
Semburat cahaya jingga telah terpancar mengusir gelap gulitanya malam. Seiring dengan embusan angin yang terasa begitu dingin hingga membuat siapapun enggan untuk segera bangkit dari balik selimut tebalnya.
Jam sudah menunjukan pukul setengah 6 pagi. Desa Randujati masih terlihat begitu sunyi dan sepi. Tak banyak warga yang berlalu lalang, bahkan pintu-pintu rumah pun masih banyak yang tertutup rapat.
Di dalam rumah Jagad juga masih terlihat sepi. Hanya ada Nawang yang tengah mengoceh ria bersama Trisnya di dalam kamar.
Mata Guntur masih jua terpejam erat. Tangannya terlihat membiru dan energinya pun ikut semakin melemah.
Trisnya sudah beberapa kali mencoba memulihkan luka pada sukma Guntur. Namun, anehnya luka itu seolah enggan untuk menutup. Dia hanya mampu mencegahnya menjalar semakin lebar dan memasrahkan segalanya pada Sang Maha Kuasa. Ia berharap Tuhan segera memberinya jalan keluar agar dapat menyelamatkan nyawa suaminya.
***
Beberapa hari setelah kejadian malam itu, Pak Amir sudah terlihat sehat kembali meski masih terlihat begitu lemah. Namun, Guntur tetaplah pada kondisi yang sama. Lelaki itu belum juga menunjukan tanda-tanda akan tersadar kembali.
Rasa khawatir dan takut seolah menguasai hati dan pikiran Trisnya. Hampir setiap hari ia berkelana mengitari kawasan hutan gaib tempatnya sering mengambil tumbuhan herbal, untuk mencarikan obat bagi kesembuhan sang suami. Namun, hingga saat ini perempuan itu masih belum jua menemukan obatnya.
"Bagaimana ini, Nyi?" tanya Trisnya pada Nyi Kinasih yang selalu membantunya memulihkan Guntur.
"Racun yang bersarang di tubuh suamimu bukanlah racun yang berasal dari alam kita. Racun itu tampaknya berasal dari Jagad Lelembut dan hanya bisa kita kembalikan bersama pengirimnya." Nyi Kinasih letakkan Pusaka Pakugeni yang telah terbelah di sebelah Trisnya, lalu kembali berucap, "Dan itu hanya bisa kamu kembalikan dengan Pusaka Pakugeni."
"Maksud Nyi saya harus mencari tahu pelakunya terlebih dahulu, baru bisa menyembuhkan Mas Guntur?" tanya Trisnya yang terlihat begitu cemas dengan keadaan suaminya.
"Kamu harus berhasil mengambil Pusaka Pakugeni dan menyatukan keduanya hingga membentuk energi Pakugeni Kembar yang begitu kuat. Baru kau bisa menghadapinya, Trisnya." Nyi Kinasih menghembuskan nafasnya perlahan, sembari mengingat memori lampau yang tak pernah ia lupakan. "Aku sangat mengenal aura dari energi ini. Ini sama seperti makhluk yang gagal aku lenyapkan dulu. Kegagalan yang membuatku harus merelakan separuh sukmaku terikat dengan Pusaka hingga penerusku mampu mencabut dan melanjutkan tugasku yang belum usai."
"A-apa masih belum bisa ku cabut saat ini?" tanya Trisnya dengan deraian air mata.
"Ada cara yang lebih cepat, namun aku takut kau tak sanggup melakukannya." Ucapan Nyi Kinasih seolah menjadi harapan terakhir untuk Trisnya.
"Apa itu, Nyi? Aku akan lakukan apapun, asal semua bisa selamat!" tegas Trisnya.
"Tapa Geni di gua tempat aku melakukan pertapaan dulu. Apa kamu sanggup?" tanya Nyi Kinasih.
"Itu berarti aku harus meninggalkan mereka semua?" Trisnya menatap nanar ke arah Guntur dan Nawang bergantian.
Hening, tiada lagi jawaban terlontar dari mulut Nyi Kinasih. Ia menghilang begitu saja meninggalkan Trisnya yang sudah tak mampu lagi membendung tangisnya.
