Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab39. Nangka Di Dalam Perut


__ADS_3

Hari terasa begitu terik, sinar terang dari sang penguasa siang yang dengan gagah bersinar diatas mega, membuat siapapun enggan untuk sekedar keluar dari peraduan.


Seorang lelaki paruh baya tengah duduk diatas kursi roda sembari memegangi perutnya yang begitu besar. Tangisnya terdengar begitu lirih, tatkala sang istri mendorongnya menuju ruang pemeriksaan.


"Mari Pak Mardi, silahkan masuk!" ucap Heru mempersilahkan lelaki itu beserta istrinya masuk ke ruangan Jagad.


Heru membantu membaringkan lelaki yang tengah kesakitan itu pada ranjang untuk segera diperiksa.


"Sudah berapa lama seperti ini, Bu?" tanya Jagad sembari memeriksa bagian perut Mardi yang telah membulat sempurna layaknya orang hamil.


"4 hari, Pak Dokter. Sudah saya coba bawa ke Rumah Sakit, tapi ... tidak ditemukan penyakit apapun," jelas Atun-istri Mardi.


Jagad segera mengambil alat yang biasa digunakan untuk melakukan USG. Dan benar saja, tak ia temukan apapun berada dalam perut lelaki itu.


"Nginep disini dulu njih, Bu?" ucap Jagad pada Atun.


"Suami saya sakit apa, Pak?" tanya Atun yang terlihat begitu khawatir.


"Kalau dari hasil pemeriksaan Rumah Sakit yang ibu bawa, Pak Mardi memang sehat-sehat saja, Bu. Namun, dari segi non medis suami panjenengan memang butuh penanganan yang serius." Jagad beranjak dari kursinya. Ia berjalan membisikan sesuatu pada Heru dan di jawab anggukan olehnya.


"Mari saya antarkan ke kamar!" ajak Heru.


Mardi masih saja meringis kesakitan, air matanya mengalir deras bersamaan dengan peluh yang jua membasahi hampir seluruh tubuhnya. Terlihat jelas bagaimana rasa sakit itu terus menyiksanya tanpa ampun.


Heru membawa Mardi menuju sebuah kamar yang tak terlalu luas, dan agak jauh dari kamar pasien pada umumnya. Sebuah kamar yang difungsikan khusus untuk mengobati berbagai keluhan non medis.


Klinik Jagad memang tak terlalu besar. Hanya terdapat 4 kamar inap pasien, ruang periksa dan sisanya adalah ruang-ruang pribadi Jagad dan teman-temannya.


"Pak Mardi masih mau makan, Bu?" tanya Heru pada Atun.


"Sudah dua hari ini ndak mau makan, Pak. Perutnya tambah sakit katanya," jelas Atun.


"Ya sudah ... saya pasang infus dulu, njih."


Setelah selesai memasangkan infus pada Mardi, Heru segera membacakan beberapa doa agar sedikit mengurangi rasa sakit pada perut lelaki itu. Ia juga meninggalkan sebotol air mineral yang telah ia bacakan doa-doa agar diminumkan saat Mardi merasa kesakitan.


"Saya permisi dulu njih, Bu." Heru berjalan pergi meninggalkan kamar itu menyusul Jagad yang telah disibukkan dengan pasien-pasien lainnya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, Jagad telah selesai dengan pekerjaannya dan digantikan oleh sang ibu.


"Buk, nanti Jagad mau nengokin Guntur sama Heru. Ibu gapapa 'kan sendirian?" tanya Jagad.


"Aku bantuin ibuk di rumah aja, Mas. Sambil mengawasi keadaan Pak Mardi," timpal Heru.


"Kamu yakin gak ikut, Her? Di rumah kan masih ada bapak juga, bapak bisa kok jagain Pak Mardi," jelas Jagad.


"Uhm ... " Entah apa yang tengah Heru pikirkan, namun ia terlihat begitu tak nyaman saat Jagad mengajaknya pergi ke rumah Guntur.


"Ya sudah, Heru biar bantu ibuk dirumah. Kamu tengokin Guntur sendiri aja, Le." Handayani seolah mengerti dengan apa yang dirasakan Heru, ia pun mengiyakan keputusannya untuk tetap tinggal.


"Yawes lah, nanti biar Jagad kesana sendiri," ucap Jagad.


***


Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, Heru duduk seorang diri di kursi halaman belakang rumah. Ia menatap nanar ke arah gelapnya langit.


"Kenapa, Her?" tanya Aryo yang baru saja keluar setelah memeriksa keadaan Pak Mardi.


"Gapapa kok, Pakde. Cuman lagi rada capek aja, hari ini pasien lumayan banyak," jawab Heru.


"Pakde ... sebenarnya, saya itu anak bapak bukan?" tanya Heru.


