Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab7. Jebakan Iblis


__ADS_3

Riuh tangis dan jeritan terus terdengar bersaut-sautan dari dalam gedung. Para pekerja yang masih dalam keadaan sadar telah berkumpul diluar gedung meninggalkan puluhan pekerja perempuan yang masih dalam keadaan kerasukan.


Beberapa petugas keamanan telah ditugaskan untuk menjaga mereka yang berada didalam gedung agar tak melakukan tindakan yang berbahaya, sembari menunggu bantuan datang.


Terlihat pak Likin dan beberapa karyawan laki-laki tengah berusaha mendobrak pintu gedung kosong tempat Trisnya terkurung.


"Pak, gimana ini?" tanya Bagas pada pak Likin.


"Woalah mas, saya juga bingung!" ujar pak Likin.


"Pak Likin, mas Bagas...," teriak Melli yang tengah berlari menyusul pak Likin dan Bagas, bersama seorang pemuda dibelakangnya, "Trisnya..., anu..., kekunci didalam situ mas!" ujar Melli kepada Guntur sembari mencoba mengatur nafasnya.


Mendengar penuturan Melli, Guntur segera menendang kasar pintu besi dihadapannya.


Braaaakkkkkk....


Suara tendangannya begitu nyaring ditelinga, namun tendangan itu sama sekali tak berefek pada pintu.


"Kita udah coba dobrak lebih dari sepuluh kali masse, pakai cara lain coba mas!" ujar Bagas.


"Sebentar! Kalian agak mundur, biar saya pakai cara lain," pinta Guntur pada mereka bertiga.


Guntur mengambil segenggam tanah, ia rapalkan doa dalam hati dengan mata terpejam. Lalu ia lemparkan kearah pintu gedung. Guntur melihat pagar api yang begitu kuat mengitari gedung kosong itu.


"Sial! Ada yang sengaja mengurung Trisnya disini," ujar Guntur.


Guntur berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan pagar ghaib yang mengurung Trisnya. Lantunan doa-doa terus terucap dari bibirnya tanpa henti. Terlihat peluh yang mengalir deras dari pelipisnya, wajahnya memerah, nampak urat-urat di wajah dan lengannya terlihat jelas. Menandakan begitu besarnya energi yang Guntur keluarkan untuk menghancurkan pagar ghaib didepannya.


Duarrrr....


Suara ledakan menggelegar, diikuti kepulan asap hitam yang tercipta dari ledakan itu mengepung disetiap sisi bangunan.


Brakkk....


Guntur menendang pintu didepannya dengan sekali hentakan. Pintupun akhirnya terbuka lebar.


"Wuih, ampuh ya Gas!" bisik pak Likin pada Bagas.


"Hmm!" Bagas hanya berdehem seakan tak setuju dengan ucapan pak Likin, "ayo kita cari Trisnya pak," ajak Bagas tanpa mengomentari ocehan pak Likin.


Guntur masuk kedalam gedung yang telah gelap gulita, diikuti pak Likin, Bagas dan Melli dibelakangnya.


"Nyai...," panggil Melli.


"Sshhhtt...," Guntur menempelkan jari telunjuk pada bibirnya. Memberi kode pada yang lain agar diam.


"Khi..., khii..., khiii," sebuah tawa melengking terdengar oleh Guntur.


Guntur sudah bersiap dengan keris ditangannya, tentu saja keris itu tak terlihat oleh pak Likin, Bagas dan juga Melli. Karena ia hanya menarik energi keris dari sukmanya.


"Gadis itu berhasil membawa pertempuran ke dimensi ghaib, khi..., khii..., khii," sebuah suara kembali terdengar.


"Si..., siapa kamu?" tanya Melli yang ternyata juga mendengar suara itu.


Guntur menoleh kearah Melli dengan tatapan heran.


"Ah, masih belum tertutup sepenuhnya setelah kejadian waktu itu!" jelas Melli menjawab rasa penasaran Guntur.

__ADS_1


"Hmmm...," Guntur yang mendengar itupun hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Aku? Aku diatasmu cah ayu..., khii..., khii..., khiii," imbuhnya.


Melli dan Guntur mendongak keatas bersamaan.


"Cilup, baaaaa...," ucap mahluk yang tengah merayap diatas langit gedung sembari menyeringai.


