
Desis suara angin yang berhembus kencang. Seiring dengan jerit histeris Pak Amir yang kembali kesakitan. Didampingi oleh Jagad dan Trisnya yang tengah fokus membacakan doa-doa untuk menangkis setiap serangan yang datang.
Gemuruh langit terdengar begitu menggelegar. Seolah mengirim pesan, bahwa lawan mereka kali ini bukanlah sembarang lawan. Mereka adalah makhluk-makhluk yang begitu kejam dan mengerikan dari berbagai penjuru hutan di pulau ini.
Buammm ....
Suara dentuman terdengar cukup keras dari penghujung kampung. Diikuti getaran tanah yang mulai menciptakan kegaduhan di tengah malam.
"Gempa ... gempa ... " teriak para warga yang mulai berhamburan keluar rumah.
Angin semakin meliuk tajam. Berputar-putar, menggulung dedaunan kering hingga terangkat ke atap-atap rumah warga. Bersamaan dengan debu-debu halus yang mulai mengepul menerpa wajah-wajah panik dan menyiksa mata. Semua terpejam sembari terbatuk-batuk, tak kuasa menahan serangan angin yang membabi buta.
Aryo berlari menghampiri para warga yang tengah berkerumun di sekitar pelataran rumah Pak Rt. Menembus pekatnya debu yang terbawa kencangnya tiupan angin.
"Ayo ke rumah saya!" teriak Aryo.
"Ada apa sebenarnya, Pakde?" tanya salah seorang warga.
"Sudah, nanti saya jelaskan di rumah. Sekarang ayo semua berkumpul di rumah saya. Di Luar sangat berbahaya!" Aryo bergegas pergi mendahului langkah warga yang terlihat panik dan ketakutan.
Satu-persatu warga mulai masuk ke dalam rumah Aryo yang cukup luas. Sembari saling berbisik, tatkala mendengar suara teriakan dari arah Klinik.
"Pakde, itu suara siapa?" tanya Budi.
"Itu pasiennya Jagad. Ini sudah masuk semua?" tanya Aryo.
Budi dan Pak RT terlihat celingukan sembari memeriksa setiap warga yang berkerumun di dalam rumah.
"Sudah, Pak Aryo!" jawab Pak RT.
Aryo segera bergegas menuju pintu hendak menutupnya.
"Tunggu, Pakde!" Heru terlihat berlari menuju ke tempat Aryo berada.
"Biar aku yang urus para warga, kamu bantu Jagad dan yang lain saja, Her!" balas Aryo yang menyusul keluar rumah menghampiri Heru.
"Itu, Mas Jagad butuh bantuan sampean. Biar Heru yang urus warga, sampean bantu mereka saja di Klinik!" jelas Heru dengan wajah paniknya.
Aryo terlihat berfikir sejenak, "Baiklah. Tenangkan mereka!"
Heru segera masuk ke dalam rumah menyusul para warga seiring dengan kepergian Aryo menuju ke tempat Jagad berada.
Di dalam kamar, terlihat Jagad dan Trisnya yang masih fokus melakukan ritual penyembuhan pada Amir. Peluh dan keringat terlihat mengalir deras dari wajah keduanya.
Guntur terlihat tengah duduk bersila di ruang pusaka tanpa bergerak sedikitpun. Aryo pun segera menyusul dan melakukan hal yang sama. Mereka berdua meraga sukma dan menghalau serangan-serangan senyap dari makhluk-makhluk yang mengepung desa.
Gemuruh langit semakin riuh terdengar, tatkala Heru mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an bersama para warga. Kilatan cahaya petir juga terlihat menari-nari diikuti dinginnya embusan angin yang seolah mengitari kawasan Klinik.
Pertarungan gaib pun tak lagi dapat terelakkan. Terlihat Guntur yang telah menyatu dengan Ki Beruk Klawu dan berubah menjadi manusia kera raksasa. Tengah menyerang pasukan dedemit kiriman yang mengincar Pak Amir dan keluarganya. Aryo pun melakukan hal yang sama, ia menghunus tiap makhluk yang mencoba masuk ke dalam desa dengan pusaka Tombak Naga yang ia bawa.
"Guntur, fokus hadapi pemimpinnya. Kroco-kroco yang ia bawa biar jadi urusanku!" teriak Aryo pada Guntur yang terlihat melempar beberapa Banaspati dan demit Bajang yang mencoba menerobos masuk ke dalam desa.
