
Sang surya telah menampakan sinar keemasan dari ufuk timur, cahayanya menerobos di antara celah pepohonan. Diiringi kicauan burung-burung yang begitu antusias menyambut pagi yang cerah.
Jagad membuka matanya perlahan, ia segera beranjak duduk dan menggeliat diatas sajadah yang masih menjadi alas duduknya. Ia mencoba mengucek-ngucek matanya, agar tak kembali terpejam. Jagad segera menutup Al-Qur'an yang masih terbuka, rupanya ia ketiduran saat mengaji setelah sholat subuh tadi.
"Le, bangun! Sudah pagi," panggil Aryo dari balik pintu.
"Iya, pakdhe! Jagad udah bangun, mau beres-beres sebentar!" balas Jagad dari dalam kamar.
Hari-hari di kampung Jagad lalui dengan begitu tenang dan damai. Hiruk pikuk dan riuhnya suasana perkotaan, tak lagi Jagad rasakan di kampung.
"Masa penerimaan siswa baru masih 3 bulan lagi, kamu nungguin sambil belajar aja dirumah! Nanti, biar pakde daftarin kalau sudah buka pendaftaran," ucap Aryo pada Jagad yang tengah berjalan mendekatinya.
"Iya, pakde! Rajin amat, jam segini udah latihan?" tanya Jagad saat melihat Aryo bergelantungan pada batang pohon sembari menaik-turunkan tubuhnya, bertumpu pada kedua tangan yang menggenggam erat batang kayu itu.
"Latihan fisik itu enaknya emang pas sehabis sholat subuh, badan masih seger, pikiran juga belum semrawut. Jadi kita bisa lebih fokus," jelas Aryo pada Jagad, "kakimu kalau sudah sembuh, nanti malam ikut pakde ke padepokan. Ikut latihan di sana, biar ada temen juga. Emangnya gak bosen dirumah terus?" ujar Aryo.
"Iya, pakdhe!" jawab Jagad singkat.
***
Hari-hari terus berganti begitu cepat, Jagad terus belajar dan berlatih dengan begitu tekun. Tak pernah sekalipun Jagad mengeluh dan menyerah, ia terus berusaha melatih fisik dan mentalnya agar bisa selaras dengan kemampuan yang ia miliki.
Hari-hari disekolah Jagad lalui dengan begitu serius, tak pernah sekalipun ada pelajaran yang tertinggal. Ia selalu menjadi yang terbaik di sekolahnya.
"Gak terasa ya, mbah! Jagad udah 2 tahun di kampung!" ucap Jagad pada mbah Kromo saat tengah menikmati kopi hitam buatan mbah Warsi di depan rumah.
"Iya, mbah bersyukur kamu betah disini!" balas mbah Kromo.
"Ibukmu beneran gak jadi nyusul kesini, le?" tanya mbah Warsi.
"Endak kayaknya mbah! Kecuali...," jawab Jagad sambil melirik ke arah Aryo.
"Kecuali opo?" lanjut mbah Warsi.
"Kecuali dijemput sama pakde! Hahahahaha," goda Jagad pada Aryo.
"Loh, kok pakdhe!" timpal Aryo dengan muka sedikit memerah menahan malu.
"Jemput, Yo! Lampu hijau iki loh, hahahaha," timpal mbah Kromo.
"Jangan lupa, seperangkat alat sholat sama sertifikat sawah ya, pakdhe! Hahahahah," lanjut Jagad.
"Kalau diterima, nanti ditanggapno wayang sama bapakmu, le! Kalau ditolak, ya kamu bertapa lagi aja ke gua. Malu lah, ditolak sampai 2 kali," celetuk mbah Warsi ikut menggoda Aryo yang akhir-akhir ini memang tengah dekat dengan ibu Jagad.
Aryo benar-benar tak mampu berkata-kata lagi mendengar ocehan Jagad dan kedua orang tuanya. Hatinya terasa begitu lega sekaligus terharu karena mendapat restu dari Jagad.
