
Sayup terdengar suara bisikan yang ikut terbawa pusaran angin. Terdengar rancu, namun begitu jelas di telinga.
"Sial, mereka mengejar sampai kesini!" Keluh Guntur saat memastikan keadaan di luar Klinik.
"Her! Pastikan Sahara tetap didalam kamar, tutup rapat-rapat semua pintu dan jendela. Biar aku sama Guntur yang hadang mereka, sampai Trisnya pulih!" Titah Jagad pada Heru.
"Siap, Mas! Kalian hati-hati, aku akan bantu sebisaku dari dalam," ujar Heru sebelum akhirnya berlalu pergi masuk ke dalam rumah.
Suara gemuruh langit malam menyambut kehadiran ratusan lelembut dari arah hutan.
"Sebenarnya, makhluk apa yang telah kalian hadapi, sampai bisa mengirimkan ratusan lelembut dari seluruh penjuru hutan seperti ini?" Tanya Jagad pada Guntur.
"Sangkala, makhluk abadi dari Jagad lelembut," jelas Guntur.
"Makhluk itu sudah ribuan tahun terkurung di Jagad lelembut, bagaimana mungkin bisa terlepas?" Tanya Jagad.
"Entahlah, Mas! Aku juga belum bisa memastikannya. Ayo bersiap!" Ajak Guntur tatkala melihat pasukan lelembut hutan sudah semakin mendekat.
Jagad dan Guntur mengeluarkan pusaka masing-masing. Jagad duduk bersila dengan meletakan keris Damarwulan tepat di dadanya. Dengan mata terpejam, ia mulai rapalkan mantra pemanggil pasukan ghaibnya.
"Sekar arum, Sekar melati.
Cacah papat betara kula nimbali.
Aji asih aji pambudi.
Teko mara agawa aji kang sayekti....
...."
Keempat raksasa penjaga Jagad telah hadir berjajar rapi di belakangnya. Ialah Ki Beruk Klawu, Buto Kidang, Buto Waru, dan Bajul Suro--makhluk raksasa berkepala buaya, yang sebelumnya ditugaskan untuk menjaga Handayani. Masing-masing raksasa membawa pasukan lelembutnya, dari wilayah kuasanya.
Buto kidang, membawa pasukan lelembut dari lembah dan perbukitan lereng gunung berapi. Buto Waru, membawa pasukan lelembut dari Alas Waru. Bajul Suro, membawa pasukan lelembut dari danau tengah alas Waru. Dan yang terakhir, Ki Beruk Klawu yang membawa seluruh pasukannya dari kawah gunung berapi.
"Ki Beruk Klawu, siap menyatu denganku?" Tanya Guntur.
Auman panjang nan mengerikan Ki Beruk Klawu lontarkan sebagai tanda persetujuan pada sang tuan. Makhluk berwujud kera raksasa itu segera menyatu dengan sukma dan raga Guntur, hingga mengubahnya menjadi sosok manusia raksasa yang begitu bengis dan mengerikan.
Sejak serius belajar ilmu kanuragan bersama Jagad dan Aryo, Jagad memang sudah menugaskan Ki Beruk Klawu untuk menjadi penjaga sekaligus partner gaib Guntur. Mereka memiliki energi yang begitu cocok dan selaras, hingga menciptakan energi yang begitu kuat saat mereka dipersatukan.
Trisnya berlari keluar Klinik, dengan menggenggam pedang Pakugeni ditangannya.
"Akan aku alihkan ke dimensi gaib, agar tak memporak-porandakan desa ini," ucap Trisnya sembari bersiap memindahkan medan pertempuran.
Dalam sekejap, mereka sudah berpindah ke dimensi gaib. Terlihat jelas jajaran pasukan lelembut dari Alas Rongko mayit. Makhluk-makhluk berwujud kerangka manusia dengan mata merah menyala dan rambut panjang yang berlumuran darah itu terus menatap tajam kearah Jagad dan pasukannya.
"Dimana Sangkala?" tanya Jagad yang penasaran, karena hanya melihat ratusan pasukan kerangka manusia.
"Dia masih belum bisa keluar kawasan Alas Rongko Mayit, tapi dia bisa dengan mudah mengirimkan pasukan lelembutnya kemanapun," ujar Trisnya.
Pasukan kerangka manusia mulai berlari menyerang ke arah pasukan Jagad. Guntur beserta pasukan gaibnya, melempar satu persatu makhluk yang mencoba mendekat. Ia remas dan ia patahkan satu-persatu kerangka hidup dengan tangan besarnya. Tanpa ragu, ia injak dan remukan mereka hingga berubah menjadi kepulan asap hitam lalu menghilang.
__ADS_1
Jagad tumpas satu-persatu makhluk yang menyerangnya, dengan keris Damarwulan yang telah ia aktifkan.
Pasukan gaib Jagad juga tak kalah sibuk, mereka terus menangkis setiap serangan yang mengarah kepada Jagad dan kawan-kawannya.
Pertarungan tampak begitu sengit. Setiap pasukan kerangka hidup berhasil Jagad dan pasukannya lenyapkan, maka akan muncul lagi ratusan pasukan kerangka manusia dengan wujud yang lebih mengerikan datang.
Semua tampak begitu fokus dengan pertempuran ini. Terutama Trisnya, yang memang sejak awal menjadi target dari makhluk-makhluk itu.
"Apa yang mereka incar?" tanya Jagad pada Trisnya.
"Pusaka ini! Mereka ingin Sangkala dan iblis-iblis terkuat di Jagad lelembut kembali terbebas dan mengubah alam menjadi kegelapan yang abadi," tutur Trisnya sembari memperlihatkan pedang Pakugeninya.
