Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab38. Luka Yang Tersisa


__ADS_3

Langit bergemuruh hebat, diikuti kilatan cahaya petir yang mulai menari-nari di atas langit desa Randujati. Memberikan pertanda pada para penghuni alam, bahwa sang hujan akan segera hadir membawakan kesejukan setelah hari yang begitu terik.


Guntur masih dalam keadaan yang begitu lemah. Ditemani Trisnya yang masih enggan untuk melepaskan pelukannya.


Klekk ...!


Pintu tiba-tiba terbuka, terlihat Handayani yang mengintip dari sela pintu. Menbuat Trisnya buru-buru melepas pelukannya. Ia cukup terkejut akan kedatangan mendadak Handayani. Ia usap air mata yang masih membasahi pipinya dengan selendang yang ia bawa, dan segera mempersilahkan perempuan paruh baya itu masuk.


"Ibuk ganggu, ya?" goda Handayani.


"Mboten kok, Buk. Maaf tadi Trisnya ...," balas Trisnya sembari menahan malu. Ia beranjak mendekat dan menyalami Handayani.


"Ibuk cuma mau mastiin kondisi Guntur," ucap Handayani saat Trisnya menghampirinya.


"Bagaimana dengan Mas Heru, Buk?" tanya Trisnya.


"Dia masih belum sadar, tolong kamu lihat kondisinya. Biar ibuk periksa keadaan Guntur disini," pinta Handayani.


"Njih, Buk." Trisnya segera pergi menuju ke ruang tempat Heru dirawat.


"Bagaimana, Nyi?" tanya Trisnya pada Nyi Kinasih yang masih berusaha memulihkan energi Heru.


"Susul mereka, biar aku pulihkan Heru dan Guntur disini," titah Nyi Kinasih.


"Baiklah!" Trisnya segera meraga sukma untuk menyusul Jagad dan juga Aryo melawan makhluk itu. Membiarkan raganya diambil alih oleh Nyi Kinasih yang harus segera memulihkan energi Heru dan juga Guntur.


***


Sesosok makhluk dengan wujud kelelawar raksasa mengerikan, tengah bertarung melawan Jagad dan juga Aryo. Makhluk itu terus berusaha keluar dari dimensi gaib untuk kembali menguasai raga Guntur.


"Sudah ku katakan, jangan ikut campur?!" sentak makhluk itu sembari mengayunkan tangannya yang penuh kuku-kuku panjang nan tajam, ke arah wajah Aryo.


Tubuh Aryo terlempar akibat serangan dari makhluk yang Guntur sebut Kalong Pati itu. Darah segar mengalir dari bekas cakaran yang mengenai wajah tua Aryo.


Jagad semakin gencar menyerang makhluk itu dengan keris Damarwulan di tangannya. Di bantu Trisnya yang baru saja datang.


"Ambil ini, Mas!" Trisnya melemparkan selendang emasnya pada Jagad.


Jagad segera menangkap selendang itu, lalu ia satukan dengan keris Damarwulan di tangannya. Cahaya keemasan terpancar dari kedua pusaka yang telah menyatu, Jagad angkat tinggi-tinggi lalu berlari menerjang ke arah Kalong Pati.


Keris itu berhasil dihalau dengan sayap-sayap yang menyatu pada lengan Kalong raksasa itu, hingga menciptakan gesekan energi yang begitu dahsyat.


Jagad terpental jauh membentur tanah. Tiba-tiba mereka teralihkan ke sebuah hutan jati, yang merupakan tempat dimana, makhluk itu berasal.


"Dari tempat inilah Kalong Pati di bangkitkan, jadi kekuatannya akan jauh lebih besar saat ini. Tetap waspada," pesan Aryo pada Jagad dan Trisnya.


Ribuan kelelawar datang mengepung mereka bertiga. Nampaknya, Kalong Pati sengaja memindahkan mereka ke hutan ini, agar dia bisa memanggil pasukannya.


Pasukan kelelawar itu terus berputar-putar mengelilingi mereka bertiga, sembari mengeluarkan suara-suara melengking yang mengusik telinga. Membuat kepala terasa berputar-putar hingga mereka tak sanggup lagi menguasai diri.


Dikala mereka bertiga telah pasrah dengan keadaan, Nyi Kinasih datang menyusul dengan Sukma Heru disampingnya.


