
"Sir jumbat jumbit
Aji segarit
Ajur memala ajur durjana
Bali mulih ojo mara teko
Damarwulan paringi dalan
Bismillahirrahmanirrahim
...."
Jagad lantunkan mantra untuk mengambil pusaka Damarwulan dari dalam sukmanya. Setelah sebilah keris dengan sinar kebiruan muncul dalam genggamannya, ia pun segera memotong tali gaib yang mengikatnya bersama Guntur.
"Kamu yakin mau lawan mereka dengan tangan kosong, Gun?" tanya Jagad memastikan.
"Hmm, mau gimana lagi? Aku gak punya senjata apa-apa," balas Guntur.
"Ki Beruk Klawu, bantu Guntur! Pastikan sukmanya aman," titah Jagad pada anak buahnya yang berwujud kera raksasa.
"Sendiko dawuh, tuanku Jagad Wahyu Linduaji!" ucap Ki Beruk Klawu.
Dalam sekejap, kera raksasa itu sudah beralih posisi dan berdiri disamping Guntur.
Guntur yang baru pertama melihat wujud Ki Beruk Klawu hanya bisa terdiam sembari menahan rasa takutnya. Netranya menatap tajam kearah Ki Beruk Klawu yang menyeringai ke arahnya.
"Tak perlu takut, sepertinya energimu sangat cocok denganku! Ayo lawan makhluk itu," tanpa menunggu persetujuan Guntur, Ki Beruk Klawu langsung menyatukan energinya dengan sukma Guntur. Mengubahnya menjadi sosok manusia kera raksasa yang begitu mengerikan.
"Sudah kuduga, kalian memang cocok!" gumam Jagad saat melihat wujud Guntur yang telah menyatu dengan Ki Beruk Klawu.
***
Di tempat yang sama, seorang gadis terlihat mengendap-endap mendekati raga Guntur dan Jagad yang tengah meraga sukma tanpa penjagaan. Gadis itu adalah Naning, ia berniat melakukan ritual sesuai permintaan Koloabang. Yang telah berhasil membalaskan dendamnya.
"Bunuh mereka!"
Sebuah bisikan berhasil menghipnotis Naning, tanpa sedikitpun keraguan ia ambil sebilah pisau dari dalam ranselnya.
Naning langkahkan kaki telanjangnya mendekati Jagad dan Guntur yang telah mematung.
Dikala sukma Jagad dan Guntur tengah sibuk bertempur dengan Koloabang, tanpa mereka sadari Naning telah berhasil menghunuskan pisaunya tepat di dada Guntur.
"Aaaakkkhhh," teriak sukma Guntur saat tusukan pisau berhasil menembus ke dalam kulitnya. Sukmanya langsung terlempar dan terpisah dari Ki Beruk Klawu.
"Sial, kita lengah! Ayo kembali," ucap Jagad.
"Hey! Ngapain kalian?" Sentak pak Sutopo yang tiba-tiba datang menghampiri ke halaman belakang sekolah.
Darah segar tampak mengalir deras dari bekas luka tusukan di dada Guntur. Guntur jatuh terhuyung membentur tanah. Jagad yang telah sadar, segera menutup bekas luka tusukan di tubuh Guntur agar tak semakin banyak kehilangan darah.
Pak Sutopo segera berlari ke arah Guntur yang tak sadarkan diri di samping Jagad.
"Aaaakkkhhh...," teriak Naning saat menyadari tangannya telah memegang sebilah pisau dengan berlumuran darah segar.
Ia jatuh terduduk, menyesali apa yang telah ia lakukan. Ia begitu panik dan ketakutan melihat keadaan Guntur yang telah bersimbah darah akibat perbuatannya.
"Gila kamu Naning?" sentak pak Sutopo.
"Ma--maaf, pak! Saya..., saya gak sadar pak! Sumpah, maaf...," ucap Naning sembari terisak.
__ADS_1
"Pak, bapak bawa motor?" tanya Jagad pada pak Sutopo.
"Bawa, mas! Ayo kita bawa ke rumah sakit saja," ujar pak Sutopo.
"Ayo, pak!" ucap Jagad.
Jagad menggendong tubuh Guntur yang telah terkulai tak sadarkan diri keluar dan segera membawanya kerumah sakit bersama pak Sutopo.
Tinggalah Naning seorang diri ditempat gelap dan lembab itu. Ia duduk meringkuk mengingat segala perbuatannya.
