Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab44. Tanda Lahir Di Bawah Pusar


__ADS_3

Gemerisik suara dedaunan kering, yang terbawa hembusan angin malam. Menerpa wajah Guntur yang tengah berjaga di luar rumah.


"Asem, mataku!" rutuk Guntur saat debu-debu halus yang terbawa angin berhasil masuk ke matanya.


Srakkk ... srakkk ...!


Terdengar suara layaknya gesekan sapu lidi dari kejauhan. Guntur edarkan pandangannya ke segala arah. Ia tahu, suara itu adalah tanda kedatangannya.


Guntur ambil segenggam tanah, lalu ia bacakan doa-doa dengan mata terpejam. Ia lemparkan segenggam tanah itu ke sembarang arah, hingga mampu memperlihatkan setiap energi yang berada di sana.


Terlihat jelas kepulan kabut yang begitu tebal mengelilingi Klinik, dan beberapa kepulan asap hitam yang mencoba menerobos masuk menembus kabut itu.


"Kabut apa ini? Tak biasanya ada kabut seperti ini." Guntur terlihat begitu heran saat mencoba merasakan aura positif dari kabut itu.


"Khee ... khee ... khee ...." Sayup terdengar suara tawa serak dan berat dari sekitar tempat Guntur berdiri.


Ia celingukan mencari-cari sang pemilik suara, hingga akhirnya sepasang mata hitam samar terlihat dari balik rimbun pepohonan. Ia berjalan perlahan, memperlihatkan wujudnya yang teramat mengerikan.


Rambut panjangnya menjuntai, menciptakan suara layaknya sapu lidi saat bergesekan dengan tanah. Mulut lebarnya menyeringai jahat ke arah Guntur yang tengah menatap tajam ke arahnya.


Makhluk itu melayang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Payud*ra panjangnya menjuntai hingga menyentuh lutut. Jemarinya yang penuh dengan kuku panjang nan tajam, terlihat berlumur lendir hitam dengan bau anyir dan busuk yang begitu menusuk hidung. Ia lah Demit Kopek, sejenis Kalong Wewe yang sering kali menjadi momok bagi para ibu yang baru saja melahirkan, di sekitar Desa Randujati.


Makhluk itu sering kali menculik bayi maupun balita, dikala kedua orang tuanya lengah. Berbeda dengan Kalong Wewe yang biasanya hanya menyembunyikan sang korban lalu mengembalikannya, Demit Kopek jauh lebih kejam. Dia tak segan membunuh dah menghisap darah korban hingga tewas mengenaskan.


"Makhluk sialan?! Untuk apa kau kesini lagi, hah?!" sentak Guntur sembari melemparkan serangan ke arah Demit Kopek.


Makhluk itu terus melayang mendekat ke arah Klinik, tak peduli dengan beberapa serangan yang sudah Guntur lemparkan ke arahnya. Ia hanya tersenyum menyeringai dan terus saja mencoba menerobos masuk.


Anehnya, makhluk itu malah terhempas saat sudah mendekati kabut yang mengelilingi Klinik. Ia terlempar cukup jauh dan menghilang bagai asap.


"Rupanya kau berusaha melindungi anak itu, siapa kau?" tanya Guntur.


"Aku terlahir bersamanya, dan akan terus menjaganya hingga penghujung usia anak itu," sebuah bisikan terdengar samar di telinga Guntur.


"Makhluk itu akan kembali, jangan pernah lengah. Aku sudah sering menghadapinya, dia sama sekali tak bisa ku lenyapkan." Setelah merasa semua akan aman, Guntur memilih kembali ke dalam rumah. Ia berjalan menyusul Heru dan Jagad yang masih berada di Kamar bersalin.


Terdengar tangisan lemah dari sang ibu, diikuti suara melengking bayi yang seakan tak ingin terhenti.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Guntur pada Heru saat melihat Jagad sedang berbicara serius kepada ayah sang bayi di ruang kerjanya.


"Bapaknya gak mau bawa pulang bayinya," ucap Heru.


"Kenapa?" tanya Guntur.


"Ada tanda lahir tepat di bawah pusar bayi perempuannya. Menurutnya, itu adalah sebuah kutukan." Heru menatap nanar ke arah bayi merah yang berada dalam pelukan ibunya.


Guntur mendekat, lalu menggendong bayi yang masih menangis kencang itu. Tangan kekarnya begitu luwes menimang-nimang bayi perempuan malang itu.


"Bu ... anaknya cantik. Tidak ada satupun manusia yang terlahir dengan membawa keburukan. Percayalah bu, setiap anak memiliki keistimewaan, begitu pula dengan anak ini." Guntur mencoba menenangkan sang ibu yang terlihat begitu panik dan ketakutan.


"Su-suami saya ndak mau mengadzani anaknya, Pak. Dia gak mau anak ini dibawa pulang ... saya takut, saya ndak mau pisah sama anak saya, Pak ...." Perempuan itu terisak begitu lirih, ia terlihat begitu tertekan hingga membuat keadaannya semakin melemah.


