
Denting jam masih begitu nyaring terdengar
Gemerisik dedaunan yang tersapuĀ
Oleh embusan angin malam
Seolah menjadi nyanyian sendu
Bagi jiwa-jiwa yang terluka
Terluka oleh rasa rindu yang tak bertuan
Terluka oleh rasa kehilangan
Mengantar jiwa-jiwa penuh luka lara
Dalam sepi dan sunyinya hati
Tiga bulan telah berlalu, Patih Drupala dan Ular Naga tak kunjung memberi kabar perihal keadaan Guntur. Keluarga besarnya pun sudah ikhlas akan kepergiannya. Hanya Trisnya yang masih belum bisa menerima. Perempuan itu masih terus berusaha mencari cara, agar bisa menyusul Guntur ke Jagad Lelembut yang telah terkunci rapat. Hingga membuat keadaan mentalnya sedikit terganggu.
Trisnya duduk melamun seorang diri di teras depan rumah kedua orangtuanya. Netranya menatap kosong ke sembarang arah. Bibirnya terus melantunkan tembang-tembang jawa kesukaan suaminya. Sesekali menangis terisak, lalu tertawa lepas bak orang kesurupan. Namun, itu benar-benar dirinya. Jiwanya yang terguncang, hingga ia ciptakan dunia sendiri bersama segala kenangan yang pernah ia lalui dengan sang kekasih hati. Hidup dalam bayang-bayang ilusi yang perlahan mengikis kewarasannya.
Derai tangis air mata dari kedua orang tuanya seolah tak dapat dibendung lagi. Sosok cantik jelita dengan suara indah itu kini seolah sirna, tinggalah cangkang kosong yang tak berjiwa. Karena separuh jiwanya telah ikut terbawa pergi sang kekasih hati.
"Eh, kasihan ya ... cantik-cantik ditinggal suaminya, jadi gila deh!" Beberapa warga yang lewat di depan rumah Lukman, saling berbisik saat melihat kondisi Trisnya.
"Hush ... jangan dibahas. Kasihan dia!" tegur salah satu warga.
Setelah para warga berlalu, terlihat Bayu keluar dari rumah, membawakan selimut untuk kakaknya. Ia peluk tubuh kurus Trisnya sembari menutupinya dengan selimut agar tak kedinginan.
"Mbak ... sudah jam 11 malam, masuk yuk! Nanti masuk angin kalau diluar terus," ajak Bayu.
Trisnya hanya menggeleng, sembari terus bernyanyi pelan.
Bayu semakin mempererat pelukannya, ia sandarkan kepalanya diatas bahu sang kakak. Tak mampu lagi ia tahan air mata yang terus memaksa keluar. Ia terisak pelan, meratapi nasib kakak tercintanya.
"Mbak ... Bayu kangen. Kapan Mbak sembuh? Bayu pengen kayak dulu lagi. Motoran gak tentu arah sama Mbak, rebutan, ngobatin orang kesurupan bareng, beli bakso malem-malem. Inget gak Mbak sama temen-temen SMK ku yang selalu berebut tempat duduk tiap aku bawa Mbak nongkrong? Biar bisa duduk deket Mbak, biar bisa foto sama Mbak. Mereka nanyain Mbak terus. Bayu mohon, ikhlaskan Mas Guntur dan balik lagi seperti dulu ...!" pinta Bayu sembari terisak.
Mendengar ucapan Bayu, Trisnya menghentikan sejenak nyanyiannya. Ia belai lembut rambut tebal Bayu, lalu kembali bernyanyi tanpa menghentikan belaiannya.
Kedua orang tuanya hanya mengintip dari sela pintu yang masih terbuka. Seolah tak sanggup mendekati Trisnya.
Suara dering telepon terdengar nyaring di telinga. Bayu segera melepas pelukan dan menghapus air matanya. Ia rogoh ponsel dari saku jaket dan melihat siapa yang memanggil tengah malam begini.
