Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab24. Kampung Dukunan


__ADS_3

Puluhan manusia terdiam dengan tatapan kosongnya. Bagai terbius oleh sesuatu yang entah itu apa. Mereka tak lebih dari sebuah cangkang yang tak berjiwa, bergerak pelan menjatuhkan raga, bagai tergerak oleh sesuatu yang tak kasat mata.


Seorang lelaki bertubuh gempal berlari terseok, mengejar ibunya yang tengah berjalan ke arah hutan. Sebut saja dia Bagas, lelaki yang merupakan teman kerja Trisnya sewaktu di pabrik.


"Buk! Ayo pulang, Buk! Bagas mohon, sadar!" ucap Bagas disela isak tangisnya. Ia terus menarik dan memaksa ibunya untuk berbalik dan kembali ke desanya.


Tak hanya ibu Bagas, tampak beberapa warga juga bertingkah sama. Mereka berjalan pelan ke arah jurang yang ada di ujung Alas Rongko Mayit, dengan tatapan kosong. Beberapa dari mereka telah berhasil sampai di bibir jurang dan melompat bebas hingga tak dapat lagi tertolong. Mereka seolah dengan suka rela menyerahkan nyawa kepada sang penguasa hutan.


Alas Rongko Mayit, adalah sebutan untuk sebuah hutan karet luas yang bersebelahan dengan kampung Dukunan--kampung Bagas. Sebenarnya itu bukanlah nama asli hutan itu, namun nama itu sudah melekat sejak puluhan tahun silam. Saat dimana puluhan pekerja perkebunan karet tiba-tiba menghilang dan ditemukan setelah dua tahun dalam bentuk kerangka. Sejak saat itulah hutan ini lebih dikenal dengan Alas Rongko Mayit, hutan wingit yang selalu dihindari oleh warga sekitar.


***


"[Tris, cepat kesini! Mereka semakin tak terkendali. Sudah 2 orang tewas.]" Sebuah pesan dari Bagas masuk ke ponsel Trisnya.


Trisnya segera memanggil Jagad yang tengah berada di ruang penyimpanan Pusaka. Guntur juga segera mempersiapkan peralatan dan Pusaka yang akan ia bawa.


Jam sudah menunjukan pukul 3 sore, setelah selesai melaksanakan sholat ashar, mereka segera menata peralatan yang akan mereka bawa di mobil milik Guntur.


"Sudah siap semua, 'kan?" tanya Jagad.


"Uhm, tunggu! Ada yang kurang. Kemana Heru?" tanya Guntur.


"Astagfirullah, hampir aja ketinggalan tuh anak." Jagad berjalan mencari keberadaan Heru. "Her! Ayo budal!" ucapnya di depan pintu kamar.


"Mas!" saut Heru dari dalam kamar.


"Opo?" balas Jagad dari balik pintu yang tak tertutup rapat.


Heru keluar dari kamar lengkap dengan ransel dan tasbih tergantung di lehernya.


"Apa ini bisa kita pakai?" tanya Heru sembari menunjukan mustika merah delima yang ia simpan pada Jagad.


"Bawa saja! Kita butuh banyak bantuan untuk menghadapi makhluk-makhluk dari Alas Rongko Mayit," jelas Jagad.


Mendengar jawaban Jagad, Heru pun segera menyimpan mustika temuannya ke dalam ransel. Mereka berdua segera menyusul Trisnya dan Guntur yang telah bersiap di depan rumah Aryo.


"Pak, Buk, Jagad sama yang lain pamit berangkat dulu. Doakan semoga kita bisa menyelesaikan semua masalah yang kami hadapi dan pulang dengan selamat," ucap Jagad sembari menyalami ayah dan ibunya.


"Iya, hati-hati. Selalu libatkan Tuhan dalam setiap langkah yang kamu ambil, Le! Tidak ada entitas yang mampu mengalahkan kuasa-Nya. Percayalah pada bala bantuan yang akan selalu Tuhan kirimkan pada hamba-Nya yang berperang dalam kebaikan," pesan Aryo pada anak Jagad.


"Njih, Pak. Pangestune." Setelah berpamitan pada Aryo dan sang istri, mereka segera berangkat agar tak sampai terlalu sore.


Perjalanan menuju tempat tinggal Bagas memakan waktu yang lumayan lama. Karena berada di kota yang berbeda.


Setelah dua jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di kota tempat tinggal Bagas. Namun, untuk menuju ke kampung Bagas, mereka masih harus melalui jalan penghubung yang samping kanan kirinya merupakan kawasan hutan yang dikelola langsung oleh perhutani.

