Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab37. Guntur Menggila


__ADS_3

Indah terpancar cahaya jingga dikala senja menyapa. Heru dengan setia menunggu Sahara yang masih ingin membeli camilan terlebih dulu sebelum pulang.


Gadis itu berjalan menenteng beberapa kantong plastik berisikan aneka camilan yang di jual di sekitar area parkir restoran itu.


"Udah?" tanya Heru.


"He'em ...," gadis itu mengangguk dengan senyum yang merekah. "Mas, kenapa toh? Kok pada liatin Ara terus dari tadi?" tanya Sahara.


"Nggak papa. Nih, kamu pakai ini ya! Udah mau magrib, aku gak mau kamu kenapa-napa. Bisa disunat ulang aku sama bapakmu nanti," goda Heru sambil mengalungkan tasbihnya pada leher Sahara.


Wajah Sahara memerah, berulang kali sikap dan perhatian Heru mampu meluluhlantakkan hatinya. Meski ia belum sepenuhnya lupa dengan Broto, namun kehadiran Heru cukup mampu untuk menyembuhkan luka-luka di hatinya.


Mereka berdua pulang bersama menikmati indahnya suasana senja. Melaju kencang membelah sepi dan sejuknya jalanan, bercanda ria saling melepas tawa hingga malam menyapa.


Suara adzan magrib terdengar mengalun merdu, di saat Heru memberhentikan motornya tepat di depan rumah Sahara. Terlihat kedua orang tua Heru yang tengah menunggu dengan khawatir di depan rumah.


"Assalamu'alaikum ... maaf njih Pak, Buk. Tadi saya ndak sempat pamit," ucap Heru sembari menyalami kedua orang tua Sahara dengan begitu sopan.


"Wa'alaikumsalam ... tadi Sahara sudah telepon saya kok Mas, sebelum berangkat. Saya tadi cuma khawatir pas ada tetangga yang bilang Ara pingsan di pemancingan," jelas Mardi-ayah Sahara.


" Ara ndak papa kok, Pak. Insya Allah aman kalau sama saya," jelas Heru. "Kalau begitu saya pamit langsung pulang njih, Pak, Buk!"


"Loh, gak mampir dulu toh, Mas?" tanya Bu Dewi-ibu Sahara.


"Waduh, ndak enak saya Buk, sama tetangga. Saya mau langsung ke masjid saja, bablas pulang," tolak Heru.


"Oh ya sudah, hati-hati." Kedua orang tua Sahara tampak begitu ramah pada Heru.


"Njih," ucap Heru sembari berbalik menatap Sahara. "Ra, aku pulang dulu ya!" pamitnya pada Sahara.


"I-iya, makasih ya, Mas. Eh ini jajannya, bawa aja yang satu, Mas!" Sahara mengulurkan sekresek camilan yang ia beli tadi pada Heru.


"Ndak usah, makan aja. Mas udah kenyang," tolak Heru.


"Ya udah kalau gitu, makasih ya! Hati-hati."


Seusai berpamitan Heru segera menghidupkan motor dan melesat pergi menuju masjid untuk menunaikan kewajibannya. Rasa lelah dan tak nyaman yang sejak pagi ia rasakan, kini telah sirna tergantikan dengan rasa yang tak bisa dijelaskan setelah seharian bersama Sahara.


Jam sudah menunjukan pukul 8 malam ketika Heru sampai di rumah Jagad. Ia segera parkirkan motor kesayangannya di garasi. Terlihat mobil Guntur yang juga terparkir di sana, membuat ketidaknyamanan yang sebelumnya sirna, kini hadir kembali.

__ADS_1


Heru mencoba mengendalikan diri sebelum memutuskan masuk dan berpapasan dengan Guntur. Ia tak ingin energi dalam dirinya kembali menggila seperti tadi pagi.


Terdengar teriakan kesakitan dari dalam rumah, tanpa banyak berpikir Heru segera berlari menghampiri Jagad dan yang lain.


Terlihat Guntur yang telah terikat diatas ranjang. Mata merahnya menatap tajam ke arah Heru yang baru saja datang.


"Ada apa, Mas? Mas Gun kenapa?" tanya Heru pada Jagad yang terlihat tengah sibuk mengembalikan kesadaran Guntur.


Disaat bersamaan, Heru merasakan sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia terangkat, nafasnya begitu berat, seperti tercekik sesuatu. Ia terlempar begitu keras hingga menimpa lemari kaca yang berada di kamar Guntur.


Pranggg ...!


Lemari pakaian itu pun hancur terhantam tubuh Heru, serpihan-serpihan kaca yang begitu tajam berhasil menghujani tubuh Heru, ia terkapar lemah bersimbah darah dengan serpihan-serpihan kaca yang masih menancap di tubuhnya.


"Heru!" Jagad berlari menghampiri Heru yang sudah tak sadarkan diri, lalu membopongnya keluar menuju ruang perawatan.


"Urus saja Heru, biar Guntur bapak yang tangani!" ucap Aryo yang baru saja kembali membawa beberapa pusaka peninggalan leluhurnya.


"Njih pak, aku sudah menghubungi Trisnya. Sebentar lagi pasti dia sampai," ucap Jagad sembari menutup pintu kamar, tempat dimana Heru di baringkan.


Jagad mencabut satu-persatu pecahan kaca yang menancap di tubuh bagian belakang Heru. Lalu ia jahit satu persatu luka itu, dibantu oleh sang ibu yang baru saja menyusul.


Sedari dulu, Handayani dan Aryo memang sudah menganggap kedua teman Jagad itu sebagai anak-anaknya juga. Tak pernah sekalipun ia membeda-bedakan antara Jagad, Guntur maupun Heru. Mereka berdua dengan tulus menyayangi dan mendoakan mereka kapanpun dan dimanapun mereka berada.


