Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab57. Pengantin Baru


__ADS_3

Gemuruh suara air terjun yang menerpa bebatuan. Diiringi nyanyian binatang-binatang malam, sejenak menenangkan jiwa-jiwa hampa bergelayut nestapa.


Bagas berjalan perlahan, mendekat ke arah batu besar yang terletak tepat dibawah guyuran air, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Sesekali ia gosokan telapak tangan lalu meniupnya, menahan rasa dingin yang teramat menyiksa raga.


Netranya celingukan menelisik ke segala arah, berharap tak ada siapapun yang melihatnya. Menatap waspada pada jajaran pohon-pohon tinggi besar yang mengelilingi tempat dimana ia berada.


Bulan membulat sempurna, menyilaukan sinar kuning kemerahan menerangi tirai langit yang membentang luas diatas mega. Menjadi saksi, kegilaan pria yang tengah tertolak cintanya.


Bagas berhenti sejenak, memikirkan kembali pilihannya. Sepintas rasa ragu hadir, namun tertutup lagi oleh dendam yang semakin mencuat timbul dalam hatinya. Seolah tak peduli lagi dengan apapun, ia kembali berjalan menuju tempat yang ia tuju.


Bayangan hitam yang sedari tadi mengikutinya, berputar-putar mengitari tubuh Bagas. Perlahan, wujudnya mulai berubah menjadi sosok makhluk layaknya manusia kerdil, kurus dan berkulit hitam, dengan bulu lebat di bagian kepala dan wajah. Hingga tak terlihat lagi dimana mulut dan hidungnya. Hanya sepasang mata merah yang terlihat menatap nyalang ke arah Bagas.


"Kau sudah tak punya pilihan selain melanjutkannya, Bagas. Ayo lakukan ... sebentar lagi perempuan itu akan jadi milikmu. Kita akan sama-sama menguasai dunia dengan darah dan Pusaka yang ia bawa. Hahahaha ...." Makhluk itu berteriak lantang dengan suara paraunya. Mengobarkan api dendam dalam diri Bagas kembali membara setelah sebelumnya hampir padam oleh keraguan.


Bagas menyunggingkan senyuman. Ia tatap makhluk itu dengan tekad yang membara. Lalu, dengan begitu gagah ia melangkah naik ke atas batu besar di depannya. Duduk bersila dalam keadaan telanj*ang, membiarkan guyuran air menerpa tubuh gempal nan kokoh. Menahan rasa dingin yang seolah menusuk hingga tulang. 


Sembari terpejam, ia terus merapalkan mantra-mantra yang makhluk itu bisikkan. Dan terus bertahan, hingga sebuah kesaktian berhasil merasuk dalam dirinya. Entah akan berapa lama ia berada di posisi itu, ia seolah tak peduli lagi asal keinginannya bisa terwujud. Keinginan cinta yang sejatinya telah membutakan hati juga akal pikirannya.


***


Di kediaman Baskoro, sinar terang sang surya telah menerobos masuk melalui celah-celah gorden yang tak tertutup sempurna. Menyilaukan cahaya yang menyilapkan mata, memaksa bangun setiap insan yang masih berselimut manja.


Trisnya mengerjapkan matanya yang masih terasa begitu berat, setelah bekerja keras melayani sang suami hampir semalaman. Ia singkirkan tangan berat yang memeluk erat pinggangnya perlahan, berharap Guntur tak ikut terbangun kali ini.


Dengan sangat pelan, ia turunkan kakinya dari atas ranjang. Sembari menarik piyama yang tergantung tak jauh dari tempat tidur. Mengenakannya dengan cepat, lalu bersiap untuk melesat pergi menuju kamar mandi.


Sialnya, baru selangkah ia berjalan tangannya berhasil dicekal oleh Guntur. Lelaki itu menarik paksa tubuh Trisnya hingga kembali jatuh dalam pelukannya.


"Lagi yuk!" bisik Guntur sembari meniup telinga Trisnya.


"Astaga, Mas. Udah seminggu full loh, aku kamu gempur abis-abisan. Capek tau ...!" protes Trisnya sembari terus mencoba melepaskan diri dari rengkuhan sang suami. 


