
"Jagad..., le, bangun, le!" bu Handayani menepuk pelan pipi Jagad beberapa kali.
Tampak dua orang lelaki tua berjalan cepat menuju ke kamar Jagad. Kedua lelaki itu merupakan kerabat almarhum pak Prayudha yang sengaja datang setelah di hubungi oleh bu Handayani.
"Wes, biar pakdhe yang coba bangunin. Kamu tolong ambilkan air putih segelas saja, Han!" pinta mbah Kromo.
Mbah Kromo merupakan pakdhe dari almarhum pak Prayudha. Ia merupakan tokoh spiritual yang lumayan kondang di daerahnya, kala itu.
"Njih, pakdhe!" bu Handayani segera berjalan meninggalkan kamar menuju dapur.
"Pak, kenapa banyak sekali yang mengepung Jagad dirumah ini?" tanya Aryo, anak sulung mbah Kromo.
Lelaki berperawakan tinggi kurus itu nampak begitu gelisah, tatkala melihat begitu banyak lelembut yang memenuhi rumah almarhum sepupunya itu.
"Bapak kan sudah bilang dari dulu, saat sebelum kelahiran Jagad bapak itu mimpi didatangi sosok yang mengaku pemilik pusaka keris Damarwulan yang kita jaga," ujar mbah Kromo.
"Lalu? Apa hubungannya dengan Jagad pak?" tanya Aryo.
"Sosok itu dengan jelas mengatakan, kalau dia akan segera mengambil pusaka itu. Dia memintaku untuk tetap menjaga keris Damarwulan, sampai pasukan lelembutnya menemukan keberadaannya," jelas mbah Kromo.
"Pasukan lelembut pak?" Aryo sedikit terkejut mendengar penuturan sang ayah, "apa jangan-jangan Jagad...," Aryo sengaja tak melanjutkan ucapannya.
"Belum bisa dipastikan, tapi para lelembut ini tak mungkin salah mengenal tuannya. Jika memang benar Jagad adalah reinkarnasi dari Ki Joko Manggala, maka kita juga harus segera bersiap untuk melatih raga dan mentalnya, Aryo! Jalan hidupnya mungkin akan jauh lebih terjal dari pada anak-anak lain," jelas mbah Kromo sembari terus menerawang keadaan Jagad.
"Maksud pakdhe apa? Ada apa dengan Jagad?" bu Handayani tampak begitu panik saat tak sengaja mendengar percakapan mbah Kromo dan juga Aryo.
"Han, tenang dulu jangan panik. Biar pakdhe jelaskan pelan-pelan," mbah Kromo mencoba menenangkan bu Handayani, "kamu duduk dulu," pintanya pada wanita itu.
"Jagad kenapa pakdhe?" tanya bu Handayani sembari kembali terisak.
"Kamu tahu keris yang selalu disimpan sama almarhum bapak mertuamu dulu?" tanya mbah Kromo pada bu Handayani.
Bu Handayani hanya mengangguk mengingat benda kesayangan almarhum mertuanya.
"Keris itu adalah keris leluhur yang sudah turun temurun keluarga kita simpan dan jaga, Han! Menurut penuturan bapak pakdhe, keris itu hanyalah titipan dari seseorang yang suatu hari nanti akan terlahir kembali dari keluarga kita," mbah Kromo menghentikan sejenak ucapannya.
"Lalu, apa hubungannya dengan anaku pakdhe?" tanya bu Handayani.
"Sebelum kelahiran Jagad, aku dan suamimu memimpikan hal yang sama. Sosok itu mengatakan, bahwa ia akan segera mengambil barang titipannya, dan meminta kita menjaganya hingga seluruh pasukan dan pengikutnya menemukannya, Han." Mbah Kromo menjelaskan semuanya dengan begitu hati-hati.
"Jadi?" bu Handayani masih tak begitu paham dengan penjelasan mbah Kromo.
"Kemungkinan Jagad lah reinkarnasi dari pemilik asli pusaka itu. Dan semua yang Jagad lihat, adalah para pengikut dan prajuritnya dari alam lelembut. Aku melihat, mahluk-mahluk itu tak mencoba mencelakai Jagad. Mereka malah seperti barisan yang siap menerima titah dari tuannya," ujar mbah Kromo.
"Tidak ada reinkarnasi dalam agama kita pakdhe," tegas bu Handayani.
