Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab16. Bertemu Guntur


__ADS_3

Malam begitu gelap mencekam, suara isak tangis terdengar begitu lirih dari sudut ruang yang tak terambah oleh siapapun.


"Tutup mulutmu, jika tak ingin dianggap gila dan dikeluarkan dari sekolah ini," ancam seorang lelaki berkemeja formal pada gadis yang tengah duduk memeluk kedua lututnya itu, sambil membenahi celananya.


Brakkkk....


Lelaki jangkung dengan rambut sebahu itu pergi meninggalkan gadis malang itu seorang diri dalam gelapnya ruang yang bertuliskan 'Gudang'.


"Hik--hik--hik," gadis dengan seragam SMA itu beranjak dari duduknya, setelah memastikan lelaki yang telah melecehkannya pergi. Ia berjalan tertatih menyusuri gelapnya lorong sekolah.


Ia terus berjalan menuju halaman belakang sekolah yang berbatasan langsung dengan perkebunan tebu. Ada sebuah sumur tua yang sudah lama terbengkalai, tampak bebatuan yang menutupnya telah ditumbuhi rimbunan rumput dan ilalang.


Tanpa sedikitpun rasa ragu, gadis itu mulai menyingkirkan satu persatu bebatuan yang menutup sumur. Raut wajah penuh amarah dan kesedihan, terpancar jelas dari sorot netranya.


"Maafkan Naning, ibu! Maaf," lirih gadis itu sembari berdiri tepat di bibir sumur.


"Tak lelo, lelo, lelo, le dung...," sebuah nyanyian samar-samar terdengar dari dalam sumur itu, tatkala Naning sudah bersiap melompat.


Nyanyian pengantar tidur yang terdengar begitu lirih namun sangat jelas di telinga Naning. Nyanyian itu terus berulang-ulang hingga membuat bulu kuduk Naning berdiri.


"Si--siapa?" ucap Naning yang sudah sangat ketakutan.


"Tak lelo, lelo, lelo ledung


Cep meneng ojo pijer nangis


Anakku sing ayu rupane


Yen nangis ndak ilang ayune...."


Nyanyian itu terdengar semakin menjauh, namun semakin jelas ditelinga Naning. Naning melangkah mundur, menjauh dari lubang dalam, sempit dan gelap itu.


"Khee..., khee..., kheee...." terdengar lengkingan tawa yang begitu mengusik telinga.


Terlihat sepasang tangan hitam muncul dari dalam lubang sumur tua itu. Tangan dengan kuku-kuku panjang dan berlendir itu merayap keluar dari dalam sumur.


Terdengar suara layaknya benda berat yang terseret dari dalam lubang sumur.


Sosok mahluk dengan rambut putih yang panjang, perlahan keluar dari dalam sumur. Matanya menatap tajam ke arah Naning yang mulai gemetaran, sambil menyeringai jahat.


Tanpa Naning sadari, hanya dalam satu kali kedipan mata, wajah makhluk itu sudah ada di depan Naning dengan lendir hitam yang terus menetes dari wajah dan mulutnya.


Bruggh!


Naning jatuh terduduk, melihat sosok dengan wajah setengah hancur itu menatapnya dengan tatapan yang begitu mengerikan. Mulutnya yang robek hingga ke telinga, terus menyeringai memperlihatkan gigi-gigi hitam dan lidahnya yang panjang. Ada satu hal lagi yang membuat Naning semakin ketakutan, tubuh bagian bawah makhluk itu terlihat seperti seekor kelabang raksasa dengan kaki-kaki yang setajam pedang.


Naning menyeret tubuhnya mundur menjauhi makhluk itu. Sialnya, tubuhnya telah terpojok. Ia bersandar pada dinding tembok sekolah dengan bercucuran peluh dan air mata.


Tubuhnya bergetar hebat, terlihat cairan hitam terus menetes mengenai seragam Naning dari tubuh makhluk yang semakin mendekat ke arahnya.


