
Guntur melajukan mobilnya menembus sepinya jalan menuju rumah lawas, peninggalan kedua orang tuanya. Bersama Heru yang masih saja sungkan untuk sekedar berbicara padanya.
"Sudah kau ucapkan selamat tinggal pada kekasihmu, Her?" tanya Guntur sembari menyeringai aneh ke arah Heru.
Sontak Heru menoleh ke arah Guntur yang berada di sampingnya. Tatapannya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Rasa kecewa, sedih, dan amarah tergambar jelas dari ekspresi wajahnya.
Guntur tak tahan lagi melihat ekspresi Heru, sekuat tenaga ia menahan untuk tidak tertawa. Namun, ekspresi Heru benar-benar membuatnya tak sanggup lagi menahannya.
"Hahahaha ... Ya Allah, Her. Tegang banget kamu? Bercanda aku ...." Guntur tertawa begitu lepas.
"Asem!!" rutuk Heru pada Guntur yang kembali fokus mengemudikan mobil.
"Makanya, jangan lama-lama cosplay jadi pendiem. Gak cocok kamu, Her. Sumpah, gak bakat kamu ngikutin Mas Jagad," ujar Guntur masih sambil tertawa cengengesan.
"Maaf ya, Mas!" ucap Heru tanpa membalas celotehan Guntur.
"Buat apa?" tanya Guntur.
"Semuanya," balas Heru pelan.
"Aku yang minta maaf, aku yang gak bisa ngendaliin diri, sampai buat kamu terluka cukup parah," balas Guntur.
Netra Heru meremang, ingatannya kembali memutar memori tentang saat-saat masa kecilnya. Saat dimana kedua orang tua Guntur yang selalu memperlakukannya dengan begitu baik, tatkala ia dan keluarganya berkunjung.
"Sudahlah, meskipun aku masih belum bisa memaafkan kedua orang tuamu, aku sama sekali gak bisa membencimu, Her. Sudahi rasa bersalahmu, bagiku kamu tetap anak Pak Junaidi, bukan keturunan mereka. Gak akan ada yang berubah, kita tetap berteman seperti sebelumnya," ujar Guntur.
"Ngomong-ngomong, aku mau dibawa kemana, Mas? Janji gak bakal di mutilasi 'kan, ini?" balas Heru dengan pertanyaan konyolnya.
"Hahaha ... udah siap pisah sama Dek Sahara?" goda Guntur.
"Ye ... kenapa bawa-bawa Sahara?" protes Heru sembari menahan senyum sipunya.
"Hahaha ... canda. Karena kamu udah ingat semuanya, aku harap kamu juga ingat dimana ayahmu pernah menanam buhul yang ia gunakan untuk menyantet kedua orang tuaku," ujar Guntur dengan nada yang lebih serius.
"Itu ...." Heru mencoba mengingat-ingat kembali kenangan yang begitu samar. Sambil sesekali memegang kepalanya yang sedikit berputar-putar.
Tak berselang lama, sampailah mereka di rumah lama Guntur. Bangunan 3 lantai yang terlihat begitu suram akibat berbagai rumput dan tumbuhan yang mengelilinginya. Dinding yang berlumut hingga beberapa kaca yang telah pecah berserakan, menambah kesan mistis tempat itu.
"Ingat rumah ini, 'kan?" tanya Guntur.
__ADS_1
"Iya, Mas. Tapi sepertinya akan sangat sulit mencari benda-benda itu. Keadaannya sudah sangat berbeda, banyak sekali rumput dan pohon-pohon yang memenuhi tempat ini," jelas Heru.
"Aku sudah meminta orang untuk membersihkannya terlebih dulu, setelah itu coba kamu rasakan dimana benda-benda itu berada." Guntur terus melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Heru. Membelah rimbunnya ilalang, tanpa sedikitpun rasa takut.
Kriieett ...!
Guntur mencoba membuka pintu yang tampaknya telah begitu seret akibat karat dan rerumputan yang jua tumbuh di dalam rumah. Ia melangkahkan kakinya, menyusuri setiap sudut ruangan di lantai bawah.
Lembab dan pengap, itulah yang Heru rasakan saat berada di dalam rumah itu. Beruntung hari belum terlalu sore, masih ada secercah cahaya mentari yang menerobos masuk ke dalam rumah.
Langkah demi langkah, Heru menyusuri setiap ruangan yang telah puluhan tahun terbengkalai itu. Hingga tanpa ia sadari, Guntur tak berada lagi di dekatnya.
Heru celingukan mencari-cari dimana keberadaan Guntur. Suaranya menggema, memanggil nama temannya yang entah berada dimana.
Ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju lantai atas, sembari terus menyerukan nama Guntur. Tak ada sautan sama sekali, hanya suara derap langkahnya yang menggema di dalam gelapnya banngunan itu.
Hembusan lembut yang entah dari mana datangnya, menyambut Heru yang baru saja menapakan kaki di lantai dua. Ia merinding hebat, tatkala merasakan sesuatu tengah berada tepat di belakangnya.
Heru menoleh, namun tak ia temukan apapun. Hanya ada jajaran anak tangga yang begitu gelap di hadapannya. Ia berbalik kembali menyusuri tiap ruangan di lantai dua yang terlihat begitu temaram, akibat cahaya matahari yang sudah mulai meremang.
"Mas Gun ...." Ia terus berjalan mencari-cari keberadaan Guntur.
Heru merapalkan doa-doa agar terhindar dari gangguan-gangguan energi negatif yang ia rasakan.
Prang ...!