"Aaaaaaakkkhhhhh...," jerit Melli sembari menutup erat matanya.


Pak Likin dan Bagas serentak ikut mendongak keatas, terlihat sosok perempuan berwajah tengkorak dengan mata merahnya tengah menatap tajam kearah mereka.


"Demit...," mereka berdua lari keluar gedung, diikuti Melli meninggalkan Guntur seorang diri didalam.


"Apa yang terjadi? Sepertinya kau tak bermaksud menyelakai kami," tanya Guntur.


Mahluk itu perlahan melayang turun dan merubah wujudnya menjadi sosok perempuan yang lebih ramah dipandang mata.


"Aku adalah bagian dari bangunan ini, ada orang yang mencoba membawa mahluk pengganggu kemari. Itu cukup mengusik aku dan teman-temanku yang sekarang tengah berada di gedung sebelah," jelas mahluk itu dengan suara pelan namun cukup membuat merinding.


"Apa? Jadi, itu ulah teman-temanmu?" tanya Guntur.


"Mereka sengaja masuk ke tubuh para calon tumbal itu, untuk menjaga agar mereka tak mati," imbuhnya.


"Guntur, ayo susul Trisnya! Dia butuh bantuanmu," ajak Nyi Kinasih yang tiba-tiba datang entah dari mana.


"Nyi!" sapa Guntur sembari menganggukan kepalanya, "bagaimana dengan mereka?" tanya Guntur yang khawatir dengan para pekerja yang tengah kerasukan.


"Temanmu pasti bisa mengatasinya, lagipula yang merasuki mereka adalah penjaga tempat ini. Mereka hanya tak ingin ritual ini berhasil, dan tempat tinggal mereka dikuasai iblis pencari tumbal kiriman manusia," jelas Nyi Kinasih.


Guntur memandang mahluk dihadapannya dengan tatapan penuh keraguan.


"Ayo cepat!" ujar Nyi Kinasih sembari menepuk bahu Guntur.


Dalam sekejap, Guntur dan Nyi Kinasih telah berpindah tempat ke alam lintas dimensi.


Riuhnya pertempuran antara Trisnya dan beberapa lelembut terlihat jelas dihadapan Guntur.


Splasss..., cringg....


Sebuah kilatan cahaya tercipta dari energi-energi dan pusaka yang saling beradu.


Guntur berlari menyusul Trisnya sembari merapal mantra untuk memanggil kekuatannya. Perlahan tubuhnya berubah menjadi seekor kera raksasa menyeramkan. Ia lempar satu persatu mahluk yang menyerang Trisnya, ia injak dan ia lum*t mahluk-mahluk mengerikan itu hingga berubah menjadi asap dan menghilang.


Namun, bukannya berkurang, mahluk-mahluk yang menyerang mereka justru bertambah semakin banyak. Mereka terus berdatangan dari sembarang arah, membuat Guntur dan Trisnya semakin kwalahan dibuatnya.


"Mereka akan terus datang, jika kita tak menghentikan ritual dari pelakunya!" ujar Guntur.


"Masalahnya, aku sama sekali gak tahu siapa pelakunya mas!" ujar Trisnya sembari terus melawan mahluk-mahluk yang menyerangnya.


"Dia sengaja mengurungmu ditempat ini, berarti dia sudah cukup mengenal dan mengetahui kemampuanmu," ujar Guntur.


"Berarti, ada disekitar kita!" ujar Trisnya.


"Iya!"


Mereka berdua terus berjuang tanpa henti, hingga semua mahluk itu tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


"Kemana mereka mas?" tanya Trisnya.


"Dugaanku benar, mahluk-mahluk itu hanya umpan agar kita meninggalkan tempat ritual penumbalan!" terka Guntur.


"Gawat, temen-temenku dalam bahaya mas!" ucap Trisnya dengan wajah paniknya.


Trisnya dan Guntur segera kembali ke alam manusia, mereka berdua berlari kearah gedung yang berisikan puluhan pekerja yang kerasukan dengan perasaan tak tenang.


"Mas, mbak! Cepetan. Tingkah mereka semakin aneh mas!" teriak pak Likin.


Guntur dan Trisnya segera masuk kedalam gedung menyusul Heru yang tengah berjuang menyadarkan para pekerja yang kerasukan.


Terlihat Heru yang tengah tergeletak bersimbah darah. Jemarinya terus memutar tasbih sembari terus melantunkan doa-doa.