"Sudah toh, Buk. Jangan nangis terus," pinta Jagad pada sang ibu.


"Gak nangis gimana, wong lukanya sebanyak ini. Heru itu kena jarum dikit aja nangis," ujar Handayani disela isak tangisnya.


"Ya sudah biar Jagad aja yang jahit, ibuk pulang aja. Bahaya disini," balas Jagad yang mulai pening mendengar tangisan ibunya.


"Ndak! Kamu kalau jahit suka blas-bles gak pakai perasaan. Biar ibuk aja, kamu bantuin bapakmu sadarin Guntur!" usir Handayani yang tak ingin Heru jadi mainan Jagad.


Mendengar penuturan sang ibu, Jagad hanya  menurut tanpa bisa membantah. Ia keluar menyusul Aryo ke kamar Guntur.


"Beruntung makhluk itu belum sepenuhnya menguasai jiwa dan raga Guntur. Kita harus cepat-cepat mengeluarkannya sebelum terlambat," ucap Aryo sembari menepuk bahu Jagad pelan.


Disaat Jagad dan Aryo tengah bersiap dengan pusaka-pusakanya, Trisnya datang dengan nafas tak beraturan di temani Nyi Kinasih yang melayang-layang di sekitarnya.


"Sudah berapa lama, Mas?" tanya Trisnya pada Jagad.

__ADS_1


"Abis isya' tadi. Tapi sepertinya makhluk ini udah lama mendekati Guntur. Mungkin sejak dia melakukan ritual itu," jelas Jagad.


"Pak," sapa Trisnya sembari menyalami Aryo.


"Kamu gak istirahat dulu, Nduk?" tanya Aryo pada Trisnya yang terlihat begitu kelelahan.


"Langsung aja, Pak. Trisnya ndak papa, kok." Trisnya segera ikut menyiapkan beberapa perlengkapannya.


"Jangan ikut campur! Bocah itu sudah seharusnya mati ditanganku," rancau Guntur yang masih menggila.


Dengan kasar ia terus menarik tangan dan kakinya yang terikat dengan ranjang. Sembari melemparkan serangan-serangan tak terlihat ke arah Jagad dan yang lain. Ia masih berusaha mencari-cari keberadaan Heru, sorot matanya masih penuh dengan amarah dan juga dendam.


Trisnya segera mendekatkan dirinya ke arah Guntur, ia letakan sekuntum bunga dengan warna biru menyala pada dahi Guntur. Lalu ia timpa dengan selendang emasnya, ia tekan keras-keras sembari merapalkan mantra agar Guntur mampu terlepas dari kendali makhluk yang merasukinya.


Jagad dan Aryo telah bersiap meraga sukma untuk menyerang makhluk yang terus mencoba mengendalikan Guntur. Dalam sekejap sukma mereka berdua telah berhasil melesat keluar. Tinggal menunggu makhluk itu terlempar sepenuhnya dari raga Guntur.


Nyi Kinasih melesat pergi ketempat Heru berada, menjaga serta membantu Heru agar segera pulih. Meninggalkan Trisnya bersama Guntur seorang diri.


"Wanita bodoh, lelaki ini tak benar-benar mencintaimu. Dia hanya mengejarmu karena kemampuan yang kamu miliki ... menjadikanmu alat untuk mewujudkan keserakahannya. Hahahaha ...." Makhluk yang berada di dalam raga Guntur terus berusaha menggoyahkan Trisnya.


Trisnya sama sekali tak menggubris segala ucapan makhluk itu, ia terus fokus dengan ritualnya. Menarik paksa makhluk itu dari raga Guntur dengan begitu kasar.


Guntur mengejang hebat tatkala makhluk itu perlahan terlepas dari raganya, rasa sakit menghujam dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


Setelah makhluk itu berhasil terlepas, Trisnya segera mengalihkannya ke dimensi gaib bersama Jagad dan Aryo. Agar tak membahayakan Heru dan juga Guntur.


"Dek ...." Lirih terdengar suara Guntur yang memanggil Trisnya. Air mata luruh begitu deras dari pelupuk netranya.


"Dalem, Mas ... biar aku pulihkan dulu, tahan sebentar, ya!" Trisnya kembali merapalkan doa-doa untuk memulihkan energi Guntur yang telah banyak terserap oleh makhluk yang merasukinya.


Trisnya usap lembut wajah Guntur yang telah basah oleh keringat dan air mata. Dalam hatinya, ada setitik keraguan setelah mendengar ucapan makhluk itu. Netranya menatap nanar pada lelaki di hadapannya.


"Semoga saja, perasaanmu padaku benar-benar tulus, Mas. Sudah terlanjur kuberikan seluruh hati ini padamu, jadi jangan coba-coba mematahkannya," gumamnya dalam hati. Tak terasa air mata Trisnya ikut luruh tanpa bisa dibendung.


Guntur yang masih tersadar, mendengar jelas suara batin Trisnya. Dalam keadaan yang begitu lemah, ia mulai membuka matanya perlahan.


"Tak pernah sekalipun mas bermain-main dengan hatimu, Dek! Perasaan mas bener-bener tulus sama kamu. Jadi ... mas mohon, jangan pernah meragukan ketulusan mas lagi." Guntur dengan lirih mengungkapkan perasaannya pada sang kekasih hati.


Trisnya memeluk erat tubuh Guntur yang masih terikat dengan ranjang. Isak tangisnya begitu menggema memenuhi seisi ruangan. Ia tumpahkan segala kekhawatiran, keraguan juga ketakutan yang sedari tadi menguasai hatinya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2