Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab70. Pusaka Dalam Sukma Nawang


__ADS_3

Gelegar suara dentuman yang berasal dari Desa Randujati masih berlanjut dan semakin terdengar keras. Para warga di desa sekitar mulai panik dan khawatir jika bencana itu akan merembet ke pemukiman mereka.


Pihak berwajib juga mulai membatasi wilayah itu agar tidak ada warga yang mendekat. Demi menjaga agar keadaan tetap kondusif dan tidak menciptakan kepanikan yang semakin besar, pihak kepolisian dan juga pemerintah setempat sepakat untuk menutupi kasus ini dari liputan media. Mereka juga melarang para warga untuk menyebarluaskan keadaan di desa.


Aryo masih terus menghubungi beberapa kenalannya agar ikut membantu mengatasi masalah yang tengah melanda desa. Heru juga menyarankan para warga untuk melakukan doa bersama. Guna meminta pertolongan dari Sang Maha Pencipta, agar desa mereka bisa kembali aman seperti sebelumnya.


"Sudah tiga hari, bagaimana keadaan Trisnya? Apa dia sudah pulih?" tanya Aryo pada Jagad.


"Dia sedang dalam perjalanan ke sini, Pak. Kita tunggu saja!" balas Jagad sembari memeriksa beberapa warga yang tengah sakit.


Para warga berkumpul menjadi satu di sebuah rumah milik salah satu warga di desa sebelah yang terpaut cukup jauh dari Desa Randujati. Mereka terlihat tengah mempersiapkan berbagai makanan dan ubo rampe yang diperlukan untuk mengadakan acara ruwat desa, dilanjutkan dengan acara doa bersama.


Disaat semua tengah disibukkan dengan kegiatan masing-masing, sebuah mobil berhenti tepat di depan pelataran rumah itu. Terlihat Trisnya turun menggendong Nawang didampingi oleh Reni dan juga Bayu.


Perempuan itu menatap ke arah sang rembulan sejenak, lalu kembali melangkah menyusul Jagad dan juga Aryo yang tengah berdiskusi dengan beberapa warga dan perangkat desa.


"Kamu sudah siap, kan?" tanya Jagad sembari menghampiri Trisnya. Ia terlihat begitu iba melihat leher Trisnya yang masih terlilit perban. "Masih sakit?"


"Insyaallah, siap Mas. Udah mendingan kok ini!" balas Trisnya.


"Kenapa Genduk di bawa kemari? Bahaya disini!" Handayani menghampiri Trisnya dengan wajah paniknya. Dengan segera ia meraih bayi mungil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Iya, kenapa Nawang kamu bawa kemari, sih?" timpal Jagad.


"Masalahnya, Pusaka Pakugeni ada di dalam sukma Nawang ...," jelas Trisnya sembari berbisik.


"Apa? Ba-bagaimana bisa ...?" Jagad membelalakan mata saking terkejutnya.


"Aku sempat menitipkan Pusaka itu beserta sebagian energi dalam diriku pada Nawang, sebelum Bagas melancarkan aksinya. Aku bener-bener gak nyangka kalau-" Rasa sesal seolah terlihat jelas dari raut wajah Trisnya hingga ia tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.


"Lalu? Apa Pusaka itu masih bisa kamu kendalikan?" tanya Jagad.


"Bisa! Asal tetap berada di dekat Nawang!"


Mendengar ucapan Trisnya, Jagad tampak sedikit ragu. Ia memikirkan berbagai kemungkinan terburuk jika bayi mungil itu harus ikut bersama mereka.

__ADS_1


Jagad berjalan menghampiri Aryo yang terlihat masih berdiskusi dengan para perangkat desa dan beberapa warga laki-laki. Ia berbisik pada sang ayah mengenai Pusaka yang bersarang pada sukma Nawang, dan berharap ayahnya memiliki solusi yang lebih aman untuk bayi mungil itu.


Aryo berjalan cepat menghampiri Nawang yang berada di dalam rumah bersama Handayani, diikuti Jagad dan Trisnya yang terlihat mengekor di belakang.


"Buk, biar bapak coba periksa kondisi Nawang sebentar!" pinta Aryo pada sang istri.


"Memang Nawang kenapa toh, Pak?" tanya Handayani sembari menyerahkan Nawang pada Aryo.


"Sebentar, bapak cek dulu." Aryo segera menerawang kondisi sukma Nawang. Ia sangat takut jika energi dari Pusaka Pakugeni mengikis energi murni dalam diri Nawang.


"Tenang, Buk!" ucap Jagad seraya merangkul pundak ibunya.


"Aman, anak ini insyaallah aman. Pusaka di dalam sukmanya masih bisa Trisnya kendalikan, karena didalamnya masih terikat dengan darah Nyi Kinasih, leluhurnya. Hanya saja, Pusaka ini tak bisa lagi Trisnya miliki," bisik Aryo pada Jagad.