"Kita tak pernah tahu misteri apa saja yang ada didunia ini, hanya Allah lah yang Maha Mengetahui segala hal diluar akal dan logika manusia," balas mbah Kromo. "Sudahlah, biar coba mbah bangunkan Jagad dulu," ujar mbah Kromo sembari meraih gelas yang sedari tadi bu Handayani bawa.
Mbah Kromo duduk disamping Jagad terbaring, bibirnya terus berkomat-kamit merapalkan doa lalu ia tiupkan pada segelas air putih ditangannya.
__ADS_1
Ia percikan air itu ke wajah Jagad dengan menggunakan tangannya. Hingga percikan ketiga, akhirnya Jagad sadar kembali.
Matanya perlahan terbuka, ia celingukan kesembarang arah. Ia tatap satu persatu orang yang berada dikamarnya. Ia tampak seperti orang kebingungan.
"Jagad, kamu kenapa nak? Ini ibuk," ucap bu Handayani sembari mencoba mendekat kearah Jagad.
"Aaakkkhhhh....," jagad berteriak sembari memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.
Semua yang berada dikamar sontak panik dan berusaha menenangkan Jagad.
Tubuh Jagad semakin mengejang, kepalanya mendongak keatas dengan kasar. Matanya membelalak lebar dengan urat-urat yang menonjol menghiasi wajah, tangan hingga kakinya. Teriakannya tampak begitu nyaring ditelinga. Hingga akhirnya ia tiba-tiba terdiam.
Jagad menoleh kearah mbah Kromo perlahan. Jagad tersenyum dan menganggukan kepala begitu santun kepada mbah Kromo.
"Terima kasih, telah menjaga dan melindungi pusakaku dengan baik," ucap Jagad dengan begitu lembut dan sopan.
"Si..., siapa kamu?" tanya bu Handayani saat melihat sang anak berperilaku tak biasa.
"Saya Joko Manggala, tapi saya juga Jagad anakmu buk!" ucapnya pada bu Handayani.
"Ba..., bagaimana mungkin...." Bu Handayani tampak tak begitu percaya dengan apa yang ia dengar. Tubuhnya tiba-tiba saja limbung tak sadarkan diri.
"Ibuk!" Jagad segera beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri ibunya.
***
3 bulan telah berlalu, Jagad sudah mulai berani keluar rumah dan bermain layaknya teman seusianya.
"Le, kamu sekolah saja dikampung mbah ya! Nanti sekalian kamu belajar bela diri sama pakdhe Aryo. Kasihan ibumu le, tiap hari harus kerja sambil ngurusin kamu!" usul mbah Kromo.
"Tapi, ibuk gimana mbah?" tanya Jagad.
"Yo jangan to pakdhe, Jagad satu-satunya temen hidup saya disini. Kalau Jagad ikut kekampung, saya sama siapa," tolak bu Handayani.
"Ya kamu ikut pindah aja, pindah ke puskesmas sana kan juga bisa to, Han!" usul mbah Kromo.
"Prosesnya mungkin lama, pakdhe!" ujar bu Handayani.
"Yo ndak apa-apa! Nanti kamu kan tinggal nyusul, Jagad pakdhe bawa dulu ke kampung. Lagian rumah Yudha dikampung juga masih, nanti biar pakdhe sama Jagad renovasi biar bisa kalian tinggali," jelas mbah Kromo, "wong disini kalian juga masih ngontrak, enakan tinggal disana, dirumah sendiri," imbuhnya.
"Boleh ya buk? Disini Jagad juga gak nyaman, Jagad gak bisa bebas latihan. Kalau di kampung kan luas, temennya juga banyak!" pinta Jagad.
"Temen siapa? Wong kamu gak pernah punya temen disana!" timpal bu Handayani.
"Kan dari dulu Jagad udah bilang buk, temen Jagad yang ada dirumah pohon belakang rumah mbah buyut itu banyak," balas Jagad.
"Hussh, gak ada! Itu cuma halusinasi kamu saja Jagad. Mereka gak nyata!" protes bu Handayani.
Sejak kecil, Jagad memang sudah bisa melihat hal-hal yang tak bisa orang lain lihat. Setiap kali kerumah keluarga ayahnya di kampung, Jagad selalu bercerita bahwa ia bertemu dengan banyak teman di sebuah rumah pohon dibelakang rumah kakek buyutnya.