Ekspresi kesal Trisnya benar-benar membuat Guntur semakin gemas dan semangat menggodanya. Bertubi-tubi ia daratkan ciuman pada leher belakang Trisnya, hingga membuat wanita itu mengeliat kegelian.


"Hahahaha ... canda. Mas hari ini juga udah kerja! Yuk mandi!" ajak Guntur dengan tatapan menggoda.


"Aaaahh ... sendiri-sendiri aja ya, Mas. Capek aku tuh!!" rengek Trisnya yang sudah tak sanggup lagi menerima ajakan sang suami.


"Lebih bersih kalau berdua, Sayang! Yuk ...!" bujuk Guntur.


"Mana ada? Lebih lama, iya?!" protes Trisnya sembari berlari mendahului Guntur menuju kamar mandi.


Brakk ...!

__ADS_1


Trisnya tutup keras pintu kamar mandi lalu menguncinya, agar Guntur tak menerobos masuk mengganggu ritual mandinya.


Guntur yang melihat tingkah kesal istrinya, hanya mampu tersenyum puas sembari menggelengkan kepala. Ia memilih kembali merebahkan tubuhnya sembari menunggu sang istri selesai membersihkan diri.


Terdengar suara getaran ponsel Trisnya yang terletak di atas nakas samping ranjang. Guntur raih benda pipih itu, lalu membuka pesan yang ternyata dari salah satu teman Trisnya.


[ Bagas sudah beberapa hari minggat dari rumah, Tris. Tumben nanyain dia, ada apa? ]


Guntur terlihat heran sekaligus penasaran setelah membaca pesan itu. "Kenapa dia nyariin laki-laki lain?" lirih batinnya penuh kecurigaan, sembari menatap lekat ke arah Trisnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Apa sih, Mas? Biasa aja liatnya ...!" ucap Trisnya kesal, tak terima ditatap aneh oleh sang suami.


"Kamu ngapain nanyain Bagas? Kangen kamu sama dia?" tanya Guntur dengan raut kesalnya.


Kali ini, Trisnya tak mampu lagi merahasiakan perihal gelagat mencurigakan Bagas di kala acara pernikahannya. Sudah dipastikan Guntur akan berfikir yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan Bagas, jika ia tak jujur.


"Ehm, anu ... itu ... nanti aku ceritain ke kamu, Mas. Kamu mandi dulu, gih! Aku juga mau ganti baju," pinta Trisnya.


"Ganti baju tinggal ganti baju, kenapa ngusir?" protes Guntur yang semakin bertambah kesal.


"Kamu gak kangen sama Nawang, Mas? Apa aku suruh Mas Jagad bawa Nawang aja ke siapa gitu yang mau adopsi, dari pada kamu telantarin?" ancam Trisnya dengan wajah tak kalah kesal.


"Iya, iya ... mas mandi. Pagi-pagi udah ngereog!" balas Guntur sembari berjalan malas menuju kamar mandi.


Setelah keduanya selesai mandi dan berganti pakaian, mereka segera turun ke lantai bawah. Menyusul Baskoro dan keluarganya yang telah bersiap di meja makan.


"Manten anyar tiap hari keramas, gak dingin tuh?" goda Fahmi.


"Sueger ...!" balas Guntur dengan bangganya. Membuat Trisnya menunduk menahan malu.


Semua terlihat bahagia, menggoda kedua sejoli yang tengah menikmati indahnya fase 'pengantin baru' itu. Sembari menikmati sarapan sederhana yang telah Anggun dan Reni masak.


Berbeda dengan yang lain yang terlihat antusias menggoda Guntur, Reni justru terlihat sedikit murung. Sesekali netranya menatap penasaran ke arah Trisnya, hingga membuat Guntur sedikit tak nyaman.


Seusai makan, Guntur menghampiri Reni yang tengah membantu mengerjakan beberapa pekerjaan kantor Fahmi.


"Kenapa sih, Ren? Kok setelah aku nikah kamu agak beda sama Trisnya?" tanya Guntur tanpa basa-basi.