"Apa ndak bahaya jika Nawang nanti harus ikut ke sana?" tanya Jagad.


"Dia tak perlu ikut kesana. Energi yang menemaninya sejak lahir sudah bersedia ikut bersama kita ke sana," jelas Aryo.


Semua yang mendengar itu tampak begitu lega. Handayani mengambil kembali Nawang dan menggendongnya seperti semula.


***


"Mas Jagad! Mas ... itu ... anu ...." Dengan napas yang tersengal, ia mencoba mengabarkan sesuatu pada Jagad yang menatapnya penuh tanya.


"Minum dulu, ngomong pelan-pelan." Aryo mengambilkan segelas air putih pada pemuda yang terlihat panik itu.


Pemuda itu meminum minuman yang Aryo berikan hingga tandas. Sembari mengatur napas, ia mencoba melanjutkan lagi kata-katanya yang sempat terputus tadi. "Ada yang masuk ke desa kita. Tadi aku iseng nerbangin drone kesana, Mas!"


"Berapa orang?" tanya Jagad.


"Dua, Mas. Tapi yang satu ... mirip sekali sama Mas Guntur," jelasnya.


"Ok! Kita kesana sekarang!" ajak Jagad pada Aryo dan Trisnya sembari melangkah pergi mengambil beberapa gaman yang akan ia bawa diikuti oleh Aryo.


"Bagaimana dengan sukma Guntur?" tanya Aryo sembari berbisik pada Jagad.

__ADS_1


"Dia sedang memulihkan energinya bersama Nyi Kinasih juga Patih itu. Semoga saja dia bisa segera pulih dan membantu kita kali ini," balas Jagad.


***


Di dalam desa Randujati, dua orang lelaki terlihat berjalan cepat menuju pusat kobaran api yang terus menyembur dari dasar bumi. Mereka berdua membawa beberapa nampan berisikan sesajen lengkap dengan kemenyan yang mengepulkan asap hitam pekat.


Nampan-nampan itu mereka letakkan mengitari pusat semburan api yang mulai membumbung tinggi.


"Siapkan Pusaka itu!" ucap sosok yang tengah berada dalam raga Bagas pada sosok Bagas asli yang tengah berada di dalam raga Guntur.


"Sudah, Mbah!" ucap Bagas sembari mengulurkan pedang Pakugeni kepada sosok yang berada dalam raganya.


"Ayo kita mulai!" titah sosok itu.


"Ta-tapi, Mbah. Ini beneran saya gak bakal kenapa-kenapa, kan? Saya beneran akan jadi lebih sakti dari Guntur dan kawan-kawannya, kan?" Bagas tampaknya masih ragu-ragu. Ia sama sekali tak tahu, jika yang akan ia lakukan justru akan membahayakan seluruh umat manusia termasuk dirinya sendiri.


"Sudah, turuti saja apa kata saya! Gak usah banyak tanya lagi?!" bentak sosok itu sembari menyaut pedang dari genggaman Bagas.


Mereka segera duduk bersila sembari merapalkan sebuah mantra yang begitu panjang, hingga kepulan asap hitam mulai membumbung semakin tinggi. Bagas mengangkat tinggi-tinggi pedang Pakugeni yang masih berlumur noda darah Trisnya. Noda darah itu terlihat mengering dan menghias pedang bak aliran nadi yang menghidupkan energinya.


Seusai merapal mantra, terlihat cahaya keemasan menyelimuti Pusaka yang ia bawa. Lalu, ia hunuskan pusaka itu kedalam tanah.


Tanah bergetar hebat, diikuti suara gemuruh langit yang terdengar bagaikan auman yang mengalun panjang. Gelegar petir yang menyambar memutari kawasan desa, semakin menambah mencekamnya suasana.


Cahaya kekuningan terpancar dari sela-sela retakan tanah. Kobaran api yang semula membumbung tinggi, mulai terlihat padam. Langit pun ikut menurunkan rintik-rintik airnya. Memberikan kesegaran dan kesejukan pada setiap makhluk di atas tanah yang sebelumnya kering kerontang.


"Sial! Ada apa ini? Kenapa retakannya malah menutup?" Makhluk yang menguasai tubuh Bagas terlihat panik melihat apa yang terjadi.


"Kenapa, Mbah?" tanya Bagas.


"Brengsek! Ini bukan energi dari Pakugeni. Ini energi perisai milik Kinasih?!" Makhluk itu melempar pedang yang ia bawa ke sembarang arah, sembari menatap nyalang ke arah Bagas.


Bagas melangkah mundur, melihat raganya yang telah dikuasai oleh makhluk itu mulai berubah wujud, menjadi sosok dengan wajah merah padam penuh benjolan dan bertanduk. Kaki dan tangannya menghitam, menyerupai sosok yang jauh lebih menyeramkan dari Grandong.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2