
Jeritan kesakitan dan teriakan meminta tolong terdengar jelas ditelinga Trisnya. Sukmanya terus melayang-layang mencari kearah sumber suara yang entah dari mana asalnya.
Setitik cahaya begitu terang perlahan mendekat kearah Trisnya. Kedatangan setitik cahaya itu membawa kesejukan dan juga ketenangan ditengah kalutnya hati Trisnya.
Cahaya itu semakin mendekat kearah Trisnya, dan mulai berubah menjadi seekor burung kenari emas yang sangat Trisnya kenali.
"Rupanya itu kamu kenari! Tunjukan jalan menuju tempat mereka tertahan," titah Trisnya pada mahluk kecil yang merupakan perwujudan dari salah satu pusakanya yaitu selendang emas.
Burung kenari itu membawa Trisnya kesebuah lembah yang begitu gelap dan mencekam. Terlihat sebuah pohon besar tumbuh dengan gagah disamping sebuah istana yang begitu megah.
Terlihat seorang pria tengah mengendap-endap hendak masuk kedalam istana. "Apa itu mas Jagad? Tapi ngapain dia disini?" gumam Trisnya.
"Mas," panggil Trisnya dengan suara setengah berbisik.
Lelaki itu menoleh ke arah Trisnya, dan benar saja, lelaki itu tak lain adalah Jagad.
"Ngapain disini?" tanya Trisnya.
"Menurut kamu? Saya lagi piknik?" jawab Jagad dengan nada sedikit ketus.
Ya, itulah Jagad. Selain dingin, ia juga sangat sulit berbicara manis pada orang lain, terutama pada perempuan selain ibunya.
"Ye, ditanyain baik-baik juga!" ujar Trisnya yang sedikit kecewa mendengar jawaban Jagad.
"Ya Allah Trisnya, kalau saya berada disini berati saya memang sedang ada urusan sama kaya kamu!" jelas Jagad sembari menatap lurus kearah Trisnya.
"Hmm, iya iya!" jawab Trisnya yang masih sedikit kesal dengan wajah cemberutnya.
"Dasar, gak keturunan gak nenek moyang sama aja ngambekannnya," gerutu Jagad pelan saat melihat ekspresi cemberut Trisnya.
"Apa, mas?"
"Gak apa-apa! Sepertinya istana ini tak begitu banyak penjaga. Kita bisa masuk melewati celah celah pagar ini," jelas Jagad sembari terus fokus mengintip ke dalam istana melalui celah-celah pagar.
"Aku akan lewat gerbang, aku alihkan perhatian para penjaga tempat ini. Mas Jagad bebaskan sukma para korban yang terperangkap didalam," usul Trisnya.
"Kamu yakin bisa sendiri tanpa bantuan Asih?" tanya Jagad yang tak sadar memanggil nenek moyang Trisnya, Nyi Kinasih dengan sebutan Asih.
"Asih?" Trisnya sedikit heran, baru kali ini ada yang memanggil nenek moyangnya itu dengan sebutan Asih seperti kakek moyangnya dulu, Ki Joko Manggala beserta keluarga dekat Nyi Kinasih.
"Ah, maksud ku Nyi Kinasih," ujar Jagad sedikit gelagapan. Ekspresinya cukup menjelaskan bahwa ada seseuatu yang Jagad sembunyikan dari Trisnya.
"Uhm, tenang mas! Masih ada Allah yang bakal jaga kita disini!" ujar Trisnya. Ia mencoba untuk tak mempedulikan tentang maksud dari ekspresi gugup Jagad. Toh Jagad adalah orang yang memiliki aura cukup baik bagi Trisnya, terlepas dari sikap misteriusnya.
Jagad memberi kode pada Trisnya agar segera melancarkan aksinya sebelum terlambat. Jagad tak ingin, sukma para korban tak terselamatkan.
Trisnya satukan energi dari keris Darmogeni dengan selendang emas miliknya. Ia letakan keris yang telah ia lilit dengan selendang itu di dahinya. Matanya terpejam, bibirnya berkomat-kamit merapalkan sebuah mantra penyatuan energi dengan begitu khusyuk.
"Gusti Ingkang Ngareksa
Sadaya Dayaning Dunya
Nyuwun paring pangestu
Manunggaling aji
Dadio panguat
Humateg ing pusaka
Kalebur dadi siji
Ngajur memala
Angkara lan murka
Bismillahirrahmanirrahim...."
Cahaya keemasan terpancar dari keris yang ia pegang, menandakan energi yang begitu besar telah berhasil tercipta.
Trisnya dengan gagah berani berjalan menuju gerbang istana yang telah berjajar rapi para prajurit penjaga istana. Mahluk tinggi besar berkepala seperti kerbau dengan tombak berapi menyambut kedatangan Trisnya dengan tatapan bengisnya.
__ADS_1
Trisnya sengaja melemparkan serangan terlebih dahulu, agar para prajurit itu hanya fokus untuk melawannya.
Buammm..., cringg..., splassshh....
Suara-suara riuhnya pertempuran tunggal Trisnya melawan para prajurit lelembut terdengar jelas ditelinga Jagad. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk diam-diam memasuki istana.
