Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab48. Petaka Rumah Lawas


__ADS_3

Dikala siang yang begitu terik, seorang pemulung terlihat tengah menyusuri sekitar rumah kosong milik keluarga Guntur. Pria paruh baya itu terlihat tengah memilah-milah beberapa barang bekas yang bisa ia jual kembali.


Langkahnya terhenti ketika melihat bercak darah yang mengenai rerumputan. Netranya menelisik ke sekitar semak dan tumpukan bebatuan.


Tangannya menyibak dedaunan kering di sekitar tumpukan batu dengan tongkat miliknya. Hingga terlihatlah seonggok jasad tak bernyawa yang berada disisi tumpukan itu, tertutup dedaunan dan sampah yang terbawa oleh hembusan angin.


Netranya membelalak lebar, ia jatuh terduduk dengan raut wajah begitu panik. Ingin rasanya ia berlari mencari pertolongan, namun semua terasa begitu lemas oleh rasa takut yang terlanjur menguasai diri. Ia hanya mampu berteriak, tanpa mampu bergerak pergi.


Seonggok mayat perempuan dengan seragam SMA terkapar diatas tumpukan bebatuan. Kepalanya pecah, memperlihatkan wajah setengah hancurnya yang berlumuran darah. Membuat pemulung itu tak mampu lagi menahan air mata.


"To-tolong ...!" teriaknya.


Beberapa warga yang kebetulan berada di sekitar rumah itu, segera berlarian menyusul ke lokasi. Salah seorang dari mereka langsung menghubungi Guntur dan juga petugas kepolisian.


Di Klinik, terlihat Guntur dan Heru yang tengah bersiap-siap. Mereka telah mempersiapkan berbagai hal untuk membersihkan segala hal buruk yang menguasai rumah itu.


"Ada apa toh, Mas?" tanya Trisnya saat melihat kepanikan di wajah Guntur yang tengah menata beberapa pusaka ke dalam ranselnya.


"Ada yang meninggal lagi di rumah lamaku, Dek. Mas sama Heru akan membersihkan semuanya malam ini juga, agar tak ada lagi yang menjadi korban," jelas Guntur.


"Membersihkan apa, Mas? Memang makhluk apa yang ada di rumah itu? Apa itu bahaya?" Trisnya yang masih belum tahu menahu soal rumah lawas itu, memberondong Guntur dengan berbagai pertanyaan.


"Nanti mas jelaskan, yang pasti ada makhluk yang sengaja di di ikat di tempat itu untuk mencelakai siapapun yang berada di sana," jelas Guntur tanpa menatap ke arah Trisnya.


"Mas!" ucap Trisnya sembari meraih kedua pipi Guntur agar menatap ke arahnya. "Istighfar ... pelan-pelan, dipikir lagi apa yang harus dibawa. Gak harus semua pusaka kamu bawa, Mas. Aku tahu kamu sedang panik, aku ikut ya?"


"Jangan! Bahaya," tolak Guntur dengan tegas. Tangannya mulai meraih kedua tangan Trisnya yang menempel di pipinya sembari berucap, "aku gak mau kamu terluka."


"Aku lebih gak mau lagi, kamu terluka saat aku gak ada di dekat kamu. Ikut, ya? Kamu juga tahu aku bisa sangat berguna disana nanti," Trisnya masih berusaha meyakinkan Guntur dengan ekspresi manjanya.


Guntur benar-benar tak bisa menolak jika Trisnya sudah bersikap selucu itu di depannya. Dengan sangat berat ia akhirnya menyetujui keinginan Trisnya.

__ADS_1


"Nawang gimana?" tanya Guntur.


"Kan masih ada Mas Jagad dan yang lain. Energi kamu belum sepenuhnya pulih, Mas. Aku gak mau kamu kenapa-napa," balas Trisnya sembari mengecup singkat bibir Guntur.


Entah mengapa, kecupan singkat itu mampu menenangkan hati Guntur yang sedari tadi dilanda rasa cemas dan khawatir. Ia geser pintu kamar dengan kakinya agar tertutup rapat, lalu ia raih pinggang Trisnya agar semakin mendekat.


"Kamu yang mulai, jangan marah!" Seusai mengucapkan itu, Guntur segera meraup bibir ranum Trisnya. ********** dengan begitu lembut hingga membuat Trisnya ikut terbuai dan tak mampu lagi menolak.


Lagi lagi Jagad harus memergoki mereka, saat hendak memanggil Guntur tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hingga membuat kedua sejoli itu terperanjat dan spontan melepas pagutan bersamaan.


Jagad menatap tajam ke arah mereka berdua bergantian. Ia hembuskan nafasnya kasar sembari berucap, "Astagfirullah ... nikah, woy! Jangan Zina terus, dosa!"


Trisnya terlihat begitu malu hingga tak berani mengangkat wajahnya. Jagad masih menatapnya lekat, terpancar jelas kekecewaan dari sorot matanya.


"Kamu keluar dulu, Trisnya! Aku mau bicara sama Guntur," pinta Jagad.


