Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab19. Guntur & Heru


__ADS_3

Desir suara ombak yang terdengar, menghanyutkan Guntur dalam rasa nyaman dan begitu tenang. Hembusan sejuknya angin menerpa lembut wajah tampannya, hingga membuatnya enggan untuk sekedar membuka mata.


Ia terus terpejam, menyerap segala ketenangan dan kenyamanan yang ia rasakan. Samar terdengar, suara gelak tawa dan canda dari kedua orang tuanya  yang terus menerus memanggil namanya. Hingga sepercik air berhasil mengenai wajahnya, memaksanya untuk segera membuka mata.


Cahaya terang yang begitu menusuk, membuatnya sedikit menyipitkan netranya yang sebelumnya telah terbuka lebar. Senyumnya pun mengembang, melihat kedua orang tuanya tertawa bahagia bermain air di tepi pantai yang begitu indah.


"Nak, pulanglah! Ayah dan ibu bahagia disini!" teriak sang Ayah pada Guntur, tatkala ia bersiap menghampiri mereka berdua.


"Gak, Guntur mau ikut Ayah sama Ibuk disini," balas Guntur.


Kedua orang tuanya berbalik dan menatap lekat ke arah Guntur. Senyum tampak mengembang dari keduanya. Namun, keduanya kompak melambaikan tangan dan semakin menjauhi Guntur.


Guntur terus berlari mengejar kedua orang tuanya. Namun, semakin cepat ia berlari semakin cepat pula kedua orang tuanya menjauh. 


"Ayah..., ibu..., jangan tinggalin Guntur, hikhikhik...." Guntur terus berteriak sembari berlari dan terisak.


Gelap! Semua kembali gelap gulita. Tak terlihat lagi pantai indah dan kedua orang tuanya. Angin pun berhembus semakin kencang. Hawa dingin semakin menusuk hingga ke tulang-tulang.


Ia seperti tersedot ke dalam kegelapan, hingga sebuah cahaya yang begitu terang berhasil memaksanya untuk segera membuka matanya lebar-lebar.


"Alhamdulillah, Ya Allah! Kamu bangun juga, Le!" ucap mbah Wiro ketika Guntur telah tersadar dari tidur panjangnya.


Guntur edarkan pandangannya ke segala sisi. Ia lihat satu persatu orang yang berada di sekitarnya. Terbersit seulas rasa kecewa yang tiba-tiba menjalar dalam hatinya.


"Ibuk, Ayah! Kenapa Guntur gak boleh ikut? Kenapa lagi-lagi aku harus tersadar dan menanggung kenyataan pahit ini? Aku mau kalian!" batin Guntur begitu teriris mengingat kedua orang tuanya yang telah meninggal bersamaan satu tahun yang lalu.


"Nopo nangis? Masih ada yang sakit?" Tanya Baskoro--paman Guntur.


***


Jagad berjalan menyusuri tiap lorong rumah sakit, untuk menjenguk Guntur bersama Aryo.


"Ada yang aneh!" celetuk Aryo.


"Residu yang tertinggal di tempat ini, menyimpan begitu banyak hal yang mirip  dengan energi milik ingon keluarga Heru yang kita hadapi waktu itu, pakde!" balas Jagad.


"Benar, pakde bisa merasakan residu-residu sisa pertempuran gaib masih tertinggal di tempat ini!" ujar Aryo.


"Bukankah yang diperebutkan oleh kedua orang tua Heru juga sebuah rumah sakit?" balas Jagad sembari menatap kearah Aryo.

__ADS_1


Aryo mengangguk mengiyakan ucapan Jagad. Setelah itu, tak ada lagi percakapan dari mereka berdua. Mereka terus melanjutkan langkahnya menuju ruang tempat Guntur dirawat, sembari larut dalam pikiran masing-masing.


Langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar khusus vvip yang terletak di lantai tiga Rumah sakit.


"Sebenarnya temen kamu itu siapa to, Le? Wong sugih kayae," tanya Aryo yang penasaran akan siapa sebenarnya Guntur.


"Belum tau juga, pakde! Kenal juga belum lama. Lagian Jagad juga jarang berbaur sama murid lain di sekolah, jadi Jagad juga gak tau menau soal Guntur," jelas Jagad pada Aryo.


Tokk..., tokk..., tokk....


"Assalamu'alaikum!" ucap Jagad sembari membuka pintu.


"Waalaikumsalam!" Jawab mbah Wiro dan beberapa kerabat Guntur yang berada disana.


Jagad dan Aryo menyalami semua orang yang berada didalam kamar rawat mewah itu satu-persatu.


"Bapaknya mas Jagad, ya?" sapa Baskoro pada Arya.


"Iya, pak!" timpal Jagad tanpa memberi peluang Aryo untuk menjawab.


"Njih, pak kulo Aryo!" ucap Aryo memperkenalkan diri.


Setelah memastikan keadaan Guntur baik-baik saja, Baskoro akhirnya keluar meninggalkan Guntur bersama mbah Wiro dan yang lain untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai Direktur Utama dari rumah sakit itu.


"Wes, kono! Ngobrol sama temenmu! Mbah mau ngobrol sama bapaknya aja," ujar mbah Wiro sembari mengajak Aryo duduk di luar kamar.


"Njih, Mbah!" ucap Aryo sembari mengangguk menerima ajakan mbah Wiro.


