
Di bawah legamnya tirai langit malam. Tiupan angin yang begitu dingin menggulung dedaunan kering, menerpa wajah Bagas yang telah basah oleh peluh. Rasa takutnya membuncah, hingga tulang-tulang kakinya terasa lemas, seolah tak sanggup lagi digerakan. Untuk sekedar menghindar dari iblis yang menguasai raganya.
"Dasar goblok?!" Iblis itu menendang Bagas dengan cukup keras hingga darah segar nampak keluar dari mulutnya.
"Ampun, Mbah! Beri saya kesempatan kedua. Saya janji, kali ini saya tidak akan gagal lagi!" pinta Bagas sembari bersimpuh dan memohon.
"Hahahaha ... apa? Kesempatan kedua?" makhluk itu terlihat menyunggingkan senyuman liciknya. "Tidak ada lagi kesempatan kedua untuk manusia bodoh sepertimu. Sukmamu akan kujadikan tumbal untuk membangkitkan tuanku, dan raga yang tengah kau rasuki akan kuambil alih. Aku akan jauh lebih kuat dengan raga manusia spesial sepertinya ketimbang dengan raga lemahmu. Rasakan ini ...!" Ia ayunkan tangan kekarnya yang penuh duri ke arah Bagas.
Tepat disaat serangan Iblis hampir mengenai tubuh Guntur yang masih dikuasai Bagas, Trisnya menghadang dengan sebilah Keris yang telah terselimuti oleh energi dari selendang emas miliknya. Menciptakan ledakan energi yang cukup besar. Hingga menghempaskan tiap benda yang berada disekitar mereka berada.
"Hahaha akhirnya kaudatang juga, Cah Ayu!" ucap Iblis dengan seringai liciknya.
"Tak akan kubiarkan kau menyakiti raga suamiku?!" Trisnya kembali melemparkan serangan.
Suara denting senjata yang saling beradu, menciptakan suasana yang jauh lebih mencekam dari sebelumnya. Gemuruh langit pun semakin terdengar menggelegar, seolah bersenandung pilu. Melihat pertarungan antar makhluk di atas muka bumi, yang seolah tak pernah ada akhirnya.
Jagad dan Aryo masih disibukkan dengan menyerap energi-energi negatif yang memenuhi desa mereka. Setelah semua dirasa sudah bersih, mereka segera berlari menyusul Trisnya.
Terlihat raga Guntur yang telah terkapar tak sadarkan diri. Aryo segera berlari untuk melihat kondisinya.
"Kosong!" ucap Aryo sembari menatap heran ke arah Jagad.
"Apa? Kemana sukma lelaki itu?" Jagad pun merasa heran.
"Aku akan menjaga raga Guntur, cepat bantu Trisnya!" Aryo segera mengangkat tubuh Guntur menuju ke Klinik yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berada.
Jagad mengangguk dan berlari menyusul Trisnya.
"Alihkan ke dimensi gaib!" teriak Jagad pada Trisnya.
Dalam sekejap, Trisnya sudah berhasil membawa pertempuran ke dimensi gaib agar tak semakin merusak desa.
"Bagaimana kondisi Mas Gun?" tanya Trisnya sembari terus menangkis dan melayangkan serangan balik ke arah lawannya.
"Raganya kosong! Bapak membawanya ke Klinik. Tapi aku sama sekali gak melihat kemana perginya sukma Bagas," jelas Jagad.
"Sial! Aku merasakan energi yang sangat besar dari sukma Bagas. Bisa sangat berbahaya jika dia sampai berbuat onar," balas Trisnya.
Lawan yang mereka hadapi tampaknya memang bukanlah sembarang demit. Terlihat dari serangan-serangan dan juga mantra yang ia ucap, begitu asing di telinga Jagad dan Trisnya.
"Kau mencariku, Sayang?" tanya Iblis itu dengan suara yang sangat mirip dengan suara Bagas.
"Ba-Bagas?" Trisnya terlihat begitu terkejut.
__ADS_1
Jagad merasakan firasat buruk akan terjadi.
"Pakde membawa Mas Gun ke Klinik, kan Mas? Apa ada sesuatu di Klinik yang belum aku ketahui?" tanya Trisnya yang tiba-tiba memikirkan Aryo.
"Pusaka penyerap energi!" ucap Jagad sembari menatap lekat kearah Trisnya. "Bapak ... punya pusaka itu dan hanya Bapak sendiri yang bisa menggunakannya. Hadapi dia sendiri, aku akan pulang menyusul Bapak!" Ia melesat pergi secepat mungkin dengan perasaan begitu khawatir akan keselamatan ayah sambungnya.
***
Aryo membaringkan raga Guntur dengan begitu hati-hati. Tanpa sedikitpun rasa curiga, ia mendekatkan wajahnya ke arah puncak kepala Guntur sembari merapalkan doa-doa.
Disaat Aryo masih terfokus pada doa-doanya, tiba-tiba saja Guntur tersadar dengan mata yang memerah. Tangannya langsung mencekal leher Aryo dengan begitu kuat. Ia bangkit dan berdiri sembari terus memperkuat cekalannya pada leher Aryo.
Tubuh Aryo perlahan mulai terangkat. Nafasnya tercekat akibat cekikan dari Guntur. Sekuat tenaga ia rapalkan doa agar bisa terlepas dari cekalan Guntur. Namun, kekuatannya seolah tak ada artinya. Ia semakin terangkat tinggi lalu dihempaskan sekuat tenaga oleh Guntur hingga membentur dinding cukup keras.
