Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab32. Amarah Dan Dendam


__ADS_3

Berteman dengan sunyi dan gelapnya malam, Guntur duduk bersila dengan sesaji lengkap di hadapannya. Asap mengepul bebas, dari dupa dan kemenyan, menyebarkan semerbak wewangian yang paling ditunggu, oleh makhluk-makhluk haus darah penguasa hutan.


Ia menggila, akal sehatnya seakan telah tertutup sepenuhnya oleh amarah dan dendam. Hingga ia nekat, menjatuhkan diri kedalam lubang kesesatan.


Tubuhnya bergetar hebat, tatkala bibirnya mulai merapalkan mantra. Mantra terlarang yang seharusnya tak pernah terucap oleh siapapun.


Makhluk-makhluk penjaga dalam diri Guntur mulai terlepas satu-persatu. Terhempaskan oleh amarah dan dendam yang tak terkendali lagi. Tergantikan oleh kekuatan jahat, yang siap mengendalikan sepenuhnya seorang Guntur Mahendra.


***


Suara derap langkah terdengar membelah gelap dan dinginnya malam. Seorang lelaki berlari ketakutan ke arah sebuah gubuk reot yang terletak jauh di tengah hutan.


Tokk ... tokk ... tokk ...!


"Mbah ... buka mbah! Tolong saya, Mbah!" Lelaki itu mengetuk pintu dengan kasar.


Lelaki yang terlihat seumuran dengan Fahmi itu, celingukan ke segala arah dengan ekspresi wajah ketakutan. Sambil terus mengetuk pintu dan memanggil sang empunya rumah.


Karena tak kunjung ada sautan dari dalam, lelaki itu nekat mendobrak pintu dengan bangku di sampingnya.


Brakk ...!


Pintu berhasil terbuka lebar hingga memperlihatkan keadaan dalam rumah yang telah porak poranda.


Semua terlihat temaram, karena rumah itu hanya diterangi oleh beberapa tintir yang dipasang di beberapa sudut.


"Mbah ... Mbah Jarwo!" panggil lelaki itu sembari menyingkirkan beberapa peralatan yang menghalangi langkahnya.


Rasa takut kembali menguasai dirinya, tatkala melihat percikan darah segar yang tercecer di sekitar tempat ritual yang biasa Mbah Jarwo gunakan. Dengan kaki gemetar, lelaki itu terus memberanikan diri mengikuti jejak ceceran darah menuju sebuah kamar.


Krieeettt ...!


Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah pemandangan yang membuat kakinya lemas seketika.


Seorang kakek tua tewas tergantung di dalam kamar. Wajahnya hancur, bola matanya terlepas, mulutnya robek hingga ke telinga. Tubuhnya telah tersayat-sayat begitu dalam, hingga beberapa organ dalam tubuh ikut terurai keluar dari perutnya.


Lelaki itu jatuh terduduk dengan menutup mulutnya. Ingin rasanya ia berlari, namun apa daya, ia sudah tak kuasa. Rasa takut sudah benar-benar merajai, hingga kaki tak mampu lagi menopang tubuhnya.


"Akhirnya kau datang juga," terdengar suara serak dan berat dari belakang jasad Mbah Jarwo.


Sosok bayangan hitam dengan kuku-kuku panjangnya meremas leher Mbah Jarwo hingga kepalanya terlepas menggelinding ke arah lelaki itu.

__ADS_1


"Tolong, ampuni saya! Saya mohon ... jangan bunuh saya!" ucap lelaki itu sembari menelungkupkan kedua tangannya di depan bayangan hitam yang mendekat ke arahnya.


"Ampun katamu?! Harusnya aku tak melakukan perintah dari manusia bodoh sepertimu, Bimo. Ini adalah balasan karena telah mengirimku ke tempat yang salah!" Bayangan hitam itu terus mendekat, mencengkram kepala lelaki yang ia panggil Bimo begitu kuat. "Keluarganya bukan orang sembarangan, mereka akan berbalik melawan ku. Relakan saja nyawa kalian kujadikan tumbal untuk menambah kekuatanku! Ha ... ha ... ha ...."


"Aaaaakkkkhhh ...." Bimo berteriak begitu keras tatkala makhluk itu mulai meremas kuat kepalanya.


Otaknya terasa mendidih, matanya mulai terlepas menggelinding keluar. Darah segar tampak mengucur keluar dari setiap lubang tubuhnya.


Puas dengan kepalanya, makhluk itu beralih mencabik-cabik tubuh Bimo hingga tak berbentuk. Daging hingga organ dalam tubuhnya berceceran tergenang oleh darah segar yang memenuhi lantai ubin kamar gelap nan remang itu.


Dua mayat tergeletak mengenaskan, setelah sukmanya terserap oleh makhluk berwujud bayangan hitam. Makhluk yang sebelumnya, mereka perintahkan untuk menyakiti seseorang yang ternyata bukan dari keluarga sembarangan.