Perempuan itu menangis terisak sembari memeluk tubuh lemah sang suami. Lalu meraih Nawang yang masih tertidur pulas di sampingnya.
__ADS_1
"Nak, nitip Ayah, ya ...! Bunda janji, akan segera menemukan cara agar Ayahmu tersadar kembali." Trisnya cium pipi tembam anak angkatnya. Dengan air mata yang terus mengalir deras dari pelupuk netra.
Disaat dia masih terlarut dalam segala rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Jagad mengintip dari sela pintu yang tak tertutup sempurna. Perlahan ia pun mendekat dan mencoba menenangkan Trisnya.
"Jika yang dikatakan Asih adalah satu-satunya jalan, sepertinya kita tak punya pilihan lain selain menyanggupinya," ucap Jagad sembari memberikan tisu untuk mengelap wajah Trisnya yang telah basah oleh air mata.
"Ta-tapi ak-"
"Aku akan menjaga Guntur juga Nawang disini. Akan aku pastikan luka itu tak menjalar lebih lebar. Ki Beruk Klawu dan ketiga penjaga lainnya akan menjagamu hingga kamu menyelesaikan pertapaan di goa itu. Aku juga akan langsung menyusul jika terjadi sesuatu padamu," potong Jagad.
Dalam isak tangisnya, Trisnya hanya mampu mengangguk dan segera meletakkan kembali Nawang yang masih terlelap.
Jagad menatap nanar ke arah sahabatnya yang masih terbaring lemah. Rasa cemas dan takut kehilangan juga menghantuinya hingga tak fokus bekerja.
Setelah memantapkan diri untuk segera merampungkan lelakunya, Trisnya segera bersiap dan tak lupa memberi kabar pada kedua orang tuanya.
Karena tak ingin terjadi hal buruk pada Trisnya, Aryo menawarkan diri untuk ikut dan menjaganya.
"Tidak, Pak. Usia bapak sudah tidak memungkinkan untuk berada di puncak pegunungan. Jagad tidak mengijinkan!" tegas Jagad.
"Ada Nyi Kinasih juga Keempat penjaga Mas Jagad yang akan menjaga Trisnya disana, Pak. Insyaallah Trisnya aman," jelas Trisnya.
Setelah semuanya siap. Trisnya segera berangkat ke rumah keluarga Guntur untuk berpamitan sekaligus mengajak Reni untuk mengantarkannya sampai ke puncak. Karena hanya Reni lah yang paling mengenal medan pendakian karena sudah sering mendaki sejak masih usia remaja.
***
Hari-hari setelah kepergian Trisnya, Baskoro memindahkan Guntur ke Rumah Sakit agar mendapat perawatan yang sesuai disana. Anggun juga turut membawa pulang Nawang ke rumahnya, agar tak mengganggu pekerjaan Handayani.
Jagad dan Heru masih dengan pekerjaan yang sama. Apalagi setelah kejadian malam itu, banyak warga yang mulai terkena penyakit aneh. Mulai dari penyakit kulit yang sulit sekali disembuhkan hingga banyaknya gadis yang tiba-tiba terkena gangguan mental dan kesurupan.
Jagad dan Heru hampir tak ada waktu untuk bersantai saking banyaknya pasien yang datang berobat. Seperti malam ini, terlihat ruang perawatan penuh oleh beberapa pasien non medis.
Terhitung ada 5 orang gadis yang tengah dalam keadaan kerasukan. Beberapa di antara mereka terlihat diam sembari menatap lurus ke arah jendela yang menghadap langsung ke arah hutan. Beberapa pula terlihat menangis pilu tanpa alasan pasti. Dan salah satu diantara mereka terlihat tampak bengis dan selalu berusaha menyakiti siapapun yang mendekat.
Jagad dan Heru masuk ke salah satu kamar yang merupakan tempat seorang gadis bernama Saraswati dirawat. Wanita itu hanya diam, menatap lurus ke arah jendela sembari sesekali menggelengkan kepalanya. Seolah tengah menolak sesuatu. Terlihat pula kedua orang tua gadis itu yang tengah menunggu dengan cemas.
