakan energi asing menyelimuti seisi ruangan tempat Guntur dirawat. Ia celingukan mencari-cari entitas apa yang hendak mendekat ke raga sahabatnya itu. Namun anehnya, Jagad sama sekali tak menemukan makhluk apapun berada di tempat itu. Hingga pada akhirnya, mata Jagad menangkap sebuah benda aneh berada di bawah ranjang pembaringan.


Sebuah buntalan kain putih lusuh dengan noda darah yang merembes dari dalam. Dalam keadaan ini, Jagad tak mungkin bisa membuka apa isinya. Ia memilih membakarnya dengan doa-doa dan mantra yang ia lantunkan. Dalam sekejap benda itu telah berubah menjadi abu dan menghilang dengan sendirinya.

__ADS_1


Wajah Jagad memerah menahan amarah yang mulai membuncah. Tangannya mengepal erat sembari mengedar pandangan ke segala arah.


"Tak akan kubiarkan siapapun menyentuh raganya!" ucap Jagad dengan begitu lantang.


Ia mengambil posisi duduk bersila dan merapalkan mantra. Dengan izin Sang Maha Pencipta, Ia ciptakan pagar gaib untuk melindungi Guntur agar tak lagi mendapat gangguan.


Energi yang ia keluarkan untuk menciptakan perisai itu cukup besar, hingga membuatnya sedikit melemah. Jagad Pun akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke dalam raganya.


Ia tergeletak lemas, setelah berhasil menyatu dengan raga. Kesadarannya pun perlahan menghilang, semua semakin terlihat samar dan beralih gelap. Jagad terkulai tak sadarkan diri di dalam ruang pusakanya.


***


Sayup terdengar adzan subuh dari kejauhan. Heru yang telah rampung dengan pekerjaannya segera membersihkan diri dan berniat memanggil Jagad ke ruang pusaka.


Ia begitu terkejut saat mendapati Jagad tengah tergeletak tak sadarkan diri di ruang itu sendirian. Dengan susah payah ia mengangkat tubuh Jagad yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Memindahkannya ke kamar agar lebih nyaman di badan.


"Kenapa Jagad, Her?" tanya Aryo yang baru saja muncul dari balik pintu belakang.


"Kurang tahu, Pakde. Tolong bukakan pintu kamar!" pinta Heru.


Setelah pintu terbuka, Heru cepat-cepat meletakkan tubuh jangkung Jagad di atas tempat tidur. Aryo pun segera mendekat dan mengecek kondisi Jagad.


Perlahan, mata Jagad mulai terbuka dan tersadar kembali.


"Pak, Guntur dalam bahaya. Ada seseorang yang mengincarnya," ucap Jagad lemah.


"Sudah, nanti biar bapak yang kesana. Kamu sholat lalu istirahat, Klinik biar ibukmu yang urus!" pinta Aryo sembari menatap cemas ke arah anaknya.


"Kamu juga, sholat istirahat. Jangan kerja dulu!" pesan Aryo sembari menoleh ke arah Heru.


"Njih, Pakde!" Heru segera beranjak pergi meninggalkan Jagad yang masih terlihat cemas.


"Pak! Perasaanku gak enak soal Guntur," ucap Jagad pelan.


Aryo hanya diam, namun dari wajahnya terlihat jelas kekhawatiran terpancar. Entah apa yang akan terjadi dengan Guntur, Aryo hanya bisa berpasrah pada Tuhan. Agar mengijinkan Guntur pulih seperti sedia kala.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2