__ADS_1


"Mas, Bagas mengirim pesan lagi!" ucap Trisnya pada Guntur.


"Apa katanya?" tanya Guntur.


"Jumlah warga yang masih dalam keadaan sadar, tinggal sedikit. Korban tewas sudah bertambah menjadi 5 orang, Mas!" jelas Trisnya.


"Aku akan kesana terlebih dulu!" ucap Jagad. Ia segera memfokuskan dirinya untuk meraga sukma dari dalam mobil.


Memasuki kawasan tengah hutan, suasana terasa sedikit berbeda. Kabut tebal tampak menyelimuti seluruh kawasan hutan. Jalanan juga terlihat begitu sepi, hanya suara deru mobil Guntur lah yang terdengar menggema di sepi dan sunyinya jalan.


Heru merasakan hawa panas tiba-tiba menjalar dari dalam tubuhnya. Perasaan aneh tiba-tiba saja menguasai seluruh kesadarannya. Tubuhnya mengejang menahan rasa sakit yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Trisnya yang begitu panik. Ia segera beralih menyusul Heru ke kursi belakang Guntur.


Guntur menghentikan mobilnya sejenak untuk membantu Trisnya menenangkan Heru.


"Sakit," ucap lirih Heru sembari terus mengejang.


Trisnya segera melihat kondisi Heru dengan mata batinnya. Terlihat sinar kemerahan berusaha menyatu dengan energi milik Heru.


"Mustika itu ... " ucap Trisnya sembari terpejam.


"Ada apa?" tanya Guntur.


"Dia sudah memilih Heru sebagai pemiliknya, dia berusaha menyelaraskan energi Heru yang kebetulan telah aktif," jelas Trisnya, "biarkan aku jaga Mas Jagad dan Mas Heru dibelakang. Kita harus segera sampai di kampung Dukunan, Mas!" lanjut Trisnya.


Pekatnya kabut yang menghalangi jalanan, memaksa Guntur untuk menggunakan bantuan penglihatan batinnya.


"Kabut ini bukan kabut biasa. Energi gelap begitu aku rasakan. Inikah sebabnya energi Mas Heru dan Mustika itu aktif dengan sendirinya?" tanya Trisnya pada Guntur.


"Bisa jadi! Energi milik Heru hanya akan aktif saat ia merasa terancam, dan mustika itu sepertinya juga merasakan ancaman yang begitu besar," jelas Guntur yang tengah fokus dengan kemudinya.


Heru masih terus mencoba menguasai dirinya. Rasa sakit yang menjalar di tubuhnya semakin melemah. Perlahan ia mulai merasakan suhu tubuhnya turun begitu drastis. Hawa panas yang sedari tadi ia rasakan, kini telah berganti dengan hawa dingin yang begitu menusuk hingga ke tulang.


Keringat terus bercucuran dari pelipisnya. Tangannya terasa sedingin es saat Trisnya mencoba menyentuhnya.


"Tahan, setelah berhasil melewati tahapan ini, penyelarasan akan selesai. Jangan sampai gagal, atau energimu akan terserap oleh mustika itu," ucap Trisnya sembari terus membantu menguatkan energi milik Heru.


Urat-urat di wajah dan leher Heru menyembul keluar, membuatnya semakin mengerang kesakitan. Air matanya mengurai membasahi wajah pucatnya.


***


Di desa Dukunan, tampak riuh suara teriakan dan tangisan dari orang-orang yang masih sadar. Mereka mencoba menyadarkan juga memaksa pulang para warga yang hendak menjatuhkan diri ke jurang di ujung hutan. Suasana mencekam sangat Jagad rasakan di kampung yang bersebelahan dengan Alas Rongko Mayit itu.


Bayangan hitam terlihat menyelimuti setiap warga yang hilang kesadaran. Bayangan hitam itulah yang menggerakan mereka agar berbondong-bondong menyerahkan nyawa ke dalam Alas Rongko Mayit.

__ADS_1


Alunan gamelan sayup-sayup Jagad dengar dari dalam hutan. Gamelan itu terus mengalun mengiringi langkah para warga yang hendak menyerahkan nyawa.


Jagad segera melesat ke arah sumber suara gamelan mengalun. Sukmanya melayang-layang menyusuri rimbunnya hutan yang sudah puluhan tak pernah tersentuh manusia itu. Sembari sesekali menghentikan warga yang tengah berjalan menuju jurang dengan membuat mereka pingsan.