"Apa kabar Danu? Hahaha ... apa kau tak mengingatku?" tanya Guntur yang menatapnya dengan tatapan mengerikan.
"Kau-" Aryo terlihat kaget.
"Kau pikir aku tak mengenalmu setelah ratusan tahun? Bergabunglah denganku! Bukankah dulu kau sangat terobsesi dengan pusaka itu, sampai kau ciptakan pusaka untuk menariknya dari tubuh anakmu sendiri?" Guntur berjalan mendekat ke arah Aryo yang telah terkapar lemas.
"Aku tak akan membiarkan pusaka itu jatuh ke tangan Iblis sepertimu. Lagipula, aku bukanlah Danu. Aku Aryo!" balasnya penuh penekanan.
"Hahaha ... apakah dengan menyayangi dan membantu mereka, kau bisa terlepas dari dosa masa lalumu itu? Bodoh kau Danu?!" rutuk Guntur.
"Percuma saja membujuk manusia bodoh sepertimu!" Guntur yang masih dalam keasa Iblis itu, melemparkan lagi serangan ke arah Aryo hingga lelaki paruh baya itu kembali terhempas membentur meja.
Darah segar mengalir dari pelipis dan hidung Aryo. Ia memegang erat dadanya yang terasa begitu nyeri akibat benturan.
"Tunjukan dimana pusaka itu?!" bentak Guntur.
"Tidak akan?!" tegas Aryo.
Guntur tampak begitu murka. Ia bersiap mengangkat kembali tubuh Aryo dengan satu tangannya. Namun, Jagad yang berhasil menyusul segera menangkis tangan Guntur menjauh dari Aryo.
"Bukankah dulu kau juga sangat membencinya, Joko?" tanya Guntur dengan seringai jahatnya.
"Apa maksudmu?!" balas Jagad yang sudah terbakar amarah.
"Hahahaha, dia ayah mertuamu. Dia Danu, goblok!" jawab Guntur dengan tatapan menghina.
"Apa?" Jagad terlihat begitu terkejut.
"Maafkan Bapak, Le!" ucap Aryo lirih.
__ADS_1
"Aaarrrggghhh ...!" Jagad menerjang Guntur dengan sebilah keris dalam genggamannya.
Dalam sekali kibasan, Guntur berhasil melempar Tubuh Jagad hingga membentur dinding.
"Hahaha ... tak sia-sia kugunakan raga anak ini. Kekuatannya begitu besar, hahaha ...." ucap Guntur penuh kemenangan.
"Diancok!" umpat Jagad sembari mengusap darah segar yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Jagad berusaha berdiri dan kembali melawan. Namun, Guntur berhasil mencekal leher dan mengangkat tubuhnya.
"Lepaskan anakku?!" bentak Aryo yang sudah dalam keadaan begitu lemah.
"Berikan pusaka itu atau anak ini mati sekarang juga?!" ancam Guntur.
Jagad menatap penuh harap sembari menggeleng ke arah sang ayah. Sedangkan Aryo tampak terlihat bimbang. Ia sama sekali tak ingin menyerahkan pusaka itu. Namun, ia juga tak mungkin tega membiarkan. Jagad terluka. Air matanya luruh tak terbendung dan hanya bisa menuruti apa yang makhluk itu mau.
"Pu-pusaka itu ...." ucapnya yang masih dalam perasaan dilema.
"Ja-jangan, Pak. Jangan ... Jagad mohon!" Sekuat tenaga Jagad berusaha membuat Aryo agar tidak terpengaruh.
"Pusaka ... itu ada-" Aryo hendak melanjutkan ucapannya namun segera dipotong oleh Jagad.
"Bapak ...!" Jagad masih terus berusaha mencegah Aryo.
Guntur semakin kuat mencekik leher Jagad. Berharap Aryo segera luluh dan memberikan pusaka itu padanya.
"Le-lepaskan dulu anakku!" titah Aryo.
Guntur tak mengindahkan permintaan Aryo. Ia justru semakin memperkuat cekikannya sembari menyerap energi dari dalam raga dan sukma Jagad. Hingga membuat tubuh Jagad semakin mengejang kesakitan. Tanpa pikir panjang, Aryo segera melemparkan sebilah pusaka berbentuk keris kecil dan berbahan dasar kuningan ke arah Guntur.
Guntur meraih pusaka itu dengan diikuti tawa penuh kemenangan. Ia lempar keras-keras tubuh lemah Jagad hingga membentur lantai. Lalu ia berlari secepat mungkin menyusul Trisnya yang tengah bertarung dengan Bagas.
"Tuanku! Aku akan segera membukakan pintu untukmu! Hahahaha ...." teriaknya sembari melesat pergi.
"Pak! Kejar dia ...! Jangan biarkan mereka bangkit!" Jagad masih berusaha berbicara pada Aryo dengan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki.
Aryo terlihat enggan meninggalkan Jagad yang terlihat begitu lemah.
"Kumohon cepat, Pak!"
Tanpa pikir panjang Aryo segera meraga sukma menyusul ke medan pertempuran. Meninggalkan Jagad yang sudah terlihat sekarat seorang diri.
Bersambung ....
__ADS_1