Terdengar suara layaknya piring yang terbanting cukup keras dari lantai paling atas. Heru berlari menaiki anak tangga menuju kearah suara berasal. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Guntur yang energinya belum sepenuhnya pulih.
Heru menyusuri tiap ruang di lantai tiga yang terasa sangat berbeda dari ruang-ruang kamar di lantai bawah. Langkahnya semakin berat, samar-samar ia mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya.
Heru berbalik, ia tatap lekat-lekat sosok yang berada di belakangnya. Dalam temaramnya ruang, matanya membelalak lebar, tubuhnya lemas seakan terlepas dari tulang-tulang, ia jatuh terduduk menyaksikan pemandangan menjijikan di hadapannya.
Sosok berbalut kain yang berlumur merah darah kehitaman, dengan wajahnya yang hancur dan penuh belatung, berdiri menyeringai ke arah Heru. Lendir hitam menetes dari mulutnya yang terlihat tanpa rahang bawah dan dagu. Bau busuk pun menyeruak, mengusik indra penciuman Heru yang sudah begitu lemas dan hampir muntah.
Tubuh Heru tiba-tiba mematung. Ia sama sekali tak mampu bergerak ataupun berteriak. Energinya pun terasa terkunci. Entah apa yang akan terjadi.
Heru hanya bisa pasrah tatkala kakinya mulai bergerak. Melangkah pergi menuju ke balkon lantai tiga yang tak berpagar pembatas. Doa-doa terus ia lantunkan dalam hati, berharap segera terlepas dari kuasa makhluk menjijikan itu.
Langkahnya semakin mendekat ke ujung balkon, maju selangkah saja, sudah dipastikan ia akan jatuh membentur tumpukan bebatuan di bawah sana.
__ADS_1
"Ya Allah, jika memang ini sudah menjadi ketetapan-Mu, maka matikanlah aku dalam keadaan husnul khatimah," doanya dalam hati. Buliran bening terlihat luruh tak terbendung dari pelupuk netranya. Ia telah pasrahkan segalanya pada Sang Maha Kuasa.
"Heru!" Sebuah tarikan tangan berhasil meraih tubuh Heru yang hampir saja terjun bebas.
Heru menatap lega ke arah Guntur yang berhasil menyelamatkannya dari maut. "Alhamdulillah, Ya Allah ... makasih, Mas!" ucapnya.
"Kamu ngapain disini? Bahaya, Her?! Aku saja gak pernah masuk apalagi sampai di lantai tiga," ucap Guntur yang terlihat begitu kesal bercampur khawatir.
"Aku ngikutin kamu, Mas. Sumpah! tadi aku ngikutin kamu masuk ke rumah ini," jelas Heru yang masih dalam keadaan lemas. Tubuhnya sedikit bergetar akibat rasa takut yang teramat sangat.
"Aku tadi ngambil alat pemotong rumput di bagasi, tiba-tiba kamu udah gak ada, pintu rumah juga udah terbuka. Makanya aku susul kamu kesini!" jelas Guntur yang masih terlihat kesal.
"Ayo cepat turun! Disini gak aman. Di bawah sudah ada orang-orang yang aku sewa buat bersihin halaman rumah," ajak Guntur. Ia memapah Heru yang masih begitu lemas melewati tangga besi berkarat yang berada di luar rumah. Tangga itu merupakan tangga darurat yang menghubungkan langsung balkon lantai tiga dengan halaman samping rumah. Jadi mereka tak perlu repot-repot masuk ke dalam rumah lagi.
Terlihat ketiga lelaki yang tengah memangkas rumput dan ilalang di sekeliling rumah Guntur. Mereka menatap heran ke arah Heru yang terlihat begitu pucat dan lemas.
"Kenapa, Mas?" tanya salah seorang lelaki.
"Gak apa-apa, Pak Bandi. Teman saya cuma rada syok aja lihat keadaan di dalam rumah," jawab Guntur.
"Jangan ngelamun, Mas. Disini sering ada yang tiba-tiba lompat dari balkon lantai tiga." Salah seorang lelaki ikut menimpali. Tampaknya ia juga melihat Heru yang hendak melompat tadi.
"Uhm ... njih, Pak. Saya tadi memang rada kurang fokus," balas Heru.
Heru duduk di dalam mobil seorang diri. Sembari menunggu Guntur yang tengah berbincang dengan beberapa warga yang juga ikut nimbrung ke tempat itu.
Tubuhnya masih begitu lemah, sehingga Guntur memintanya untuk masuk saja ke dalam mobil.
"Nih, makan rotinya," ucap Guntur dari luar pintu mobil sembari menyerahkan 3 bungkus roti dan sebotol air mineral.
"Ma-makasih, Mas!" balas Heru dengan suara yang masih sedikit bergetar.
"Kita lanjut besok saja, sepertinya energimu belum kuat jika harus berhadapan dengan makhluk-makhluk disini." Guntur berjalan pergi meninggalkan Heru untuk kembali menghampiri beberapa lelaki yang ia sewa. Ia terlihat membicarakan sesuatu, lalu melangkah pergi menyusul Heru kembali ke mobil.
Sosok pocong merah dengan wajah hancurnya, menatap tajam ke arah Heru dan Guntur dari balik jendela kamar di lantai tiga. Hal itu sontak membuat Heru tersedak saking kagetnya.
"Kenapa makhluk itu terus menatap tajam kearah kita, Mas?" tanya Heru pada Guntur sembari menunjuk ke arah sosok yang ia lihat.
"Dialah alasan kenapa aku butuh bantuanmu. Karena hanya kamu yang tahu letak benda-benda pengikatnya terkubur," jawab Guntur.
__ADS_1
Bersambung ….