Mbah Wiro mengajak Aryo duduk santai di balkon kamar Guntur sembari bercengkrama.


"Terima kasih!" ucap mbah Wiro pada Aryo.


"Untuk apa, Mbah?" tanya Aryo yang masih bingung.


"Seandainya kamu tak melenyapkan makhluk itu, mungkin cucuku juga akan ikut mati mengenaskan seperti kedua orang tuanya!" jelas mbah Wiro pada Aryo.


"Makhluk apa, Mbah?" tanya Aryo lagi. Ia tampak belum paham dengan maksud dari ucapan mbah Wiro.


"Orang tua Guntur mati akibat iblis kiriman dari sahabatnya sendiri!" ucap mbah Wiro sembari menatap lekat wajah Aryo.

__ADS_1


"Apa? Jadi, Guntur...," ucap Aryo menggantung.


"Iya! Sekali lagi terima kasih, mas Aryo! Tanpa bantuanmu, mungkin Guntur juga akan bernasib sama dengan kedua orang tuanya," ucap mbah Wiro sembari menggenggam erat tangan Aryo.


"Sebenarnya, Jagad yang lebih banyak membantu, Mbah! Anak itu jauh lebih hebat dari saya," jelas Aryo. "Waktu itu, teman saya datang membawa anak majikannya yang hendak dijadikan wadah ingon milik kedua orang tuanya, Mbah! Saya fokus menyelamatkan sukma anak itu bersama bapak saya, sedangkan Jagad lah yang berurusan dengan iblis yang dijadikan ingon itu diluar," imbuhnya.


"Hebat sekali anakmu itu," mbah Wiro tak bisa menyembunyikan ekspresi kagumnya pada Jagad. "Tunggu! Bukannya waktu itu, Jagad manggil kamu Pakde?" tanya mbah Wiro.


"Njih, Mbah! Sebenarnya saya itu kakak sepupunya almarhum ayahnya Jagad, yang insyaallah akan jadi ayah sambungnya." Jelas Aryo sembari tersenyum kearah mbah Wiro.


"Oalah! Semoga dilancarkan ya, Mas!" ucap mbah Wiro.


"Njih, Mbah! Amin," balas Aryo.


"Oh ya! Lalu bagaimana dengan anak yang kamu selamatkan itu?" tanya mbah Wiro.


Aryo tampak ragu-ragu menceritakan tentang Heru pada mbah Wiro.


"Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitinya!" ujar mbah Wiro saat melihat ekspresi Aryo.


"Dia selamat, Mbah! Hanya saja dia sama sekali tak mengingat masa lalunya. Dia seperti kehilangan separuh ingatan tentang masa kecil bersama kedua orang tuanya. Jadi teman sayalah yang sekarang merawat dan membesarkannya," jelas Aryo.


"Alhamdulillah! Aku ingin meminta bantuan, buatlah anak itu dekat dan berteman dengan Guntur," pinta mbah Wiro.


"Ta--tapi?" Aryo nampak tak mengerti dengan maksud mbah Wiro.


"Guntur menyimpan dendam yang sangat kuat pada keluarga anak itu, sejak kepergian kedua orang tuanya setahun yang lalu. Ia bersikeras mempelajari ilmu kebatinan tanpa bisa mbah cegah, hingga beberapa bulan yang lalu dia sendirilah yang menjadi target oleh sahabat mendiang orang tuanya. Dengan kemampuan yang sudah mulai ia kuasai, alhamdulillah dia berhasil melawan. Tapi..., " mbah Wiro berhenti sejenak. Ia mencoba mengatur kembali nafasnya. "Dendam di hatinya semakin membuncah. Dia bertekad untuk mencari dan membalaskan semuanya pada seluruh keluarga dan keturunan mereka."


"Lalu? Mengapa saya harus mendekatkan Guntur dengan anak itu?" tanya Aryo.


"Trauma akan kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan, mengubahnya menjadi sosok yang begitu posesif terhadap apa yang ia miliki. Termasuk keluarga, dan teman. Ia tak akan membiarkan siapapun yang ia anggap berharga terluka atau bahkan pergi meninggalkannya lagi. Jika anak itu bisa dekat dan lebih dari sekedar teman untuk Guntur. Aku yakin, meskipun Guntur akan tahu kebenarannya suatu saat nanti. Guntur tak akan mampu untuk menyakitinya. Mari kita lawan kebenciannya itu dengan perasaan yang berlawanan, agar tak ada lagi yang terluka," lanjut mbah Wiro sembari menatap lurus ke arah Guntur yang tengah asik bercanda dengan Jagad.


"Tapi? Bagaimana jika cara itu tetap tidak berhasil? Bagaimana jika dendam di hati Guntur tetap tak bisa padam meski mereka sudah sangat dekat, bahkan seperti saudara? Saya takut, Mbah! Dalam hal ini, Heru juga korban. Dia sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan perbuatan keji kedua orang tuanya!" tolak Aryo.


"Bukankah jauh lebih berbahaya jika Guntur menemukan anak itu tanpa mengenalnya terlebih dulu?" tegas mbah Wiro.


Aryo hanya terdiam, hanyut dalam pikirannya sendiri. Bingung dengan langkah apa yang harus ia ambil agar malapetaka antara dua keluarga itu tak terulang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2