***


Guntur tergeletak lemas setelah Ki Beruk Klawu menyerangnya habis-habisan. Ritual sesat yang sebelumnya ia persiapkan, telah gagal akibat kemarahan khodam-khodam pendampingnya yang tak ingin Guntur terlena oleh kesesatan.


"Biarkan aku melakukan sendiri dengan caraku! Kalian bisa pergi jika tak ingin membantuku!" sentak Guntur pada Ki Beruk Klawu dan beberapa khodam miliknya.


"Lanjutkanlah! Tapi ingat satu hal, tak akan sekalipun ku biarkan kau mendekati Trisnya dan keluarganya," teriak lantang Nyi Kinasih bersama sukma Jagad yang baru saja muncul.


"Dan itu berarti kita akan menjadi lawan! Baik aku, Heru atau pun Trisnya, kau akan kehilangan segalanya," timpal Jagad.


Trisnya berlari diikuti oleh Baskoro, membelah gelapnya hutan di belakang rumah peninggalan mendiang ayah dan ibu Guntur yang telah puluhan tahun terbengkalai.


"Gun …," panggil Baskoro sembari terus berlari.


Guntur menangis tersedu-sedu, bersandarkan pohon beringin besar yang pernah ia gunakan sebagai tempat untuk ritual yang sama bersama sang ayah puluhan tahun yang lalu.


Baskoro segera menghampiri Guntur dan segera memeluknya erat. "Ikhlaskan semuanya, Le! Jangan seperti ini ... Paklik gak mau kamu bernasib sama seperti ayahmu," ucapnya sembari ikut terisak.


"Kenapa aku gak boleh membalas mereka, Lik? Mereka pantas mendapatkannya," balas Guntur.


"Tuhan sendiri yang akan membalas mereka, ingat kata simbah, balas dendam hanya akan menciptakan dendam baru yang tak akan ada akhirnya. Sudahi semuanya, Gun. Ikhlaskan semuanya," lanjut Baskoro.


Trisnya hanya melihat kedua lelaki itu dari kejauhan. Buliran air mata terus mengalir deras membasahi pipinya. Melihat betapa hancur dan lemahnya Guntur saat ini.


"Kami kembali!" ucap Jagad lalu menghilang  disusul Nyi Kinasih yang ikut melesat pergi.


Baskoro melepas pelukannya pada Guntur yang masih terisak, menghampiri Trisnya yang masih berdiri mematung. "Tenangkan dia, paklik tunggu di mobil," ucapnya sembari menepuk bahu Trisnya pelan.


"Njih, Paklik!" ucap Trisnya.

__ADS_1


Trisnya berjalan mendekat ke arah Guntur yang sedari tadi enggan menatapnya. Ia ikut duduk di samping kekasihnya itu tanpa mengucap sepatah katapun. Hanya diam, menunggu tangis Guntur terhenti dan sudi menatap ke arahnya.


Guntur sandarkan kepalanya pada bahu sang kekasih hati. Menahan segala rasa malu akibat kebodohannya sendiri.


"Sudah?" tanya Trisnya.


"Hmm," jawab Guntur yang masih berusaha menetralkan suaranya.


"Mau tidur disini?" tanya Trisnya lagi.


"Asal sama kamu," jawab Guntur.


"Aku takut macan, Mas! Masa iya tidur di tengah hutan gini? Mas belum bangkrut, 'kan?" ledek Trisnya.


Guntur semakin memeluk erat tubuh mungil Trisnya. "Lambemu!" ucapnya sembari mencubit pelan bibir Trisnya.


"Ayo pulang! Bentar lagi subuh," ajak Trisnya.


"Masih pengen peluk kamu disini," tolak Guntur.


"Emoh! Ayo buruan pulang, atau aku tinggal," ancam Trisnya sembari melepaskan diri dari pelukan Guntur lalu berdiri.


Mau tak mau, Guntur segera mengakhiri sikap manjanya dan ikut berdiri menyusul Trisnya yang sudah melangkah meninggalkannya.


"Auwwhh ... " rintih Guntur saat hendak melangkah pergi.


Trisnya yang sudah berada beberapa langkah di depan Guntur, segera berlari kembali menghampirinya.


"Kenapa? Apa yang sakit, Mas?" Trisnya begitu khawatir melihat Guntur meringis kesakitan.


"Gak papa! Cuma kram," ujar Guntur.


"Ya udah ayok!" ucap Trisnya sembari mengalungkan lengan kekar Guntur pada bahunya.


Mereka berjalan beriringan meninggalkan hutan, menyusul Baskoro yang ternyata telah tertidur lelap di dalam mobil.


Sepasang mata merah menyala, tampak mengawasi Guntur dan Trisnya dari kejauhan. Mulutnya menyeringai jahat, ke arah mereka berada.


"Akhirnya kau kembali, bocah. Kekuatanku aku akan segera bangkit sepenuhnya. Ha ... ha ... ha ...."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2