Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab20. Pernikahan Aryo & Handayani


__ADS_3

Hembusan angin malam membelai manja helai demi helai rambut gondrong Aryo. Ia hisap perlahan gulungan tembakau di jemarinya, lalu ia hembuskan kasar, hingga kepulan asap keluar serentak dari mulut dan hidungnya.


"Pakde, kenapa?" tanya Jagad menghampiri Aryo.


"Hmm, gapapa! Ibukmu udah tidur?" tanya Aryo pada Jagad yang tengah duduk santai disampingnya.


"Sudah, pakde! Mikirin apa sih, pakde? Serius banget wajahnya," tanya Jagad lagi.


"Pakde lagi bingung, Le!" jawab Aryo sembari menghembuskan nafasnya kasar.


"Bingung kenapa lagi? Tentang ibuk atau yang lain?" selidik Jagad sembari ikut mengambil sebatang rokok milik pakdenya.


"Pakde lagi mikirin masalah Heru sama Guntur," jawab Aryo sembari menatap tajam Jagad yang hendak menyulut rokoknya.


"Hehehe..., nyoba!" Jagad tampak salah tingkah melihat tatapan tegas Aryo, "ya udah, nih! Gak jadi. Jagad balikin!" lanjut Jagad sembari menaruh kembali rokok yang hampir ia sulut di samping Aryo. "Emang ada apa dengan mereka berdua?" tanya Jagad.


"Kemarin, kakek Guntur menceritakan semuanya sama pakde!" Aryo menghentikan kalimatnya sejenak, "kedua orang tua Guntur meninggal akibat santet yang orang tua Heru kirim, dan ingon yang berhasil kamu kalahkan itu akan mereka gunakan untuk membunuh Guntur beserta keluarga lainnya...." Aryo pun menceritakan segala yang ia dengar dari mbah Wiro pada Jagad.


"Ya, sudah!" jawab Guntur singkat.


"Ya sudah gimana, maksud kamu?" tanya Aryo yang bingung dengan jawaban Jagad.


"Ya, kalau Jagad malah setuju sama mbah Wiro. Guntur itu lumayan keras orangnya. Dia gak akan dengerin kata dan nasihat orang lain. Dia bakal terus nyari Heru dan lampiasin semua ke Heru. Disisi lain, dia juga penyayang sih kalau Jagad lihat. Satu-satunya cara untuk meredam dendam di hatinya, ya dengan perasaannya sendiri. Dengan kita buat dia dekat sama Heru, akan memperkecil kemungkinan Guntur menyakiti Heru nantinya," jelas Jagad pada Aryo.


"Tapi, bagaimana jika rahasia ini terbongkar saat Guntur belum bisa dekat sama Heru. Dan Heru sama sekali belum ada kesiapan apapun?" lanjut Aryo yang masih bingung.


"Tenang, Jagad akan bantu! Kita ajak mereka ke padepokan aja. Nanti Jagad yang bakal awasin mereka. Firasat Jagad baik soal mereka berdua," jelas Jagad menenangkan Aryo.


"Kamu yakin?" tanya Aryo yang mencoba meyakinkan Jagad.


"Insyaallah! Biar takdir kelam itu, cukup berhenti di orang tua mereka. Jangan sampai terulang!" setelah menyelesaikan kalimatnya, Jagad menghisap rokoknya dalam-dalam.


"Loh! Bocah semprul!" sentak Aryo tatkala menengok kearah Jagad yang tanpa ia sadari sudah berhasil menyulut rokoknya diam-diam.


Jagad berlari ke arah rumah meninggalkan Aryo yang telah bersiap melempar sendal jepitnya kearah Jagad.


Plakkk....


Sebuah lemparan sendal berhasil mendarat tepat di punggung Jagad hingga membuatnya berteriak, "adohh!"


"Opo to, Le?" tanya mbah Kromo yang tengah duduk di kursi rotan didalam rumah.


"Hehehe, mboten mbah!" Jawab Jagad sembari melempar kembali rokoknya ke sembarang arah karena takut dimarahi oleh mbah Kromo juga.