"Maaf, Pak. buk. Nanti mohon bantuannya untuk memegang tangan dan kaki Dek Saras, njih!" ujar Heru sembari mengenakan sarung tangan hitam miliknya.
__ADS_1
"Njih, Mas!" jawab ayah gadis itu.
Setelah semua siap, Heru mulai membacakan doa-doa ruqyah dengan cukup lantang. Hingga membuat gadis yang sebelumnya tak bergeming, mulai bereaksi dan beralih menatap tajam ke arah Heru.
"Aaaakkkhhh ... diam ... " teriak Saras sembari memegang telinganya yang terasa begitu sakit.
Tubuhnya terasa terbakar akibat lantunan ayat-ayat Ruqyah yang Heru lantunkan. Telinganya berdenging cukup keras hingga menciptakan sensasi pusing yang tak tertahankan.
Ia terus menjerit dan menggeliat kesakitan. Netranya memutih sempurna, urat-urat nadinya menonjol keluar hingga membuat kedua orang tuanya ikut menangis tak tega.
Heru sentuh pucuk kepalanya yang telah basah oleh peluh dan keringat. Sembari terus melantunkan doa, hingga perlahan Saras mulai terkulai lemas dan menyandarkan tubuhnya pada dada bidang sang ayah.
Tak terdengar lagi jeritan dari mulut gadis itu, hingga keheningan itu tiba-tiba menghilang, tatkala Saras mulai meracau tak jelas.
"Mereka datang ... mereka datang ... mereka akan menyambut kebangkitan sang ratu kegelapan. Tempat ini akan kembali menjadi gerbang neraka seperti ratusan tahun lalu ... mereka datang ... kita akan tersingkir!" Saras terus mengucapkan hal yang cukup membuat penasaran.
Jagad yang sebelumnya hanya diam menunggu giliran untuk melempar kembali makhluk yang merasuki Saras kembali ke alamnya, kini mulai mengerutkan kedua alisnya dan menatap penuh arti ke arah Saras.
"Kau penasaran, bukan? Semua orang di desa ini akan mati. Iblis-iblis yang pernah kalian kurung ke dalam Jagad Lelembut sudah sangat merindukan darah dan daging manusia, kalian harus menggagalkan kebangkitannya ... aaakkkkhhhh ...." Saras kembali mengejang kesakitan tatkala Heru semakin menekan pucuk kepalanya dan mengeraskan doa-doa yang ia lantunkan.
Setelah Saras kembali melemah, Jagad dengan cepat menarik Makhluk yang tengah bersemayam dalam tubuhnya. Dalam sekejap, Saras akhirnya kembali tersadar dan menangis histeris sembari memeluk ibunya.
"Alhamdulillah ..." ucap Heru dan Jagad setelah selesai membacakan doa pemagar diri untuk Saras agar tak diincar lagi.
"Oh iya, Pak. Jangan lupa ini nanti diminumkan. Baca sholawat 3 kali sembari menahan napas, baru setelah itu diminum dengan menggunakan tangan kanan, njih Pak!" Heru menyerahkan sebotol air putih yang telah berisikan doa-doa.
"Kalau begitu kita pamit ke pasien yang lain, Pak. Mari, assalamu'alaikum!" pamit Jagad dan Heru pada kedua orang tua Saras.
"Njih, Wa'alaikumsalam," balas kedua orang tua Saras yang masih dalam suasana haru.
Jagad dan Heru berjalan keluar kamar untuk menuju kamar selanjutnya.
"Mas ... apa ini berhubungan dengan kutukan yang Pakde maksud kemarin?" tanya Heru.
"Jika yang diucapkan makhluk itu benar adanya, maka kita juga harus segera bersiap. Atau desa ini akan kembali menjadi tanah terkutuk seperti ratusan tahun yang lalu!" ucap Jagad sembari menatap jendela yang tiba-tiba saja terbuka.
Bersambung ...
__ADS_1