"Ba-bagaimana mungkin Heru bisa-" Jagad tampak terkejut yang melihat sukma Heru. Seingatnya, Heru sama sekali tak mengerti cara untuk meraga sukma.

__ADS_1


Heru mengumpulkan energi yang terpancar dari dalam tubuhnya. Energi dari dua Mustika milik Broto yang telah selaras dengannya, menciptakan kekuatan yang begitu besar melebihi energi Heru sebelumnya.


Heru hempaskan kumpulan kelelawar yang tengah mengelilingi mereka hingga lenyap tak tersisa. Tinggalah Kalong Pati seorang diri, yang tengah menatap tajam ke arah Heru dengan mata merahnya.


"Keparat! Akan ku habisi kau malam ini juga!" sentak Kalong Pati yang terlihat begitu murka. Ia terbang melesat ke arah Heru dengan melemparkan serangan-serangan gaibnya.


Heru dengan tanpa rasa takut menangkis setiap serangan yang Kalong Pati lemparkan. Ia ikut berlari menerjang ke arah makhluk itu sembari terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari bibirnya.


Nyi Kinasih masih terus berusaha memulihkan Jagad dan Aryo yang telah terkapar lemas. Dibantu oleh Trisnya yang juga tengah mempersiapkan pusaka Pakugeni miliknya.


"Lebih baik kalian berdua kembali, biar aku  Trisnya dan Heru yang melanjutkannya," ucap Nyi Kinasih pada Jagad dan Aryo.


"Kalian yakin bisa menghadapinya?" tanya Aryo pada Nyi Kinasih.


Nyi Kinasih dan Trisnya hanya mengangguk, lalu melesat pergi menyusul Heru yang tengah bertarung seorang diri.


Kekuatan yang Kalong Pati miliki, tampaknya memang tak bisa dianggap sepele. Makhluk itu seolah tak memiliki rasa lelah meski telah dihujam begitu banyak serangan dari Heru dan Nyi Kinasih.


Trisnya masih menunggu makhluk itu lengah, hingga ia bisa dengan mudah menyerapnya masuk ke dasar bumi dengan pusaka Pakugeni miliknya.


Heru lemparkan lagi serangan ke arah makhluk itu dengan kekuatan yang jauh lebih besar, diikuti serangan terkuat dari Nyi Kinasih yang ikut menghantam ke arah Kalong Pati, membuat mereka semua terpental akibat ledakan energi yang cukup kuat.


Trisnya memanfaatkan kesempatan itu untuk segera mengaktifkan pusaka miliknya. Ia goreskan pedang itu pada telapak tangan, hingga darah segar terlihat mengalir menghiasi ujung pusaka Pakugeni.


"Pakugeni Mawinga winga


Tumancep bumi ambyar memala


Dawuh dumugi kula nimbali


Mara teka ambyar dadi segara


Jagad demit jagad manungsa


Dadi pager dadi pamisah ...."


Mantra telah berhasil terucap, goresan darah yang mengalir mulai berubah menjadi api dengan cahaya kebiruan yang begitu menyala. Menyelimuti pusaka yang semakin membesar di genggaman sang kuncen.


Trisnya angkat tinggi-tinggi pusaka itu, lalu ia tancapkan dalam ke dasar tanah hingga Kalong Pati beserta seluruh energinya ikut terserap masuk ke Jagad Lelembut sepenuhnya.


Suara gemuruh langit, mengiringi kepergian Kalong Pati menuju alam antah berantah tanpa batas ruang dan waktu.


***


Beberapa hari telah berlalu, Heru telah sehat dan bugar kembali. Hanya menyisakan beberapa bekas luka yang sudah hampir mengering sepenuhnya.


Proses pemulihannya memang tergolong tak masuk akal, bahkan Jagad pun sampai heran melihat luka-luka itu begitu cepat mengering. Sepertinya energi dari kedua Mustika itu memang tak main-main.


Jagad terlihat tengah mengecek luka-luka di punggung Heru di dalam kamar, ditemani Aryo.


"Pakde, apa gak masalah jika Mustika ini terus menerus ada bersamaku?" tanya Heru sembari membuka laci nakasnya.


"Kalau gak nyaman ya dibuang saja, sembunyikan ditempat yang jauh dari jangkauan manusia. Agar tak jatuh ke tangan orang yang salah," jawab Aryo.

__ADS_1


"Sudah pernah kubuang, masalahnya dia balik lagi bawa sodaranya!" ujar Heru.