"Mas Jagad?" ucapnya saat membaca nama kontak yang menelepon. Ia pun segera mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Hallo, assalamualaikum Mas!" sapa Bayu.
"Wa'alaikumsalam. Gimana Mbakmu?" tanya Jagad.
"Masih sama seperti biasanya, Mas. Tapi alhamdulillah udah gak pernah ngamuk lagi," jelas Bayu.
"Coba dekatkan teleponnya, biar dia dengerin ocehan Nawang. Mas lagi di rumah Lik Baskoro," pinta Jagad.
Bayu segera mendekatkan telepon ke telinga Trisnya yang masih bernyanyi lirih. Hingga terdengar suara ocehan rancu Nawang yang membuat Trisnya terdiam.
"Nawang ... anak Bunda! Hikhik ...." Trisnya menangis terisak sembari meraih ponsel Bayu.
"Iya Mbak, itu Nawang anak Mbak sama Mas Gun. Mbak mau ketemu?" tanya Bayu.
Trisnya pun mengangguk mengiyakan pertanyaan sang adik.
"Besok, besok Bayu antar Mbak kesana ya ...! Mbak mau kan?" tanya Bayu antusias.
Trisnya kembali mengangguk dan menatap lekat kearah Bayu. Pandangannya tak lagi kosong, ia seolah kembali tersadar dari dunia imajinasinya.
"Nawang ... maafin Bunda, Nak! Maaf ...!" Trisnya masih terus terisak.
Semenjak kondisi mentalnya bermasalah, keluarga Baskoro tak mengijinkannya mendekati Nawang. Itu karena Trisnya begitu sering mengamuk setiap mengingat kepergian tragis Guntur. Dunianya seolah terhenti pada saat pertarungan itu. Beruntung energinya telah terserap kedalam pusaka Pakugeni yang kembali ke sukma Nawang.
Kedua orang tuanya sengaja membawanya pulang agar bisa merawat dan mengawasinya sendiri. Mereka yakin, Trisnya hanya terpukul akan kepergian suaminya. Dia tidak gila, dan mereka yakin Trisnya akan kembali sadar seperti dulu lagi.
Trisnya mengangguk mengiyakan ajakan Bayu. Dengan telaten Bayu menuntun tubuh lemah Trisnya kedalam kamar. Setelah memastikan sang kakak tertidur pulas, Bayu beranjak pergi meninggalkannya untuk pergi tidur ke kamar sebelah.
Trisnya rasakan tubuhnya terangkat. Ia hirup dalam-dalam aroma tubuh yang begitu tak asing. Lalu ia buka matanya perlahan.
"Mas Gun ...!" ucap Trisnya tatkala menatap wajah teduh yang tengah tersenyum ke arahnya.
Guntur menurunkan tubuh Trisnya diatas kursi kayu yang berada di tengah-tengah hamparan luas taman bunga.
"Mas, ayo pulang!" ajak Trisnya sembari meraih tangan lembut Guntur.
Lagi-lagi Guntur hanya tersenyum, lalu membelai lembut pipi Trisnya yang telah basah oleh air mata.
"Mas ... ayo toh!" bujuk Trisnya.
Guntur menunjuk ke arah beberapa orang yang terlihat tersenyum padanya. Mereka adalah Darmo-kakek Trisnya, Mbah Wiro dan kedua orang tua Guntur. Mereka terlihat melambaikan tangan ke arah Trisnya sembari tersenyum lepas.
"Mas gak bisa janji untuk kembali, jadi Mas mohon ... jaga Nawang baik-baik. Berbahagialah bersamanya! Jika Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi, maka kita pasti akan bertemu. Keluar dari keterpurukanmu, Sayang!" ucapnya.
Trisnya membuka mata lebar-lebar. "Hanya mimpi?" ucap Trisnya sembari mengusap peluh yang membasahi wajahnya. "Kata-katamu begitu terasa nyata, Mas. Maafkan aku ... aku begitu lemah tanpamu." Trisnya kembali terisak. Namun, kali ini ia merasa begitu sadar.