Mereka terlihat begitu bahagia melihat ekspresi tersipu Aryo. Canda, tawa terus menghiasi obrolan malam keluarga mbah Kromo kala itu.
Brumm..., brumm....
Ditengah-tengah obrolan mereka berempat, tampak sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah mbah Kromo.
"Tamu mbah?" ujar Jagad yang penasaran.
"Gak tahu," balas mbah Kromo.
__ADS_1
Tampak seorang lelaki seumuran dengan Aryo keluar dengan menggendong seorang anak yang terkulai lemas.
"Junaidi?" sapa Aryo yang baru saja beranjak dari duduknya. Aryo segera berlari menghampiri Junaidi.
"Tolong, Yo! Tolong anak ini!" ujar Junaidi dengan air mata berlinang.
"Sudah, bawa masuk!" titah mbah Kromo saat melihat kondisi anak itu.
Mereka akhirnya mengakhiri obrolan malam itu dan segera membawa masuk Junaidi beserta anak di gendongannya. Jagad hanya terdiam, ia merasakan sesuatu yang buruk tengah mengikuti anak itu.
Kepulan asap hitam tampak terus mengitari atap rumah mbah Kromo. Makhluk itu nampaknya tengah berusaha menerobos masuk ke dalam rumah.
"Kalian, jangan biarkan mahluk itu masuk ke rumah!" titah Jagad pada ketiga raksasa yang tengah berjajar disampingnya.
Ketiga raksasa itu pun mengangguk dan memanggil pasukan lelembutnya untuk membantu menjaga rumah dari serangan makhluk asing itu.
Jagad segera masuk ke dalam rumah, ia ikut mendengarkan penuturan pak Junaidi yang merupakan teman lama Aryo.
"Tolong mbah! Anak ini tidak bersalah, jangan biarkan dia ikut terkena dampak dari perbuatan kedua orang tuanya!" Junaidi terus memohon pada mbah Kromo.
"Di, tenang dulu. Ini minumannya diminum dulu! Biar bapak ku lihat dulu keadaannya!" ujar Aryo.
"Sebenarnya ada apa, pak?" tanya Jagad yang penasaran.
"Hik..., hik..., hik..., orang tuanya gila, mas! Mereka bersekutu dengan iblis hanya untuk memperebutkan harta yang tak akan dibawa mati. Dengan telinga saya sendiri, saya mendengar bahwa Heru akan ditumbalkan. Dia akan dijadikan wadah bagi makhluk itu, mas! Saya gak rela, mas! Saya sudah merawatnya sejak bayi! Saya ndak mau dia dijadikan tumbal sama orang-orang biadab itu!" jelas Junaidi sembari terus menangis menahan emosi.
"Mak..., maksudnya?" Jagad nampak belum paham dengan penjelasan Junaidi.
"Anak itu akan dijadikan wadah bagi ingon keluarganya, ingon itu sejenis iblis yang dipelihara untuk melaksanakan segala hal yang mereka inginkan, seperti membunuh dan menyakiti pihak lawan," jelas Aryo.
"Memang apa yang mereka perebutkan?" tanya Jagad lagi.
"Rumah sakit, mas! Rumah sakit yang pernah dibangun bersama-sama dengan sahabatnya sendiri. Pada akhirnya, keserakahan membutakan hati dan nurani juragan saya. Dia dengan tega mengirimkan begitu banyak teluh dan santet kepada keluarga sahabatnya, agar dia bisa menguasai rumah sakit itu sendiri," jawab Junaidi.
"Kejam sekali mereka, pak!" ucap Jagad.
"Saya tidak sengaja mendengar, kalau keluarga sahabatnya itu ternyata bukan orang sembarangan. Salah satu keluarganya merupakan seorang dukun yang lumayan kuat dan mencoba mengembalikan serangan yang juragan saya kirim. Makanya dia butuh santet yang lebih kuat, sehingga Heru lah yang ia korbankan," imbuh Junaidi.
