Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab59. Menjemput Bapak Riko


__ADS_3

Sumilir angin senja, datang bersama sandyakala yang terpancar dari ufuk barat. Menciptakan sinar kemerahan, menghias indah tirai langit temaram.


Guntur memberhentikan mobilnya, di depan sebuah angkringan sederhana milik keluarga Riko. Sedangkan remaja itu sudah terlihat memarkirkan motor di depan pelataran rumah kayu sederhana tepat di belakang angkringan.


Guntur dan Trisnya segera keluar untuk menyapa sang tuan rumah yang terlihat menunggu di depan pintu rumah.


"Buk, itu Pak Dokter sama istrinya mau jenguk Bapak," bisik Riko pada sang ibu, tatkala Guntur dan Trisnya berjalan ke arah mereka.


Perempuan itu segera berjalan menghampiri Guntur dan Trisnya. Lalu menyalami mereka dengan begitu ramah.


"Mari, Pak, Bu. Silahkan masuk!" ucapnya sembari mendahului berjalan memasuki rumah. "Silahkan duduk! Mohon maaf keadaannya memang seperti ini, berantakan!"


"Njih, Bu." Mereka berdua segera duduk dengan nyaman pada jajaran kursi kayu tua yang tertata rapi di ruang tamu.


Riko dan sang ibu segera masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Disusul dengan kedatangan bulik Riko yang membawa dua gelas teh dan sepiring penuh gorengan dari angkringan.


"Ya Allah, Bu. Gak usah repot-repot," ucap Trisnya sungkan.


"Ndak papa, Bu. Silahkan dinikmati, saya mau lanjut jualan lagi!" ucapnya diiringi senyuman ramah.


"Oh, njih Bu. Terima kasih banyak, loh!" ucap Trisnya.


Sedangkan Guntur hanya terdiam sembari mengamati sekeliling. Raut wajahnya cukup jelas mengatakan bahwa ada yang tidak beres di rumah ini.


Setelah beberapa saat Riko akhirnya keluar kamar dengan kaos dan celana santai yang ia kenakan. Sang ibu juga sudah terlihat keluar dari kamarnya setelah selesai mengelap tubuh sang suami.


"Maaf ya Pak, saya tinggal ke belakang sebentar. Baru selesai bersihin bapak, basah semua baju saya!" ucap Ibu Riko.


"Njih, Bu. Silahkan," balas Guntur dan Trisnya.


"Bapakmu dikamar itu, Rik?" tanya Guntur sembari menoleh ke arah kamar yang baru saja ditinggalkan ibu Riko.


"Iya, Pak. Pak Gun yakin mau lihat bapak saya?" tanya Riko.


Guntur hanya mengangguk menjawab keraguan Riko.


"Antar saya ke sana!" pinta Guntur.


"Mari, Pak." Riko berjalan mendahului Guntur menuju sebuah kamar sederhana yang hanya diisi dengan satu ranjang bambu kecil dan sebuah lemari kayu tua yang pintunya sudah diganti kain.


Seorang lelaki terbaring lemah diatas ranjang. Dengan tubuh penuh koreng dan perut yang membesar. Bau busuk dan anyir menyeruak menusuk indra penciuman hingga membuat Riko beberapa kali mengusap hidungnya.


"Maaf, Pak disini bau," ucap Riko yang terlihat begitu tak enak hati pada Guntur.

__ADS_1


"Gak papa, kamu tenang saja! Saya sudah biasa mencium hal-hal seperti ini," balas Guntur menenangkan Riko.


Terlihat bapak Riko yang menoleh ke arah Guntur dengan mata yang berlinang. Terdengar jelas lirih batinnya yang sedang merintih kesakitan dan meminta tolong.


Guntur segera duduk di kursi kayu samping ranjang. Ia pejamkan matanya sembari merapalkan doa-doa, agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki di hadapannya.


Setelah beberapa saat netranya mulai terbuka kembali. Ia sentuh beberapa titik luka yang ada di tubuh bapak Riko sembari merapalkan lagi doa-doa agar rasa sakitnya sedikit berkurang.


Setelah selesai, ia segera keluar meninggalkan Riko bersama sang ayah. Memanggil sang istri yang terlihat tengah berbicara serius dengan ibu Riko.


"Dek, bisa kamu cek ke dalam?" tanya Guntur.


"Ah, iya Mas!" jawab Trisnya sembari menoleh ke arah Guntur yang tengah berjalan ke arahnya. "Saya lihat kondisi bapak dulu njih, Bu. Biar dilanjutkan suami saya!" pamitnya pada Bu Ani-ibu Riko.


Setelah Trisnya beranjak pergi menyusul Riko, Guntur segera duduk dan menanyakan banyak hal tentang penyakit Pak Amir-ayah Riko.


"Bu, maaf kalau boleh tahu sejak kapan suaminya sakit seperti itu?" tanya Guntur.


"Sudah hampir setahun, Pak. Saya juga bingung harus berobat kemana lagi," jelas Bu Ani dengan mata yang mulai meremang.