Brakk ...!


Terdengar suara pintu terbanting cukup keras dari luar kamar.


"Pak Agung, dengarkan saya dulu ...." Terdengar suara Jagad yang mencoba menenangkan ayah sang bayi.


"Dia akan membawa kesialan di keluargaku ... serahkan anak terkutuk itu?! Dia tak seharusnya terlahir?!" bentak Agung pada Guntur.


"Tidak ... anak ini tak membawa kutukan apapun. Tak akan saya biarkan Anda menyakitinya?!" tolak Guntur dengan nada yang tak kalah ketus.


Sang istri yang bernama Indah, semakin histeris. Ia mencoba bangkit dari ranjangnya, dan meraih baju Agung agar tak merebut sang putri dari gendongan Guntur.


"Apa matamu buta? Kau tak lihat? Tanda lahir itu dan tanda lesung di kedua pundaknya, adalah tanda sebuah kutukan?! Tak akan kubiarkan seorang 'Bahu Laweyan' terlahir di keluargaku," bentak Agung pada Indah.


"Tidak?! Dia tak membawa kutukan apapun?! Jangan sakiti dia, aku mohon Mas ...," pinta Indah dengan terus menarik tubuh Agung agar tak mendekati Guntur.


Indah semakin melemah, nafasnya terlihat begitu cepat dan pendek. Ia berkali-kali memukul dadanya yang terasa begitu sesak. Ia memandang wajah suaminya, sembari menggelengkan kepala. Air matanya masih mengucur deras hingga menggenang di pipi tirusnya. Ia semakin lemas dan perlahan kehilangan kesadaran.


"Indah ... tidak ... bangun Sayang, bangun ...." Agung terlihat begitu panik, ia berusaha menggoyang-goyangkan tubuh sang istri sembari terus memanggil-manggil namanya.


Jagad dan Heru tak kalah panik, mereka berdua segera berlari memeriksa kondisi Indah.


"Cepat bawa ke Rumah Sakit!" teriak Handayani yang baru saja datang membawa sebuah kendi gerabah yang berisikan plasenta milik anak indah.

__ADS_1


Anak dalam gendongan Guntur menangis semakin kencang, seolah ia tahu apa yang tengah terjadi pada sang ibu.


"Mas, biar bayi ini bersamaku disini. Kalian bisa bawa ibunya ke Rumah Sakit!" ucap Guntur sembari menyerahkan kunci dari dalam sakunya kepada Jagad.


Reni yang sedari tadi hanya melihat dari kejauhan akhirnya mendekat ke arah Guntur dan membantunya mengurusi sang bayi.


"Mas, adzani dulu. Kasihan dia," ucap Reni dengan mata yang meremang.


Tanpa menunggu lama, lantunan adzan yang begitu merdu terdengar mengalun dari bibir Guntur. Buliran bening ikut luruh dari pelupuk netranya, entah kenapa hatinya begitu teriris melihat bayi mungil di hadapannya.


Malam semakin larut, tangisan bayi itu masih jua terdengar hingga beberapa tetangga Jagad datang dan ikut membantu menenangkannya.


"Mas , belum dapat kabar dari orang tuanya?" tanya salah satu tetangga yang tengah menggendong anak Indah.


"Belum, Bu Minah. Semoga saja ibunya bisa tertolong," jawab Guntur yang juga terlihat khawatir.


"Mas ... ini saya bawakan stok Asi milik anak saya, kebetulan anak saya 'kan juga perempuan, usianya juga belum ada sebulan." Seorang lelaki berlari menghampiri Guntur dan yang lainnya, membawa satu kotak berisikan beberapa pack Asi yang masih beku.


"Makasih, Mas Ilham ... biar disiapkan adik saya dulu," ucap Guntur sembari menyerahkan sekotak Asi itu pada Reni.


"Semoga setelah minum susu, anak ini bisa tenang. Kasihan sekali, Ya Allah ...," ucap Bu Minah.


Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, anak itu telah terlelap di pelukan hangat Guntur. Para warga juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan Reni dan Fahmi juga sudah ikut terlelap di dalam kamar Guntur.


Terdengar suara mobil yang Jagad bawa telah sampai di rumah. Aryo beranjak keluar dari rumah dan menyusul mereka ke Klinik.


"Gimana, Buk?" tanya Aryo pada Handayani yang baru saja keluar dari mobil.


Tak ada satu katapun terucap, Handayani hanya menggeleng dengan mata yang meremang. Begitupun dengan Heru dan Jagad yang terlihat begitu sedih.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Aryo.


Jagad berjalan perlahan ke kamar tempat bayi itu tertidur. Terlihat Guntur yang ikut terlelap di samping bayi merah itu. Ia mengintip dari sela pintu yang masih sedikit terbuka.


Langkah Jagad terhenti, tatkala melihat sosok perempuan berwajah pucat tengah membelai lembut wajah bayi di pelukan Guntur. Sosok itu beralih menatap nanar ke arah Jagad, yang masih mematung di bibir pintu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2