Berbagai lelembut penghuni hutan mengintip ke arah Jagad dari balik pepohonan dan bebatuan. Mereka seperti tengah bersembunyi dari sesuatu yang begitu kuat.


"Jangan ikut campur!" sebuah suara serak dan lirih terdengar di telinga Jagad. Ia berhenti sejenak, mencari-cari sang pemilik suara.


Sepasang mata merah mengintip dari balik tumpukan batu besar. Ia perlahan mendekat ke arah Jagad yang menatapnya tajam.


"Dia ... Iblis terkuat di sini. Tak pernah ada yang bisa benar-benar memusnahkannya. Dia abadi, dia hanya menunggu waktu sampai segel yang mengurungnya di tempat ini terbuka lebar ... Kalian semua akan mati. Para manusia itu sudah tak bisa diselamatkan. Mereka telah merusak pusat segel yang leluhurmu tanam di desa itu, segel Pakugeni," jelas makhluk seperti kuntilanak dengan wajah hancur itu sembari terus mengitari Jagad.


"Tidak ada yang berhak atas nyawa manusia, selain Sang Maha Kuasa. Aku akan tetap menyelamatkan mereka!" tegas Jagad pada makhluk itu.


"Baiklah ... Aku hanya sekedar mengingatkan. Aku tak akan menghalangi jalanmu, pastikan kau menang. Agar kami juga bisa kembali kerumah kami," ujar makhluk itu.


"Kau penghuni asli hutan ini?" tanya Jagad.


"Benar! Kami akan datang membantu jika kau bisa menguasai pertempuran." Makhluk itu segera melesat pergi meninggalkan Jagad seorang diri setelah mengucapkan itu.


Tampak beberapa warga telah berjajar rapi di tepi jurang. Mereka telah bersiap menjatuhkan diri ke dasar jurang.


"Musik ini yang mengundang mereka," batin Jagad.


Alunan suara gamelan semakin jelas terdengar dari area sekitar jurang. Jagad mencoba melepaskan para warga dari pengaruh mantra yang tercipta dari alunan musik itu.


Jagad rapalkan doa-doa sembari terus melayang-layang mengitari para warga yang masih mematung. Bayangan hitam yang sedari tadi menyelimuti orang-orang itu pun, perlahan memudar dan menghilang. Mereka jatuh tak sadarkan diri tepat di bibir jurang dan segera dipobong oleh para warga yang masih sadar.


"Alhamdulillah Ya Allah, mereka gak jadi lompat," ucap salah seorang warga yang terlihat ngos-ngosan.


Jagad segera turun ke dasar jurang itu. Beberapa mayat para warga yang belum sempat dievakuasi terlihat berserakan. Tulang belulang manusia tampak memenuhi dasar jurang yang begitu gelap dan lembab.


Jagad terus menyusuri kawasan itu seorang diri. Ia rasakan energi yang begitu gelap menguasai tempat terkutuk itu. Namun, tak ia temukan makhluk apapun disana.


Disaat Jagad hendak kembali ke pemukiman, kerangka-kerangka disekitarnya mulai bergerak. Beberapa kerangka juga terlihat menyembul keluar dari tanah. Makhluk-makhluk itu bangkit dan mulai bergerak mengepung sukma Jagad.


Krakk ...krakk...


Suara-suara seperti patahan terdengar begitu menyayat hati. Mereka bergerak mendekat kearah Jagad, menatap tajam dengan mata merahnya.


Alunan gamelan kembali nyaring terdengar, Jagad rasakan sukmanya mulai mematung dan tak bisa dikendalikan. Berkali-kali ia rapalkan mantra untuk kembali ke raganya, namun entah kenapa suara alunan gamelan itu membuatnya kehilangan konsentrasi.


Pasukan kerangka manusia itu semakin mendekat kearah Jagad. Sensasi rasa panas dan terbakar mulai Jagad rasakan. Entah apa yang akan terjadi, Jagad hanya bisa memasrahkan segalanya pada Sang Maha Kuasa.


Disaat yang sama, sosok tinggi besar dengan mahkota berapi muncul dari balik kerumunan kerangka hidup yang mengepung Jagad.

__ADS_1


Makhluk yang jauh lebih besar dari genderuwo, dengan bulu-bulu setajam pedang itu menatap lurus ke arah Jagad dengan mata merahnya sembari menyeringai Jahat.


Bersambung ....


__ADS_2