"Sodara?" Jagad sedikit heran dengan perkataan Heru.


"Pas aku pulang, tiba-tiba Mustika itu sudah kembali lagi ke laci dengan satu Mustika yang lebih besar," jelas Heru.


"Jadi ada 2 Mustikanya?" tanya Jagad.


"Iya, Mas. Aku takut dosa nyimpen benda-benda gituan sebenernya," lanjut Heru.


"Kendalikan saja energinya, jangan sampai dia menguasaimu. Nanti kalau memang Gusti Allah gak ridho kamu menyimpannya, benda-benda seperti itu juga akan lenyap sendiri, Her." Pesan Aryo sebelum akhirnya memutuskan keluar setelah memastikan energi dalam tubuh Heru baik-baik saja.


"Gak nyaman aja sebenernya," keluh Heru sembari menahan rasa perih dari luka-luka yang dibersihkan Jagad.


"Lah kenapa?" tanya Jagad.


"Kemana-mana aku selalu jadi pusat perhatian, Mas. Risih aku sama tatapan-tatapan aneh perempuan, apalagi perempuan dari alam sebelah. Biyuh ... tatapannya bikin merinding. Jauh lebih nyaman kaya dulu, tak terlihat. Hehehehe ...." jelas Heru sembari nyengir.


"Halah gayamu! Tapi emang bener sih, Mustika itu sering digunakan sebagai pemikat. Siapapun yang memilikinya pasti akan jauh lebih mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Baik itu harta, tahta ataupun wanita. Satu lagi ...." Jagad menggantung ucapannya.


"Apa?" Heru berbalik menatap Jagad.


"Dosa!" ucap Jagad sembari menoyor kepala Heru.


"Asem!!" rutuk Heru yang terlihat kesal.


"Makanya kendalikan. Jangan sampai benda itu menuntun kamu ke lubang dosa, Her. Cukup gunakan untuk hal-hal yang positif." Jagad berdiri setelah merapikan peralatan medisnya. "Wes, ayo kerja! Biar nanti gak kesorean jenguk Guntur."


***


Dirumah Baskoro, Guntur masih terbaring lemah di ranjang kamarnya. Ditemani Trisnya yang dengan telaten memijat sambil memulihkan energi Guntur yang banyak terserap oleh Kalong Pati.


"Aduh, calon bininya perhatian amat!" goda Reni yang nyelonong masuk tanpa permisi.


"Opo sih, Ren. Kamu gak kuliah?" tanya Trisnya.


"Alhamdulillah udah di depak dari kampus, hehehe ...," jawab Reni sembari nyengir tak berdosa.


"Gak kasihan sama ayahmu apa, Ren?" tanya Guntur.


"Salah sendiri, orang aku gak mau ngambil kesehatan masih aja di paksa!" jawab Reni dengan wajah cemberutnya.


"Terus mau ngambil apa? Keburu tua kamu kalau gak kuliah. Mau nikah juga kayaknya mustahil ada laki-laki normal yang mau sama cewek jadi-jadian kaya kamu!" ledek Guntur dengan suara lemahnya.


"Enak aja! Reni tuh normal, cewek tulen. Cuma males aja dandan kayak cewek-cewek lain. Riweh ...!" tegas Reni. "Aku tuh maunya ambil seni pewayangan ... hahahaha ... kan seru tuh, kalau aku bisa jadi dalang perempuan. Ya gak, Mbak?" Reni melirik ke arah Trisnya yang begitu terkejut mendengar cita-cita unik Reni.


"Unik emang nih anak. Nanti kalau berhasil jadi Dalang, inget kasih aku job. Udah lama gak nyinden, ah jadi kangen nyanyi!" ucap Trisnya sembari mengingat-ingat kembali aktivitasnya dulu sebagai seorang biduan.


"Nanti kalau udah nikah, mas gak akan ijinin kamu nyanyi lagi," ketus Guntur yang tak ingin melihat Trisnya berlenggak-lenggok di hadapan laki-laki lain seperti dulu.


"Emang kapan nikahnya?" tanya Reni dengan ekspresi menyebalkan.


Hening terasa, disaat kata-kata keramat itu berhasil keluar dari mulut Reni.

__ADS_1


"Pacaran mulu, dinikahin kagak!" lanjutnya sembari berlari meninggalkan Guntur dan Trisnya yang menatapnya tajam.


Bersambung ....


__ADS_2