Ia berjalan mengendap-endap mencari tempat para korban terkurung. Sesekali Jagad menyembunyikan dirinya dari beberapa prajurit ataupun penghuni istana yang berlalu lalang.
Jagad cukup berhati-hati dalam bergerak, agar keberadaannya tak terendus oleh para penghuni istana. langkah Jagad terhenti dikala mendengar suara obrolan dari balik pintu megah sebuah ruangan. Ia memberanikan diri untuk mengintip kearah sumber suara. Tampak sesosok siluman ular bertubuh manusia tengah duduk disebuah singgasana yang begitu megah. Ekspresi wajahnya cukup menggambarkan betapa jahat dan kejinya mahluk itu.
"Kanjeng prabu, nampaknya ada manusia yang tengah berusaha mengacau! Dia berhasil menumpas sebagian besar pasukan kita," ucap sesosok mahluk menyerupai manusia berkepala kerbau sembari bersimpuh dihadapan sang siluman ular, yang nampaknya adalah sang raja di istana ini.
"Kurang ajar! Berani sekali dia mengacau diwilayahku! Bawa semua pasukan terkuatmu untuk menghadangnya, aku akan segera menemui permaisuri ku. Tak ada satupun yang boleh menggagalkan pernikahanku!" titah sang raja dengan begitu lantang.
Siluman ular itu meninggalkan singgasananya, menuju tempat dimana calon permaisurinya berada. Jagad segera mengikuti kemana siluman ular itu pergi.
Siluman ular itu berhenti disebuah pintu ruangan yang tak kalah megah dari singgasananya. Ia perlahan merubah wujudnya menjadi sosok pria yang begitu tampan dan gagah lengkap dengan pakaian ala pengantin. Ia mengetuk pintu ruangan itu dengan begitu lembut.
Seorang gadis keluar dari balik pintu ruangan, lengkap dengan gaun dan riasan ala pengantin adat jawa.
"Sahara?" batin Jagad saat melihat sosok yang keluar dari balik pintu itu.
"Ayo ikut kangmas! Kita harus mempercepat acara pernikahan kita, sudah aku siapkan para dayang yang akan melayanimu disini. Kau akan menjadi satu-satunya ratu diistana juga hatiku, Sahara," ucap lelaki itu.
Sahara terlihat tersenyum begitu manis mendengar ucapan lelaki itu. "Aku berjanji, kamu juga akan jadi satu-satunya raja dihatiku, mas Broto," ujar Sahara.
Mereka berdua nampak seperti pasangan yang tengah dimabuk asmara, Jagad rasa Sahara masih belum sadar akan sosok asli Broto.
Broto dan Sahara berjalan beriringan dengan tangan yang terus bergandengan mesra menuju sebuah aula pernikahan yang begitu megah.
Suara tangisan dan rintihan meminta tolong terdengar jelas di telinga Jagad. Ia celingukan mencari darimana suara itu berasal. Terlihat puluhan sukma manusia terkurung dalam kerangkeng besi berisikan begitu banyak ular-ular hitam besar yang terus melilit dan menyakiti mereka. Kerangkeng itu berada tepat disamping aula pernikahan.
Saat Broto dan Sahara tengah fokus bercengkrama, tanpa disadari Jagad telah bersiap dengan keris Damarwulan ditangannya. Ia diam-diam melemparkan serangan kearah ular-ular raksasa yang tengah berusaha menyatu dengan sukma para perempuan itu.
Ya, Broto berniat menjadikan para perempuan itu menjadi seperti dirinya. Ular bertubuh manusia. Dan akan ia jadikan dayang untuk melayani permaisurinya nanti.
Serangan Jagad begitu senyap tanpa menciptakan sedikitpun suara. Satu persatu ular didalam kerangkeng sukma itu mulai terkapar dan menghilang bagai asap.
"Tolong kami! Kami ingin pulang!" ucap salah satu perempuan di dalam kerangkeng.
"Sshhtt!" Jagad memberikan kode agar mereka semua tenang. Jagad sekuat tenaga membuka kerangkeng itu, namun sepertinya usahanya itu sia-sia. Gembok itu tersegel dengan mantra yang begitu kuat hingga ia tak mampu membukanya.
Ditengah kepanikan Jagad, terdengar suara langkah kaki dari luar. Terlihat keempat prajurit berkepala kerbau menyeret Trisnya yang telah terikat.
Jagad segera mencari tempat untuk bersembunyi, ia melihat Trisnya yang menunduk dalam keadaan babak belur.
Jagad berniat menghampiri dan menyelamatkan Trisnya, namun langkahnya terhenti tatkala Trisnya mengedipkan mata kirinya kearah Jagad. Jari telunjuknya menempel pada bibirnya yang penuh luka, mengisyaratkan pada Jagad untuk tetap pada posisinya.
Seekor burung kenari emas bertengger dibahu Jagad dengan membawa pedang Pakugeni. "Pakai ini untuk membuka kerangkeng sukma. Dan bawa mereka kembali terlebih dahulu," bisik burung itu.
