
Trisnya duduk menikmati segelas es teh yang telah ia pesan. Matanya masih sesekali mengawasi rumah mewah di seberang jalan. Pikirannya masih terngiang-ngiang dengan ucapan Jagad sebelumnya.
"Ada salah satu ajian yang akan menghilang dan ikut membawa separuh energimu, jika sampai kau terlena untuk melakukan hubungan badan sebelum terikat pernikahan. Kendalikan diri kalian, cepat menikah jika memang sudah saling serius. Tak baik terus menerus berhubungan tanpa kepastian, Trisnya!" Perkataan dari Jagad itu sedikit membuat pikiran Trisnya menjadi tidak fokus.
Trisnya dan Guntur memang tak pernah melakukan hal yang lebih nekat dari sekedar berciuman. Namun mereka sudah sama-sama dewasa, tak menutup kemungkinan mereka akan terlena dan melakukan hal yang lebih dari itu.
"Ya Allah, belum siap nikah. Tapi kalau gak buru-buru nikah, keburu tua dia ... kalau dia nikah sama yang lain gimana? Mana udah secinta ini," lirih batinnya yang masih bingung harus bagaimana.
Jika dia memilih menikah cepat sebelum ia menyelesaikan lelakunya, ia takut nasib pernikahannya akan sama seperti Ki Joko Manggolo dan Nyi Kinasih. Namun, jika tak menikah sekarang, bagaimana jika Guntur malah meninggalkannya dan memilih perempuan lain yang jauh lebih siap darinya. Perasaan dilema benar-benar berhasil menguasai hatinya.
Dari kejauhan terlihat Nyi Kinasih yang tengah mengawasi gerak-gerik Trisnya. Ia berniat mengejutkan gadis itu dengan sabetan selendang emas yang ia kenakan. Namun, belum sempat selendang itu mengenai target, Nyi Kinasih di kejutkan dengan tindakan Trisnya yang tiba-tiba berlari menyeberang jalan tanpa memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang. Hingga sebuah truk yang cukup besar melaju kencang ke arah Trisnya.
Nyi Kinasih melayang memeluk tubuh Trisnya yang terhempas akibat benturan keras dari truk yang tak sempat menginjak rem. Ia jadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Trisnya agar tak terluka parah. Namun, energi yang ia keluarkan untuk melakukan hal itu cukuplah besar, hingga membuatnya tak mampu lagi bertahan dan menghilang begitu saja. Meninggalkan selendang emasnya pada genggaman Trisnya yang masih terguling dan mendarat bebas setelah membentur pembatas jalan.
Seluruh warga dan pengendara jalan berlari ke arah Trisnya yang sudah terkapar bersimbah darah. Guntur berlari tunggang-langgang menghampiri sang kekasih, diikuti Heru di belakangnya.
"Dek ... bangun, Dek! Astagfirullah ... kenapa bisa seperti ini? Bangun, Dek ... mas mohon!" Guntur terisak sembari memeluk tubuh Trisnya yang sudah terkulai lemas. Tangisnya terdengar mendayu pilu, menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Ayo cepat bawa ke Rumah Sakit, Mas!" ujar Heru sembari mengecek kondisi Trisnya.
Dengan isak tangis yang belum jua terhenti, Guntur menggendong tubuh Trisnya menuju mobil dan segera melesat pergi membawanya ke Rumah Sakit milik keluarganya yang tak jauh dari sana. Ia terlihat begitu panik, sesekali ia melirik ke arah kursi penumpang untuk memastikan kondisi Trisnya yang tengah dalam penjagaan Heru.
Sesampainya di Rumah Sakit, Guntur segera memanggil beberapa dokter terbaik disana. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung lagi, ia begitu takut jika Trisnya juga akan pergi meninggalkannya. Sama seperti kedua orang tua dan juga kakeknya yang telah pergi, dengan cara yang begitu tragis.