Ingatan saat dimana dia membiarkan Koloabang mengambil alih kesadarannya, hingga saat dimana ia dengan keji mencabik-cabik tubuh lelaki yang telah melecehkannya. Semuanya terasa berputar-putar memenuhi kepala, hingga membuatnya tak sanggup lagi mengangkat wajahnya.
Naning menangis sesenggukan di halaman belakang sekolah seorang diri. Tanpa menyadari bahwa di tempat itu tengah berlangsung sebuah pertempuran yang tak bisa ia lihat dan ia rasakan.
Naning beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju sumur dengan langkah gontai. Ia berdiri tepat di bibir sumur, dan bersiap melompat kedalam lubang sempit nan gelap itu.
"Naning, jangan! turun Ning. Jangan nekat kamu, bapak sudah tahu semuanya. Semua bisa diselesaikan baik-baik Naning, ingat ibumu. Kamu satu-satunya yang ibumu miliki. Kalau kamu mati, siapa yang akan menemaninya, Naning? Sadarlah!" teriak pak Sutopo yang baru saja kembali bersama pak Kepala Sekolah dan beberapa petugas kepolisian.
"Ndak, pak! Naning hanya bisa buat ibuk malu, Naning ndak mau ibuk makin dipermalukan jika Naning dipenjara. Naning minta maaf, Naning salah. Naning udah bunuh pak Basuki, Naning juga udah nyakitin Guntur, maafin Naning pak," ucap Naning sembari terisak.
Tanpa semua orang sadari Jagad juga telah kembali. Ia jalan mengendap-endap di belakang Naning yang tengah berbicara membelakangi sumur.
Ia perlahan mendekat ke arah Naning, dan segera menarik tubuh gadis itu menjauh dari sumur tua itu.
Brugh....
Tubuh Naning dan Jagad jatuh membentur tanah bersamaan. Tampak darah mengalir dari pelipis Naning akibat tak sengaja terbentur bebatuan.
Pak Sutopo dan beberapa petugas kepolisian segera membawa Naning ke rumah sakit. Tinggalah Jagad dan pak Kepala Sekolah ditempat itu.
"Siapa makhluk-makhluk itu Jagad? Bapak baru kali ini melihat makhluk-makhluk sebesar dan se seram itu," tanya pak Bambang--kepala sekolah pada Jagad.
"Apa?" tanya pak Bambang.
"Jaga raga saya, akan saya kembalikan Koloabang ke tempatnya. Nanti, bapak tutup kembali sumur itu pas saya sudah berhasil mengurungnya," jelas Jagad, "nanti saya beri kode."
"Baiklah, hati-hati. Bapak hanya bisa membantu dengan doa," ujar pak Bambang memberi restu untuk anak didiknya.
Setelah mendapat persetujuan dari pak Bambang, Jagad segera duduk bersila. Ia tempelkan keris yang ia genggam tepat di dadanya. Ia kembali merapalkan mantra Raga sukma seorang diri dengan begitu lancar.
Tanpa menunggu lama, sukma Jagad telah melesat kearah Koloabang membawa keris Damarwulan yang telah diselimuti cahaya api kebiruan.
Splashh....
Jagad ayunkan kerisnya kearah Koloabang yang telah terkapar akibat serangan bertubi-tubi ketiga raksasa penjaga Jagad.
"Aaarrrggghhh..., kurang ajar!" teriak Koloabang sembari mencoba bangkit.
Koloabang patahkan salah satu kakinya, dan menjadikannya senjata untuk melawan Jagad. Ia ayunkan patahan kakinya yang setajam pedang itu ke arah Jagad. Dengan lihai Jagad menangkis setiap serangan dari siluman kelabang itu.
Suara denting pusaka yang saling beradu, terdengar jelas ditelinga pak Bambang yang tengah fokus memutar untaian tasbihnya sembari terus berdzikir dan berdoa untuk keselamatan Jagad.
Ki Beruk Klawu dan kedua temannya mulai menyatukan diri dengan Jagad, membentuk satu kesatuan energi yang begitu kuat dan mengerikan.
Jagad serang Koloabang dengan membabi buta, hingga berkali-kali makhluk itu jatuh terkapar bersimbah darah hitam nan busuk.
Ditengah-tengah tegangnya pertempuran, tiba-tiba sebuah keris berhasil melesat menembus tubuh Koloabang tepat didadanya. Hingga membuat Koloabang kembali terkapar lemah.