"I-iya, Mas. Ma-maaf." Trisnya segera keluar kamar tanpa berpamitan lagi. Wajahnya memerah, menahan rasa malu yang teramat sangat, akibat kecerobohannya sendiri.


Jagad layangkan sebuah pukulan yang cukup keras ke arah perut Guntur hingga membuat lawannya meringis kesakitan. Ia terlihat begitu marah dengan kelakuan Guntur, terlebih ia masih memiliki ikatan batin dengan Trisnya yang merupakan keturunan dari Nyi Kinasih.


"Woy! Ngapain sih? Ayo jadi berangkat gak nih? Udah sore ini," ucap Heru yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Ah, bentar. Nunggu Trisnya dulu, dia mau ikut." Guntur merasa sedikit lega dengan kedatangan Heru, setidaknya ia bisa selamat sementara dari amukan Jagad.


Jagad beranjak pergi meninggalkan kamar, sembari berucap pada Heru, "Kalau ada apa-apa cepat kasih kode, aku bakal nyusul kesana."


"Ok!" jawab Heru singkat.


Guntur mengacak rambutnya dengan kasar, terlihat jelas perasaan malu bercampur kesal terpancar dari sorot matanya. "Diancok!" rutuknya sembari menyaut ransel dari atas meja.


Heru hanya menggelengkan kepalanya sembari mengelus dada. Bukan hal aneh lagi melihat Guntur berucap kasar saat sedang kesal sekaligus malu.

__ADS_1


Mereka berdua segera melangkah pergi menuju tempat mobil terparkir. Terlihat Trisnya yang telah menunggu disana, ditemani Jagad yang terlihat tengah berbicara serius pada Trisnya. Namun segera berlalu pergi saat melihat Guntur dan Heru telah berjalan mendekat.


"Ngomong apa, dia?" tanya Guntur yang masih sedikit kesal.


"Gak papa, Mas. Ayo berangkat!" Trisnya segera masuk ke dalam mobil diikuti Heru dan juga Guntur.


Guntur lajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Membelah keramaian di disepanjang perjalanan, menuju rumah yang telah lama ia tinggalkan.


Terlihat pelataran rumah yang masih ramai oleh beberapa warga dan perangkat desa setempat. Mereka menyambut kedatangan Guntur dengan senyuman ramah seperti biasanya.


"Pak, gimana dengan korban?" tanya Guntur sembari menyalami kepala desa yang masih berada ditempat itu.


"Sudah dibawa ke Rumah Sakit. Tadi paklikmu sudah kesini, beliau juga berpesan agar kamu fokus saja untuk membersihkan rumah ini," ujar Pak Kades.


"Iya, Pak. Insyaallah malam ini saya sama teman-teman saya akan melakukan pembersihan di tempat ini," jelas Guntur.


"Iya, Mas. Jangan sampai gagal, kita gak mau ada korban lagi. Sudah terlalu banyak yang menjadi korban di rumah ini," timpal salah seorang warga yang rumahnya lumayan dekat dari rumah Guntur.


"Kita siap bantu sebisanya, Mas!" ucap beberapa warga.


Guntur dan Heru mulai menyusuri setiap sisi pekarangan rumah yang sudah terlihat lumayan lebih rapi ketimbang sebelumnya. Mencari-cari lokasi yang sekiranya Heru ingat, dan menandainya dengan bilahan bambu kuning bertalikan pita merah yang telah didoakan.


Trisnya memilih menunggu bersama para warga yang sedari tadi terus mencercanya dengan berbagai pertanyaan soal siapakah dirinya. Dengan ramah Trisnya menjawab setiap pertanyaan yang mereka lontarkan, sembari sesekali melirik ke arah balkon lantai tiga.


Trisnya rasakan energi yang begitu kuat mencoba mendobrak pertahanannya. Tubuhnya terasa begitu lemas hingga membuatnya memutuskan untuk sedikit menjauh dari tempat itu.


Trisnya berjalan seorang diri, menuju sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan. Ia memilih bersantai sembari menikmati segelas es teh yang telah ia pesan. Sambil terus mengawasi rumah mewah terbengkalai itu dari tempatnya berada.


Netranya membelalak tak percaya, saat melihat dengan jelas Guntur tengah berdiri di bibir balkon lantai tiga dan bersiap melompat ke bawah. Trisnya beranjak dari tempat itu, dan segera berlari dengan panik tanpa menghiraukan ramainya kendaraan yang berlalu lalang. Terhipnotis oleh rasa takut akan kehilangan sang kekasih tercinta, hingga ia tak menyadari saat sebuah truk yang cukup besar tengah melaju dengan kencang ke arahnya.


Brugh ...!

__ADS_1


Tubuhnya jatuh membentur tanah beraspal, dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. Netranya masih jua menatap Guntur yang terlihat menyeringai ke arahnya. Hingga perlahan penglihatan itu mulai memudar dan berubah menjadi gelap. Ia terkulai lemah tak sadarkan diri, menggenggam selendang emas yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.


Bersambung ....


__ADS_2