Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab51. Jawaban Trisnya


__ADS_3

Langit masih terlihat gelap, tatkala cahaya jingga mulai datang menyapa. Hembusan angin menyibak dahan pepohonan, dinginnya merasuk dalam hingga membuat siapapun enggan untuk segera beranjak dari peraduan.


Keadaan Trisnya sudah membaik. Ia sudah tersadar sejak beberapa jam sebelumnya. Ia duduk bersandar sembari memandangi jam dinding yang terus berdenting lebih keras dari biasanya. Entah ini hanya perasaannya saja, namun suara-suara di sekitarnya terdengar jauh lebih bising dari sebelumnya.


"Sudah shalat subuh, Nduk?" tanya Lukman-ayah Trisnya.


"Sampun, Pak!" (Sudah, Pak!) jawab Trisnya yang masih terdengar begitu lemah.


Pak Lukman datang menghampiri Trisnya dengan membawa segelas air hangat di tangannya. "Ini minum dulu biar agak seger, dingin banget hari ini."


"Njih Pak, suwun." (Iya Pak, makasih.) Trisnya segera meraih segelas air yang ayahnya berikan, lalu menenggaknya hingga tandas tak tersisa.


"Kamu mikirin apa? Bapak lihat kamu dari tadi gak bisa tidur. Kamu mikirin Guntur? Guntur gapapa, dia cuma kelelahan aja terus pingsan. Tadi malam bapak sama Bayu juga sudah nengok ke kamarnya," tanya Lukman.


"Uhm ... ndak kok, Pak. Emang lagi gak ngantuk aja. Sekarang malah baru datang ngantuknya," jelas Trisnya berbohong. Pasalnya ia memang tengah memikirkan Guntur, ia masih bingung jawaban apa yang akan ia berikan pada Guntur saat lelaki itu tersadar dan kembali mempertanyakan jawaban atas ajakannya untuk menikah.


Gadis itu menguap dan mengeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, lalu ia rebahkan tubuhnya sembari memeluk kaki sang ayah yang tengah duduk di sampingnya.


"Ya sudah tidur aja dulu. Bapak mau beliin sarapan buat Bayu." Lukman beranjak dari duduknya, dan segera pergi meninggalkan Trisnya bersama adiknya yang tengah tertidur pulas di sofa.


Trisnya abaikan segala suara rancau yang terdengar cukup berisik di telinga. Suara dari berbagai benda dan entitas tak terlihat yang saling bersahutan. Terdengar begitu riuh, namun tak begitu jelas.


Dia paksa matanya untuk segera terpejam, berharap lelap akan segera datang. Namun, rupa-rupanya alam ingin sejenak mengajaknya bercanda. Dengan suara-suara dari para binatang yang tengah menyambut sang penguasa siang bangkit dari peraduan. Hingga tak membiarkannya terlelap dengan tenang meski hanya sebentar saja.


Matanya terpejam, namun ia masih bisa dengan jelas menangkap suara-suara di sekelilingnya. Seandainya saja tubuhnya sudah sepenuhnya pulih, mungkin dia akan lebih memilih untuk berjalan-jalan pagi dari pada harus berbaring di ranjang ini. Bahkan hingga sang ayah telah kembali, Trisnya masih belum juga terlelap. Masih jelas terdengar suara derap langkah kaki Lukman dan obrolan-obrolan ringannya dengan Bayu.


Brakk ...!


Pintu terbuka dengan cukup kasar, terdengar langkah cepat yang semakin mendekat ke arahnya. Namun, lagi-lagi dia enggan untuk sekedar membuka kembali matanya.

__ADS_1


Dia rasakan genggaman hangat dari sosok dengan wewangian yang sangat dia hafal. Terdengar isak tangisnya yang begitu mendayu, sembari mengucapkan janji-janji yang membuat Trisnya ingin sekali tertawa, namun ia tahan.


Lukman dan Bayu mengintip Guntur yang tengah menghampiri Trisnya, dari balik sandaran sofa. Mereka sedikit tercengang melihat Guntur yang menangis begitu terisak, sembari mengucapkan janji-janjinya pada gadis yang pura-pura tidur itu. Sosok gagah dan garangnya Guntur, seketika luntur tatkala tengah berada di depan wanita yang menjadi penguasa hatinya itu.


"Janji, ya?" Trisnya yang sudah tak sanggup lagi berpura-pura, segera memastikan keseriusan janji-janji yang Guntur ucapkan.


"Kamu udah bangun?" Guntur sedikit terkejut namun juga terlihat begitu senang melihat Trisnya telah tersadar.


"Udah, Mas."