Seorang lelaki tua berlari mendekat, dan mengambil kembali kerisnya. Lalu ia hunuskan kembali hingga menembus jantung Koloabang.
"Jangan hanya diam, serap energinya. Dan kembalikan dia kedalam," ucap lelaki tua itu pada sukma Jagad.
__ADS_1
"Ba--baik, Mbah!" jawab Jagad sedikit tergagap.
Jagad segera rapalkan mantra untuk mengurung Koloabang dengan perisai ghaibnya. Tampak tubuh Koloabang terangkat dan terserap kembali ke dalam sumur tua itu. Diiringi pekikan tajam yang seolah menusuk telinga.
Disaat Jagad tengah fokus dengan tugasnya, kakek tua itu segera mengajak pak Bambang untuk menutup kembali sumur itu dengan bebatuan.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Jagad ketika telah berhasil membuka mata. Ia rebahkan tubuhnya yang terasa remuk redam, beralas tanah dan rerumputan.
"Terima kasih, mbah!" ucap pak Bambang sembari menyalami lelaki tua yang telah membantu Jagad tadi.
"Sudah, semoga setelah ini tak akan ada lagi yang membangkitkan makhluk itu," ujar lelaki tua itu sembari membalas uluran tangan pak Bambang. "Le, namamu siapa?" tanyanya pada Jagad yang masih tergeletak lemas.
"Eh! maaf, Mbah. Saya Jagad," Jagad segera bangkit dan menyalami lelaki tua itu.
"Saya mbah Wiro, kakeknya Guntur!" ucap lelaki tua itu memperkenalkan diri.
"Oh, njih! Guntur pripun, Mbah?" tanya Jagad yang teringat kembali keadaan Guntur.
"Belum tahu, habis ini mbah mau langsung ke Rumah sakit," ujar mbah Wiro.
"Kulo tumut sekalian njih, Mbah?" (Saya ikut sekalian ya, Mbah?) pinta Jagad.
"Kamu pulang dulu, Jagad! Istirahat dulu, besok baru kamu ke Rumah sakit," timpal pak Bambang.
"Iya, besok saja! Kamu juga butuh istirahat. Terima Kasih sudah mengantar Guntur ke Rumah sakit," ujar mbah Wiro sembari menepuk pelan bahu Jagad.
"Ya sudah kalau begitu, Mbah! Besok insyaallah saya jenguk Guntur," ucap Jagad.
"Ya sudah, ayo kembali!" ajak pak Bambang pada keduanya.
Mereka bertiga muncul dari gelapnya lorong sekolah, tepat saat adzan subuh mulai berkumandang. Tampak Aryo yang telah menunggu dengan begitu gelisah di depan sekolah ditemani beberapa warga.
Seulas senyuman terukir di wajah Aryo, tatkala melihat Jagad keluar dengan selamat.
"Sudah selesai?" tanya Aryo.
"Sudah, pakde!" jawab Jagad.
"Ayo pulang! Ibukmu sudah menunggu dari tadi malam," ajak Aryo.
"Loh, ibuk ikut kesini?" tanya Jagad.
"Iya, tadi malam pas sampai kamu udah gak ada dirumah. Ibukmu khawatir sampai gak mau tidur," jelas Aryo.
"Ya sudah! Pak, Mbah, Jagad pamit njih," ucap Jagad sembari menyalami pak Bambang dan mbah Wiro.
"Iya, hati-hati!" ucap mbah Wiro pada Jagad.
"Monggo, sedoyo! Kulo pamit rumiyin," (Mari semua! Saya pamit dulu) ucap Aryo sembari menganggukan kepalanya sopan kepada semua orang yang berada disana.
"Njih!" ucap semua orang bersamaan.
***
Motor tua yang Aryo kendarai membelah sepi dan sejuknya jalanan yang kanan kirinya merupakan hutan yang begitu lebat.
"Hawa-hawanya, ada yang berhasil ngajak ibuk ke kampung nih! Udah dapat kartu ijo nih kayaknya," goda Jagad dari balik punggung Aryo.
Aryo hanya mengacungkan jempol kirinya pada Jagad sembari terus fokus mengendarai motornya, tanpa berucap sepatah katapun. Hanyalah senyuman yang samar terlihat oleh Jagad dari kaca spion.
Bersambung....
__ADS_1