Jagad segera mengambil pedang Pakugeni yang telah Trisnya aktifkan energinya. Dengan cepat Jagad menancapkan pedang Pakugeni kearah gembok yang menyegel sukma para korban.
Krakkkk....
Segel yang mengelilingi kerangkeng sukma pun terpecah. Pedang Pakugeni melayang dan beralih ke tangan Trisnya dengan cepat.
Duarrrr....
Suara ledakan terdengar dari dalam aula, riuh suara pertempuran kembali terdengar.
"Cepatlah, mereka harus segera kembali keraganya sebelum ritual penumbalan selesai dilakukan," bisik burung kenari emas pada Jagad.
"Bagaimana dengan Trisnya?" tanya Jagad.
"Kemampuannya melebihi perkiraanmu, tak usah terlalu khawatir!" balas burung kenari itu sesaat sebelum akhirnya menghilang.
Crusshhh....
Broto melemparkan sebuah tombak berapi tepat kearah Jagad disaat ia tengah fokus membacakan doa untuk membawa kembali sukma para korban.
Splassshhh....
__ADS_1
Sebuah serangan Trisnya lemparkan kearah tombak berapi itu agar tak mengenai Jagad dan para tawanan.
"Cepat, pergi!" ucap Trisnya.
"Selamatkan perempuan diaula pernikahan!" titah Jagad pada Trisnya.
"Baiklah!" jawab Trisnya sembari terus menghalau Broto beserta pasukannya yang terus mencoba menyerang Jagad dan sukma para pekerja.
Jagad segera membawa puluhan sukma pekerja itu kembali alam manusia. Dalam secepat kilat Jagad telah berpindah dimensi dan berhasil menghindari serangan Broto.
"Mas Jagad, kenapa bisa bersama mereka?" tanya Guntur dalam batinnya.
"Panjang ceritanya," ujar Jagad, "Heru, segera kembalikan mereka ke raga masing-masing, biar aku bantu Guntur melawan mahluk ini!" titahnya pada Heru yang sedari tadi membantu Guntur melawan mahluk-mahluk yang merasuki raga para pekerja.
Mahluk-mahluk kiriman itu berkumpul menjadi satu bagai kepulan asap hitam yang begitu pekat. Perlahan berubah menjadi satu sosok yang begitu tinggi, besar, dan tentu mengerikan.
"Sialan kalian, berani-beraninya kalian mencuri tumbal yang telah aku persembahkan untuk perayaan perkawinan tuanku! Arrggghh..., rasakan ini," mahluk berbulu layaknya burung itu mengayunkan lengan besarnya yang penuh dengan kuku-kuku panjang. Mata merahnya menatap tajam kearah Jagad dan juga Guntur.
Guntur ikut merubah wujudnya menjadi sosok manusia kera raksasa. Ia halau setiap serangan mahluk itu.
Bugghh....
Guntur berhasil menendang mahluk raksasa itu hingga terpental cukup jauh.
Jagad mengangkat tinggi-tinggi keris dalam genggamannya, cahaya kebiruan terpancar seiring lantunan mantra yang terucap dari bibirnya.
"Sir jumbat jumbit
Aji segarit
Ajur memala ajur durjana
Bali mulih ojo mara teko
Damarwulan paringi dalan
Bismillahhirrahmanirrahim
...."
Jagad berlari kearah lengan Guntur, lalu Guntur lemparkan Jagad tepat kearah kepala mahluk itu.
Crusshhhh....
Jagad tancapkan kerisnya tepat di tengah-tengah dahi mahluk itu.
"Aaarrrrggghhh...," mahluk itu mengerang kesakitan.
Jagad menancapkan kerisnya semakin dalam menembus isi kepala mahluk itu. Ditambah satu lagi hantaman dari tangan besar Guntur tepat pada dada mahluk itu, membuat mahluk itu hancur seketika. Berubah menjadi kepulan asap hitam dan perlahan menghilang.
Duarrr...
Terdengar sebuah ledakan yang begitu kencang dari salah satu gudang dekat gedung itu. Beberapa orang segera melihat ke tempat suara ledakan berasal.
Terlihat sisa-sisa peralatan ritual yang telah hancur berantakan. Terdapat pula percikan darah segar berceceran disekitar tempat ritual.
Guntur mencoba melihat apa yang terjadi melalui sisa-sisa residu yang tertinggal ditempat itu.
"Siapapun pelakunya, dia tak akan selamat!" ucap Guntur sebelum berlalu pergi menyusul Heru.
Guntur tampak begitu gelisah melihat Trisnya yang tak kunjung kembali.
"Aku susul Trisnya, jaga kita disini!" pinta Guntur pada Heru.
"Ayo, aku juga akan menyusul mereka!" ujar Nyi Kinasih.
"Uhuk..., uhukk...," Trisnya terbatuk dengan darah segar keluar dari mulutnya. Tubuhnya yang semula duduk bersila dengan tegap, mulai terkulai lemah di pangkuan Guntur.
"Astagfirrullah Trisnya," Guntur nampak begitu panik melihat kondisi raga Trisnya. Rasa khawatir bercampur rasa takut akan kehilangan membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Bersambung....
__ADS_1