
Semilir angin terasa begitu berbeda, hawa dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang-tulang. Bersamaan dengan kilatan petir yang terus menari-nari, menghias mencekamnya malam di kampung Dukunan.
Tanah masih bergetar hebat, dalam gelap gulitanya malam, semua terisak menahan rasa takut yang teramat sangat. Ketakutan akan kematian yang sudah terasa begitu dekat dan sukar dihindari.
Beberapa warga yang masih dalam pengaruh Sengkala, tiba-tiba tersadar. Mereka serentak berdiri dan kembali bertingkah aneh. Mereka dengan mudah melepaskan diri dari tali gaib yang mengikat tubuhnya, lalu menari-nari dengan gerakan sedikit kaku dan aneh seiring terdengarnya alunan gamelan yang mulai terdengar kembali. Semua orang yang melihat itu mulai berteriak ketakutan.
"Her! Kamu jaga para warga yang masih sadar. Segera pimpin mereka untuk berdoa bersama," titah Jagad yang telah sadar dan bersiap dengan energinya yang telah pulih.
Para warga yang masih dalam pengaruh Sengkala, menerobos keluar rumah. Mereka mulai saling menyerang dan melukai satu sama lain. Tingkah mereka tak jauh berbeda dengan hewan buas yang tengah bertarung.
Trisnya dan Guntur bersusah payah menenangkan orang-orang itu. Namun, tampaknya pengaruh sihir dari Sengkala memang tak bisa diremehkan. Orang-orang itu semakin menggila, saling menyerang bahkan membunuh tanpa bisa dikendalikan lagi.
Tetesan darah segar hampir memenuhi halaman rumah yang cukup luas itu. Mereka dengan beringas saling mengoyak kulit dan daging lawannya, hingga sebagian terkapar lemas akibat kehilangan banyak darah.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar saling bertautan dari dalam rumah. Beberapa warga yang di luar rumah mulai bisa dikendalikan, namun ada pula beberapa warga yang terlanjur tewas dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
Alunan gamelan masih terdengar jelas dari arah hutan. Jagad berlari diikuti Nyi Kinasih yang melayang-layang di sekitarnya, menuju ke lembah terkutuk tempat Sengkala berada.
Semakin masuk ke dalam hutan, semakin banyak pula pasukan lelembut yang hadir dan mengikuti langkah Jagad juga Nyi Kinasih. Melihat ratusan pasukan lelembut bergerak menuju lembah, para penghuni asli hutan itu pun mulai ikut masuk dalam barisan.
"Kami akan ikut!" ucap salah satu makhluk penunggu hutan yang sebelumnya pernah Jagad temui.
Mereka semua bergerak semakin mendekati lembah yang telah porak poranda akibat pertarungan sebelumnya. Menatap tajam ke arah Sengkala dan pasukan dedemitnya yang jauh lebih banyak dan menyeramkan dari yang pernah Jagad hadapi.
Terlihat pasukan kerangka hidup yang sudah bersiap di jajaran paling depan, disusul dengan ratusan banaspati juga genderuwo yang berjajar rapi di barisan belakang.
Jagad mulai melepaskan diri dari raganya, yang ia tinggalkan di balik semak dan bebatuan. Terlihat keris Damarwulan yang telah menyala-nyala dalam genggamannya, ia segera memimpin pasukannya untuk menyerang ke arah pasukan Sengkala.
Suara dentuman dan dentingan senjata yang saling beradu, di ikuti suara gemuruh langit hitam berhiaskan kilatan cahaya petir yang terus menari-nari.
Jagad menebas tiap kerangka hidup yang mencoba menyerangnya. Ia tendang dan ia hancurkan makhluk-makhluk itu hingga berubah menjadi asap dan menghilang.
Sebuah tangan besar berbulu lebat meraih tubuh Jagad dan hendak melemparkannya ke arah tebing bebatuan. Nyi Kinasih dengan sigap menangkap tubuh Jagad hingga mereka terbentur bersamaan.
Emosi Jagad begitu membuncah, tatkala melihat Nyi Kinasih ikut terluka. Tiba-tiba Jagad merasakan aliran energi yang begitu kuat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mulai membesar dan berubah wujud menjadi buto raksasa yang begitu buas dan menyeramkan.
"Aaaarrrggg ... " Ia mengaum panjang dengan suara beratnya, memamerkan gigi-gigi bertaringnya yang terlihat sangat tajam.
Badannya yang penuh bulu kehitaman, bahkan terlihat jauh lebih menakutkan dari para genderuwo yang berada di tempat itu. Nyi Kinasih tampak begitu terkejut melihat perubahan Jagad, ia kembali teringat tentang suaminya yang bisa berubah wujud menjadi sosok yang sama seperti Jagad.
"Triwikrama ... Ajian ini ... Apa mungkin kamu adalah dia, Jagad?" tanya batin Nyi Kinasih sembari terus menatap sendu ke arah Jagad.
__ADS_1
Terlihat juga sosok ke empat penjaga Jagad yang ikut menyusul dan membantu Jagad melawan Sengkala.
"Mereka ... Tidak salah lagi, mereka ke empat adalah anak buah Mas Joko," lanjutnya dalam hati.
Sengkala terlihat sedikit gentar melihat keganasan Jagad, satu persatu pasukan Sengkala mulai menghilang. Hanya ada beberapa genderuwo dan kerangka hidup yang membantunya melawan pasukan Jagad.