Ditengah obrolan mereka, terdengar teriakan yang cukup keras dari dalam kamar tempat Pak Amir berada. Diikuti tangis histeris Riko yang terdengar begitu ketakutan melihat kondisi bapaknya.


"Bu, kenapa bapak saya?" tanya Riko ditengah isak tangisnya.


Guntur dan Bu Ani segera berlari menghampiri mereka ke dalam kamar.


"Riko, tenang. Ambilkan segelas air putih!" titah Guntur dan dibalas anggukan oleh Riko.


Bu Ani hanya berdiri mematung dengan tangis yang tak bisa lagi ia bendung. Menyaksikan sang suami mengejang hebat dengan mata yang melotot sempurna disertai suara erangan kesakitan yang begitu menyayat hati.


Bulik Riko segera berlari masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu rapat-rapat. Ia dengan panik menyusul kakaknya ke dalam kamar.


"Apa Pak Amir sudah sering seperti ini?" tanya Trisnya.


"I-iya, Bu. Sudah sering sekali tiap menjelang Maghrib Kang Amir seperti ini. Tapi ini jauh lebih parah dari sebelumnya," jelas Bulik Riko yang bernama Kamti.


"Mas, coba kamu hubungi Mas Jagad, tanyakan apa bisa kita membawa Pak Amir dalam keadaan seperti ini?" titahnya pada sang suami.


"Sebentar!" Guntur segera keluar meninggalkan mereka untuk menghubungi Jagad.


Tak berselang lama ia pun kembali menyusul ke dalam kamar.


"Gimana, Mas?" tanya Trishnya.

__ADS_1


Guntur mengangguk lalu beralih menatap Bu Ani yang terlihat begitu pucat.


"Bu, mari bawa Pak Amir ke Klinik!" pinta Guntur.


"Ta-tapi, Pak ... saya sudah gak ada tabungan lagi," tolaknya.


"Riko masih ada motor sama Hp, Bu! Ayo kita bawa bapak berobat lagi ...!" bujuk Riko sembari memeluk ibunya.


"Masalah biaya kita akan bahas nanti, yang penting Pak Amir segera mendapat pengobatan yang lebih layak," jelas Guntur.


"Iya Mbakyu, masalah uang biar aku yang mikir. Yang penting Kangmasku sembuh," timpal Kamti yang begitu khawatir dengan kondisi kakak kandungnya.


"Ya sudah, ayo Le!" ucap Bu Ani sambil menghapus air mata Riko.


Mereka segera mempersiapkan beberapa barang yang akan mereka bawa. Sembari menunggu mereka bersiap, Trisnya dan Guntur mencoba menetralisir rasa sakit yang menyerang tubuh Pak Amir.


"Sudah, Pak!" ucap Riko.


"Ambil kursi roda yang ada di dalam mobil, Rik!" titah Guntur.


Tak selang beberapa lama, Riko telah kembali membawa barang yang Guntur maksud. Dengan cepat Guntur mengangkat tubuh Pak Amir yang sudah lemas tak sadarkan diri dan mendudukkannya di kursi roda itu. Mereka segera membawa Pak Amir ke dalam mobil lalu melesat pergi secepat mungkin menuju Klinik. Meninggalkan Kamti seorang diri menjaga rumah dan Angkringan miliknya.


Suara adzan terdengar mengalun tatkala mereka dalam perjalan. Guntur pun segera mempercepat laju mobilnya agar segera sampai. Karena keadaan Pak Amir tak memungkinkannya untuk berhenti sejenak guna melaksanakan sholat Magrib di Masjid.


Keanehan mulai terjadi saat mobil memasuki kawasan hutan. Guntur merasa terus kembali ke jalan yang sudah ia lalui sebelumnya. Hembusan angin juga terasa begitu berbeda. Mereka seperti terus berputar-putar di jalan yang sama.


"Berhenti dulu, Mas. Coba kamu keluar dan Adzan. Sepertinya ada yang sengaja mengurung kita di hutan ini," bisik Trisnya pada sang suami.


Guntur segera menghentikan mobilnya lalu menuruti apa yang Trisnya perintahkan. Perlahan, Guntur mulai melantunkan Adzan dengan cukup merdu di depan mobil.


"Bu, ada apa?" tanya Riko pada Trisnya.


"Gak papa, kamu terus berdoa saja supaya gak ada yang menghalangi perjalanan kita kali ini," pinta Trisnya.


Riko pun membuang jauh-jauh rasa penasarannya. Ia memilih kembali diam sembari berdoa sebisanya.


Angin mulai berhembus semakin kencang, diikuti sekumpulan dedaunan kering yang ikut menerpa wajah tenang Guntur. Seolah ingin menggagalkan apa yang tengah Guntur lakukan.


Dalam pandangan Guntur, terlihat bayangan hitam pekat yang terus memutari tempat mereka berada. Semakin Guntur mengeraskan suara Adzan yang ia lantunkan, semakin samar bayangan itu lalu perlahan menghilang. Ikut bersama pusaran angin yang semakin menggila.


Guntur segera kembali masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kali ini ia tak hanya berburu dengan waktu, namun juga dengan mereka yang terlihat mengikuti dari kejauhan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2