"Sudah malam, tidur sana! Besok sekolah," tegur mbah Warsi pada Jagad.


"Njih, mbah! Jagad ke kamar dulu,ya!" pamit Jagad.

__ADS_1


Jagad segera berlari melesat ke arah kamar, sebelum Aryo beranjak mengejar dan menjewer telinganya.


Semenjak saat itu lah, Jagad mulai sering mengajak Guntur dan Heru belajar bela diri dan ilmu kebatinan dipadepokan milik Aryo.


***


6 bulan kemudian


Suara riuh dari beberapa tetangga yang telah berkumpul dirumah mbah Kromo, memaksa Jagad, Guntur dan Heru untuk membangunkan raganya yang terasa remuk redam.


Mereka baru pulang pukul 3 dini hari tadi setelah menemani Guntur berlatih di padepokan. Jagad tak pernah bisa membiarkan Guntur untuk berlatih sendirian, karena Guntur mudah sekali tertarik dengan hal-hal yang ia anggap menantang. Jagad takut Guntur terhasut setan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang sesat diluar pengawasannya.


Hari ini, di rumah mbah Kromo akan dilangsungkan acara pernikahan antara Aryo dan Handayani--ibu Jagad. Tak heran jika pagi-pagi buta, para tetangga sudah berkumpul untuk membantu mempersiapkan acara.


Jagad beranjak bangun dari tidurnya, ia berjalan keluar kamar dan segera menunaikan sholat subuh yang lumayan terlambat di ruang ibadah. Guntur dan Heru juga segera menyusul langkah Jagad, dan sholat berjamaah bertiga.


"Udah rame ya, gak enak mau lanjut tidur!" keluh Guntur si tukang tidur.


"Tidur aja gapapa! Aku mau mandi dulu," ucap Jagad sembari beranjak hendak pergi meninggalkan Guntur dan Heru 


"Ikutlah, ayo Her!" ajak Guntur pada Heru. "Lah, si krucil! Malah ngorok dia," ucap Guntur tatkala melihat Heru telah kembali terlelap dalam duduknya.


"Biarin aja, kamu kalau mau tidur lagi gapapa. Tidur aja dikamar," suruh Jagad pada Guntur.


"Gak, aku mau liat pakde nikah!" ucap Guntur.


Guntur berjalan kembali menuju ke dalam kamar.


Guntur kembali muncul dari pintu kamar dengan menenteng bantal di tangannya.


"Kasian Heru, di ruang sholat keras lantainya," ucap Guntur sembari membawa bantal yang ia bawa ke ruang dimana Heru tertidur.


Jagad hanya tersenyum melihat tingkah Guntur pada Heru. Sering kali Jagad dibuat jengah dengan keributan yang Guntur dan Heru buat ketika bersama. Mereka berdua sudah seperti tikus dan kucing yang gak pernah berhenti untuk saling menjahili. Namun, mereka juga selalu saling perhatian satu sama lain layaknya adik kakak. Terutama Guntur, ia selalu menjadi garda terdepan saat Heru tengah dijahili teman-teman sekolahnya.


Terlintas harapan besar dalam benak hati Jagad, "biarlah rahasia itu terus tersimpan, hingga tak akan ada lagi yang terluka. Guntur dan Heru berhak hidup bahagia tanpa bayang-bayang kelam masa lalu kedua orang tua mereka, Ya Allah."


Jagad melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, rumah mbah Kromo telah penuh sesak oleh para tetangga dan tamu undangan.


Ibu Jagad memang seorang yatim piatu, ia sudah tak memiliki siapapun sejak ia masih kecil. Itu sebabnya mbah Kromo meminta pernikahan diadakan di rumah mbah Kromo saja.


"Buk, kenapa nangis?" tanya Jagad tatkala melihat sang ibu berlinang air mata di dalam kamar seorang diri.


"Ibuk tiba-tiba keinget sama ayahmu, Le!" ucap Handayani.