Begitu banyak pasang mata memandang heran pada Guntur yang begitu panik dan ketakutan di dalam ruang IGD. Pasalnya, selama ini mereka mengenal Guntur sebagai sosok yang begitu cuek dan sedikit keras pada orang lain. Baru kali inilah mereka melihat Guntur dalam kondisi terlemahnya.
"Perempuan hebat mana yang bisa membuat manusia batu itu menangis hingga terlihat selemah itu?" tanya Heran salah satu dokter yang menyaksikan dari kejauhan.
"Siapapun perempuan itu, pasti kesabarannya seluas samudra, Dok!" balas seorang perawat yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ayo cepat kita periksa! Sebelum Dokter Guntur ngamuk!" Mereka berdua segera menghampiri Trisnya yang sudah terbaring dengan selang infus yang terpasang di salah satu lengannya.
Seluruh rangkaian tes telah dilakukan untuk mengetahui kondisi Trisnya. Dengan sabar Guntur menunggu sang kekasih hati, menahan dinginnya malam tanpa selembar selimut ataupun jaket menempel pada badan kekarnya. Beruntung Trisnya dalam keadaan yang cukup baik, sehingga Guntur bisa sedikit bernafas lega.
Nyi Kinasih melayang menghampiri Guntur yang sedang meringkuk memeluk tubuh lemah Trisnya. Terlihat jelas mata Guntur yang masih begitu sembab dan memerah, menatap nanar ke arahnya, seolah ingin mengadu tentang segalanya.
"Makhluk itu penyebabnya. Cepat musnahkan dia dari tempat itu, biar aku yang menjaga Trisnya disini!" titah Nyi Kinasih pada Guntur.
"Ba-baik, Nyi!" Guntur segera beranjak pergi, meninggalkan Trisnya bersama dengan Nyi Kinasih di dalam kamar inap khusus keluarganya. Tak lupa ia juga mengabari Reni dan juga keluarga Trisnya yang berada di Solo.
Ia segera menyusul Heru yang telah kembali ke rumah itu. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, membelah gelap dan sepinya malam. Sambil sesekali memeriksa jam tangan yang sudah menunjukan pukul 9 malam.
***
Di pelataran rumah lawas Guntur, telah berdiri beberapa lelaki yang akan membantu Heru dan Jagad. Jagad ikatkan janur yang telah berisikan doa, pada salah satu lengan para lelaki itu, untuk menjaga agar mereka tak sampai terpengaruh oleh kekuatan hitam dari makhluk yang hendak mereka hadapi.
"Gimana, Her?" tanya Jagad.
Total sekitar 3 lelaki paruh baya dan 2 pemuda berkerumun, membawa cangkul dan linggis yang nantinya akan mereka pergunakan untuk menggali setiap lokasi yang telah Heru tandai.
"Saya akan mulai mengeluarkan benda-benda itu, nanti kalian mulai gali saat teman saya sudah memberi kode," ucap Jagad sembari mengajak mereka duduk berkumpul pada tikar yang telah Heru siapkan di pelataran samping rumah Guntur.
Jagad duduk bersila membelakangi Heru dan kelima lelaki yang juga mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Jagad pejamkan matanya, ia mulai rapalkan doa-doa untuk mengeluarkan benda-benda terkutuk yang telah lama bersarang di tanah itu.
Ditengah keseriusan mereka, terlihat mobil Guntur yang telah kembali. Lelaki itu segera keluar menghampiri kedua temannya. Netranya menatap tajam makhluk yang tengah menyeringai jahat dari lantai tiga.
"Ingat, jangan sampai amarah dan dendam menguasaimu! Trisnya masih sangat membutuhkanmu di dunia ini," sebuah bisikan terdengar lirih di telinga Guntur yang masih mencoba meredam amarahnya.
"Baik, Nyi!" balas Guntur dengan batinnya. Ia tahu pasti, siapa pemilik suara itu. Suara yang begitu mirip dengan suara Trisnya namun sedikit lebih tegas, siapa lagi kalau bukan Nyi Kinasih.