"Ampun! Tolong, jangan sakiti saya!" mohon Naning pada makhluk dihadapannya.


"Jangan mati! Aku akan membantumu untuk membalaskan semua dendammu pada manusia biadab itu," ucap makhluk di depannya dengan suara begitu serak dan berat.


***


Teng..., teng..., teng.

__ADS_1


Bel tanda masuk sekolah telah berbunyi, Jagad berlari secepat mungkin ke arah gerbang yang hendak ditutup oleh pak satpam.


"Pak..., tunggu!" teriak Jagad sembari berlari.


Jagad semakin mempercepat langkahnya, hingga akhirnya Jagad berhasil menerobos masuk melewati celah gerbang yang hampir saja menutup sempurna.


"Alhamdulillah ya Allah! Makasih, pak!" ucap Jagad pada pak Satpam.


"Sama-sama, mas Jagad!" balas pak satpam ber-name tag Sutopo itu dengan begitu ramah.


"Pak! Tunggu, pak!" teriak seorang remaja sembari berlari ke arah gerbang.


"Oalah, Guntur! Kamu kenapa telat lagi, hah?" tanya pak Sutopo dengan nada jengkel.


"Ma--maaf, pak! Bangunnya kesiangan lagi! Ayolah pak, buka gerbangnya! Guntur janji, besok Guntur gak bakal telat lagi!" mohon lelaki bernama Guntur itu pada pak Sutopo.


"Ndak! Bapak sibuk, tunggu saja sebentar lagi guru piket juga bakal dateng!" balas pak Sutopo sembari berlalu meninggalkan Guntur di luar gerbang sekolah.


Jagad yang masih berada disana, hanya melihat Guntur sekilas tanpa ikut berkomentar.


"Mas, tolong bukain gerbangnya dong! Please! Hari ini aku ada ulangan di jam pertama, mas!" mohon Guntur pada Jagad yang hendak melangkah pergi meninggalkannya.


"Kuncinya dibawa pak satpam," jawab Jagad singkat. Ia pun melangkah pergi meninggalkan Guntur.


Guntur menyandarkan kepalanya pada gerbang besi berkarat di depannya dengan muka memelas.


Jagad yang merasa sedikit kasihan, memilih untuk berbalik arah dan kembali menemui Guntur.


"Sst! Puter, lewat belakang! Aku bukain gerbang dekat sumur tua," ujar Jagad dengan nada datar.


"Hah? Ta--tapi, mas," ucap Guntur sedikit ragu dengan usulan Jagad.


"Se--serem!" ucap Guntur pelan.


"Kalau gak mau ya sudah!" balas Jagad sembari berbalik badan.


"Eh, iya mas! Tungguin disana ya," Guntur segera melesat menyusuri rimbunnya perkebunan tebu di belakang sekolah.


Klekk


"Ayo cepet masuk! Keburu ketahuan sama guru," ujar Jagad.


"Makasih, mas!" ucap Guntur.


"Hmm," jawab Jagad singkat.


"Tunggu, mas!" ucap Guntur tatkala melewati sebuah sumur terbengkalai di dekat gerbang.


"Apa?" tanya Jagad sembari menoleh ke arah Guntur.


"I--itu! Sumurnya, kenapa bisa terbuka?" tanya Guntur sembari menunjuk ke arah sumur.


Jagad segera menoleh kearah yang Guntur tunjuk. Wajah datarnya, seketika berubah menjadi gelisah.


"Sial! Siapa yang buka sumur ini?" rutuk Jagad sembari berlari ke arah sumur.


Jagad menyusuri setiap sisi sumur, sembari mengambil segenggam tanah disekitarnya. Bibirnya tampak berkomat-kamit entah merapalkan doa atau mantra. Guntur yang penasaran, ikut mendekat kearah Jagad.

__ADS_1


"Apa makhluk itu terlepas?" tanya Guntur.


"Kamu tahu?" Jagad balik bertanya pada Guntur.