Guntur segera meraih tubuh Trisnya ke dalam pelukan. Tak tergambarkan lagi bagaimana perasaannya, ia begitu bahagia hingga beberapa kali mendaratkan kecupannya pada dahi sang kekasih.


Trisnya ingin sekali berontak dan melepaskan diri, karena ia sadar ayahnya tengah mengawasi dengan tatapan tajam. Namun, tenaganya masih begitu lemah untuk melawan rengkuhan kuat Guntur.


"Ehm ... ehm ...!" Lukman berdehem cukup keras, hingga membuat Guntur tersentak dan langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf, Pak!" ucapnya sungkan.


"Iya ... ayo sarapan dulu!" ajak Lukman pada Guntur yang terlihat sedikit canggung.


Guntur ikut menikmati sarapan bersama calon ayah mertua dan adik iparnya sembari saling bertukar cerita. Menghilangkan rasa canggung yang sedari tadi Guntur rasakan.


"Kapan kamu mau datang membawa keluargamu, Gun?" tanya Lukman seusai mereka makan.


"Saya ngikut Trisnya saja, Pak. Nunggu dia sampai siap," jawab Guntur.


"Gimana, Nduk? Udah siap belum kalau minggu depan nikah?" tanya Lukman pada Trisnya yang tengah makan.


"Uhuk ...!" Pertanyaan itu berhasil membuatnya tersedak. Hingga Guntur pun ikut panik dan menghampirinya.

__ADS_1


Trisnya tak mampu lagi menyembunyikan rona merah pada pipinya. Bibirnya bungkam seribu bahasa tatkala Guntur mengulurkan segelas air putih yang ia minum beberapa tegukan.


Semua pandangan tertuju pada Trisnya yang masih jua terdiam. Seolah sangat menantikan jawaban dari bibir ranumnya. Guntur mendekat lalu membisikan sesuatu pada telinganya, "Mas tak akan memaksa. Akan mas tunggu sampai kamu siap."


Hati Trisnya sedikit tersentuh mendengar ucapan lelaki di sampingnya. Ia tarik nafas dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. Bersiap memberikan jawaban yang sudah ia pikirkan matang-matang sejak semalam.


"Pak ... Insyaallah Trisnya siap kapanpun Mas Gun mau melamar Trisnya," jawab Trisnya sembari menundukan wajahnya yang telah memerah, menahan rasa malu sekaligus bahagia yang menggelayut dalam jiwa.


Guntur tak mampu lagi berkata-kata. Air matanya luruh tak mampu lagi menahan rasa haru sekaligus bahagia. Mereka berdua saling menunduk tanpa mampu untuk saling menatap. Seolah hanyut dalam perasaan bahagia masing-masing.


***


Lain halnya dengan Guntur yang tengah berbahagia, Jagad kini sedang merasakan hal yang berbeda. Ia terlihat begitu kerepotan menggendong dan menenangkan Nawang yang sedari subuh terus menangis kencang.


Handayani dan Heru tengah disibukan dengan beberapa pasien yang hendak melahirkan, sedangkan Aryo tengah pergi ke sawah untuk memanen padi. Mau tak mau, Jagadlah yang harus mengurusi bayi kecil itu.


Karena tak kunjung diam, Jagad mencoba menggendong Nawang ke halaman belakang Klinik sembari berjemur. Tiba-tiba saja netranya meremang. Di pagi yang begitu hangat itu, ingatannya kembali memutar memori saat dimana pertama kali ia menggendong buah hati yang baru saja dilahirkan Nyi Kinasih.


Bayi merah yang dengan terpaksa ia titipkan pada Nyai Waringgit, setelah istrinya meninggal. Nyai Waringgit merupakan sosok Jin yang telah lama merawat dan menemani Nyi Kinasih saat tengah mengandung dan bersembunyi dari Ki Joko Manggala.


Kesedihan akan kepergian Nyi Kinasih menyisakan luka yang cukup dalam di hatinya. Hingga saat buah hatinya menginjak usia 4 bulan, Ia baru ingat untuk menjemput anak itu ke istana gaib Nyai Waringgit.


"Kelak, anak ini pula yang akan membebaskan Trisnya dari karma leluhurnya!" ucap Nyi Kinasih, ia duduk di samping Jagad yang masih melamun.


"A-apa?" Jagad sedikit tersentak dengan kemunculan mendadak Nyi Kinasih.


Tiba-tiba saja Nawang tertawa lepas, seolah mengerti dengan apa yang Nyi Kinasih ucapkan. Mata hazelnya menatap lurus ke arah sosok Jin perempuan yang tengah berusaha menggodanya itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2