"Jagad, apa yang sedang terjadi di luar?" tanya mbah Kromo.
"Anu, mbah! Ada yang terus berusaha masuk mengikuti anak itu. Jagad sudah meminta mereka untuk mencegah mahluk itu masuk," jawab Jagad.
"Panas sekali! Coba kamu singkirkan makhluk itu, para penjagamu sepertinya kewalahan melawannya," pinta mbah Kromo.
"Uhm...," Jagad masih nampak ragu-ragu. Netranya menatap kearah Aryo seakan meminta persetujuan.
"Jika ada apa-apa, pakdhe sama mbah akan keluar membantu!" ujar Aryo meyakinkan Jagad.
"Bismillah, pangestune mbah! Pakdhe!" ucap Jagad sebelum akhirnya beranjak pergi mengambil keris Damarwulan.
Jagad berjalan keluar rumah, terlihat jelas ratusan pasukan lelembut tengah bersusah payah menghadang dan menghalau serangan-serangan dari makhluk yang berwujud asap hitam itu.
"Sir jumbat jumbit
Aji segarit
__ADS_1
Ajur memala ajur durjana
Bali mulih ojo mara teko
Damarwulan paringi dalan
Bismillahirrahmanirrahim
...."
Jagad lafalkan mantra untuk mengaktifkan energi dalam kerisnya. Cahaya kebiruan telah terpancar menyelimuti pusaka ditangan Jagad. Jagad angkat tinggi-tinggi keris di tangannya. Ia berlari menerjang ke arah makhluk itu tanpa sedikitpun rasa takut.
Splashh....
Splashh....
Kilatan cahaya tercipta dari energi-energi yang saling beradu. Dengan lihai Jagad menangkis setiap serangan dari makhluk itu.
Buammm....
Sebuah serangan berhasil mengenai makhluk itu hingga membuatnya sedikit menjauh.
Perlahan, kepulan asap hitam itu mulai menyatu membentuk siluet bayangan mahluk tinggi besar dengan kepala bertanduk seperti kepala kambing. Semakin lama semakin jelas terlihat wujudnya dimata Jagad.
"Kembalikan anak itu!" ucap makhluk itu dengan suara lantangnya.
"Tidak akan! Tidak akan ku biarkan iblis sepertimu mengambil alih raganya," balas Jagad.
"Orang tuanya sudah memberikan anak itu padaku, berhenti ikut campur!" sentak mahluk itu lagi, "berikan sekarang, atau akan ku porak porandakan rumah ini, dan kuhabisi kalian semua!" ancam mahluk itu.
Aaaarrrrgggghhhh....
Makhluk itu mengaum cukup keras dan lama. Suaranya menggelegar hingga membuat begitu banyak binatang malam beterbangan menjauh dari sekitar rumah mbah Kromo.
Langit tiba-tiba ikut bergemuruh hebat, malam terang penuh bintang kini berganti menjadi malam yang begitu mencekam.
Awan hitam tampak menyelimuti seluruh desa. Kilatan cahaya petir menari-nari, menyambar beberapa pepohonan di sekitar rumah mbah Kromo.
Claaapppp....
Duaaarrr....
"Astagfirullah, pak! Ada apa ini?" tanya mbah Warsi yang khawatir.
"Aryo! Bantu Jagad, anak ini harus segera diselamatkan, sebelum terlambat," titah mbah Kromo.
"Njih, pak!" Aryo segera bergegas keluar membantu Jagad.
Bruakkk....
Baru saja Aryo hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu terbanting cukup keras. Tampak Jagad terkapar bersimbah darah di depan pintu.
"Jagad!" teriak Aryo. Ia berlari menghampiri Jagad yang masih dalam keadaan sadar.
"Ragaku terlalu lemah untuk melawannya, bantu sukmaku keluar dari raga ini, pakdhe!" ucap Jagad lirih ketika Aryo mencoba membantunya bangkit.
__ADS_1
Bersambung....