
Semburat cahaya kemerahan menghiasi langit senja yang temaram. Candik ayu--namanya, kedatangannya membawakan keindahan tatkala senja menyapa. Keindahan semu yang sering kali menjadi sebuah pertanda, bencana dan pertumpahan darah akan segera datang menyapa.
Perjalanan sudah hampir mendekati desa tempat dimana Bagas tinggal. Trisnya tampak masih sibuk memulihkan kondisi Heru yang sempat kelelahan menahan sakitnya penyelarasan energi.
Disaat Heru sudah mulai bisa menguasai kesadarannya, tiba-tiba saja tubuh Jagad terkulai lemah dan bersandar pada bahu Trisnya. Tampak darah segar mengalir dari lubang hidungnya yang mancung. Trisnya segera beralih melihat kondisi Jagad.
"Gawat! Mas Jagad dalam bahaya, Mas!" ucap Trisnya tatkala selesai menerawang kondisi sukma Jagad.
Guntur menghentikan sejenak mobilnya di depan gapura desa bertuliskan Ds.Dukunan itu, sebuah desa yang dalam sejarahnya di bangun oleh orang-orang sakti jaman dahulu. Desa ini terletak lumayan jauh dari keramaian kota dan desa-desa lainnya.
"Her! Kuat nyetir? Biar aku susul Mas Jagad sekarang," ujar Guntur pada Heru.
"Siap, Mas!" Mereka berdua segera bertukar posisi. "langsung ke rumah Bagas saja," tuturnya pada Heru yang telah bersiap melajukan mobil.
Trisnya terus membacakan mantra-mantra pemulihan untuk memulihkan kondisi raga dan sukma Jagad. Guntur juga telah bersiap di samping Jagad, ia segera merapalkan mantra Ragasukma untuk menyusul ke tempat Jagad berada. Hening! Tatkala sukma Guntur telah berhasil melesat pergi, meninggalkan raganya dalam penjagaan Trisnya, Heru dan Sang Maha Kuasa.
***
Jagad masih terus mencoba bertahan dari pengaruh ilmu hitam makhluk di hadapannya. Tubuhnya terasa seperti terlilit begitu kuat, membuat nafasnya sedikit tersengal. Mulutnya terus merapalkan doa-doa agar bisa segera terbebas, dan keluar dari kepungan pasukan kerangka hidup itu.
Perlahan Jagad rasakan energinya yang mulai menguat, bersamaan dengan hawa sejuk yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang semula kaku, perlahan mulai bisa digerakan.
Keris Damarwulan telah hadir dalam genggamannya, Jagad mulai bersiap memusatkan seluruh energinya. Matanya terpejam, ia abaikan semua yang ada disekitarnya dan mulai membacakan mantra.
"Sir jumbat jumbit
Aji segarit
Ajur memala ajur durjana
Bali mulih ojo mara teko
Damarwulan paringi dalan
Bismillahirrahmanirrahim
...."
Api kebiruan tampak menyelimuti keris dalam genggamannya, menciptakan kilatan cahaya yang begitu menyilaukan siapapun yang menatapnya. Ia mulai ayunkan kerisnya memutar hingga membentuk sebuah serangan energi melingkar, menghempaskan mereka yang sedari tadi mengerumuni dan mencoba menyakitinya.
Krakk ...
Ratusan kerangka hidup itu terlempar jauh hingga hancur tak beraturan, tercerai berai dan berserakan memenuhi kawasan lembah terkutuk itu.
Jagad beralih menatap kearah Sengkala, makhluk tinggi besar yang merupakan pemimpin dari pasukan kerangka hidup itu. Makhluk itu menyeringai jahat, mata merahnya menatap tajam kearah Jagad yang berhasil menghempaskan pasukannya.
"Arrrggghhh ... "
Auman panjang nan menggelegar dari mulut besarnya yang bertaring, tak sedikitpun menggentarkan keberanian Jagad yang sudah bersiap menghalau serangannya. Sengkala ayunkan tangan besarnya kearah Jagad, bersiap menghempaskan tubuh Jagad yang hanya seukuran serangga di matanya.
Buggh ...