Mendengar titah dari Aryo, Guntur pun segera beralih menyerang pada sosok Jejengklek yang merupakan pemimpin dari makhluk-makhluk itu. Jejengklek merupakan sejenis Genderuwo namun dengan bulu yang lebih panjang terurai dan jauh lebih menyeramkan.
__ADS_1
Guntur melayangkan pukulannya ke arah Jejengklek yang terlihat tengah mengeluarkan serangan energi ke arah Klinik Jagad.
Bugghh ....
Jejengklek sedikit terpental akibat kerasnya pukulan Guntur.
"Arggghhh ... Brengsek?!" sentak Jejengklek sembari memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Melihat lawannya meringis kesakitan, Guntur kembali layangkan pukulan yang mengarah langsung tepat di kepalanya. Sialnya disaat bersamaan, sebilah keris berhasil menancap sempurna pada lengannya.
"Aarrrggghhh ... diancok?!" pekik Guntur sembari mencabut keris itu. Darah segar pun mengucur deras dari bekas tusukan yang cukup dalam.
"Hahahaha ... Pusaka itu akan membuat energimu semakin hari semakin terkikis dan kau akan mati perlahan. Hahahaha ... " ucap Jejengklek yang tengah berusaha bangkit dan hendak menyerang Guntur.
Mendengar ucapan makhluk di hadapannya, Guntur segera mengamati keris yang ada di genggamannya. Lalu beralih pada lukanya yang perlahan menghitam. Tampaknya ucapan Jejengklek bukanlah sekedar bualan semata. Guntur mulai merasakanan energinya seolah tersedot oleh sesuatu.
"Jangan sentuh itu, atau energimu akan terus terserap olehnya!" teriak Aryo sembari menepis tangan Guntur yang membawa keris misterius itu.
"Pusaka apa itu?" tanya Guntur yang masih penasaran.
Belum sempat menjawab pertanyaan Guntur, Aryo dengan sigap menghalau sebuah pukulan dari Jejengklek yang mengarah ke arah Guntur, dengan menggunakan tombak miliknya.
"Kembalilah terlebih dahulu! Lukamu harus segera diobati atau kamu akan mati sia-sia disini!" titah Aryo sembari terus melawan makhluk-makhluk yang menyerangnya.
Guntur tak punya pilihan lain selain meninggalkan Aryo seorang diri di dimensi gaib ini.
Tepat disaat kepergian Guntur terlihat ratusan pasukan gaib menyusul Aryo melawan Jejengklek dan pasukannya.
"Kinasih yang memintaku membantu kalian!" balas sosok itu sembari mengangguk ramah ke arah Aryo.
Pertempuran berlangsung semakin memanas. Denting senjata yang saling beradu seolah menjadi irama mengerikan di malam yang mencekam ini.
Guntur terkulai lemas di samping Aryo yang masih meraga sukma. Disusul Handayani yang terlihat panik dan berlari ke arahnya.
"Ya Allah, Le ... kamu kenapa?" Handayani meraih kepala Guntur dan mengangkatnya ke dalam pangkuan.
"Mas ... " Terlihat pula Trisnya yang berlari menyusul ke arah Handayani diikuti sosok Nyi Kinasih yang melayang-layang di sekitarnya.
Trisnya segera merapalkan doa-doa dan mantra pemulih untuk memulihkan kondisi sang suami.
"Ada apa?" tanya Jagad yang menyusul masuk.
"Sepertinya ada pusaka beracun yang berhasil mengenai sukmanya. Sudah aku netralkan, tolong bantu angkat ke kamar, Mas!" pinta Trisnya.
Jagad segera membantu Trisnya mengangkat tubuh lemah Guntur dan membaringkannya di atas ranjang kamar. Meninggalkan Handayani yang masih ingin menunggu sang suami tersadar.
"Sudah, cepat susul bapakku. Biar yang disini menjadi urusanku dan Kinasih," ucap Jagad sembari menyerahkan keris Damarwulan pada Trisnya, "pertarungan harus selesai malam ini juga."
Dengan terpaksa, Trisnya segera meraga sukma di samping tempat Guntur terbaring. Agar serangan santet pada Pak Amir dan keluarganya bisa benar-benar berakhir.
Setelah memastikan raga Trisnya aman, Jagad segera melangkah pergi menuju ke ruang tempat Pak Amir berada. Diikuti oleh Nyi Kinasih yang melayang-layang di belakangnya.
Terlihat Pak Amir yang masih terbaring lemas, sembari merintih kesakitan.
__ADS_1
"Riko, ambilkan telur yang sudah dipersiapkan Heru tadi!" titah Jagad.