"Ibuk, ayah udah tenang di alamnya. Ibuk tau gak? Dulu sebelum kecelakaan, ayah pernah bilang ke Jagad...," Jagad menghentikan kalimatnya sejenak. "Kalaupun suatu saat nanti ayah telah tiada dan ibukmu menikah lagi, ayah hanya akan mengijinkan pakde Aryo yang menggantikan ayah! Ibuk tau kenapa alasannya?" lanjut Aryo.

__ADS_1


"Hah?" Handayani tampak sedikit terkejut.


"Karena ayah tahu, rasa cinta pakde Aryo ke ibuk itu begitu besar. Ayah juga bilang, kalau ayah selalu merasa bersalah pernah merebut ibuk dari pakde. Ya meskipun ibuk sendiri yang memang milih ayah, tapi ayah selalu merasa bersalah sama pakde. Ayah meminta sama Jagad untuk selalu menghormati pakde, seperti Jagad menghormati ayah. Jadi, Jagad harap ibu jangan terlalu mikirin ayah lagi. Ibuk berhak bahagia bersama pakde. Itu yang ayah sama Jagad mau. Jangan nangis lagi ya, Buk!" hibur Jagad pada sang ibu.


Tanpa Jagad dan ibunya sadari, Aryo telah berada dibalik pintu kamar. Netranya mulai meremang mendengar penjelasan Jagad. Ia kembali teringat akan sosok Prayudha, dan segala kenangan tentang masa-masa kecil mereka berdua.


"Pakde, ngapain? Ngintip ibuk, ya? Hayo ngaku...," ledek Guntur dari balik punggung Aryo.


"Wooo, semprul kamu malah ngagetin pakde! Kalau pakde jantungan gimana?" protes Aryo pada Guntur yang super jahil itu.


"Hehehe, ya nanti biar Guntur cariin pengganti buat ijab qabulnya, kalau pakde jantungan," balas Guntur sambil cengengesan.


Aryo segera mendaratkan jeweran mautnya ketelinga Guntur.


"Sakit, pakde! Ampun! Ya Allah, calon manten galaknya masyaallah!" teriak Guntur.


Handayani dan Jagad yang mendengar keributan dari luar, segera bangkit dan mengecek ke luar.


"Kalian ngapain?" tanya Handayani sambil tersenyum melihat Guntur dan Aryo.


"Pakde ngintipin i...," Aryo spontan menutup mulut Guntur dengan tangannya agar tak lagi cerewet.


Terlihat Guntur yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Aryo. Membuat Jagad tak mampu menahan tawanya.


"Sudah, pakde kesana dulu! Biar nanti ibuk Jagad yang anter," pinta Jagad pada calon ayah tirinya.


"Cie, udah mau sah masih aja dipanggil pakde!" seloroh Guntur sembari berlari kabur agar tak lagi dijewer oleh Aryo.


"Asem! Bocah kok dubilah tenan," rutuk Aryo sembari membenahi pakaiannya yang telah berantakan akibat ulah Guntur.


"Ya sudah, bapak cepet kesana aja. Oke!" ucap Jagad sembari membenahi kerah kemeja Aryo yang terlihat kurang rapi.


Aryo tak mampu lagi menyembunyikan rasa harunya, saat mendengar Jagad memanggilnya dengan sebutan 'Bapak'.


"Iya, doakan bapak! Semoga gak grogi nanti pas ijab qabul," balas Aryo sembari menahan air matanya agar tak jatuh.


***


SAH....


Riuh terdengar ucapan syukur dari orang-orang yang berada di rumah mbah Kromo. Jagad menangis sesenggukan memeluk ibu dan ayah sambungnya.


"Jaga ibuk baik-baik ya, pak! Jagad sayang kalian!" ucap Jagad disela isak tangisnya.


***Flashback off***


"Aaaaaa..., huaa..., huaaa...," terdengar tangisan yang begitu menyayat hati hingga menyadarkan Jagad dari lamunan panjangnya.

__ADS_1


Jagad lempar puntung rokok yang hampir membakar jemarinya ke sembarang arah, lalu ia beranjak dan pergi ke arah sumber suara itu berasal.


Bersambung....


__ADS_2