"Tapi, itu saja tak akan cukup untuk membuka segel di Jagad lelembut. Mereka masih butuh penyatuan dari Pakugeni kembar," balas Jagad.
"Sengkala tahu, itu sebabnya dia juga mengincarku. Karena cuma aku yang bisa menyatukan kedua pusaka Pakugeni menjadi Pakugeni Kembar," jelas Trisnya.
"Sepertinya pasukan ini tak akan ada habisnya," timpal Guntur yang terlihat telah kelelahan.
"Satukan energi kita," usul Jagad.
Guntur dan Trisnya mengangguk menyetujui usulan Jagad. Mereka bertiga duduk berjajar sembari saling menautkan jemarinya. Mereka mulai merapalkan mantra bersamaan.
"Gusti Ingkang Ngareksa
Sadaya Dayaning Dunya
Nyuwun paring pangestu
Dadio panguat
Humateg ing pusaka
Kalebur dadi siji
Ngajur memala
Angkara lan murka
Bismillahirrahmanirrahim...."
Mereka satukan energi dalam satu wadah yang dipegang erat oleh Guntur. Keris Damarwulan, telah terselimuti api kebiruan. Menandakan penyatuan energi telah berhasil dan siap digunakan.
Guntur kembali mengubah wujudnya menjadi manusia kera raksasa, bersamaan dengan semakin membesarnya keris dalam genggamannya.
"Ruaaarrr.... "
Auman panjang nan menggelegar keluar dari mulut besarnya yang bertaring. Ia lemparkan Jagad dan Trisnya diatas kedua bahu besarnya yang berbulu lebat.
Tanah mulai bergetar hebat, tatkala Guntur mulai berlari ke arah pasukan kerangka manusia itu.
Ia tebas satu-persatu makhluk yang terlihat mungil baginya itu tanpa sedikitpun keraguan, hingga semua berubah menjadi asap hitam dan menghilang.
__ADS_1
"Tunggu! Semua benar-benar menghilang?" tanya Jagad yang begitu heran.
Trisnya pun segera membawa mereka kembali ke dimensi manusia.
Suara adzan subuh sayup-sayup terdengar mengalun. Cahaya keemasan juga mulai mengintip dari kejauhan, menandakan sang penguasa siang telah terbangun dan bersiap bangkit dari peraduan.
"Sepertinya masalah belum selesai, malam ini kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Alas Rongko Mayit," ujar Jagad.
"Baiklah, kita pulihkan dulu energi kita hari ini!" Ajak Guntur.
"Tunggu! Seperti ada yang sedang memperhatikan kita dari kejauhan. Di Balik pohon beringin sebelah barat, ada sukma lelaki berbaju hitam menggunakan ikat kepala sedang mengawasi kita," jelas Trisnya tanpa menengok ke arah yang ia maksud.
Tanpa pikir panjang Guntur berlari kearah yang Trisnya maksud. Kosong! Tak ia jumpai siapapun. Namun, masih ia rasakan sisa-sisa residu yang tertinggal di tempat itu.
Guntur mencoba menerawang kembali untuk mencari tahu tentang sosok yang Trisnya maksud.
"Sial! Pasti ada manusia yang sengaja membangkitkan Sangkala dan para iblis lain dari Jagad lelembut," rutuk Guntur sembari meremas segenggam tanah di tangannya.
Ia segera kembali menyusul Jagad dan Trisnya masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana?" Tanya Jagad yang melihat kedatangan Guntur.
"Dia manusia! jika dugaanku benar, dialah yang sengaja membangkitkan Sangkala dan pasukannya," jelas Guntur.
"Sangkala tak bisa dibangkitkan hanya dengan satu orang. Butuh beberapa orang dengan kesaktian yang tinggi, agar mampu mematahkan mantra penyegel dari Pakugeni yang dipasang oleh Nyi Kinasih," timpal Trisnya.
"Sudahlah! Kita sholat dulu, setelah itu kita persiapkan energi kita matang-matang. Lawan kita tak hanya iblis, tapi juga para manusia yang lebih iblis dari iblis yang mereka bangkitkan," ujar Jagad sembari berlalu menuju kamar mandi.
"Kemana Nyi Kinasih?" tanya Guntur pada Trisnya.
"Entahlah, dia sedang sibuk dengan urusan di dunianya sendiri! Tak bisa terlalu sering membantu kita," jelas Trisnya.
"Mas!" Panggil Heru yang baru keluar dari kamar. Tampak jelas kekhawatiran dari raut wajah Heru.
"Apa, Her?" tanya Guntur.
"Ini," ucap Heru sembari menunjukan sebuah mustika merah delima pada Guntur.
"Mustika? Dari mana ini, Mas?" Tanya Trisnya.
"Ssstt... Aku ambil diam-diam saat sedang menjaga Sahara bersama ibunya tadi. Sepertinya ini yang membuatnya sulit terlepas dari bayang-bayang siluman ular itu," jelas Heru.
"Energinya begitu besar, simpan itu baik-baik! Jangan sampai jatuh ke orang yang salah!" Tegas Guntur sebelum akhirnya memilih pergi meninggalkan Heru bersama Trisnya.
"Ya? Ta--tapi, Mas! Aku gak bisa nyimpen ini," protes Heru.
"Simpen aja, Mas!" Perintah Trisnya sembari ikut pergi meninggalkan Heru sendirian.
"Halah! Pie to? Kok malah aku yang disuruh nyimpen," keluh Heru seorang diri.
Bersambung....
__ADS_1