__ADS_1
Melihat jam yang masih menunjukan pukul 2 malam, Trisnya enggan untuk kembali tidur dan memilih untuk sholat dilanjutkan mengaji.
"Masyaallah, Pak. I-itu Trisnya yang lagi ngaji?" tanya Nia sembari membangunkan Lukman.
"Alhamdulillah, Buk. Anak kita sadar!" ucap Lukman penuh syukur.
***
Di rumah Baskoro, terlihat Jagad dan Heru yang tengah menimang-nimang Nawang di taman samping rumah. Menikmati sejuknya udara pagi sembari mengajak anak itu berjemur.
"Trisnya jadi kesini, kan?" tanya Anggun.
Tin ... tin ...!
"Lah itu sampai!" ujar Heru tatkala melihat mobil Trisnya telah terparkir di halaman rumah.
Trisnya keluar menghampiri ke tempat Jagad dan Anggun berada. Netranya meremang tatkala melihat Nawang yang tertawa gemas ke arahnya. Ia segera meraih Nawang dan memeluknya erat sembari berlinang air mata.
"Maafkan bunda, Nak."
Suasana haru begitu terasa di rumah mewah itu. Melihat Trisnya yang tiba-tiba tersadar dari dunia ilusinya, dan normal seperti sedia kala.
"Bicara sebentar yuk!" ajak Jagad ketika Trisnya tengah menemani Nawang yang tertidur pulas.
"Uhm!" Trisnya mengikuti langkah Jagad menuju ke taman.
Mereka duduk berdampingan, menikmati indahnya sinar kemerahan yang menjemput senja.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Jagad.
"Sakitnya luar biasa, Mas!" jawab Trisnya dengan mata meremang.
"Nikmati saja prosesnya. Suatu saat nanti luka itu juga akan sembuh. Tetap jadilah kuat, karena itu yang suamimu mau. Dia ingin kamu bahagia, meski tanpa hadirnya. Kembalilah ke Klinik saat sudah siap. Pusaka-pusakamu masih tersimpan rapi disana. Bantu Heru dan Bapak jika kamu sempat, karena aku juga akan pergi!" ujar Jagad.
"Kamu mau pergi, Mas? Kemana? Untuk apa?" Trisnya masih tak mengerti dengan maksud Jagad.
"Kehilangan mereka juga bukan hal mudah untukku, Trisnya. Aku butuh ketenangan. Aku akan kembali, saat perasaannku sudah kembali tenang. Aku harap kamu bisa segera pulih dan menemukan kebahagianmu. Begitupun denganku!" Jagad menghembuskan nafas kasar sembari sesekali menghisap rokok yang terselip diantara jemarinya. "Mengapa takdir sekejam ini pada kita?"
"Entahlah, jika saja aku tahu menjadi manusia akan sesakit ini. Mungkin aku akan lebih memilih untuk tak dilahirkan!" ucap Trisnya.
"Bukankah Tuhan sudah menunjukan segalanya sebelum manusia dilahirkan? Seandainya dulu kamu bilang 'ndak kuat Gusti' gitu, paling juga ndak jadi lahir, kan?" balas Jagad.
"Eh iya ya ... wah dulu paling aku jawabnya sambil ngantuk makanya pasrah. Hahaha ...." Trisnya membalas diiringi tawa.
Entah apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Mereka hanya ingin menikmati proses demi proses penyembuhan jiwa yang penuh luka lara. Dengan tenang, meski mereka sadar, tak ada yang namanya ketenangan di dunia ini.
__ADS_1
"Mari bertemu lagi disaat kita sama-sama telah sembuh dan bisa menjalani semuanya dengan waras. Kita masih terlalu gila untuk melanjutkan semuanya!" Jagad tersenyum seolah mengucapkan selamat tinggal padanya.
-TAMAT-