__ADS_1
Guntur ber-istighfar beberapa kali, hingga ia siap bergabung dengan teman-temannya. Ia ikut duduk bersila di samping Jagad, ia ikuti setiap mantra dan doa yang Jagad rapalkan. Hingga keduanya mulai sama-sama terdiam.
Heru segera mengarahkan kelima lelaki itu untuk membantunya menggali setiap lokasi yang sudah ditandai. Satu persatu, buhul yang tertanam mulai ditemukan.
"Aaaaaaakkkkkhhhh ...." Suara lengkingan keras terdengar dari dalam rumah setiap kali buhul berhasil diambil dari tempatnya.
Makhluk berwujud bungkusan kain merah, dengan darah hitam yang mengucur tanpa henti dari setiap lubang tubuhnya. Mata merahnya menatap nyalang ke arah Heru dan para lelaki yang tengah mengumpulkan buhul-buhul yang berhasil ditarik oleh Jagad dan Guntur. Mulutnya membuka lebar, memperlihatkan jajaran gigi hitamnya yang penuh belatung. Menyemburkan cairan kental kehitaman yang ia arahkan ke tempat Guntur dan Jagad berada. Beruntungnya, Jagad telah memasang perisai gaib, sehingga cairan itu tak sampai mengenai raga mereka berdua.
Bau anyir bercampur busuk menyeruak menusuk indra penciuman. Susah payah Heru dan kelima lelaki itu menahan rasa mual yang seakan mengaduk-aduk perut.
"Masih ada berapa lagi, Mas?" tanya salah satu dari mereka.
"Ini baru tiga, masih ada empat lokasi!" Heru menutup hidungnya dengan sarung yang ia kenakan, lalu mengambil sebuah wewangian dari saku jaketnya yang telah Jagad siapkan sebelumnya.
Ia oleskan wewangian itu pada hidung dan lehernya, diikuti oleh orang-orang yang berada disana bergiliran. Perlahan bau busuk yang menguar itu mulai menghilang, tergantikan aroma wewangian yang begitu menenangkan.
"Ayo, cepat! Kita harus segera selesaikan, sebelum mereka berdua tersadar!" ucap Heru sembari terus mengawasi Jagad dan Guntur dari kejauhan. Ia tak ingin mereka berdua terluka, saat ia tengah fokus dengan tugasnya.
Mereka kembali fokus menggali dan mencari, buhul-buhul yang terpendam cukup dalam di tanah. Namun, setiap kali mereka berhasil menemukan benda-benda itu, tubuh mereka mulai bertambah berat. Seolah waktu semakin melambat, mereka semakin membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menggali dan menemukan buhul selanjutnya.
Tinggalah 2 lokasi yang belum tergali, Heru segera mempercepat pergerakannya yang semakin lama semakin berat dan lemah. Kelima lelaki itu juga hampir saja menyerah, merasakan rasa sakit pada tubuhnya yang semakin menjadi.
Heru melirik kembali ke arah Guntur dan Jagad. Terlihat Guntur yang mulai terbatuk-batuk, dengan darah segar yang keluar dari mulut dan hidungnya. Heru segera berlari tergopoh-gopoh ke tempat kedua temannya berada.
"Cepat gali, aku akan bantu mereka berdua!" titahnya pada kelima lelaki yang bersamanya.
Mereka dengan cepat menggali kedua lokasi yang telah Heru tunjukan. Heru duduk meraih tubuh Guntur yang telah kehilangang keseimbangan, hingga limbung bersandar pada tubuh Jagad yang juga terlihat bergetar.
Sebuah sinar kemerahan terpancar dari dalam sukma Heru. Menandakan energi dari kedua mustika miliknya telah siap untuk dipergunakan.
__ADS_1
"Kumohon, kalian bertahanlah!" ucapnya penuh harap.
Bersambung ....