Jagad meraih genderuwo yang berukuran jauh lebih kecil dari tubuhnya. Ia tarik kepala dan beberapa anggota tubuh makhluk-makhluk itu hingga terpisah dan berserakan. Ia juga menginjak para kerangka hidup yang mengerumuninya hingga hancur berkeping-keping dan tak mampu lagi untuk bangkit.
Nyi Kinasih terbang melesat ke pundak besar Jagad yang bersiap menyerang Sengkala. Jagad mengeluarkan keris Damarwulannya yang ikut membesar dari dalam dirinya.
"Tunggu! Itu milikku!" ucap Nyi Kinasih saat melihat keris yang Jagad genggam.
"Ini milik istriku! Mau mengaktifkan energinya bersama-sama?" tanya Jagad.
Nyi Kinasih tersenyum haru mendengar perkataan Jagad, teka-teki tentang siapa sebenarnya Jagad kini terjawab sudah.
"Ayo lakukan bersama!" seru Nyi Kinasih.
Nyi Kinasih melayang ke arah jemari Guntur yang menggenggam batang kerisnya. Ia ikut menyentuhkan tangannya ke keris itu dan memfokuskan diri.
"Sir jumbat jumbit
Aji segarit
Bali mulih ojo mara teko
Damarwulan paringi dalan
Bismillahirrahmanirrahim
...."
Sebuah mantra mereka berdua rapalkan bersamaan. Api kebiruan menyala cukup terang, memancarkan energi yang berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya. Nyi Kinasih segera melesat kembali ke pundak Jagad.
Jagad berlari menerjang para genderuwo yang mencoba menghalanginya mendekat ke arah Sengkala. Jagad lenyapkan mereka semua dengan sekali tebas. Kini tinggalah Sengkala seorang diri melawan Jagad dan ratusan pasukan lelembutnya.
Namun, anehnya para pasukan Sengkala yang sebelumnya menghilang, kini kembali bangkit. Mereka semua tampak jauh lebih banyak dan kuat dari sebelumnya. Pertarungan besar pun kembali berlangsung dengan lebih keji.
***
Di dalam kampung, sebagian warga yang sebelumnya mengamuk sudah berhasil Trisnya tenangkan. Heru dan Guntur segera mengobati mereka dengan peralatan medis yang telah mereka persiapkan.
__ADS_1
"Infusnya sudah terpasang semua, Her?" tanya Guntur.
"Sudah, Mas! Lukanya juga sudah aku jahit semua," jelas Heru, "untuk jenazah para warga yang lain gimana, Mas? Kita sama sekali gak bisa hubungi pihak berwajib maupun ambulance dari luar desa," tanya Heru.
"Urus mereka dulu bersama para warga, setelah ini selesai kita langsung cari bantuan dari luar," jawab Guntur.
Getaran tanah masih sesekali terasa, diikuti suara gemuruh langit hitam yang terus bersaut-sautan. Namun, aura mencekam sudah sedikit berkurang setelah para warga berhasil di tenangkan. Tinggalah kesedihan yang tak mampu lagi terbendung, akibat kehilangan orang-orang terdekat dengan cara yang teramat sangat mengerikan.
"Jaga semua yang ada disini, aku, Trisnya sama beberapa warga akan ke Sendang," pamit Guntur.
"Iya, Mas! Hati-hati," jawab Heru.
Guntur bersama Trisnya dan beberapa warga laki-laki berjalan cepat ke arah Sendang yang merupakan pusat segel.
Terlihat beberapa alat berat terparkir di area sekitar sendang. Juga terlihat pondasi bangunan yang terlihat masih baru di sekeliling sendang itu.
"Sebenarnya ini mau dibuat apa, Pak ?" Tanya Trisnya pada salah seorang warga yang bernama Tono.
"Rencana mau dibuat tempat wisata, Mbak! Padahal kami sudah bilang, agar tidak mengutak-atik letak batu keramat itu, tapi malah pemborongnya nekat mengambil batunya lalu dipakai buat pondasi," jelas pak Tono.
"Gara-gara itu, kampung kita kena bencana seperti ini!" timpal salah seorang warga.
"Ini sudah tak bisa kita perbaiki," timpal Guntur saat melihat keadaan sendang yang porak-poranda.
"Kita susul Mas Jagad ke dalam hutan!" ajak Guntur.
"Pak, silahkan kembali! Kita berdua akan menyusul teman kami dari sini," pinta Guntur pada pak Tono dan temannya.
"Njih," Mereka segera berlari pulang meninggalkan Trisnya dan Guntur yang telah berlari menuju tempat Jagad berada.
***
Lembah terlihat sudah porak poranda saat Guntur dan Trisnya sampai. Tak mereka jumpai siapapun disana. Hanya residu-residu dari sisa-sisa pertempuran yang masih tertinggal di tempat itu.
"Kemana Mas Jagad dan yang lain menghilang, Mas?" tanya Trisnya yang begitu penasaran. Ia sama sekali tak merasakan kehadiran Jagad dan pasukannya.
Guntur masih terdiam dan memejamkan mata. Ia mencoba menerawang dari sisa-sisa residu yang tertinggal.
"Mereka ikut terserap ke dimensi Sengkala," ucap Guntur singkat.
"Apa? Sengkala membawa mereka masuk ke Jagad lelembut?" tanya Trisnya.
__ADS_1
"Iya. Sengkala membawanya menuju alam yang tak mengenal ruang dan waktu, yang tak akan pernah bisa kita terawang dari alam manusia. Sebuah alam yang lebih misterius dari alam gaib, Jagad lelembut," ucap Guntur dengan begitu lirih.
Bersambung ....