"Bukan gitu, Mas. Aku justru malah khawatir tapi gak tega mau nanya," ucap Reni jujur.


"Kenapa? Cerita sama aku aja," usul Guntur.


"Firasatku aneh, Mas. Aku merasa akan ada bencana besar di pernikahan kalian. Dan itu ada hubungannya sama Mbak Trisnya. Aku juga gak tau apa itu, tapi kejadian di pesta pernikahanmu itu bisa jadi hanya permulaan," jelas Reni dengan suara yang begitu pelan pada Guntur, agar tak ada siapapun yang ikut mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Trisnya juga seperti menyembunyikan sesuatu dariku, Ren. Nanti coba aku bujuk dia buat cerita. Semoga saja firasatmu itu salah, jangan terlalu dipikirkan! Aku berangkat dulu ke Klinik!" Guntur segera beranjak pergi meninggalkan Reni dan segera menyusul Trisnya yang telah menunggunya di dalam mobil.


Ditengah perjalanan, Trisnya hanya lebih banyak diam. Pikirannya seolah tertuju pada tempat lain hingga membuatnya lupa soal janjinya pada Guntur. Untuk menceritakan perihal Bagas, teman lelaki yang ia cari.


"Dek!" panggil Guntur.


"Eh, iya Mas. Kenapa?" balas Trisnya yang sedikit kaget.


"Katanya mau cerita?" tanya Guntur.


"Oh iya, aku nyari dia bukan karena kangen, kok. Sumpah! Aku nyari karena ada sesuatu yang pengen aku pastiin aja, Mas!" jelas Trisnya.


"Apanya yang mau dipastiin?" tanya Guntur yang semakin bertambah penasaran.


"Itu, soal kejadian di pesta pernikahan. Sebenarnya selama ini dia suka sama aku, Mas. Sudah berkali-kali aku menolak dia baik-baik, tapi dia kekeh gak mau mundur. Bahkan dia ngancem mau gagalin pernikahan kita," jelas Trisnya perlahan.


"Apa? Kenapa gak cerita dari awal?" tanya Guntur yang sedikit kecewa.


"Maaf ... aku gak mau kamu khawatir!" ucap Trisnya dengan ekspresi manjanya, membuat Guntur tak tahan dan membalasnya dengan senyuman. Mereka kembali saling bercerita membahas hal-hal lain, yang tak terlalu membuat sakit kepala.


Ditengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja seekor kucing hitam melintas menyeberang jalan. Membuat Guntur yang terkejut, spontan menginjak rem mendadak.


Brakkk ...!


Terdengar benturan yang cukup keras dari arah belakang mobil. Guntur terlihat begitu panik dan menengok ke arah Trisnya. Jelas terlihat Darah segar mengalir dari pelipis perempuan itu akibat terbentur dashboard cukup keras.


"Buruan cek belakang, aku gapapa!" pinta Trisnya.


Guntur segera keluar mobil dan melihat apa yang terjadi. Terlihat seorang pelajar terjatuh tertindih motor, setelah tak sengaja menabrak mobilnya.


"Astagfirullah ...!" Guntur segera mengangkat motor itu, dan memindahkannya ke tepi jalan.


Guntur angkat pelajar laki-laki itu masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke Klinik yang sudah tak terlalu jauh dari tempatnya berada.


"Mas, motornya biar aku bawa saja. Kasihan kalau sampai hilang," usul Trisnya.


"Kamu yakin gak papa?" tanya Guntur.


Trisnya mengangguk, dan segera keluar meninggalkan Guntur bersama pelajar yang tak sadarkan diri itu. Mengendarai motor milik sang pelajar, mendahului Guntur. Melewati sepinya jalanan yang kanan kirinya merupakan kawasan hutan yang cukup lebat.


Disaat Trisnya sudah melaju mendahuluinya, Guntur segera menyusul. Baru saja ia melaju beberapa meter dari tempat itu, tiba-tiba netranya menangkap sosok lelaki yang sangat mirip dengan Bagas, tengah menatapnya tajam sembari menyeringai jahat. Namun seketika sosok itu pun menghilang, saat Guntur mencoba memastikan apa yang ia lihat. 


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2