Aryo sedikit tercengang mendengar pertanyaan dari Heru. Ia tak menyangka, Heru akan menanyakan hal ini setelah sekian lama. "Memang kenapa toh, Her?" tanyanya pada Heru.


"Ingatan Heru tiba-tiba berubah, Pakde. Heru mengingat semuanya ... ayah, ibu, Rumah Sakit juga keluarga Mas Gun. Heru ingat semuanya ...." Buliran bening terlihat luruh tak terbendung dari pelupuk netranya. Ia menangis terisak, mengingat betapa kejam kedua orang tuanya yang dengan tega menghabisi keluarga Guntur dengan bantuan iblis.


Aryo meraih tubuh Heru yang telah bergetar hebat, mencoba menenangkan Heru sebisanya sembari berucap, "Itu semua bukan salahmu, Le. Juga bukan salah Guntur. Takdir lah yang membuat kalian menderita seperti ini."


"Heru belum siap bertemu dengan Mas Gun dan keluarganya. Mereka orang-orang baik, Heru merasa tak pantas menemui mereka lagi, Pakde." Isak tangis Heru terdengar begitu menyayat hati, tertumpah pada pelukan tulus Aryo yang selalu berhasil menjadi pengganti figur ayah untuk ketiga pemuda itu.


"Tolong ... Pak, tolong suami saya, Pak!" Terdengar suara teriakan dari dalam Klinik.


Aryo dan Heru segera berlari menghampiri Mardi yang tengah mengerang kesakitan akibat perutnya yang semakin membesar.


Heru dan Aryo segera membacakan doa-doa untuk mendeteksi perihal apa yang tengah menyerang Mardi. Heru ambil sebotol air mineral yang telah ia siapkan, lalu ia minumkan pada Mardi.

__ADS_1


"Bagaimana, Pakde?" tanya Heru pada Aryo yang masih diam menatap lekat pada perut besar Mardi. Tangannya mencoba meraba dan sesekali menekan perut buncit itu untuk memastikan apa yang ada di dalam sana.


"Sebentar, sulit sekali di deteksi." Aryo pejamkan kedua matanya, peluh tampak mengalir deras dari pelipisnya yang mulai berkerut.


"Maaf Bu, apa panjenengan bisa ceritakan awal mula Pak Mardi menjadi seperti ini?" tanya Heru.


"Saya ndak tahu, Pak. Awalnya cuma mengeluh sakit perut setelah makan nangka, didiamkan beberapa hari malah semakin membesar seperti ini," jelas Atun di tengah isak tangisnya.


"Nangka? Bisa ceritakan dari mana asal nangka itu?" tanya Aryo masih dengan mata yang terpejam.


"Se-sebenarnya itu nangka punya tetangga saya, Pak. Karena sudah matang gak diambil yang punya, akhirnya saya ambil dan saya bawa pulang." Mardi menjelaskan hal itu sembari meringis kesakitan.


"Rumah kalian jauh?" tanya Aryo.


"Njih lumayan, sekitar 5 kilo dari sini," jawab Atun.


"Semisal malam ini juga, sekeluarga sowan ke rumah yang punya nangka itu gimana? Ada yang bisa jemput? Soalnya disini lagi ndak ada mobil," tanya Aryo pada Atun.


Wanita paruh baya itu terlihat masih bingung dan tak mengerti dengan maksud Aryo.


"Didalam perut suamimu terdapat buah nangka yang masih utuh, sedari siang sudah saya coba buang tapi ternyata selalu kembali lagi dan bertambah besar. Jalan satu-satunya agar suamimu sembuh, dia harus minta maaf kepada pemilik buah yang ia ambil," jelas Aryo.


Heru juga tampak begitu terkejut mendengar penjelasan Aryo. Baru kali ini dia melihat orang terkena santet hanya lantaran mencuri buah nangka.


"Anak saya sebentar lagi menyusul kesini, Pak!" ucap Atun.


"Ya sudah, sekarang lebih baik banyakin istighfar, minta ampun sama Allah, sambil nunggu anaknya datang. Nanti saya temani," pinta Aryo pada Mardi yang masih juga kesakitan.


Heru mencoba menyentuh perut Mardi yang begitu besar. Ia rapalkan doa-doa agar rasa sakitnya sedikit memudar. Setelah Mardi sedikit lebih tenang, Heru segera keluar menyusul Aryo yang tengah menemani Handayani merapikan tempat kerjanya.


"Pakde ... beneran itu nangka?" tanya Heru sembari ikut duduk di sampingnya.


"Ya kalau menurut penglihatan batinku itu memang nangka, Her. Kita lihat saja nanti, kalau memang benar itu akibat dia memakan apa yang bukan haknya, pasti perutnya akan sembuh sendiri setelah dimaafkan pemiliknya," jelas Aryo.


"Kalau gak sembuh juga gimana?" tanya Heru.


"Ya kita coba dulu nanti di bawa kesana," ucap Aryo meyakinkan Heru.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2