"Baik, Pak." Riko melangkahkan kaki menuju nakas di sudut ruangan, mengambil beberapa butir telur ayam jawa yang telah Heru persiapkan sebelumnya.
Jagad mengambil sebutir telur yang Riko bawa, lalu ia bacakan doa-doa dengan begitu pelan. Perlahan ia mulai sentuhkan telur itu pada perut buncit Pak Amir. Ia gosokan telur itu pelan, sembari terus merapalkan doa-doa.
Buliran bening luruh begitu deras dari pelupuk mata Pak Amir. Rasa sakit yang ia rasakan mungkin sudah tak bisa lagi ia gambarkan dengan rintihan. Ia hanya bisa pasrah berharap Tuhan segera menghentikan rasa sakit ini secepatnya.
"Riko, pecahkan telur ini di wadah itu!" Jagad menyerahkan telur itu sembari menunjuk ke sebuah nampan besar yang berada di bawah nakas.
Riko segera mengambil nampan kayu yang Jagad tunjukan. Dengan menahan rasa takutnya, ia segera memecahkan telur itu di depan sang Ibu.
"Astaghfirullahaladzim ... i-itu ... " ucap Bu Ani tatkala melihat sekumpulan belatung menggeliat bebas dari pecahan telur.
Riko menjauh dari nampan itu dan segera berlari keluar menuju kamar mandi. Memuntahkan seluruh isi dalam perutnya yang terasa begitu mual.
Perlahan kumpulan belatung itu mulai berhenti bergerak dan mengering bagaikan terbakar api yang tak nampak.
Jagad hanya melirik sekilas ke arah nampan, lalu kembali mengambil sebutir telur dan melakukan ritual yang sama seperti sebelumnya. Peluh dan keringat terlihat mengucur deras, menandakan besarnya energi yang ia keluarkan untuk melakukan ritual ini.
Nyi Kinasih juga melakukan hal yang sama, ia terus merapalkan mantra-mantra pemulih untuk sedikit meredam rasa sakit yang Pak Amir rasakan ketika ritual berlangsung.
Riko kembali menyusul ke kamar sang ayah dalam keadaan lemas dan sangat pucat.
"Pecahkan lagi!" titah Jagad pada Riko.
Riko terlihat ragu-ragu hendak menerima telur yang Jagad ulurkan padanya.
"Harus kamu pecahkan, agar semua bisa keluar dari dalam tubuh ayahmu. Kita harus cepat, ayahmu mungkin sudah tak sanggup menahan rasa sakitnya lebih lama lagi," ucap Jagad saat melihat keraguan dari wajah Riko.
Mendengar penuturan Jagad Riko segera meraih telur itu dan memecahkannya di atas nampan sebelumnya.
"Astaghfirullahaladzim ... ucap Bu Ani dan Riko bersamaan diikuti dengan derai air mata yang seolah tak dapat lagi dibendung.
Kelabang, cacing bahkan kalajengking terlihat muncul dari pecahan telur itu. Sama seperti sebelumnya, hewan-hewan itu perlahan mulai mengering dan mati.
Jagad pun mulai mengulang ritual yang sama hingga perut Pak Amir mulai mengecil dan kembali ke ukuran normal.
Disaat telur terakhir mulai di gosokan ke perut Pak Amir, cairan darah segar terlihat mengalir dari hidung Jagad. Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan hingga hampir jatuh. Beruntung Nyi Kinasih sigap dan segera menyalurkan energinya kepada Jagad. Hingga ia mampu menguasai kesadarannya dan melanjutkan ritual penyembuhan pada Pak Amir.
Seusai ritual, Jagad memecahkan sendiri telur yang ia bawa sembari merapalkan doa yang cukup panjang. Karena Riko sudah terlihat lemas setelah beberapa kali memuntahkan isi perutnya.
Pecahan telur terakhir berisikan cairan darah hitam bercampur nanah yang menyeruakkan bau busuk dan anyir yang lebih menusuk dari telur-telur sebelumnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Jagad membawa nampan itu keluar dan melemparnya ke arah hutan.
Lantunan ayat suci masih terdengar mengalun dari dalam rumah Aryo. Gemuruh langit mulai melemah, namun energi negatif masih sangat terasa di sekitar desa.
Aryo dan Trisnya belum juga tersadar. Jagad merasakan ada energi lain yang turut campur dalam pertarungan kali ini.
"Semoga saja semua bisa selamat malam ini," harap Jagad sembari menahan rasa sesak dan sakit luar biasa dalam tubuhnya.
Bersambung ....
__ADS_1