__ADS_1
Sebuah pukulan dari tangan yang tak kalah besarnya, berhasil menangkis serangan Sangkala. Manusia kera raksasa menyeramkan itu beralih menyerang Sengkala dengan begitu beringas.
"Gun, ambil ini!" Jagad melemparkan sebuah tombak berapi bermotif naga emas, milik leluhurnya ke arah Guntur. Ia sendiri segera menghadapi pasukan kerangka hidup yang mulai bangkit dan menyatu kembali.
Pertempuran diantara Sengkala dan Guntur, menciptakan getaran-getaran hebat di sekitar Alas Rongko Mayit. Mereka berdua terus beradu, saling memukul dan melempar hingga memporak-porandakan hampir separuh kawasan hutan.
Kilatan cahaya tercipta dari kuatnya energi-energi yang saling beradu. Menciptakan nuansa senja yang begitu mencekam.
***
"Astagfirullah, ini ada apa lagi?" ucap salah seorang warga kampung Dukunan, saat merasakan tanah bergetar hebat beberapa kali.
Para warga yang sebelumnya tak sadarkan diri mulai membuka mata. Mereka kembali bertingkah lebih aneh dari sebelumnya. Mereka bergerak layaknya zombie, dan kompak keluar dari rumah masing-masing. Mereka berjajar rapi, dan berjalan beriringan menuju hutan.
Heru segera menghentikan mobilnya, menghadang kumpulan warga yang bertingkah aneh itu. Trisnya ciptakan perisai untuk menjaga raga Jagad dan Guntur, lalu menyusul Heru yang sudah keluar dan mencoba menyadarkan para warga.
Bagas dan beberapa warga yang masih sadar berusaha keras menghadang para warga yang memaksa masuk ke dalam hutan.
"Ambilkan tali yang kuat!" titah Trisnya pada para warga yang masih sadar.
"Tali?" tanya Bagas memastikan.
"Cari tali yang kuat dan panjang," jelas Trisnya sembari berusaha menyadarkan para warga.
Tanpa menunggu lama, mereka yang masih sadar segera berlari mengambil tali dari rumah masing-masing.
Mereka kembali dengan membawa beberapa tambang dan gulungan tali temali dari rumah masing-masing. Trisnya segera mengambil tali itu dan mengisinya dengan doa-doa juga mantra. Tali itu nantinya akan ia gunakan sebagai pagar pengikat agar para warga tak melakukan hal-hal yang berbahaya.
Semua orang yang masih sadar segera menunaikan ibadah sholat bergantian, agar mereka yang sedang pingsan tak lepas dari pengawasan.
Jagad dan Guntur tampaknya sudah kembali, mereka berdua segera keluar dari mobil dan menyusul ke tempat para warga berkumpul. Jagad berjalan tertatih dengan dibopong oleh Guntur.
Tokk ... Tokk ...
Guntur ketuk pintu salah satu rumah yang cukup besar. Ia tahu, Trisnya dan Heru pasti tengah berada di sana.
"Siapa?" tanya salah seorang dari dalam rumah.
"Buka, Her! Mas Jagad butuh pertolongan!" ucap Guntur sembari terus menahan tubuh Jagad agar tak ambruk.
Heru yang mengenal suara itu segera membuka pintu. Ia langsung membantu Guntur membawa tubuh Jagad yang hampir tak sadarkan diri.
"Baringkan disini saja, Mas!" usul Trisnya sembari menunjuk sofa panjang di ruang tamu rumah itu.
"Dimana para warga?" tanya Guntur.
"Sudah ada di ruang sebelah," jawab Heru.
"Mbak, Mas! Bapak saya mau bicara sebentar," ucap sang tuan rumah pada Trisnya.
"Oh njih, Bu! Sama saya saja," ucap Guntur menawarkan diri.
__ADS_1
"Mari, Mas!" Wanita paruh baya itu berjalan mendahului Guntur, menuju sebuah kamar tempat dimana seorang lelaki renta terbaring lemah.
"Silahkan duduk, Mas. Maaf bapak saya sudah tidak bisa duduk," ucap wanita itu pada Guntur.
Guntur segera duduk pada kursi yang telah disiapkan di samping ranjang. Tampak lelaki renta itu menyentuh tangan Guntur, lalu berusaha mengucapkan sesuatu.