"Dulu, simbahku yang mengurungnya disini, tapi bagaimana dia bisa terlepas?" jelas Guntur.


"Hanya manusia dengan dendam yang sangat kuat, yang bisa membuka kurungan gaib disekitar sumur ini," jelas Jagad sembari menatap kearah Guntur.


"Aaaaaakkkhhh...," terdengar suara teriakan yang begitu melengking dari dalam sekolah.


Jagad dan Guntur segera berlari ke arah sumber suara. Terlihat para siswa dan guru berkumpul di depan pintu gudang sekolah.


"Minggir, minggir, minggir!" ucap Guntur sembari membelah kerumunan para siswa dan diikuti oleh Jagad dibelakangnya.


Suara tangis histeris dari para guru dan siswa saling bertautan, menciptakan suasana pagi yang begitu mencekam.


Dengan mata kepalanya sendiri, Jagad melihat salah satu gurunya telah tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


Guru dengan nama Basuki itu, tergeletak bersimbah darah dengan kondisi wajah setengah hancur dan isi perut yang berceceran. Mata dan mulutnya terbuka lebar, dengan jemari seolah-olah tengah meremas tanah.


Tubuhnya telah kaku dan membiru. Namun, ada satu hal lagi yang aneh dari jasadnya, salah satu organ dalam tubuhnya telah hilang. Tampak lubang menganga tepat di dada sebelah kiri pak Basuki. Jantung pak Basuki telah hilang, meninggalkan bekas luka cabikan yang begitu mengerikan di dada dan perutnya.


"Tampaknya makhluk itu menjadi jauh lebih ganas dari sebelumnya!" gumam Jagad dalam hati.


"Sebelumnya? Makhluk apa sebenarnya itu mas? Apa sebelumnya, sampean pernah bertemu dengannya?" tanya Guntur setengah berbisik.


Jagad tampak bingung mendengar pertanyaan Guntur.


"Suara batinmu keras di telingaku, mas!" ucap Guntur saat melihat ekspresi bingung Jagad.


"Wow! Bukan orang sembarangan ternyata," ucap Jagad sembari melempar senyum pada Guntur.


"Bukannya, kamu juga?" balas Guntur.


"Panggil aku Jagad, aku kakak kelasmu," ucap Jagad memperkenalkan diri.


"Aku Guntur," balas Guntur sembari tersenyum ke arah Jagad.


Beberapa petugas kepolisian telah berdatangan untuk mengamankan lokasi. tampak garis kuning telah terpasang di depan pintu gudang. Jasad pak Basuki juga telah dipindahkan ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi.


Para siswa terpaksa dipulangkan lebih pagi, dan sekolah diliburkan selama beberapa hari. Sekolah yang biasanya riuh oleh canda dan tawa para siswa, berubah begitu sepi, sunyi dan mencekam setelah kejadian itu.


Jagad dan Guntur yang penasaran, memutuskan untuk mendatangi sekolah beberapa hari setelah kejadian.


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Jagad dan Guntur bertemu di depan gerbang sekolah tanpa didampingi oleh siapapun.


Mereka memberanikan diri untuk masuk ke dalam sekolah, berbekal senter dan juga persenjataan seadanya.


"Gun, jangan jauh-jauh! Bisa bahaya kalau kita terpisah!" pesan Jagad sembari terus fokus menyusuri tiap lorong gelap sekolahnya. Namun, tak Jagad dengar jawaban dari adik kelasnya itu.


"Gun?" panggil Jagad.


Jagad menoleh ke segala sisi untuk memastikan keberadaan Guntur. Namun, tak ada siapapun di dekatnya.


"Gun?" Jagad kembali memanggil nama adik kelasnya dengan suara sedikit lebih keras.


Sepi, tak ada sautan sama sekali dari Guntur. Ditengah kepanikannya, Jagad berlari menyusuri setiap lorong yang sedari tadi ia lalui bersama Guntur sembari terus berteriak memanggil nama adik kelasnya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2