"Astaghfirrullahall'adzim! Mas Heru," Trisnya segera berlari kearah Heru.


Puluhan pekerja yang masih dalam keadaan kerasukan, terlihat merayap didinding-dinding dan atap gedung layaknya seekor cicak. Mata mereka memutih sempurna, cairan hitam terus menetes dari mulut mereka menebarkan bau yang begitu anyir dan busuk. Membuat siapapun yang berada di dalam gedung merasa mual dan pening.


"Gawat, juminten dan kawan-kawannya berhasil mereka singkirkan. Yang merasuki mereka sudah bukan penghuni asli tempat ini, mereka kiriman," jelas Nyi Kinasih yang baru saja muncul disamping Guntur.


"Siapa Juminten, Nyi?" tanya Guntur.


"Mahluk yang kita temui di gedung kosong tadi," jawab Nyi Kinasih.


"Oh! mbak Kunti yang tadi toh?" ucap Guntur.


"He'em Gun," ucap Nyi Kinasih.


Trisnya menyusul Guntur dan Nyi Kinasih setelah berhasil mengobati Heru dengan ajian penyembuhnya.


"Harus kita apakan mereka Nyi? Apa harus ku gunakan pusaka Pakugeni untuk menyegel mereka ke jagad lelembut?" tanya Trisnya.


"Jangan gegabah, mereka sudah berhasil mengikat sukma para pekerja dan menguasai raga mereka. Jika kita gegabah, sukma para pekerja juga akan ikut tertarik dan tak bisa kembali," jelas Nyi Kinasih.


"Benar, kita harus bebaskan mereka dulu!" timpal Guntur, "Trisnya, kamu bebaskan sukma mereka! Biar mas yang lepaskan raga mereka disini," titahnya pada Trisnya.


"Baiklah! Berhati-hatilah mas, jangan biarkan mereka keluar dari gedung ini. Bisa berbahaya untuk yang masih berada diluar gedung," pesan Trisnya pada Guntur.


"Aku yang akan jadi perisai gedung ini!" timpal Nyi Kinasih.


"Aku bantu sebisaku," imbuh Heru yang masih dalam kondisi begitu lemah.


"Tolong jaga ragaku, mas!" ujar Trisnya pada Heru dan dibalas anggukan oleh Heru.


Mereka bersiap dengan tugas masing-masing. Guntur segera membacakan mantra pada pusakanya, Trisnya pun telah bersiap meragasukma untuk membebaskan sukma para pekerja. Secepat kilat Nyi Kinasih merubah diri menjadi perisai pelindung agar mahluk-mahluk kiriman itu tak pergi keluar.


Brugghhh..., bruggghhh....


Satu persatu pekerja yang sedari tadi berada di langit-langit dan dinding gedung mulai berjatuhan.


"Ah, sial! Bisa mati mereka kalau menghantam mesin-mesin ini!" gerutu Guntur.


Mahluk-mahluk yang tergeletak berserakan di lantai itu mendongak dan menatap tajam kearah Guntur. Mereka tersenyum menyeringai sembari mengucapkan sebuah kalimat dengan begitu lirih. "Terlambat, mereka sebentar lagi akan menjadi bagian dari kami! Mereka semua akan mati!"


"Tidak ada satupun mahluk yang berhak menentukan hidup mati manusia, selain Gusti Allah sang pemilik langit bumi dan segala isinya," seru Guntur dengan lantang.


"Hahahahah, manusia munafik! Dengan lantang kau serukan ketetapan Tuhanmu, tapi kau sendiri juga berniat melanggarnya. Dalam hatimu, kau juga ingin menghabisi mereka yang telah membunuh keluargamu bukan? Padahal kau tak berhak atas itu, hahahhaha," balas mereka serentak dengan suara yang sama. Serak, berat dan lirih, Guntur bahkan tak sanggup menyangkal ucapan mereka, "jangan halangi kami, atau kau juga akan bernasip sama dengan keluargamu dulu, mati mengenaskan! Hahahhaahhaha," ancam mereka.

__ADS_1


"Jangan bermimpi niat busukmu akan berhasil iblis! Aarrrggghhh...," teriak Guntur sembari mengangkat tinggi-tinggi kerisnya. Menandakan pertempuran telah siap terlaksana.


Bersambung....


__ADS_2