__ADS_1
"Ye, dibilangin juga! Tuh, disamping ibuk ada yang berdiri sambil ngeliatin pisang yang ibu bawa," ucap Jagad jujur.
Memang benar, disamping bu Handayani terlihat sosok kera raksasa berwarna abu-abu tengah menatap tajam kearah buah-buahan yang bu Handayani tata di piring.
"Jangan nakut-nakutin ibuk ya kamu!" ucap bu Handayani yang tak percaya.
"Sumpah bu, namanya Ki Beruk Klawu, dia pengen pisang kayanya," imbuh Jagad sambil cengengesan.
"Hahahhaha, anakmu gak bohong, Han! Sudah, manut saja. Kalian pindah ke kampung biar para penggemar Jagad dari alam sebelah ini juga muat, gak desek-desekan disini," imbuh mbah Kromo.
"Halah, pakdhe ki malah ikut-ikutan ngawur kaya Jagad," protes bu Handayani pada mbah Kromo. "Ya sudah, kamu boleh ikut mbah ke kampung tapi janji ya, disana nurut sama mbah! Jangan lupa ibadahnya, sama jangan belajar hal aneh-aneh, nanti ibu bakal nyusul kalau urusan disini selesai," tutur bu Handayani.
"Siap, kanjeng ibuk ku tercinta dan tersayang," ucap Jagad sembari memeluk tubuh sang ibu yang menghampirinya dengan membawa sepiring buah-buahan.
Jagad nampak begitu bersemangat saat hendak berangkat ke kampung almarhum ayahnya. Tak henti-hentinya ia tersenyum sembari menata barang bawaannya.
Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, Aryo telah sampai didepan rumah kontrakan bu Handayani dengan mobil pickup nya.
"Buk, Jagad berangkat ya!" pamit Jagad sembari memeluk tubuh sang ibunda.
"Iya le, jaga diri baik-baik disana. Jangan lupa ibadah sama jangan mempelajari hal-hal yang melenceng dari agama dan keyakinan kita," pesan bu Handayani pada anak semata wayangnya itu.
"Njih, buk! Assalamu'alaikum," ucapnya sembari mencium punggung tangan sang ibunda.
Tampak buliran air mata luruh tak terbendung dari pelupuk mata bu Handayani. Untuk pertama kalinya, ia harus berpisah cukup jauh dari sang anak. Hatinya terasa begitu berat untuk melepas Jagad, namun ia juga sadar, dengan kemampuan Jagad ia tak akan mungkin mampu merawat dan melatihnya sendiri. Jagad butuh bimbingan dari orang-orang yang lebih faham dengan ilmu kebatinan seperti keluarga mendiang suaminya agar Jagad tak salah jalan.
"Wa'alaikumsalam, le!" jawab bu Handayani.
"Gak usah ditangisi, akan pakdhe jaga Jagad semampu pakdhe. Kamu gak perlu mikirin biaya dan kebutuhan Jagad selama disana, itu sudah tanggung jawab kami. Pakdhe juga akan selalu pastikan, Jagad dijalan yang benar," pesan mbah Kromo pada bu Handayani.
"Njih, pakdhe! Maaf, saya malah merepotkan panjenengan!" balas bu Handayani.
"Tidak, tidak merepotkan sama sekali. Jagad itu juga cucuku, sudah! Jangan menangis, kita berangkat dulu!" pamit mbah Kromo.
"Njih pakdhe, hati-hati!" ucap bu Handayani sembari menyalami mbah Kromo.
Tin..., tin....
"Ayo, pak! Sudah sore," panggil Aryo dari dalam mobil. "Han, balik dulu ya!" pamitnya pada bu Handayani.
"Iya, hati-hati. Jagain anak nakal satu itu!" ucap bu Handayani.
Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk segera berangkat. Karena hari sudah semakin gelap.
Bu Handayani segera masuk kembali kedalam rumah. Ia segera melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum selesai.
Tampak sesosok mahluk berkepala buaya mengikuti langkah bu Handayani dan berdiri disudut ruangan dalam rumah.
"Jagad pergi kok aku malah merinding gini sih? Ya Allah lindungi hamba-Mu ini!" gumam bu Handayani sembari mengusap tengkuk lehernya.
__ADS_1
Bersambung....