"Di batin saja, Mbah. Insyaallah saya bisa mendengarkannya dengan baik " bisik Guntur pada lelaki tua itu.
"Pusat segel ada di sendang, ada sebongkah batu besar yang berada di tengah-tengah pusat mata air. Kemungkinan besar, ada warga yang mencoba mengambilnya, sehingga bencana ini terjadi. Letakan kembali batu itu pada tempatnya dan segel lagi dengan pusaka yang kalian bawa, cepat!" tutur lelaki tua itu dalam batinnya.
"Baik, Mbah! Terima kasih." Setelah mengucapkan itu, Guntur segera keluar kamar menyusul Trisnya yang sedang memulihkan energi Jagad.
"Mas, kenapa Mas Jagad bisa sampai seperti itu?" tanya Heru pada Guntur.
"Energinya berbenturan langsung dengan ilmu hitam milik Sengkala, sukmanya terpental sangat jauh dan membentur tebing begitu keras," jelas Guntur.
"Lalu? Bagaimana dengan Sengkala? Apa di berhasil dikalahkan?" tanya Heru lagi.
"Belum, dia menghilang saat aku hendak menyerang tepat di pusat energinya. Namun, sepertinya ia masih akan kembali. Kita harus lebih waspada, bisa jadi ketenangan ini adalah suatu pertanda akan datangnya bencana yang lebih besar," jawab Guntur.
"Gimana kondisi Mas Jagad, Dek?" Tanya Guntur pada Trisnya yang telah membuka matanya.
"Insyaallah aman, sepertinya ada yang memulihkan energinya dari jauh," ujar Trisnya.
"Siapa?" tanya Heru.
"Entahlah, mungkin ada orang dengan kemampuan yang sama sepertiku di sekitar Mas Jagad, karena energinya sangat mirip denganku," lanjut Trisnya.
"Setahuku tak ada orang seperti itu di sekitar Mas Jagad dan keluarganya, kecuali kamu dan ... " Guntur tampak ragu-ragu melanjutkan ucapannya.
"Siapa?" ucap Heru dan Trisnya bersamaan.
"Tuh," ucap Guntur sembari melirikan pandangannya ke arah sosok yang baru saja muncul.
Heru dan Trisnya menoleh bersamaan ke arah yang Guntur maksud.
"Nyi!" Trisnya menundukan kepalanya singkat, menyapa Nyi Kinasih yang telah berdiri disamping tubuh Jagad yang masih terpejam.
"Makhluk itu sedang mempersiapkan seluruh pasukannya, kalian juga harus segera bersiap. Akan aku bawa pasukan dari alamku untuk membantu kalian," ucap Nyi kinasih sembari memandang lekat pada wajah Jagad yang terlihat begitu tenang.
"Aku akan ke Sendang untuk melihat kondisi pusat segel Pakugeni, urusan disini aku pasrahkan kepada kalian," ucap Guntur.
"Terlambat!" ucap Nyi Kinasih tegas, "Sengkala sudah terlanjur bebas, karena batu itu sudah hancur dan di jadikan pondasi untuk bangunan di sekitarnya. Walaupun kita menyegelnya kembali, Sengkala dan pasukannya akan tetap melawan. Pakugeni yang Trisnya bawa tak akan mampu menahan perlawanan mereka. Jalan satu-satunya adalah melawan, buat mereka tak berdaya lalu segel kembali," jelas Nyi Kinasih.
Baru saja Nyi Kinasih merampungkan kalimatnya, tanah tiba-tiba kembali bergetar hebat. Langit mulai bergemuruh seperti hendak menurunkan hujan, kilatan cahaya petir menari-nari, menyambar pepohonan dan tiang-tiang listrik di sekitar rumah yang mereka tempati.
Semua berteriak histeris tatkala lampu-lampu mulai padam serentak. Rasa takut kembali membuncah menghantui para warga yang sudah sangat lelah dengan rentetan kejadian yang menimpa.
"Segera persiapkan diri atau kita semua akan mati," ucap Jagad yang tiba-tiba tersadar.
Bersambung ....
__ADS_1